Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 55


__ADS_3

Mendung sore ini menghiasi langit ibukota. Kendaraan lalu lalang saling berebut jalur agar saling bisa mendahului di tengah kemacetan yang melanda.


Suara klakson yang bersahutan, aroma menyengat yang keluar dari mesin kendaraan lain menyeruak di indera penciuman Karin hingga membuat nya terbatuk-batuk di tengah tidur nyenyak nya.


"Kenapa nggak di tutup sih jendelanya pak." Seru Karin kesal bukan main pada Rama yang duduk dengan santai di depan kemudi.


"Udah, bentar lagi sampai rumah." Kata Rama santai. Karin mencebik tak karuan mendapat respon biasa saja dari Rama.


"Bilang maaf kek, apa kek." Batin Karin kesal.


"Rin, minggu depan ada rencana liburan kemana?." Tanya Rama


"Nggak kemana-mana, mau di rumah bantu mami di pasar." Jawab Karin masih tidak menoleh, justru jemarinya sibuk berselancar di dunia maya.


"Nggak ada niat liburan?." Tanya Rama lagi.


"Kan aku udah bilang pak, nggak kemana-mana. Ngerti nggak sih." Jawab Karin semakin kesal.


"Ya, maksudnya aku mau ngajak kamu liburan. Karena minggu depan aku ada projek di luar kota. Aku nawarin kamu siapa tahu berminat liburan semester." Kata Rama dengan suara lebih tenang lagi.


"Malas. Bang Arkan mau nikah, mending bapak aja yang pergi sendiri. Saya nggak minat." Balas Karin cuek.


Rama terdiam mendengar jawaban acuh Karin yang menolak ajakannya mentah-mentah. Menaklukkan hati Karin memang butuh perjuangan seperti kata Agam.


Mobil melaju pelan setelah kendaraan di depan berjalan. Rama memperhatikan sekeliling. Matanya sibuk menelisik arah jalur masuk ke mall. Ia sengaja berbelok arah dan masuk ke parkiran mall.


"Rin kamu nggak pengen singgah ke mall?." Tanya Rama memecah keterdiaman Karin


"Mau ngapain, ngabisin duit." Jawab Karin ketus.


"Ya sudah kalau gitu kamu nunggu di sini, saya mau beli sesuatu untuk Naira karena besok saya mau pulang ke desa menjenguk Tante Rosa." Balas Rama.


Karin yang merasa seolah di permainkan, akhirnya mengalah dan membuka pintu lalu menutup kembali dengan keras. Rama hanya mengelus dada menahan sabar atas sikap Karin yang tidak bisa di tebak.


"Kamu mau ikut atau nunggu di cafe sana?." Tanya Rama bertanya sembari menunjuk ke arah stand yang menyediakan minuman dingin bermerek.


"Terserah, jangan lama. Aku mau pulang tidur." Jawab Karin kesal dan berbalik arah ke stand yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


Rama tersenyum kecut dan berlalu meninggalkan Karin sendiri dengan perasaan kesalnya yang tak bisa di ajak kompromi.


Rama masuk ke tempat pakaian anak-anak dan mainan. Memilih sendiri baju yang ia kira pas untuk badan kecil Naira.


Sedangkan Karin sibuk melihat koleksi kerajinan tangan di salah satu stand terkenal milik salah seorang kenalannya.


"Mbak Karin ya." Sapa seseorang dari samping. Karin menoleh dan tersenyum tulus.


"Hai, dokter Hans apa kabar." Tanya Karin sok ramah.


"Alhamdulillah kabar baik, sendiri aja suaminya mana?." Tanya dokter tampan yang berdiri di sampingnya.


"Lagi di dalem nyari persiapan buat si kecil nanti. Saya sengaja di sini lihat-lihat hasil karya anak bangsa." Jawab Karin sedikit berbohong agar pria di sampingnya segera pergi.


"Ouwh udah berisi rupanya, selamat ya mbak Karin." Ucap dokter muda itu ters kecut.


"Oh terimakasih dok, saya masuk dulu ya, di tungguin tuh di dalem." Ucap Karin menunjuk ke arah kaca pembatas yang menampakkan Rama sedang memilih pakaian anak-anak.


Karin melangkah sedikit cepat, untung saja tadi ia memakai sneaker hingga memudahkan langkahnya untuk berlari masuk ke dalam dan langsung memeluk Rama dari samping.


"Kirain siapa, kangen ya baru di tinggal sebentar." Kata Rama ikut memeluk pundak Karin.


"Ck ge_er amat, cepat milih trus pulang. Ada dokter Hans, coba bapak noleh ke belakang ke arah luar." Bisik Karin


Rama mengikuti arahan Karin dan sedikit menoleh, benar apa yang Karin dokter Hans tengah berbincang dengan seorang wanita.


"Ayo milih, trus pulang. Besok-besok kamu nggak usah kemanapun kalau nggak ada yang nemenin ya." Ucap Rama di telinga Karin


"Ikut aja ah aku besok pak, agak takut sih, soalnya ada yang selalu ngirimin aku bunga terus sampai sekarang." Ucap Karin tiba-tiba


"Oh ya?." Tanya Rama sok penasaran


"Iya pak, aku curiga kalau dokter itu sih yang selalu ngirimin bunga. Makanya aku takut tadi pas nggak sengaja ketemu di stand itu."


"Ya sudah nanti di rumah siap-siap, soal nilai kamu di kampus nanti biar pak Agam saja yang ngurusin di birokrat."


"Makasih pak, dah ini cukup kan. Aku sengaja ambil yang agak besaran biar lama bisa di pake." Ucap Karin menunjuk ke keranjang yang ia pegang.

__ADS_1


"Udah cukup itu aja. Nggak usah beli mainan. Besok aja kita singgah ke toko mainan di perjalanan." Balas Rama mengajak Karin ke kasir dan mengangkat keranjang. Keduanya tanpa sadar saling memegang erat jari-jemari satu sama lain.


"Karin?." Sapa seseorang dari belakang.


"Iya siapa?." Jawab Karin dan Rama menoleh bersamaan dan melihat Nurul bersama ibunya sedang mendorong stroller.


"Tante? Nurul?." Sapa Karin girang dan berlari memeluk erat Nurul dan ibunya.


"Kamu sama siapa Rin?." Tanya Bu Sakinah melihat pria yang menghampiri Karin.


"Ini suami saya Tan, kenalin." Ucap Karin memperkenalkan Rama. Karin melihat ke arah Nurul yang bersikap berbeda tidak seantusias biasanya padahal sudah lama mereka tak bertemu.


"Rama Tante." Ucap Rama mengenalkan diri dan menyalami Bu Sakinah dan Nurul bergantian.


Nurul menatap Rama dengan tersenyum kecut seolah terpaksa dan itu tak luput dari pandangan Karin. Namun Karin memilih diam saja dan berpikir positif.


"Oh ini suami kamu Rin, gagah ya. Pantas aja kami klepek-klepek. Dosen pula." Puji Bu Sakinah.


"Ah Tante, nggak usah gitu kali. Dia nya aja yang ngejar-ngejar saya, hihihi." Bala Karin malu-malu.


"Udah berisi ya Rin?." Tanya Nurul tiba-tiba melihat isi keranjang di tangan Rama


"Hehe doakan aja ya." Ucap Karin malu-malu meskipun sedikit merasa tak enak karena berbohong.


"Alhamdulillah cepat juga ya Rin, Nurul kapan ya nikah biar bisa ngasih saya cucu juga. Si Nurul yang di cerita cowok idolanya terus tapi nggak pernah mau ngenalin ke tante sih." Sahut Bu Sakinah menyenggol sang anak.


"Oh ya? Kamu udah punya cemceman Rul?, Wah selamat ya." Ucap Karin tersenyum tulus tapi tidak dengan wajah yang Nurul tampakkan.


"Ayo ke kasir." Ajak Rama menarik pelan tangan Karin.


"Saya duluan ya Tante, Nurul. Jalan-jalan kerumah loh." Ucap Karin pamit mengikuti langkah kaki Rama di depannya.


Nurul hanya tersenyum kecut memandang Karin yang berjalan ke arah kasir.


"Karin beruntung ya, dapat suami seperti itu. Semoga saja kamu juga bisa dapat suami yang lebih dari Karin." Ucap ibunya.


"Berharap aja bu, udah nggak bisa. Dia udah nikah." Balas Nurul ketus membuat ibunya mengeryit heran.

__ADS_1


__ADS_2