
"Nurul, kamu mau kemana lagi pagi-pagi begini?" Tanya wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan perasaan kecewa karena sikap sang anak beberapa bulan terakhir memang sangat berubah drastis.
"Bukan urusan ibu." Jawab Nurul ketus sembari mengambil sepatu yang baru saja ia beli dua hari lalu.
"Rul, apa begitu cara kamu menjawab ibu?" Tegur Furqon yang juga ikut kesal bukan main mendengar ucapan Nurul yang tidak sopan sama sekali.
Nurul memilih diam dengan perasaan dongkol. Baginya sudah muak berdebat dengan saudara tak sedarah seperti Furqon. Selesai mengenakan sepatu ia langsung memilih pergi tanpa sepatah katapun.
"Hari ini harus ketemu Satria, biar bagaimanapun dia yang sejak awal ngajak aku buat misahin mereka, kenapa malah dia yang menyerah sekarang? Dasar tak berguna." Batinnya mengomel.
Aspal hitam itu nampak basah karena tetesan air hujan, meski demikian tak sedikitpun menyurutkan niatnya untuk menemui Satria. Laki-laki yang pernah merayunya untuk memisahkan Karin dan Rama. Tapi kini laki-laki itu justru menjauhinya tanpa sebab dan menumpahkan semua kesalahan kepadanya.
Ia pikir saat itu Satria bisa menjadi jembatan menguntungkan baginya untuk bisa memisahkan Karin dengan pria yang selama ini diam-diam ia sukai. Setelah semua usaha ia lakukan, justru Satria berhenti di tengah jalan yang membuatnya membenci Satria dan ingin menuntut balas.
Di ujung jalan, motor yang ia kendarai terpaksa berhenti karena hampir menabrak pejalan kaki yang melintas secara mendadak. Sedikit kesal ia menunduk dan melihat kap motor bagian depannya yang tadi sempat terkena tumpukan kayu yang dipikul sang pejalan kaki.
Dengan rasa takut pejalan kaki itu segera berlalu dan menghilang di balik pagar tembok rumah warga yang ada di perempatan. Tak ada satupun yang tahu bahkan Nurul sekalipun siapa pejalan kaki yang memikul tumpukan kayu tadi.
__ADS_1
Dengan sedikit omelan di mulutnya Nurul melajukan kendaraannya ke arah tujuan dengan sedikit tergesa-gesa karena matahari sudah mulai terlihat di ufuk timur serta lalu lalang orang di jalan sudah nampak ramai.
"Gara-gara orang sialan gue kesiangan, jangan sampai gue kehilangan jejaknya Satria." Batinnya kesal.
****
"Gimana bos?" Tanya pria muda yang baru saja bangun dengan muka bantal.
"Beres, masih diikuti arahnya sesuai dengan laporan anak buah di sana."
"Baguslah, biar kita nggak repot nangkep." Jawab pria muda yang tak lain adalah Dani.
"Bisa nggak sih sebut nama orang yang baik-baik jangan gitu amat, geli gue dengerin." Sahut Dani kesal.
"Lidah gue susah nyebutin nama mereka. Gue tunggu nanti siang jam dua belas di cafe biasanya." Ujarnya lalu pergi meninggalkan Dani yang masih kesal karena sebutan dua sahabatnya yang terdengar buruk.
"Kalau bukan kakak gue, pengen rasanya gue sambelin tuh mulut." Umpatnya dalam hati. Dengan langkah gontai Dani langsung menghubungi Abdul dan Miftah.
__ADS_1
"Jam dua belas di tunggu di cafe biasanya, bawa cctv sama berkas lainnya. Pak bos yang minta." Ucapnya via pesan WhatsApp.
***
Nurul tiba di sebuah rumah bercat putih dengan taman yang terlihat bersih dan rapi. Halaman rumah itu juga banyak tanaman bunga berbagai jenis dan pepohonan rindang di beberapa sudutnya.
Dengan perasaan tak karuan antara yakin dan tidak, ia tetap melangkah masuk melewati pagar rumah dan menyapa pemiliknya yang sedang mencabut rumput liar disekitar tanaman bunga.
"Assalamualaikum pak permisi." Sapa nya dengan sopan.
"Waalaikumsalam, iya siapa ya mbak?" Tanya pria paruh baya itu dengan pandangan menyelidik.
"Mau tanya apa bapak lihat pria ini di daerah sini beberapa hari?" Tanya Nurul dengan menyodorkan foto Satria di hadapan pria paruh baya itu.
"Oh, iya ini anak murid saya ngaji di mushola, biasanya sih tiap Jumat sama minggu malam senin datang kesini, cuma ini udah semingguan nggak pernah kesini mbak, katanya pulang kampung jenguk bapaknya di rumah sakit." Jawab pria paruh baya itu dengan mantap.
Raut kecewa nampak di wajah Nurul, dengan lemas ia menerima kembali foto Satria. Ucapan pria di hadapannya memang sangat meyakinkan terlihat dari raut wajahnya.
__ADS_1
"Ya sudah pak, saya permisi assalamualaikum."