Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 72


__ADS_3

"Dari mana mas?" Tanya Karin begitu melihat sang suami baru masuk ke dalam kamar.


"Dari rumahnya Agam. Ngambil berkas perkara." Jawab Rama sembari meletakkan kepalanya di pangkuan Karin.


"Nggak bawa oleh-oleh." Kata Karin cemberut.


"Minta sama Naina di bawah hehehe." Balas Rama hingga Karin menghadiahkan cubitan di pinggangnya.


"Ada undangan makan rujak di rumahnya Miftah besok. Mau ikut?" Tanya Karin.


"Boleh tapi kamu nggak boleh makan." Ancam Rama


"Hehehe, nggak bisa gitu dong." Ucap Karin cemberut.


***


"Darimana lagi kamu Nurul?" Tanya Furqon melihat sang adik baru pulang saat waktu sudah pukul sepuluh malam


"Udah tau baru pulang kerja tugas kampus masih nanya." Jawab Nurul ketus


"Mana ada tugas kampus jam segini baru pulang? Temen kamu si Nani pulang dari jam lima sore. Jangan bohong kamu." Balas Furqon

__ADS_1


"Eh kamu anak pungut ya, nggak usah sok ngatur anak kandung. Kamu itu harus ingat terimakasih udah di pungut sama ibu bapak ku Furqon." Sahut Nurul semakin membabi buta


Plak


"Gue emang anak pungut, tapi gue tahu balas jasa nggak kayak Lo anak kandung tapi selalu nyakitin orang tua. Lo yang harus sadar diri bukan gue." Ucap Furqon dengan nafas menderu karena sakit hati atas ucapan Nurul.


Pak Kholid yang kebetulan baru saja pulang mengisi ceramah di kompleks tetangga terkejut mendengar pertengkaran kedua anaknya. Tak menyangka jika anak yang selama ini ia sayangi dan rawat sepenuh hati begitu tega berbuat kasar seperti itu pada saudaranya meski mereka tidak sedarah.


Pak Kholid menatap langkah kaki Furqon meninggal ruang tengah langsung ke arah belakang rumah. Nurul yang hendak berbalik terkejut melihat sang ayah sudah berdiri di depan pintu tengah. Tangannya sibuk membenahi jilbab dan tali tas yang tersandar di pundaknya.


"Cepat tidur sudah malam, bukannya besok kamu kuliah pagi?" Sahut pak Kholid tanpa ba-bi-bu. Hati Nurul merasa seperti di pukul palu godam mendengar ucapan sang ayah yang justru terlihat dingin.


"Kenapa anak kita seperti itu pak? Apa yang salah sama kita selama ini?" Isak sang istri di dalam pelukannya.


"Sudahlah, ini ujian kita untuk bisa lebih bersabar. Berdoa saja semoga Allah swt bukakan pintu hati Nurul. Ucap pak kholid menenangkan hati sang istri.


****


Ruang tamu berukuran 4x4 itu nampak terasa sesak meskipun hanya terisi empat orang saja yang sejak tadi bercanda mengisi waktu luang sembari menikmati semangkuk bakso sapi buatan Karin.


"Gue yakin ini temen Lo, gue pernah lihat cewek ini soalnya pas Lo pergi sama pak Rama ke desa." Ucap Miftah

__ADS_1


"Jangan ngaco, nggak mungkin Nurul tega melakukan itu ke gue." Sanggah Karin


"Terserah Lo deh percaya apa nggak, yang penting cewek yang ngirim paket ya bodi nya kayak dia." Kata Miftah dengan menunjuk foto Nurul.


"Gue juga ngerasa gitu Rin." Sahut Abdul juga diikuti anggukan Dani.


"Kok kalian pada kompak nuduh Nurul sih? Nggak mungkin Nurul tega berbuat jahat ke gue, dia itu sahabat baik gue dari orok." Kata Karin dengan wajah tak suka.


"Ya terserah sih, tapi kita ambil opsi ketiga aja ya mif, dan." Sahut Abdul menatap Miftah dan Dani.


"Yuhu." Jawab mereka kompak.


"Kalian punya rencana?" Tebak Karin, kini wajahnya sedikit masam mendengar ucapan ketiga sahabatnya. Terbersit perasaan kesal pada mereka bertiga karena menuduh Nurul.


"Nggak ada kok, opsi ketiga ya udah kita menyerah aja udah nggak mau ngurusin teror paket dan semacamnya." Ucap Abdul penuh keyakinan.


"Iya, kita udah sepakat semalam Rin, buat nggak mau ngurusin ini lagi. Malas aja ganggu banget dan nyita waktu belajar kita." Tambah Miftah


"Lagian ngapain juga ngurusin ******* nggak nggenah kayak gitu. Ngabisin waktu gue main game." Timpal Dani


Perlahan wajah Karin berangsur berubah mendengar jawaban ketiga sahabatnya yang seolah tak mau lagi membahas Nurul. Sedikit merasa lebih tenang. Meski sebenarnya Karin tak tahu apa yang sedang ketiga sahabatnya itu rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2