
Setelah sholat subuh Rama sudah sibuk di dapur sesuai janjinya pada Karin semalam. Meski mami juga melarangnya, Rama tetap mengerjakan apa yang sudah ia putuskan.
Karin baru bangun saat matahari sudah terang. Kali ini ia terlambat lagi untuk bangun pagi karena semalam begadang mengerjakan tugas yang belum selesai. Alhasil setelah sholat subuh ia memilih tidur kembali.
"Mami sudah pergi pak?." Tanya Karin
"Sudah di antar bang Ardi. Ini saya juga mau nyusul ke pasar." Jawab Rama sembari menyiapkan makanan di atas meja.
"Bapak masak apa?." Tanya Karin penasaran melihat menu yang tertata di atas meja.
"Ini konro Makassar, masakan kesukaan almarhum bapak saya. Silakan coba." Jawab Rama sembari mengisi mangkuk untuk Karin sarapan.
"Daging ya, baru tahu ada masakan kayak gini, kuahnya kok item ya." Kata Karin memperhatikan tekstur konro yang menurut nya masih asing.
"Itu ciri khas nya. Silakan di coba kalau mau nambah itu di kuali besar masih banyak. Cara makannya ya kayak gini." Ucap Rama sembari mengajari Karin bagaimana makan konro.
"Oh gitu, iya iya." Ucap Karin mengerti
"Ya sudah saya pergi ke pasar." Kata Rama sembari mengusap rambut Karin.
Meski mulut Karin berdecih, tetap saja dalam hatinya merasa tersanjung mendapatkan perlakuan lembut seperti itu.
Hampir pukul sebelas siang, Abdul, Miftah dan Dani datang kerumah Karin membawa seabrek cemilan dan buah.
"Ini kalian mau pesta buah atau mau jualan?." Tanya Karin geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiga sahabatnya yang seperti orang mau pindahan.
"Itu juga tas berat banget, emang kalian bawa apaan, rumah gue nggak nampung pengungsi ya." Kata Karin menunjuk tiga tas ransel yang sepertinya terlihat lebih berisi tidak seperti biasanya.
"Tenang Bu RT, kita orangnya baik nggak mau ngerepotin tuan rumah makanya bawa makanan, bawa baju ganti, siapa tahu kita disini sampai malam." Jawab Miftah cengengesan.
"Jam lima sore kudu pulang. nggak nerima penginapan." Sahut Karin
"Rin, kamar mandi mana?." Tanya Abdul
"Di belakang, lurus aja dekat dapur jangan keluar Lo, ntar nyasar kerumah orang." Ucap Karin menunjuk arah dapur.
"Oke makasih." Kata Abdul berlari
"Kalian duduk-duduk dulu ya santai, gue mau siap-siap dulu." Ucap Karin pada Miftah dan Dani.
"Oke Bu RT." Balas mereka serempak.
Setelah melihat Karin naik ke atas dan masuk ke kamarnya, mereka berdua melangkah ke arah dapur mengikuti langkah Abdul tadi.
"He, kalian lihat ke arah samping jangan sampai ada yang mencurigakan, sesuai amanah pak Rama." Perintah Abdul pada pada dua sahabatnya.
Miftah dan Dani langsung melipir terpisah, sedangkan Abdul masuk ke pintu samping yang terhubung langsung dengan bagasi. Begitu sampai Abdul langsung melancarkan aksinya memasang GPS di motor Karin seperti permintaan pak Rama.
Setelah memastikan semuanya beres dan aman, Abdul kembali masuk ke kamar mandi dan baru keluar beberapa menit kemudian.
Miftah dan Dani justru asyik bermain kucing di samping rumah dekat tanaman sayur mami. Saking asyiknya mereka sampai tidak menyadari jika Abdul sejak tadi geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol mereka.
__ADS_1
"Kalian ini waktu kecil nggak pernah main kucing?." Seloroh Abdul
"Kucingnya lucu Dul, sini lah kita main sebentar." Ajak Dani.
"Lo nggak dengar suara masjid udah tarhim, ini mau sholat dhuhur gais." Kata Abdul.
"Bentar lagi." Ucap Dani.
"Serah deh." Kata Abdul
"Woi…Lo pada datang kesini mau ngungsi atau mau apa?." Teriak Karin dari arah pintu samping.
"Mau kondangan mereka." Jawab Abdul terkekeh
"Rin, kucing-kucing Lo lucu banget, boleh dong gue bawa pulang satu." Ucap Dani.
"Iya Rin gue juga boleh ya bawa satu." Kata Miftah
"Enak aja main minta, Lo pikir ngurusin kucing kayak ngasih makan kalian? Kalau mau ya beli." Jawab Karin menghampiri kedua sahabatnya.
"Ck pelit Lo." Ejek Dani.
"Ini bukan kucing-kucing gue, tapi punya Naina ponakan gue. Gue mana bisa ngurusin kucing." Ucap Karin
"Kirain punya Lo, gagal minta deh." Sahut Miftah.
"Enak aja asal minta, satu aja harga nya sama kayak beli hape baru, belum makanannya, meni pedinya, belum lagi pasirnya dan lain-lain. Ribet deh." Ucap Karin
"Hape Lo buka kardus cash harganya berapa?." Tanya Karin.
"Ini, empat juta-an."jawab Dani
"Nah segitu juga harganya ini kucing." Kata Karin.
"Ha?." Dani dan Miftah sama-sama melongo
"Mending gue nyicil motor baru tinggal nambahin DP 2 jutaan lagi." Sahut Abdul.
"Hahahaha." Karin terbahak melihat sikap Dani dan Miftah yang tak percaya dengan harga satu ekor kucing milik Naina.
"Sekaya apa sih Lo Rin, kucing gini aja harganya kayak hape baru. Mending kucing di rumah tetangga gue culik." Ucap Dani geleng kepala.
"Hahaha sa aja Lo." Sahut Miftah
"Kalian udah pada makan siang?." Tanya Karin.
"Belum, baru juga setengah jam kita datang. Perut masih penuh." Jawab Dani.
"Ya udah, ayo masuk kita kerja." Ajak Karin.
Sementara itu di pasar, Rama kewalahan membantu mami melayani pelanggan. Sejak ia datang mami sudah sibuk kesana kemari mengambil barang dan menghitung dibantu oleh Riko dan kawan-kawannya.
__ADS_1
Rama merasa mendapatkan pengalaman baru hari ini. Selama ini ia hanya bekerja sebagai karyawan dengan gaji dan jabatan yang mentereng, bekerja tidak berdesakan hanya mengandalkan daya kerja otak dan kemampuan melihat pangsa pasar.
Namun di sini, di pasar induk membantu mami berjualan, Rama seolah mendapat pencerahan dan sedikit merubah pola pikirnya tentang pekerjaan orang lain.
"Mi, apa dari dulu mami buka toko waktu almarhum papi masih hidup?." Tanya Rama setelah pelanggan sudah keluar toko.
"Iya Alhamdulillah, ini toko perjuangan papi saat pertama kali merintis usaha di sini. Awalnya memang kami kesulitan, bahkan untuk mendapatkan pelanggan tetap saja kami tidak bisa dan pernah hampir bangkrut karena pendapatan dan pengeluaran tidak sesuai." Jawab mami bercerita kisah hidupnya.
"Trus toko bahan kue yang di daerah xxx itu punya mami juga?." Tanya Rama.
"Iya itu punya mami, karena dulu sempat banting setir karena kami belum mendapatkan pelanggan, akhirnya mami coba bikin kue dan di jual dari satu toko ke toko lain, dan Alhamdulillah seiring waktu mami mendapatkan orderan yang semakin banyak apalagi menjelang lebaran dan acara tertentu, nah dari situ mami kepikiran untuk buka toko bahan baku kue yang sekarang di pegang sama Aisyah." Kata mami.
"Bener-bener perjuangan dari nol ya mi, waktu itu udah ada Karin mi?." Tanya Rama
"Belum lah, Ardi baru umur dua tahunan dan Uti baru kelas dua SD. Arkan masih di dalam perut." Jawab mami.
"Trus selain usaha itu mami ada usaha lain?."
"Ada, kebun karet sama sawit di Kalimantan, Ardi yang kelola. Makanya Ardi sering sekali ke Kalimantan ya ngurusin kebun. Dan yang ngurusin di sana orang yang di beri amanah sama almarhum papi, Ardi cuma mengecek setiap kali panen sampai selesai."
"Mami nggak pernah kesan?."
"Pernah waktu Karin masih SD. Ram, kabarnya Tante kamu Rosa dimana sekarang?."
"Tante kembali ke kampung mi, katanya lebih nyaman hidup di desa, lebih adem. Aku ajak balik ke sini nggak mau karena teringat sama almarhum bang Ramon terus." Kata Rama
"Ya namanya orang tua, dimana-mana kalau kehilangan anak tetap saja akan di ingat sampai kapanpun." Timpal mami.
"Bu, ini berapa harga nya?." Tanya seorang pembeli memegang merk susu
"Itu yang 200gr 45 ribu." Jawab mami.
"Saya mau ambil tiga Bu, bisa kurang?."
"Bisa. Kenapa nggak ambil yang 400gr aja Bu." Tanya Rama menawarkan
"Eh pak Rama?." Ucap wanita yang tak lain adalah Bu Nuri.
"Ketemu lagi kita Bu, apa kabar?." Tanya Rama ramah.
"Kabar baik, sekarang kerja disini ya pak Rama?." Tanya Bu Nuri
"Kerja masih tetap Bu, hari ini kebetulan libur jadi bantu mertua saya menjual."
"Oh jadi ibu ini mertua pak Rama, ini langganan kue saya loh pak tiap lebaran." Seloroh Bu Nuri.
"Oh ya? Nggak nyangka dunia sesempit itu Bu heheh." Kata Rama tersenyum
"Karin apa kabar? Udah berisi belum pak?." Ucap Bu Nuri sengaja meledek Rama.
"Doakan saja ya Bu dosen, semoga segera di kasih cucu." Jawab mami
__ADS_1
"Amiiin." Rama hanya tersenyum cengengesan saja.