Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 67


__ADS_3

"Kamu dari mana semalam? Ibu lihat akhir-akhir ini kamu sering pulang malam. Apa ngajar ngaji sampai malam sekarang? Anak pak Usman pulangnya masih setengah enam sebelum maghrib, lha kamu mampir kemana?" Cecar wanita paruh baya yang masih terlihat segar bugar itu.


"Ibu makin hari makin cerewet." Jawab gadis berjilbab biru itu dengan wajah kesal.


"Nurul." Sahut ibunya dengan nada sedikit tinggi saking terkejutnya melihat respon sang anak yang tidak seperti biasanya.


Prang


Dentingan sendok terdengar karena sang anak melempar sendok ke arah kursi dan hampir mengenai sang ibu yang berdiri tak jauh dari meja makan.


"Nurul." Suara bariton terdengar dari pintu tengah.


"Begitu sikap kamu sama ibu kandung mu?" Gertak lelaki muda berusia dua puluh tahunan yang menenteng ransel di pundaknya.


"Lo anak pungut nggak usah ikut campur." Hardik Nurul dengan tatapan menghunus pada pria yang biasa ia panggil mas.


Plak


"Ibu nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar seperti ini Nurul." Hardik pelan sang ibu dengan tangan bergetar karena menampar pipi sang anak. Air mata terlihat menetes dari netra wanita paruh baya itu.


Nurul pergi mengentakkan kakinya meninggalkan ruang makan dengan perasaan kesal dan sakit hati atas perilaku ibu dan kakak angkatnya. Tidak ada yang mau mengerti apa yang ia rasakan saat ini.


"Ibu nggak papa?" Tanya Furqon seraya mengusap air mata yang jatuh dari wanita paruh baya yang sudah rela merawatnya sejak kecil itu.

__ADS_1


"Ibu nggak papa, kamu sarapan dulu nanti terlambat masuk kuliah." Kata sang ibu dengan pelan.


"Ayo aku antar ke kamar. Urusan Nurul biar nanti aku yang bicara sama bapak." Ucap Furqon seraya menuntun ibunya berjalan.


Di dalam kamar, Nurul membabi-buta dan membanting semua benda yang ada di dalam kamarnya hingga berserakan memenuhi lantai kamar.


"Semua gara-gara kamu Karin. Aku benci kamu. Kenapa kamu nggak mati aja." Teriaknya histeris sembari terduduk di lantai dengan tangisan pilu.


"Kenapa harus kamu, kenapa bukan aku aja yang di nikahi Rama. Asal kamu tahu aku yang lebih dulu kenal Rama, aku yang lebih dulu jatuh cinta sama Rama. Kamu jahat, kamu udah ngerebut Rama dari aku Karin. Aku benci kamu. Hikkkss hiksss hahahaaaa." Tangisan itu beriring dengan suara tawa aneh dari Nurul. Gadis selugu itu bisa berubah menjadi sosok monster menakutkan jika tak mampu mengolah rasa dalam dirinya dengan baik.


Suara dentuman dari barang yang terjatuh membuat seorang pria paruh baya marah namun tak berani menggertak bahkan memarahi anak buahnya yang sudah menjatuhkan salah satu barang yang baru di angkut dari dalam mobil kontainer. Ketakutan itu datang karena tatapan nyalang dari salah satu pekerja sambilan yang membuatnya takut bukan kepalang.


"Barang yang sudah rusak simpan di ruang sebelah, nanti di ganti yang baru." Ucapnya seraya menahan amarah.


"Ya udah lanjut kerja, kalau capek istirahat, ada makanan disana kalau kamu lapar." Kata pemilik toko acuh tak acuh.


"Terimakasih pak." Ucapnya


Pria pemilik toko itu masuk ke dalam ruko sebelah dengan mulut masih komat-kamit membaca banyak mantra kekesalan yang keluar dengan berbagai macam umpatan tak berfaedah karena tak berani mengeluarkannya di depan para buruh angkut tadi.


"De, cepat angkut lagi itu satu, sisanya biar saya saja. Kamu makan dulu sana." Titah Satrio.


"Iya bang Tiyo."

__ADS_1


Hari-hari tertentu Satria memang menyamar menjadi kuli angkut untuk memberi makan anak-anak buahnya yang rata-rata anak terlantar dan tidak memiliki rumah terlebih lagi mereka kebanyakan yatim-piatu yang sudah tidak memiliki sanak saudara. Bahkan mungkin masih ada yang memiliki namun tidak ada satupun keluarga mereka yang mau mengasuh.


Dua tahun ini pekerjaan itu ia jalani karena merasa lelah terus menerus menjadi target pengejaran oleh polisi. Saat ini yang ia inginkan adalah membantu anak-anak buahnya demi menebus semua kesalahannya di masa lalu pada keluarga Rama dan kedua orang tuanya serta almarhum kakak beserta iparnya yang meninggal karena ulahnya.


"Tiyo, sini dulu." Panggil sang pemilik toko.


"Iya pak."


"Ini gaji kamu, dua hari lagi ada barang datang dari supplier, kamu datang lebih cepat ya."


"Berapa mobil pak?" Tanya Tiyo seraya menerima amplop putih sedikit tebal itu.


"Kemungkinan dua atau tiga kontainer. Kalau bisa kamu menginap saja di ruko sebelah tempat biasa saya istirahat." Kata pria pemilik toko


"Baik pak, butuh berapa orang pak?"


"Terserah kamu saja. Karena kamu yang tahu kemampuan anak buah mu. Oh ya, minggu depan ada santunan di masjid kompleks rumah saya, kamu bawa semua anak buah kamu kesana. Acaranya sore sampai malam." Kata pemilik toko.


"Baik pak, terimakasih banyak. Maafkan kesalahan anak buah saya tadi. Dia kurang sehat karena harus merawat neneknya di rumah sakit. Saya ajak kesini karena butuh uang untuk pengobatan." Kata Tiyo jujur.


"Iya, sama-sama, saya juga minta maaf. Ya sudah saya tinggal dulu."


"Baik pak."

__ADS_1


__ADS_2