Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
CJIS 27


__ADS_3

Setelah selesai berbincang, Rama dan Arkan masuk ke dalam rumah. Arkan meminta Rama tidur di kamarnya, karena tak mungkin lagi untuk membangunkan Karin yang sedang marah.


Di dalam kamar mereka melanjutkan rencana untuk esok hari. Bukan tidak mungkin jika besok ada polisi datang menjemput Karin.


Tengah malam Karin terbangun karena merasa lapar. Seharian ia memang tidak nafsu makan guncangan hebat yang ia rasakan benar-benar membuatnya lupa untuk sekedar minum saja.


Karin menapaki anak tangga dengan lemas, tangannya memegang pembatas tangga hingga di anak tangga terakhir.


Ia duduk lesehan di atas lantai dengan kepala bersandar di pembatas. Matanya sibuk menelisik setiap sisi rumah yang masih nampak terang.


Tidak seperti biasanya, sudah pukul dua malam lampu masih terang, berarti ada yang belum tidur atau mungkin memang lupa dimatikan.


Karin melangkah ke arah dapur perlahan dan membuka tudung saji. Hanya ada nasi bakar sisa makan malam tadi, sambal goreng ati, dan sayur santan daun ubi.


Tanpa pikir panjang Karin mengambil piring dan mengisinya dengan sisa makanan yang ada. Tak peduli jika besok pagi ada ocehan tidak faedah dari mbak Uti atau kedua kakaknya.


Karin makan dengan lahap tanpa bersisa. Matanya kembali terang karena kekenyangan. perlahan ia berjalan membawa bekas piring ke wastafel.


Karin melihat jam tangan di atas kulkas, mengamati dan mengambil nya. "Ini kenapa ada disini? ini kayak punya si bapak tua itu?" batin Karin membolak-balik jam tangan.


Karena malas berdebat dengan pemikirannya, Karin meletakkan kembali jam tangan di atas kulkas dan kembali ke kamar.


Matanya menelisik ke kamar Abang keduanya yang terlihat masih menyala. mungkin sedang mengerjakan sisa pekerjaan nya di kantor Batin Karin.


Di dalam kamar ia mengambil ponsel dan mengaktifkan kembali. Banyak notifikasi masuk saat data ia aktifkan.


Ia letakkan kembali ponsel ke atas nakas menunggu ponsel selesai bergetar. Karin memilih sibuk membersihkan kondisi kamar yang berantakan.


Menangis seharian benar-benar membuat nya lega. sejenak bisa melupakan kekesalannya sejak kemarin-kemarin.


Karin menemukan sebuah map coklat di dalam laci lemari belajarnya. Karin merasa asing tetapi tetap mengambil map itu dan membukanya.

__ADS_1


Karin membolak-balik map itu, dan perlahan membukanya. Sebuah foto hasil Rontgen bagian kepala. Karin benar-benar tak tahu ini milik siapa. sudah lama memang ia tak membuka laci meja belajarnya sejak terakhir kali entah itu kapan. Karena ia lebih suka menyimpan semua barang di atas meja agar lebih simpel mengambil saat di butuhkan.


Tak ada nama siapapun tertera di amplop, Karin memilih menyimpannya kembali ke dalam laci. tangannya bergerak cepat membersihkan kamar dan menata nya kembali agar terlihat nyaman.


Sebuah dering lama di ponselnya membuat nya berhenti sejenak dan melihat siapa yang menghubungi nya tengah malam begini.


Nama Santi tertera, dengan malas Karin menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum kenapa san?" tanya Karin memulai pembicaraan


Bukan jawaban yang Karin dengar melainkan suara tangisan menggugu di ujung telpon. Karin diam sejenak mendengarkan suara tangis Santi.


"San, Lo kenapa sih? Ada masalah Lo?" tanya Karin lagi. tapi tak ada jawaban, Karin mencoba bertanya lagi dengan anda sedikit membentak.


"San, Lo kalau nggak ada yang mau di omongin lebih baik nggak usah nelpon gue, ganggu orang tidur" bentak nya.


"Rin....." suara serak Santi terdengar


Karin hanya menghela nafasnya, ia tak tahu apa yang tengah di hadapi Santi. Tapi ia tetap berkata pelan.


"Ma...maaf....Rin..maafin gu... gue" kata Santi terbata-bata


Karin merasa heran, sahabatnya yang satu ini tak biasanya mengatakan maaf. Orang yang super cerewet dan angkuh tumben meminta maaf padanya.


"Ngomong yang jelas San, Lo minta maaf kenapa? Emang Lo bikin salah apa?" tanya Karin


"Maa...maafin gue u...udah bikin ....fi...fitnah jelek ke Lo" ucap Santi membuat Karin menganga tak percaya.


"A...apa? Lo ngomong apa barusan San? Lo... Lo yang bikin fitnah itu di kampus? Lo yang hasut semua orang di kampus soal gue yang jual diri dan hamil di luar nikah? jawab gue Santi" teriak Karin tersulut emosi.


Dadanya berdebar naik turun, ritme emosinya benar-benar memuncak, seharian ia sudah menangis dan sampai mencelakai Jihan rupanya biang kerok semua fitnah tak lain adalah sahabat nya sendiri.

__ADS_1


Karin benar-benar tak percaya dengan pengajian Jihan.


"Tega Lo ya .. apa salah gue san?" teriak Karin sekali lagi. Air matanya benar-benar kering sudah habis tak bersisa. Hanya amarah saja yang meluap untuk dilepaskan.


"Maafin gue Rin, gue siap di penjara, maafin gue Rin" ucap Santi terisak


"Tanggung jawab Lo di kantor polisi besok, gara-gara fitnah Lo gue sampai nyakitin Jihan, gara-gara hasutan Lo semua orang benci sama gue, dan gara-gara Lo pak Rama juga kena masalah di kampus, setan Lo emang san" umpat Karin


Hatinya benar-benar kesal, sambungan telepon ia matikan dan keluar kamar hendak ke dapur mengambil air minum.


Tapi di anak tangga paling bawah, dua orang pria sedang berdiri mengawasi nya dengan tatapan memelas.


Rama dan Arkan sedang berdiri di bawah menatapnya tanpa berkedip. Karin akhirnya luluh dan turun menghambur di pelukan Arkan.


Menangis sejadi-jadinya di pelukan sang Abang pengganti papinya yang sudah tiada. Arkan memeluk Karin erat seperti yang dilakukan papi saat masih hidup.


Rama beringsut mundur memberikan ruang pada kakak beradik itu untuk meluapkan perasaan mereka.


Beberapa menit yang lalu saat ia tengah sholat malam mendengar teriakan Karin dari atas. Beruntung Arkan juga terbangun. Mereka berdua lantas keluar kamar dan hendak menemui Karin, rupanya Karin sudah keluar dengan wajah kesal.


Rama tersenyum, meskipun dalam hati ia merasa iri, tetap saja ia sadar diri, jika Karin belum sepenuhnya bisa menerima dirinya sebagai suami. bagi Karin Rama masih lah orang lain yang berstatus suami.


"Sudah, besok kita ke kantor polisi pagi-pagi, tadi paklik Supri sudah nelpon Abang, akan di selesaikan secara kekeluargaan." kata Arkan menenangkan Karin.


"Kenapa Santi tega bang .." Isak Karin


"Dia lagi khilaf, udahlah dia pasti bisa bertanggung jawab kok, temen Abang tadi sudah kesana menemui orang tua Santi. Udahlah. Ini ujian pertama pernikahan kamu sama Rama, nggak usah risau." kata Arkan membuat Karin langsung melepas pelukannya.


"Ngomong apa?" tanya Karin menatap Arkan tajam.


"Emang ada yang salah sama omongan Abang?"

__ADS_1


"Kalau saja kalian nggak merestui pernikahan itu, nggak akan ada fitnah keji seperti ini ke gue bang" bentak Karin.


Senyum Rama luntur seketika, ucapan Karin benar-benar membuatnya tersentil. Ia memang salah sejak awal. Arkan yang menyadari ucapan sang adik langsung menoleh ke arah Arkan yang duduk di sofa tetapi pandangan nya terfokus pada layar ponselnya.


__ADS_2