
Karin terisak di depan makam sang papi, tangisnya pecah tak peduli pada penjaga makam yang sedang bekerja membersihkan makam lain.
"Pi kenapa aku harus ketemu sama laki-laki seperti Rama? Hidup ku terlalu rumit setelah ketemu Rama Pi Hikss hikss" racaunya di atas makam sang ayah.
Rama memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakannya melihat kondisi Tante Rosa. kemarin wanita paruh baya itu mengatakan ingin berjualan lagi di sekolah.
Urusan Karin biarlah ia jeda dulu, menuggu waktu yang tepat untuk bicara pada Karin. mungkin jika ia tak pulang kerumah Karin dan hanya memberikan kabar pada mertuanya itu lebih baik. Daripada bertemu Karin tapi justru membuat suasana semakin runyam.
Sampai di depan rumah Rama menyimpan motor di depan teras, menguncinya dan melihat kondisi rumah yang nampak baru saja di bersihkan.
Pintu rumah tidak tertutup rapat bahkan jendela terbuka lebar. Rama tidak langsung masuk ke dalam rumah tetapi berjalan lewat samping karena mendengar obrolan di halaman belakang.
Rama melihat Aziz sedang membersihkan rumput dan ilalang di belakang yang sudah begitu tinggi. Tante Rosa terlihat sedang menyalakan tungku api untuk menanak nasi.
Rama tersenyum melihat keakraban Tante Rosa dan Azis adik kandung dari almarhumah menantunya.
"Assalamualaikum Tante, Aziz lagi ngapain?" sapa Rama.
Tante Rosa yang mendengar sapaan Rama langsung beranjak dan menyambut Rama yang menentang belanjaan.
"Ini buat Tante menjual besok, tadi saya sekalian singgah di tempat langganan Tante untuk beli ini, modal yang saya kasih kemarin masih cukup kan Tan?" tanya Rama memberikan dua kresek besar Snack yang akan di jual oleh Tante Rosa.
"Terimakasih nak, sudah banyak membantu Tante, modal yang kamu kasih kemarin masih utuh belum Tante pakai" jawab Tante Rosa
"Aziz, rumputnya masukin di dalam sak saja nanti bawa di depan besok kan ada jadwal petugas sampah yang ambil" kata Rama.
"Iya mas, yang kering ini saya bakar ya?"
__ADS_1
"Iya bakar saja"
"Ram, Naira mana?" tanya Tante Rosa celingak-celinguk mencari cucunya.
"Sama mertua saya tan, maaf ya" jawab Rama berterus terang.
"Mertua?" Tante Rosa memekik. Aziz terkejut mendengar ucapan Tante Rosa yang terkesan kaget.
"Ceritanya panjang Tan, kita bisa bicara di dalam" ucap Rama langsung menggandeng lengan wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah.
Aziz yang sudah tahu kalau Rama sudah mempunyai istri hanya diam saja. Karena merasa itu bukan hak nya untuk ikut campur. Ia disini hany sebagai wali dari Naira, anak kandung sang kakak yang sudah yatim-piatu.
Tante Rosa duduk di bangku kayu di ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur. dadanya berdegup kencang mendengar Rama sudah menikah tanpa memberitahunya.
"Tan, maaf kalau aku baru cerita" kata Rama memegang tangan wanita tua itu.
"Ceritanya panjang Tan, saat itu hujan deras saya baru pulang dari kampus trus singgah ke mini market beli susu untuk Naira. Saya nekat menerobos hujan tapi di tengah jalan saya berhenti di halte dekat perumahan permai. saat itu mahasiswi saya juga ada di situ sedang berteduh, tidak lama ada kakek tua yang datang dan menuduh kami pasangan mesum, setelah perdebatan panjang akhirnya kami memilih pulang, dan saya antar mahasiswi saya sampai di rumahnya di sanalah saya melamar dia dan kami langsung nikah siri dan besoknya baru saya ajak nikah di KUA" jelas Rama panjang lebar
"Kenapa kamu gegabah ram? Harusnya kamu antar saja sampai di rumahnya, kenapa harus sampai melamar dan menikah?" tanya Tante Rosa tak mengerti.
"Situasinya tidak mendukung Tan, di tengah perjalanan saya mengantar pulang, saya ingat dengan tato yang ada di tangan kanan laki-laki tua itu, dia laki-laki yang pernah menyandera saya dan Ulfa waktu itu, Tante ingat kan waktu bapak dan ibu saya terlilit bayar hutang sama rentenir? Saya dan Ulfa di jadikan tawanan?" tanya balik Rama membuat Tante Rosa menangis dan merasa bersalah teringat mendiang adik dan iparnya yang hidupnya susah.
Bu Rosa tak bisa menahan tangisnya.
"Beruntung malam itu rumah mertua saya bisa selamat dari perampokan tan, saya jadi yakin kalau saat kami pulang ada yang mengikuti hingga kerumah istri saya, malam itu setelah ijab qobul sekitar pukul dua malam ada yang menyatroni rumah mertua saya, beruntung tetangga depan rumah seorang ustadz yang biasa bangun tengah malam melihat para perampok itu menaiki pagar, langsung cepat tanggap dan menelpon kakak ipar saya" jelas Rama.
"Maafkan Tante Ram, maaf Tante sudah bikin hidup kamu susah" ucap Bu Rosa mengingat semua kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
Cerita Rama sudah cukup membuatnya mengingat masa lalu suram yang sudah ia lakukan pada almarhum adiknya yang hidup miskin.
"Tante bersalah sama ibu mu juga bapak mu ram, seandainya dulu Tante nggak nolak untuk membantu ibu kamu, mungkin saat itu kamu nggak di culik sampai jadi gelandangan, maafkan Tante Ram, Tante ingat dan Tante kenal siapa preman yang kamu sebut tadi" ucap Tante Rosa membuat Rama tak kalah kagetnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan saya dan Ulfa waktu di culik tan?" tanya Rama menatap tajam pada Tante Rosa.
"Tidak, tidak ada, Tante kenal preman itu karena dia teman almarhum om kamu, pria itu memang di kenal bengis dengan siapa saja yang jadi tergetnya, terakhir sebelum om kamu meninggal, pernah berpesan segera pergi meninggalkan rumah agar tidak bertemu preman itu jika ia sudah keluar dari penjara. Ibu kamu dulu punya hutang dengan juragan Karso dan tidak sanggup membayar, lalu datang ke Tante meminjam uang tapi Tante tidak memberikan, akhirnya juragan Karso naik pitam dan meminta preman itu menculik kamu dan Ulfa di jadikan tawanan, maafkan Tante Ram, maaf, Tante nggak nyangka kamu sudah nikah meskipun tanpa berbicara pada Tante, Tante yang harusnya tahu diri. Tante sudah banyak menyakiti kalian tapi kamu justru mau menolong Tante yang sekarang sudah tua sisa menunggu jadwal mati" kata Tante Rosa terisak-isak.
"Siapa perempuan yang jadi istri kamu ram?" tanya Tante Rosa
"Dia perempuan yang pernah nganter Tante pulang kerumah waktu keserempet mobil dulu" jawab Rama.
"Tante nggak ingat Ram, trus kenapa kamu nekat menikahinya?" tanya Tante Rosa.
"Karena saya merasa bersalah sudah menyentuhnya saat ia berdebat dengan laki-laki tua itu dan hampir saja berkelahi, dia atlet bela diri Tan, saya berusaha jadi penengah saat itu tanpa sengaja saya memeluknya, dan saya merasa harus bertanggung jawab meskipun bagi dia itu tidak masalah tapi tetap saja saya sudah menyentuhnya yang bukan muhrim Tan, biarpun kami sama-sama berpakaian. Mungkin sudah jalannya seperti ini hingga saya ingat tato di lengan laki-laki tua itu, perasaan saya nggak karuan antara mau pulang atau tetap bersembunyi dirumah mertua saya saat itu, karena jujur saya masih trauma jika ingat saat kami di sekap dan hampir mati saat masih kecil" ucap Rama membuat Tante Rosa semakin merasa bersalah.
"Kapan-kapan izinkan Tante bertemu dengan keluarga nya, Tante pikir saat Tante pulang dari rumah sakit Naira di asuh oleh istri pak ustadz atau Bu RT ternyata kamu bawa kerumah istri mu" kata Tante Rosa.
"Tante nggak pernah keluar rumah?"
",Tidak, cuma Aziz saja yang keluar beli makanan, kaki Tante masih bengkak jadi nggak bisa jalan terlalu jauh, besok saja ke sekolah Tante terpaksa nyewa ojek kesana" kata Bu Rosa.
"Kan ada motor lama bang Ramon Tan, kenapa nggak di pake?" tanya Rama
"Tante nggak tega, karena itu satu-satunya barang Ramon yang di beli dengan jalan halal dari gaji pertamanya jadi karyawan di PT". Jawab Tante Rosa menatap motor lawas almarhum anak satu-satunya yang masih utuh.
"Ya sudah besok biar Aziz yang antar pakai motor Rama saja. Motor bang Ramon biar saya pake, kasihan mesin dan oli nya kalau nggak pernah di pakai" ucap Rama
__ADS_1
"Ya terserah kamu saja lah ram"