
Rama memacu motornya dengan kecepatan sedang. Meskipun dalam keadaan genting, ia tetap mendahulukan keselamatan.
Ucapan Agam benar-benar merubah pola pikirnya, yang sejak awal ia berniat menjauhkan diri dari Karin agar gadis itu lebih banyak waktu untuk menenangkan diri ternyata salah besar.
Jika dalam satu minggu masalah ini tidak selesai dan ia hanya terus menjaga jarak, sudah tentu ia tidak bisa lagi mengajar di kampus.
Sekarang ia tahu kalau Karin adalah korban karena kesalahannya yang abai di saat Karin benar-benar dalam masalah dan tidak bisa menghadapinya sendiri. Sebagai suami seharusnya ia bisa lebih mengerti bukannya malah melarikan diri. meskipun hubungan mereka belum terlalu jauh, tapi sebuah mahligai sakral ini cukup hanya sekali baginya.
Dan jika terjadi sesuatu pada Karin, yang patut di salahkan adalah dirinya. Dan yang akan membawa penyesalan juga dirinya yang tidak sanggup menjaga dan mendampingi sang istri saat tengah menghadapi masalah, terlebih lagi masalah ini timbul juga karena kesalahannya yang bertindak gegabah sejak awal.
Karena ketakutan nya akan trauma masa lalu membuatnya mengambil keputusan gegabah saat itu. Disini Karin lah sebagai korban bukan dia.
Tiba di rumah mertua, Rama berpapasan dengan Abang iparnya Arkan yang baru saja pulang dari mengikuti kajian. Rama menyimpan motornya di garasi bersisian dengan kendaraan lain.
"Baru sampai? Ayo masuk" ajak Arkan ramah.
"Iya bang, maaf Abang tadi nggak keburu jalan kan pas aku telpon mau pulang?" tanya Rama
"Oh nggak, kebetulan pas kamu telpon say baru siap-siap, abis itu ada ajakan pak ustadz ikut pengajian di masjid raya" jawab Arkan.
"Oh ya syukurlah, Naira pasti sudah tidur" gumamnya melihat jam yang melingkar ditangan kanannya.
"Naira tidur dari maghrib, dari sore rewel terus pas saya gendong langsung tidur, sekarang tidur sama mami, ini udah jam sepuluh, kamu mau tidur dimana?" tanya Arkan
"Hah?" Rama kaget mendapati iparnya bertanya akan tidur dimana.
"Dah sini duduk dulu, kita ngobrol, orang udah pada tidur semua, nggak enak kalau suara kita ganggu mereka." kata Arkan duduk di sofa teras.
Rama menurut saja dan menaruh tas ranselnya di bawah sebelah kakinya. Helm ia simpan di atas rak sedangkan jaket tetap ia pakai karena udara yang terasa dingin.
"Ram, maaf kalau sekiranya saya terlalu lancang, maaf nih ya, apa kalian sedang bertengkar atau ada masalah?" tanya Arkan seraya membenarkan letak duduknya.
Rama sudah menduga pasti hal ini akan di pertanyakan padanya. Rama tahu sebagai seorang kakak tidak akan pernah terima jika sang adik di sakiti oleh suaminya. Rama tahu itu. Dan itulah kenapa Rama tadi buru-buru pergi. jangan sampai justru keterdiaman nya dan sikapnya yang menjauh justru menjadi Boomerang baginya.
__ADS_1
"Iya bang, apa Karin cerita?" tanya Rama seraya menyulut sebatang rokok. " Maaf bang saya merokok, pikiranku benar-benar kacau" lanjutnya.
"Rokok aja saya juga perokok, tapi udah insyaf hehe" kata Rama.
"Sebenarnya masalah ini awalnya ya nggak terlalu saya ambil pusing bang, tapi saya juga nggak tahu darimana sumber fitnah itu terjadi bahkan sampai Karin di fitnah yang sangat tidak bermoral, awal nya saya pikir semua baik-baik meskipun Karin memang sampai saat ini tetap menjaga jarak dengan saya bang," ucap Rama memulai cerita.
"Trus masalah intinya apa? Fitnah seperti apa yang kalian hadapi?" tanya Rama
"Semua berawal saat Karin dirumah sakit, dan saat itu saya sedang menjaga Karin yang tertidur, karena mami keluar, pas datang rupanya mami bawa teman-teman sekelas Karin mau menjenguk, di situlah awal mulanya, Abang bisa tanya mami saat teman Karin datang ke rumah sakit". Jawab Rama.
"Fitnah macam apa yang di tuduhkan ke Karin?" tanya Arkan.
"Abang bisa baca pesan dari teman saya di kampus, disitu ada semua inti masalah nya, dan sekarang sedang di selidiki pihak kepolisian" ucap Rama menyodorkan ponselnya ke Arkan.
Arkan meraih ponsel Rama dan mulai membaca satu persatu isi pesan dari Agam yang tunjukkan Rama.
"Apa Jihan anaknya pakai jilbab besar?" tanya Arkan setelah selesai membaca isi pesan di ponsel Rama.
"Kenal, dia adik teman saya sewaktu kuliah, orang tuanya punya usaha kain dan konveksi, tapi belakangan usahanya bangkrut karena sebagian asetnya di bawa kabur menantunya yang kerjanya cuma mabuk-mabukan" terang Arkan.
"Abang kenal baik dengan keluarga nya?" tanya Rama
"Tidak juga, dengan kakaknya Jihan juga hanya teman kampus nggak terlalu kenal baik" jawab Arkan.
"Kalau boleh jujur ya ram, tadi saya sempat datang ke Polrestabes bertemu kakak sepupu saya yang tugas di sana, mungkin kamu tahu pak Supri?" tanya Arkan.
"Nggak kenal bang, emang ada apa?"
"Tadi siang jujur saja, saya dapat telpon dari mas Pri, kalau ada laporan atas tuduhan penganiayaan yang dilakukan Karin, tapi saya belum berani nanya Karin karena dia seharian nggak pulang, ponsel nya mati nggak bisa di hubungi, pulang sore tapi nggak mau keluar kamar meskipun sekedar makan." jelas Arkan membuat Rama terkejut.
"Jadi Abang sudah tahu?"tanya Rama
"Iya, saya tahu, tapi saya memilih diam karena sewaktu saya datang kesana sore tadi ada tiga laki-laki sahabat Karin mengaku sebagai saksi dan mereka bahkan memohon agar Karin tidak tahu masalah ini, dan mereka berkorban rela di penjara demi menolong Karin, sebegitu hebatnya kan adik saya ram haha" ucap Rama tertawa pelan.
__ADS_1
"Jadi, apa yang harus saya lakukan? bagaimana dengan orang tua Jihan?" tanya Rama
"Besok kita kesana sama-sama, kita selesaikan secara kekeluargaan, sebenarnya tiga sahabat Karin tadi sudah mengaku siapa dalang di balik fitnah yang mencoreng nama kamu dan Karin" kata Arkan.
"Apa orang di dalam sudah tahu bang?" tanya Rama
"Nggak ada yang tahu, karena aku sudah minta mas Pri untuk tidak berbicara dengan mami dan yang lainnya" jawab Arkan.
"Syukurlah," ucap Rama bernafas lega.
"Sebenarnya kamu bisa tuntut balik kalau mau ram, tapi sepertinya lebih baik di selesaikan secara kekeluargaan saja, karena tersangka masih kuliah" usul Arkan.
"Jujur saja bang, awalnya saya abai dengan berita miring yang saya dengar dari teman-teman seprofesi, saat itu memang saya nggak memikirkan bagaimana dengan Karin, karena sejak awal memang Karin menjaga jarak dengan saya bang" kata Rama jujur.
"Apa selama ini kamu dan Karin belum ...... Em....itu...." ucapan Arkan terbata karena merasa tak enak menyinggung persoalan pribadi adik iparnya.
"Saya mengerti maksud Abang, saya belum menyentuh nya sama sekali sampai Karin benar-benar bisa menerima saya lahir batin, saya tahu sejak awal saya memang salah sudah memaksa Karin masuk ke dalam kehidupan saya bang" kata Rama menunduk.
"Kamu nggak salah, udah jalan takdir nya, kalau saja malam itu kamu nekat pulang, bisa-bisa kami serumah sudah mati di tangan preman tua itu dan kamu sudah tentu masuk ke dalam perangkap nya, dan seandainya saat itu pak ustadz tidak menelpon saya, kita nggak akan ada di titik ini, tapi semua itu sudah di atur sang pemilik hidup ram, sudah jalan takdir" kata Arkan menasihati
"Benar bang, tapi meluluhkan hati adik Abang juga butuh perjuangan" kata Rama tertawa pelan
"Kamu sudah menyukai nya?" tebak Arkan
"Siapa sih yang nggak kagum dengan Karin, perempuan tegas dan mandiri, tetapi manja, jago beladiri, bahkan saingan saya di kampus bukan cuma mahasiswa tapi banyak dosen muda yang sudah mengincar Karin sejak awal dia mendaftar di kampus dan saya baru tahu soal itu setelah Karin saya nikahi bang" kata Rama
"Karin memang dari kecil di sukai banyak orang ram, tapi ya itu dia judesnya minta ampun, makanya laki-laki nggak ada yang berani deketin dia" kata Rama.
"Iya bang saya mengakui itu, sejak awal saya ketemu Karin, memang sudah tertarik tapi ya nggak sampai ambisi mau dapatin dia, cuma angan-angan saja setiap sholat malam" ucap Rama.
"Oh ya??"
" Iya bang"
__ADS_1