
"Ibu cuma kelelahan saja pak, harus lebih banyak beristirahat dan jangan stres itu saja." Kata Bu bidan yang menangani Karin.
Meski ada raut kecewa di wajahnya, Rama tetap tersenyum di depan wanita berbaju putih itu.
"Nggak perlu kecewa, kalau pun belum hamil masih banyak waktu dan cara yang bisa kalian lakukan. Tuhan itu adil pak, yang penting kesehatan ibu yang harus tetap stabil jangan sampai terguncang atau stres." Ucap Bu bidan yang menyadari raut wajah Rama. Karin justru tersenyum senang dan tertawa dalam hati mendengar ucapan Bu bidan.
"Terimakasih Bu bidan."
"Sama-sama."
Karin dan Rama keluar dari ruang KIA dengan wajah berbeda. Jika Karin tersenyum diam-diam berbeda dengan Rama yang sedikit murung.
Mereka pulang setelah Rama menyelesaikan administrasi puskesmas dan konsultasi dengan dokter yang menangani Aziz.
"Jadi gimana hasilnya tadi mbak Karin?" Tanya Tante Rosa saat mereka tiba di rumah.
"Alhamdulillah belum hamil." Jawab Karin tersenyum membuat Tante Rosa sedikit mengeryit.
"Kamu nggak suka punya anak?" Tanya Tante Rosa dengan nada sedikit sewot.
"Bukan nggak suka Tante, tapi belum siap lahir batin. Banyak hal yang masih ingin saya kejar, dari awal nikah juga saya udah nolak tapi ya dasar mami saya dan kakak-kakak saya aja yang terlalu egois dan memaksa kehendak tanpa mikir bagaimana perasaan saya. Semua itu tidak mudah Tante." Terang Karin.
Tante Rosa terdiam mendengar jawaban Karin yang terkesan seperti tertekan. Helaan nafasnya terdengar pelan dan penuh.
"Maafkan keponakan Tante, kalau selama ini kamu tertekan. Tante juga nggak tahu kalau Rama sudah menikah meksipun kami tinggal serumah, lebih tepatnya saya yang numpang di rumah kontrakan miliknya dan semua kebutuhan hidup kami dia yang penuhi. Kalau kamu memang masih belum siap dan belum bisa menerima Rama Tante bisa memaklumi. Semua memang butuh waktu." Kata Tante Rosa panjang lebar.
Karin merasa tak enak hati mendengar ucapan Tante Rosa. Memang benar sampai hari ini ia masih belum bisa mencintai laki-laki yang sudah setahun ini menikahinya. Tapi mengingat malam-malam panjang yang sudah mereka lalui beberapa hari belakangan terkadang Karin tersenyum sendiri. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan.
"Maaf Tante saya nggak bermaksud menyakiti Tante, tapi saya jujur seperti ini adanya sekarang." Kata Karin menghela nafas berat.
"Nggak papa, Tante ngerti kamu masih butuh proses. Rama itu anak yang baik dan penyayang." Ucap Tante Rosa mengusap rambut Karin
__ADS_1
"Tante benar, pak Rama memang baik dan penyayang." Balas Karin tersenyum.
Rama yang tak sengaja mendengar percakapan mereka merasa tersentil. Meski Karin sudah menjadi miliknya seutuhnya, tapi hati Karin masih tetap sama. Hari Karin masih terlalu jauh untuk bisa di labuhi.
Rama masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di atas kasur dengan wajah lelah. Tangannya sibuk mengusap dahi yang tidak berkeringat. Angannya kembali ke masa setahun lalu saat ia bertemu Karin tanpa sengaja di pintu keluar pasar.
"Sejak awal aku sudah jatuh hati padamu Rin, setelah menikahimu dan memilikimu seutuhnya rupanya hatimu masih belum ada celah sedikitpun untuk ku." Batin Rama. Nafasnya terlihat naik turun dengan mata tertutup.
Karin masuk ke dalam kamar dan melihat sikap aneh Rama yang melamun dan tidak menggubrisnya sama sekali.
"Bapak kenapa, Masih marah karena saya belum hamil?" Tanya Karin duduk di samping Rama.
Laki-laki berwajah tampan itu menoleh dan memandang wajah cantik Karin yang masih terlihat pucat.
"Kalau kamu memang belum siap nggak apa-apa Rin, saya juga nggak terlalu mempermasalahkan soal anak. Itu hak prerogatif Allah swt." Jawab Rama mengusap rambut hitam Karin.
"Beneran? Tapi aku lihat bapak dari kita masih di ruang KIA sampai pulang murung terus?" Imbuh Karin.
"Lagi nyiapin makanannya Naira. Bapak disini ada kebun nggak?" Tanya Karin.
"Nggak ada, kalau kebun warisan milik Aziz ada katanya. Emang kenapa?"
"Pengen aja ke kebun. Refreshing biar nggak spaneng." Kata Karin sembari melangkah ke arah meja rias.
"Hahah kamu ini ada-ada aja."
"Rin." Panggil Rama sembari memandang wajah Karin yang tengah asik mematut dirinya di cermin.
"Hem?" Respon Karin tanpa menoleh ke arah Rama.
"Duduk sini." Rama menepuk kasur di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Karin menuruti.
Rama memandang wajah istrinya tanpa berkedip. Karin sedikit salah tingkah namun masih bisa menguasai diri.
"I love you." Ucap Rama menatap kedua netra Karin. Perlahan seiring deru nafas Rama yang terasa, Karin sedikit bergeser dan menoleh ke arah lain. Memilih diam sepertinya lebih baik, hendak menjawab ia juga tak tahu apa isi hatinya saat ini. Kedua buku-buku tangannya saling bertaut satu sama lain.
Di saat seperti ini Karin hanya mampu diam. Mereka sudah suami istri bukankah seharusnya mereka saling menerima satu sama lain.
Rama memilih diam setelah reaksi yang Karin tunjukkan atau ucapan cintanya. Perih, mencintai tanpa balasan.
"Rin, saya tahu kamu belum bisa menerima saya sepenuhnya, bahkan mungkin hatimu masih tertutup. Kita sudah menyatu, jangan membuatku merasa bersalah akan hal itu meski aku tahu itu sudah kewajibanmu juga kewajibanku. Maafkan aku yang sudah memaksa mu untuk menerima pernikahan ini, maafkan aku sudah menyeretmu masuk dalam kehidupanku yang tidak pernah kamu inginkan selama ini." Kata Rama panjang lebar.
Karin terdiam tanpa kata. Memandang lantai semen yang dinginnya sudah terasa hingga ke tulang kaki.
"Pak, saya memang belum mencintai bapak dan saya memang terpaksa menerima pernikahan kita, tapi kita sama-sama punya prinsip pernikahan ini hanya sekali seumur hidup. Kita masih sama-sama belajar pak, belajar saling menerima satu sama lain begitu juga saya." Balas Karin.
"Iya saya mengerti. Maaf sudah berfikir terlalu jauh tentang mu Rin." Ucap Rama menautkan kedua tangan mereka.
"Terimakasih sudah memberikan segalanya untuk saya." Kata Rama mencium punggung tangan Karin yang berkeringat. Karin hanya tersenyum tanpa menoleh. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan.
"Apa boleh?" Tanya Rama memberikan kode. Membuat Karin memutar bola mata jengah.
"Bapak tadi nggak dengar nasihat Bu bidan kalau saya tidak boleh terlalu capek? Sejak malam itu sampai hari ini apa bapak tidak merasa sudah memberikan saya kebebasan? Meski sekedar tidur nyenyak dua puluh empat jam?" Cecar Karin menatap nyalang ke arah Rama yang cengengesan.
"Soalnya kamu candu." Ucap Rama
"Sialnya saya enggak pak." Balas Karin. Wajah Rama langsung berubah dan sedetik kemudian Rama berdiri, berjalan keluar kamar meninggalkan Karin yang melongo melihat sikapnya seperti anak kecil.
"Huft." Karin meniup poninya yang jatuh tepat di depan mata.
"Susah juga nelateni wataknya orang dewasa. Udah nasib gue punya suami yang tidak di inginkan, giliran marah kayak anak kecil." Batin Karin kesal.
__ADS_1