
Suara kokok ayam saling bersahutan menyambut fajar yang mulai menyapa. udara dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat sebagian besar orang lebih memilih untuk bergelut dengan selimut.
Asap mengepul dari celah dinding dapur yang berongga. sejak pukul tiga dini hari Tante Rosa sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan dan membawakan bekal untuk Aziz di puskesmas.
Rama terbangun dengan wajah lelah. Netra nya menatap lekat pemilik wajah yang sudah menghiasi hari-hari nya selama satu minggu ini. Senyumnya terkembang dan sesekali mencumbui bibir merah sensual itu dengan lembut. Karin yang tengah terlelap akhirnya terbangun karena ulah suaminya.
"Pak masih capek." rengek Karin.
"Sekali lagi sayang." pinta Rama Langung mengungkung Karin yang sudah pasrah. Karin benar-benar di buat tak berdaya melayani keinginan suaminya. Sejak saat malam itu hingga hari ini Rama tak pernah memberinya kesempatan sedikitpun untuk bernafas. Setiap ada kesempatan selalu meminta haknya tanpa peduli jika tubuhnya sudah terasa remuk redam.
"Makasih sayang, aku mandi dulu." ucap Rama mengecup bibir Karin.
"Hem." Karin hanya menutup mata tanpa merespon apapun dan akhirnya terlelap kembali. Rama memunguti pakaiannya yang berserak dan langsung memakainya.
Rama melihat Tante Rosa sedang memberikan makanan pada ayam-ayam peliharaan Aziz. Dengan pelan ia berjalan dan menyapa Tante Rosa. Satu tangannya meraih sebuah timba untuk mengisi bak mandi.
"Istri kamu belum bangun Ram?" Tanya Tante
"Belum, masih tidur. Kecapekan Tan perjalanan jauh. Apalagi fisiknya juga lemah." Jawab Rama.
"Kayaknya istri kamu hamil Ram, kemarin waktu datang udah pucat gitu." Kata Tante Rosa
"Amiiin semoga saja Tan, mudah-mudahan hamil beneran." Balas Rama.
"Bawa aja ke puskemas nanti siang, di periksa. Katanya dokter mungkin hari ini Aziz bisa pulang."
"Oh iya, nanti aku antar aja Tante kalau mau ke puskesmas."
"Nggak usah, kamu di rumah aja jaga istri mu, Tante nanti berangkat sama tetangga yang mau ke pasar. Nanti siang kalau memang Aziz sudah di bolehkan pulang, kamu jemput."
"Iya sudah kalau gitu. Tante masak apa?" Tanya Rama melihat isi bak sudah penuh.
"Masak air buat istri kamu, semalam dia bilang mau mandi pakai air hangat. Makanya Tante masakin air buat mandi. Mungkin istri kamu nggak cocok sama udara dingin di desa ya Ram."
"Dia emang terbiasa mandi air hangat, punya alergi suhu dingin Tan. Nggak bisa kena hujan juga."
"Owh gitu. Ya udah Tante mau masak. Cepat mandinya."
Karin terbangun karena usapan lembut yang terasa dingin di kedua pipinya. Baru beberapa menit lalu ia tertidur, kini Rama justru membangunkannya lagi.
"Masih capek pak, plis badanku sakit semua." Rengek Karin
"Bangun mandi dulu trus sholat subuh bareng, abis itu tidur lagi." Kata Rama dengan menghujani ciuman di bibir Karin berkali-kali.
"Cepat bangun atau aku tambah lagi?" Ancam Rama membuat Karin akhirnya terbangun dengan wajah cemberut dan mengantuk. Dengan malas Karin memunguti bajunya yang berserak di lantai kamar dan memakainya.
__ADS_1
Hawa dingin langsung terasa menusuk ke tulang saat ia sudah melewati pintu dapur ke arah kamar mandi yang terletak di belakang dekat kandang ayam milik Aziz. Karin langsung mandi dengan air hangat yang sudah di sediakan Rama tadi. Tanpa pikir panjang ia mempercepat mandinya karena tak tahan dengan suhu udara yang terlalu dingin.
"Muka kamu pucat sekali nduk, sampai biru begitu, cepat masuk ganti baju trus tidur, Tante bikinin bubur sama teh hangatnya." Kata Tante Rosa saat melihat Karin masuk ke dapur .
"Iya Tante, makasih."
"Pak cepetan sholat, saya nggak tahan dingin." Ucap Karin memeluk kedua lututnya.
****
"Ram, ini bubur sama tehnya. Kalau kamu mau sarapan sudah Tante siapkan di atas meja." Ucap Tante Rosa memberikan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh.
"Tante mau pergi sekarang?" Tanya Rama
"Iya, Bu Idah sudah menunggu."
"Nanti kabarin ya kalau mau di jemput Tante."
"Iya."
Rama mengantar Tante Rosa hingga ke jalan depan rumah dan menyapa tetangga lain yang kebetulan lewat. Setelah Tante Rosa menjauh Rama baru masuk ke dalam rumah.
"Jangan ganggu aku, pergi kamu." Teriak Karin masih dengan nafas naik turun dan mata terpejam.
"Rin, bangun kamu kenapa?" Rama mengguncang tubuh Karin.
Rama meringis karena tinju dari tangan Karin cukup menyakitinya.
"Rin." Panggil Rama sedikit berteriak.
Karin akhirnya terbangun dengan nafas naik turun dan langsung menangis. Rama mendekapnya meski tak mengerti kenapa Karin terbangun dan langsung menangis.
Setelah beberapa saat Karin akhirnya terdiam dengan nafas masih sesenggukan.
"Makan yuk, udah hampir jam delapan pagi, kamu dari tadi mengigau terus." Kata Rama mengusap lembut rambut Karin.
"Saya mimpi buruk pak, ada yang nusuk-nusuk foto saya pakai pisau sampai berdarah tapi orangnya berhijab." Kata Karin.
"Tenang, ada Allah swt. Nggak usah takut semoga saja nggak terjadi apa-apa sama kamu. Allah maha pelindung." Ucap Rama menenangkan Karin.
"Saya takut pak."
"Ada saya. Nggak usah takut."
"Ayo makan." Ajak Rama seraya mengubah posisi duduk Karin yang tadi bersandar di pelukannya.
__ADS_1
Menjelang siang Rama mengajak Karin ke puskesmas untuk menjemput Aziz yang sudah diperbolehkan pulang.
"Harusnya kamu di rumah aja, masih pucat gitu." Kata Rama sembati fokus menyetir.
"Nggak ada temen, aku takut pak. Ini bukan daerah tempat tinggalku." Balas Karin
"Nanti periksa ke bidan ya."
"Ngapain? Orang cuma alergi dingin doang pak, ini juga udah mendingan." Kata Rama.
"Iya tapi badan kamu masih hangat. Harusnya istirahat sayang."
"Terserahlah." Balas Karin kesal.
Rama hanya tersenyum melihat Karin yang menyun karena kesal. "Kalau manyun nanti malam aku tambah sampai pagi." Ancam Rama membuat Karin melirik tajam ke arahnya.
"Hape kamu bunyi itu." Ucap Rama menoleh ke arah ponsel yang tersimpan di dalam tas Karin
"Tumben Abdul nelpon gue." Gumamnya melihat nama tertera di layar ponselnya.
"Kenapa Dul?" Tanya Karin menyimak ucapan Abdul dengan wajah heran.
"Ada nama pengirimnya nggak?" Tanya Karin
"Buang aja atau Lo kasih ke siapa kek gitu. Tapi fotoin ke gue ya, aneh banget masih ada aja orang iseng ngirim paket aneh." Kata Karin membuat Rama akhirnya menepi saking penasaran dengan obrolan Karin dan sahabat nya.
Setelah sambungan telepon terputus, Rama mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Siapa yang ngirim paket? Paket untuk kamu atau siapa? Paket isinya apa sayang?" Tanya Rama penasaran.
"Satu-satu pak. Bingung mau jawab yang mana dulu." Sahut Karin.
"Oke." Kata Rama dengan wajah tak suka.
"Cemburu lagi. Dengerin dulu pak, ada yang ngirim paket atas nama ku dan Abdul nggak berani buka karena Miftah sama Dani lagi rapat organisasi. Makanya Abdul bawa pulang dan nunggu anak-anak selesai rapat. Mereka mau buka paketnya bersama di rumah Abdul." Cerita Karin
"Kok bisa Abdul yang Nerima paket gimana ceritanya?" Tanya Rama.
"Justru Abdul di kasih senior, katanya tadi ada yang nitip dari kurir buat di kasih ke aku gitu. Nah karena senior ini nggak tahu siapa aku akhirnya nanya ke semua mahasiswa dan ketemulah sama Abdul pas lagi ngurus di nilai di BAK." Jelas Karin.
"Suruh anak-anak buat video unboxing, biar saya tahu siapa pelaku yang sudah kirim kamu paket nggak jelas begitu. Kemarin-kemarin buket bunga nggak jelas sekarang justru paket nggak tahu apa isinya. Kalau perlu kamu pindah kampus." Kata Rama dengan nada kesal membuat Karin serba salah.
"Bapak ini aneh, saya aja biasa. Malah bapak sampai ke bawa emosi gitu." Ucap Karin yang juga kesal.
"Aku nggak suka kalau ada yang ganggu kamu."
__ADS_1
"Oke. Orang kalau lagi cemburu apa aja tetap salah." Sahut Karin kesal menatap keluar jendela.