
Karin tengah melihat jam di atas nakas. Mbak Aisyah yang sedang bertugas menjaganya sedang tertidur. Dan Rama pamit keluar beberapa menit setelah Nurul pulang. Rama pamit karena ada barang belanjaannya yang tertinggal di bagasi.
Sudah setengah jam lebih tapi Rama belum kembali sedangkan perutnya kini tengah merintih sakit karena kelaparan. Satu tangannya masih tertancap jarum infus. Tidak mungkin juga ia membangunkan mbak Aisyah yang terlihat kelelahan. Beruntung Naina anak yang penurut dan mau ikut pulang ke rumah mbak Uti yang lumayan cukup jauh juga.
Karin mendesah berkali-kali saking tak tahan mendengar suara perutnya yang keroncongan. Mau tak mau ia harus bersuara membangunkan mbak Aisyah.
"Mbak bangun aku lapar." Panggil Karin sedikit keras.
"Mbak, mbak ai." Panggilnya lagi. Kali ini dengan wajah kesal.
"Mbak ai." Ucapnya sembari meniupkan udara ke atas poninya.
"Em, kenapa Rin? Kamu mau ke kamar mandi?" Tanya mbak ai dengan suara serak.
"Lapar mbak." Jawabnya masih kesal.
"Oh bentar aku ke kamar mandi dulu kebelet." Jawab mbak ai membuat Karin langsung manyun.
***
Sementara itu di cafe yang tak jauh dari rumah sakit, Rama sedang duduk sembari menikmati secangkir kopi susu bersama Agam. Mereka tengah bercengkrama sembari memperhatikan salah satu pengunjung yang sejak tadi menjadi incaran mereka.
"Lo yakin dia?" Tanya Agam.
__ADS_1
"Seratus persen dari ciri-ciri yang Lo bilang, dari sorot matanya, gelagatnya waktu di rumah sakit tadi, udah fix kalau itu dia." Jawab Rama.
"Gue sih, yakin ini ada hubungannya sama Satria. Kemarin si Nono bilang ke gue kali dia sempat ngeliat siluet Satria di rumah ustadz di kampung neneknya di kota C." Ucap Agam.
"Bukannya selama ini dia di luar negeri?" Tanya Rama.
"Itu hanya alibinya doang, semenjak Lo usir waktu itu si Nono gue tugasin buat ngawasin dia." Kata Agam.
"Kalau emang ada hubungannya sama Satria trus mana mungkin Satria tahu tempat tinggal Tante Rosa sekarang? Kecuali si cewek itu yang katanya mbak ipar gue sering datang kerumah nanyain Karin selama gue di desa." Imbuh Rama.
"Iya juga sih kata Lo. Tapi kalau mereka saling mengenal di belakang kita ada benarnya juga sih." Tambah Rama.
"Nah, itu clue nya.. siapa yang harus gue tugasin buat ngawasin cewek itu ya?" Kata Agam nampak berfikir.
"Adek Lo, Indah." Usul Rama.
"Lo mah sama adek sendiri perhitungan, gimana sama istri Lo nanti?" Ejek Rama.
"Ya itu lain cerita nya." Elak Agam.
"Maura kembaran si Miftah aja, kan dia kuliah di kampus xx, satu kampus sama cewek itu." Usul Rama.
"Ide bagus, bener juga Lo, ya udah nanti gue silaturahmi ke sana." Ucap Agam tanpa ba-bi-bu membuat Rama memicingkan mata.
__ADS_1
"Ada aroma tak sedap kayaknya nih, Lo nggak mau cerita sama gue?" Tatap Rama berkedip menirukan gaya perempuan.
"Ck jangan gitu Lo ah, kayak banci aja."
"Lo ngomong apa gue cium di depan umum?" Desak Rama mengancam.
"Lo kalo ngomong di filter kenapa sih, ingat bini Lo di rumah sakit anjai." Ucap Agam menepuk dahi Rama. Mereka tertawa keras sambil saling memeluk.
Pengunjung cafe menatap mereka berdua dengan pandangan aneh. Tak ketinggalan Nurul yang sedang berada di cafe itu bersama seorang teman pria. Nurul menatap aneh pada kedua punggung pria yang seperti ia kenal tapi detik berikutnya ia memilih acuh tak acuh.
"Kayaknya kita bikin drama banci gini aja, biar bisa narik perhatian cewek itu ram." Bisik Agam pelan
"Bener juga Lo, tapi gue jijik anjai." Kata Rama setuju seraya menoyor pundak Agam.
***
"Ini udah malam, mas Rama kok belum pulang?" Gumam Karin menatap ke arah pintu.
"Kamu kenapa? Nunggu Rama?" Tanya mbak ai
"Ini udah jam setengah delapan malam mbak, dia keluar dari tadi sore loh." Jawab Karin kesal.
"Dia nggak kemana-mana, tadi mbak suruh antar susunya Naina sekalian ke rumah mbak Uti makanya lama." Kata mbak ai membuat Karin menatapnya kesal
__ADS_1
"Kenapa nggak ngomong dari tadi sih mbak?" Tanya Karin.
"Kamu nggak nanya." Ucap mbak ai meski dalam hati ia merasa bersalah.