Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 46


__ADS_3

Ram, kami pamit pulang ya. Mas Tomy sudah nunggu di depan." Ucap mami


"Iya mi, hati-hati" balas Rama sembari mencium tangan mami


"Makasih ya sudah jaga anak mami" kata mami menepuk pundak Rama.


"Sudah tanggung jawab Rama mi" kata Rama. Pria berusia 25 tahun itu tersenyum malu saat mami mengucapkan kalimat keramat padanya.


"Udah jebol gawangnya?" Bisik mami di sertai rawa renyah.


"Mi, ayo pulang" panggil Uti yang sudah berjalan lebih dulu.


Mami langsung melengos pergi. Rama menatap keduanya dengan senyum terkembang. Hatinya benar-benar bahagia menjadi bagian dari keluarga Karin.


Saat Rama masuk ke dalam ruang perawatan Karin, di dapati nya sang istri sedang kesusahan untuk duduk.


"Mau apa biar aku ambilkan" kata Rama membantu Karin duduk


"Mau buah pir, bisa kupasin?" Tanya Karin


"Sebentar ya, nggak usah banyak goyang luka kamu belum sembuh." Ucap Rama


Karin tersenyum melihat perhatian dan ketulusan Rama merawatnya.


"Pak, bagaimana bapak tahu saya di sini?" Tanya Karin


"Ya cari tahu, panjang ceritanya. Durasi tayangnya butuh tiga jam." Jawab Rama tersenyum menatap Karin.


"Ck aku nanya beneran" Kata karin


"Aku beneran jawab" balas Rama


"Ck, bapak nggak asik" cibir Karin.


"Nggak usah mikirin macem-macem dulu, kamu selamat dari kecelakaan sudah jadi hadiah terbesar buat mami dan keluarga. Kalau saja hari itu aku nggak nekat ke hotel pas acaranya mbak Uti, aku nggak akan pernah tahu kamu dimana. Bang Ardi yang cerita semuanya" terang Rama.


"Emang bapak nggak senang ya kalau aku selamat?" Tanya Karin cemberut


"Tentu senang lah, kalau nggak senang mana mungkin aku cium kamu berkali-kali tadi" jawab Rama membuat Karin tersipu.


"Bapak mirip Naila, sahabatku" ucap Karin tiba-tiba


Deg


Gerakan tangan Rama mengupas buah pir langsung berhenti. Naila nama almarhumah adiknya yang meninggal dua tahun lalu di tempat yang sama seperti kecelakaan yang Karin alami.


"Naila siapa?" Tanya Rama


"Ya sahabat aku di pondok dulu, lesung pipit bapak kalau senyum mirip banget sama Naila" kata Karin.


Detak jantung Rama semakin berdebar mendengar setiap perkataan Karin. Pandangannya beralih pada sang istri yang menatapnya tersenyum.


"Siapa nama lengkap sahabat kamu?" Tanya Rama penuh hati-hati


"Naila Fauzan Ramadhani" jawab Karin tetap tersenyum


"Ja…jadi kamu sahabat Naila?" Tanya Rama lagi dengan tangan bergetar


Karin menatap aneh pada Rama. "Kenapa bapak aneh begini?" Tanya Karin


"Naila adik saya, dia sudah meninggal saat kalian janjian bertemu di depan toko kue Pendopo, kamu koma selama tiga bulan dan adik saya meninggal di tempat. Bahkan kamu di nyatakan hilang ingatan oleh dokter" ucap Rama membuat Karin langsung menutup mulutnya tak percaya dan merasakan sakit tiba-tiba di kepalanya.


Bayangan teriakan orang-orang dan suara Naila memanggilnya menari-nari di ingatan Karin meski samar-samar.

__ADS_1


"Arrghh sakit…tolong." Ucap Karin lirih membuat Rama langsung meletakkan pisau dan buah pir di atas piring.


Rama membantu Karin berbaring dan langsung memencet tombol di atas nakas. Tak lama dokter Fritz datang dengan seorang perawat.


"Pasien kenapa?" Tanya dokter Fritz


"Saya kurang mengerti dok, tiba-tiba sakit kepalanya muncul saat kami sedang ngobrol" jawab Rama


"Sepertinya pasien pernah punya traumatik. apa sebelumnya pernah kecelakaan?" Tanya dokter Fritz


"Pernah dok, koma selama tiga bulan dan di nyatakan hilang ingatan dua tahun lalu" jawab Rama.


Dokter Fritz terdiam sesaat lalu menatap Rama beberapa detik.


"Biarkan pasien istirahat dulu, pak bisa saya lihat catatan medis yang sebelumnya?" Tanya dokter Fritz


"Bisa dok, besok saya minta kakak untuk membawanya" jawab Rama


"Baik, untuk saat ini jangan ingatkan pasien dengan apapun di masa lalunya. Biarkan dia tenang dulu hingga kondisi nya benar-benar membaik" ucap dokter Fritz.


"Baik dok, terimakasih"


Setelah dokter Fritz dan perawat pergi, Karin menatap Rama dengan penuh selidik.


"Pak, kenapa bapak repot-repot? Sakitnya cuma sebentar ini. Aku udah ingat semuanya pak. kecelakaan kemarin mengembalikan ingatan saya yang sebagian memang hilang. saya cuma ingat kalau saya pernah mondok, tapi nggak ingat kalau punya sahabat bernama Naila dan kejadian kecelakaan itu." Terang Karin


"Apa?" Rama terkejut dan menatap Karin lekat-lekat


"Kita nggak pernah ketemu saat Naila masih hidup Rin, tapi aneh aja. Ini takdir atau apa?" Ucap Rama memegang jari-jemari Karin. Matanya menelisik setiap inci wajah istrinya.


"Jangan gitu ah pak, malu ih" ucap Karin tersipu.


"Kamu cantik, Naila benar. kamu lebih dari sekedar cantik" ucap Rama


Cup


Rama mendaratkan ciuman ke bibir Karin yang manyun. Istri kecilnya itu langsung mencubit keras lengannya.


"Aah sakit Rin" keluh Rama


"Siapa suruh nyosor aja. Bibir aku masih perawan pak" ucap Karin kesal. Tangannya sibuk mengusap bibirnya yang terkena bekas ciuman Rama.


"Nggak usah di hapus nanti aku tambahin" goda Rama.


"Ck, bapak ish" kata Karin kesal.


"Hahaha" Rama tertawa


Rama bahagia Karin sudah memberikan lampu hijau. Meskipun di sudut hatinya masih merasa ragu dengan perasaan Karin padanya. Tentu Rama tak lupa bagaimana marahnya Karin saat ia menikahi nya.


Rama tak ingin kehilangan momen bahagia malam ini begitu saja. Ia akan tetap berusaha membuka hati Karin padanya.


"Pak, kenapa bapak resign dari kampus?" Tanya Karin


"Nggak bisa bagi waktu" jawab Rama


"Bagi waktu gimana. Bukannya bapak cuma dosen tetap di kampus" kata Karin


"Iya itu salah satu dari beberapa pekerjaan saya yang lain" balas Rama


"Emang selain dosen ada yang lain?" Tanya Karin penasaran


"Ya ada. Kamu tahu perusahaan Eins Corp?" Tanya Rama

__ADS_1


"Iya pernah dengar, bapak kerja di situ?" Tanya Karin


"Iya sejak saya masih SMA." Jawab Rama


"SMA? Emang bisa anak sekolah kerja di situ?" Tanya Karin tak percaya


"Dulu saya hanya kerja paruh waktu, demi biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari kami. Bapak dan ibu saya sakit dan terlilit hutang pada rentenir, dari sekian banyak tempat saya melamar cuma perusahaan itu yang mau menerima saya sebagai cleaning servis bahkan biaya sekolah saya di biayai sampai selesai S3 nanti" kata Rama bercerita


"Wow…" hanya satu kata itu yang Karin ucapkan.


Rama menghadiahi cubitan gemas di pipinya.


"Jadi posisi bapak di perusahaan itu sekarang apa?" Tanya Karin


"Branch manager" jawab Rama


"Wow, bapak orang berpengaruh ya, tapi kok nggak pernah lihat bapak kerja selain di kampus" kata Karin


"Ya karena di kampus kan hanya selingan, lagian kampus itu juga yang mendonorkan bantuan setiap tahunnya ya perusahaan Eins Corp" ucap Rama


"Pantas aja banyak mahasiswa yang masuk lewat jalur beasiswa, jadi tiap tahun perusahaan itu yang mendanai kampus" kata Karin.


"Ya kamu benar, dan soal saya resign memang sudah rencana lama tapi karena terkendala kewajiban yang belum selesai di kampus makanya saya undur"


"Maksudnya?"


"Saya baru wisuda pascasarjana sebulan sebelum kita menikah, dan saya sudah menjadi asisten dosen sejak S1, karena sudah selesai pascasarjana dan rencana mau lanjut ke UGM makanya saya berhenti" jelas Rama


"Bapak mau pergi lagi dong" ucap Karin tiba-tiba


"Pergi kemana?"tanya Rama


"Katanya mau lanjut ke UGM" jawab Karin


"Iya tapi setelah istri saya mengizinkan. kalau nggak ya tetap lanjut di sini aja" ucap Rama mencubit hidung mancung Karin


"Hehe bisa aja bapak"


"Kok masih panggil bapak sih? Kita cuma beda lima tahun doang" ucap Rama kesal


"Yang lebih tua siapa?"


"Iya saya"


"Tuh tahu"


"Ya masa bapak sih, ketuaan sekali" protes Rama


"Trus mau nya apa?"


"Sayang kek, mas kek, Abi, atau apalah"


"Ogah, gue panggil kakek mau?" Ucap Karin nyolot


"Ck ya udah lah senyaman nya kamu aja"


"Iyalah, wong kita juga baru mengenal"


Rama tertawa pelan meskipun sudut hatinya tersentil dengan ucapan Karin. Tangannya masih menggenggam erat jemari Karin dan detik berikutnya Rama mencium tangan mulus itu dengan air mata tertahan.


Perasaannya tak dapat lagi ia tahan. Ia tak ingin menyesali semuanya sebelum terlambat. Ia tahu mungkin bagi Karin terlalu cepat. Bukankah kejujuran lebih baik bukan?.


"I love u" ucap Rama menatap Karin lekat. 

__ADS_1


__ADS_2