Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 36


__ADS_3

Kicauan burung dan suara Kokok ayam menambah hangat suasana pagi yang masih berselimut awan gelap dan rintik air hujan yang membasahi bumi sejak subuh tadi. 


Asap tebal mengepul dari pondok belakang rumah pakde Karim. Bude Sumi sedang merebus air dan memasak untuk sarapan dua tamu nya yang semalam baru tiba. 


Pakde Karim tengah memecah balok kayu menjadi kecil-kecil untuk dijadikan kayu bakar. Pria itu terlihat sehat dan segar bugar di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.


Rama duduk di teras rumah sembari menikmati ubi rebus dan teh panas. Sedangkan Agam memilih tidur kembali setelah sholat subuh. 


Rama memandang hamparan sawah yang luas di depan mata, nafasnya teratur dan sesekali ia menunduk melihat rerumputan yang menghijau. 


Hatinya masih saja gelisah memikirkan Karin yang ia tinggalkan dalam keadaan marah. Kemarin setelah mami meminta nya kembali ke kamar, Karin rupanya masuk ke kamar dan mengusir Rama untuk pergi selamanya dari hidupnya. 


"Lebih baik bapak pergi dari hidup saya selamanya, anggap saja pernikahan ini tidak pernah terjadi. Kalau saja kita tidak bertemu hidup saya akan baik-baik saja" ucap Karin dengan mata memerah dan nafas yang panjang pendek. 


Rama memilih mengalah dan memunguti semua pakaiannya tak bersisa. Karin benar, jika mereka tak bertemu hidup Karin akan baik-baik saja dan tidak memiliki masalah apapun. 


"Woi, ngelamun aja" seru Agam di depan pintu.


Rama menoleh dan melihat Agam masih berselimut sarung. Pria berambut hitam legam itu duduk di depan pintu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sarung. 


"Bagi dong ubi rebus nya" pinta Agam


"Ambil sendiri, nggak baik duduk di tengah pintu"  ujar Rama seraya menggeser letak duduknya.


"Semalam yang gue lihat di tanjakan itu bener nggak ya?" Ucap Agam sembari duduk di samping Rama.


"Emang apa di lihat?"tanya Rama penasaran. Pasalnya sahabat nya ini memang terkadang rada aneh karena kelebihan nya bisa melihat makhluk astral.


"Ah mudah-mudahan gue salah lihat, perempuan bermuka rata rambutnya panjang, tawanya melengking, trus ada makhluk hitam besar tubuhnya dipenuhi bulu dan matanya merah" cerita Agam.


"Ck… nggak usah bahas begituan lah, mereka juga punya kehidupan kok, biarkan saja yang penting semalam gue klakson sepanjang jalan sampai gapura selamat datang" sergah Rama yang juga merinding setiap kali Agam menceritakan apa yang ia lihat. Memang Rama semalam juga sempat melihat secara sekilas tapi ia memilih tidak peduli dan membaca doa banyak-banyak. 


"Gue cuma cerita, nggak mau dengar ya tutup aja telinganya"  timpal Agam


"Surat resign gue udah Lo titipin Bu Nuri kan semalam?" Tanya Rama.


"Udah, gue juga udah minta cuti semester ini mau nyelesaiin proposal penelitian, sumpah mumet juga di kepala ngambil S3" kata Agam.


"Kan gue udah bilang, kasih jeda dulu setahun baru lanjut S3, biar fresh dulu otak" kata Rama


"Trus Lo kapan lanjut?" Tanya Agam sembari mencomot ubi rebus 


"Nggak tahu kapan, urusan istri gue aja belum kelar, boro-boro mau lanjut, tambah pusing" jawab Rama menghela nafas berat


"Kasihan, yang di usir bini… kenapa nggak cerai aja?" Tanya Agam membuat Rama memicingkan matanya.


"Ee…sorry sorry… maapin mulut gue. . oke" ucap Agam merasa bersalah dengan mengangkat dua jarinya ke atas


"Sekali lagi Lo bilang cerai, gue babat abis Lo" ancam Rama.


"Oke nggak, kecuali khilaf" ucap Agam 


"Btw semalam ada yang bilang mau lihat hasil tangkapan pakde kayaknya" sentil Rama membuat Agam langsung cengengesan dan menatap ke arah jalanan.

__ADS_1


"Nggak jadi, orangnya lewat tuh depan rumah" jawab Agam menatap seorang gadis berhijab membawa rantang ke sawah bersama ibu dan bapaknya. 


"Mruput pakde" ucap Rama menyapa juragan Karso yang paling di segani di desa ini.


"Eh, pak dosen kapan datang pak?" Sahut juragan Karso menghentikan langkahnya menatap dua pria yang duduk santai di teras rumah pakde Karim.


"Semalam baru sampai pak, Ajenge matun pak?" Tanya Rama lagi


"Enggeh, permisi pak dosen kami ke sawah dulu" ucap juragan


"Enggeh monggo-monggo pak, salam buat Bu juragan dan anak-anak pak" ucap Rama menyenggol lengan Agam yang sedang menatap Fitri anak juragan Karso dengan mata tak berkedip.


"Ck, kalau ada orangnya lewat bukan di sapa malah kaku kayak kanebo kering" cibir Rama lalu beranjak masuk ke dalam meninggalkan Agam di teras. 


Rama ke belakang dan melihat bude Sumi sedang menyiapkan sarapan di atas meja. Sedangkan pakde masih di pondok belakang memindahkan air yang sudah mendidih ke dalam gentong. 


"Mana Agam le, ajak sarapan" tanya bude Sumi.


"Masih di teras nungguin cewek idaman lewat" jawab Rama


"Hahaha…si Fitri itu? Dua minggu lalu  habis di lamar sama anak dari kota tapi batal karena tahu kalau Fitri itu janda" ucap bude Sumi


"Hah? Janda? Lah apa Fitri pisah sama suaminya?"


"Nggak pisah, tapi delapan bulan lalu, selesai akad nikah suaminya meninggal secara tiba-tiba, padahal tamu masih banyak, kasihan jadi buah bibir orang, malah Fitri sempat mau kerja di kota saking nggak tahan dengar cibiran orang, tapi juragan nggak ngizinin, trus Fitri milih ke pondok lagi biar tenang, sekalinya pulang nerima lamaran lagi tapi batal, Fitri sempat mau bunuh diri tapi karena ibunya berhasil menggagalkan" cerita bude Sumi.


"Owh gitu toh, jadi Fitri sekarang janda kembang di desa ya" timpal Rama


"Jodoh itu rahasia Tuhan bude, mungkin memang belum jodoh nya Fitri, siapatahu keponakan bude yang jadi suaminya nanti heheh" 


"Lah dalah, mending cari perempuan lain, jangan Fitri, kasihan kalau ponakan ku harus kerja di sawah, perempuan di kota mening-mening banyak tinggal milih" seloroh bude Sumi.


"Hahah bude serahin saja sama Tuhan" ucap Rama


"Lha kamu kapan nikah? Usia kamu udah tuwir, wes pantes nggendong bayi" sentil bude Sumi


"Udah bude hehe" jawab Rama tersenyum. 


"Maksud te? Kamu sudah nikah?" Tanya balik bude dengan mata menyipit


Rama tersenyum sambil garuk kepala lalu mengangguk mantap. 


"Ya Allah ya Robbi Alhamdulillah kamu sudah nikah beneran le?" Tanya  bude Sumi tak percaya.


"Iya Alhamdulillah, tapi istriku masih kuliah belum bisa kesini hehe"


"Hah? Kuliah? Kamu nikah sama mahasiswi mu sendiri?" Tanya bude Sumi terperangah


"Heheh iya" jawab Rama.


"Kenapa nggak undang-undang to le? Pak, bapak…Reneo sek pak" panggil bude Sumi 


Pakde Karim yang mendengar suara istrinya memanggil langsung masuk ke dalam rumah. 

__ADS_1


"Nyapo to buk, bengak bengok wae" tanya pakde Karim


"Ini loh, cah Bagus ternyata sudah nikah nggak undang-undang kita pak e" ucap Bude Sumi berkaca-kaca


"Kamu beneran sudah nikah ram?" Tanya pakde Karim tak percaya


"Sudah pakde, istrinya baru lulus SMA, hebat to?" Sahut Agam dari pintu pembatas ruang keluarga dan dapur bersih.


Kedua pasutri itu menatap Agam dan Rama bergantian. 


"Istri mu masih muda le, Hebat bener kamu nyari istri yang menik-menik haha, ya udah pakde ucapkan selamat, semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah, langgeng sampe maut memisahkan" ucap pakde Karim memberi selamat. 


"Tinggal kamu gam, kapan nikah? Umur mau uzur" ledek bude Sumi


"Beh, nunggu janda kembang buka pendaftaran bude" sentil Rama membuat Agam mencebik. Pakde Karim dan bude Sumi tertawa mendengar ejekan Rama.


"Lambe mu ram, mentang-mentang entuk seng bocil" balas Agam


"Bocil o pernah mbok taksir gam, eleng Ra?" Ledek Rama lagi 


"Pernah saingan to? Lah dalah" tanya pakde Karim


"Ah enggak, nggak pernah merasa bersaing, dia aja yang cemburuan kalau ada yang deketin istrinya hahahah" balas Agam.


Pagi itu mereka habiskan dengan bercanda dan saling meledek. Pakde Karim dan bude Sumi ikut senang dengan kedatangan tamu mereka karena rumah menjadi ramai lagi setelah merasakan kehilangan beberapa tahun silam. 


Sementara itu di rumah Arkan, Karin tengaj bersiap-siap ke kampus. Sebenarnya Raisa sudah melarang nya untuk pergi karena kondisinya sedang kurang sehat tapi Karin tetap ngotot mau ke kampus karena sudah beberapa hari tidak masuk kuliah.


Akhirnya demi menjaga amanah dari Arkan, Raisa tetap ikut mengantar Karin ke kampus lalu pergi ke butik tempat nya bekerja. Raisa memang tidak membawa kendaraan saat datang karena Arkan yang melarangnya. 


"Kabarin ya mbak kalau sudah pulang kuliah,nanti langsung saya jemput" ucap Raisa


"Iya mbak makasih banyak udah bantu saya" balas Karin. 


Gadis itu lalu masuk ke gerbang dan berjalan santai ke arah kelasnya. Menjadi perhatian publik bukan hal yang aneh bagi Karin apalagi ia sering mengikuti turnamen. 


Tetapi hari ini, tatapan manusia-manusia penghuni kampus sudah berubah padanya. Setiap yang berpapasan langsung menyapa Karin dan mengusap pundaknya. 


Aneh sih, tapi Karin tetap bersikap biasa dan baik-baik saja seolah tak pernah ada yang terjadi.


"Rin, sini ikut gue" Mirna datang menghampiri Karin dan menarik tangannya


"Kenapa sih mir?" Tanya Karin berusaha menyamakan langkahnya dengan Mirna


Mirna membawanya masuk ke ruang prodi dan membaca pengumuman yang tercantum di mading. 


"Nggak ada nama pak Rama lagi, denger-denger pak Rama mengundurkan diri ya?" Tanya Mirna


Deg


Karin terpaku di depan Mading, matanya menatap deretan nama dosen yang mengajar di prodi manajemen bisnis. Benar kata Mirna nama Rama sudah tidak ada lagi tercantum sebagai dosen tetap. 


Karin melangkah mundur dan berlalu dengan perasaan tak menentu. Harusnya ia senang kan? Harusnya ia bahagia! Bukankah ini yang ia inginkan? Rama pergi dari hidupnya untuk selamanya?

__ADS_1


__ADS_2