Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 73


__ADS_3

Hari ini Karin sengaja mengajak keluarga pergi ke pantai dan berlibur menghabiskan waktu seharian. Sudah lama sekali ia tak pergi menikmati hidup setelah papi meninggal tiga tahun lalu.


"Ate, atu au adek." Suara Naina yang terdengar masih terbata.


"Hahahhahaa" suara mami tertawa kencang mendengar ucapan sang cucu yang begitu menggemaskan.


"Dengerin tuh, makanya cepetan di jadiin adonan nya hahhaha." Sahut mbak Uti


"Diem Lo." Sungut Karin


"Hahahhahaa." Semua tertawa melihat wajah Karin yang memerah karena malu.


Sedangkan Naina asik makan ciki di pangkuan Rama. Sejak kembali ke rumah mami Rama memang lebih banyak waktu bermain dengan Naina. Karena kesibukan Aisyah saat bekerja sambil menjaga Naina sedangkan Ardi sibuk wara-wiri mengurus kebun sawit di Kalimantan dan toko barang campuran miliknya di ibukota.


"Rin, mami semalam mimpi kamu hamil." Ucap mami tiba-tiba membuat Karin langsung tersedak air kelapa.


"Mi, nggak usah bahas itu ngapa sih?" Kata Karin cemberut.


"Istri kamu kuat berapa ronde?" Bisik Uti di telinga Rama.


"Mbak ini aneh-aneh pertanyaannya, masa iya mau saya jawab." Kata Rama tersipu malu.

__ADS_1


"Hahaha, udah setahun masih malu-malu mereka mi, pantas aja Karin belom blendung perutnya." Sahut mbak Uti di iringi tawa keras.


Rama dan Karin sama-sama tersipu malu namun memilih diam dan santai menanggapinya.


Di sudut ruangan berukuran 4x5 tiga orang pria muda sedang menatap selembar foto perempuan berjilbab yang menurut mereka lumayan cantik.


"Gue nggak nyangka cewek sekurang cantik gini kok tega ya sama sahabatnya sendiri." Gumam Abdul mencebik memandang foto dengan mata mengejek.


"Yang bikin cantik gingsulnya di sebelah ini doang sih, kalau menurut gue wajahnya biasa aja." Sahut Miftah.


"Nggak ada cantiknya sama sekali kalau kelakuannya kayak gitu, justru gue benci liat muka tebalnya." Kata Dani menimpali.


"Rencana kita gimana? Pak Rama udah tahu kan?" Tanya Miftah.


"Makanya dia ngerayu Karin buat ngajak keluarga berlibur ke Bali selama seminggu. Biar Karin nggak tahu kalau kita bergerak." Tambah Abdul.


"Cewek terlalu polos di kibulin sahabatnya sendiri kagak percaya sih." Ucap Dani


"Ya udah itu artinya Karin emang berhati baik. Sekarang tinggal gimana caranya kita bergerak, karena gue udah dapat informasi dari temen kalau satria sekarang udah insyaf, dan mas Agam sementara kesana buat melihat apa benar informasi yang di dapat temen gue." Kata Abdul.


"Bawa polisi?" Tanya Dani

__ADS_1


"Intel dua orang, mereka bergerak disana dan kita di suruh bergerak disini." Tambah Abdul.


Abdul menghabiskan sisa minuman dalam gelasnya dengan sekali tenggak. Matanya masih menatap bingkai wajah di selembar kertas foto itu dengan seksama.


"Setidaknya kita berusaha lah buat membongkar semuanya. Kasihan Karin." Ucapnya dengan perasaan berkecamuk. Miftah dan Dani mengangguk bersamaan.


Abdul meraih tas ranselnya dan berjalan keluar kamar kos diikuti kedua sahabatnya. Miftah meraih anak kunci saat ponselnya berdering.


"Tumben bang Rio nelpon gue." Gumamnya masih sangat jelas.


"Siapa mip?" Tanya Dani


qo


"Bang Rio tumben banget nelpon gue." Jawab Miftah seraya menekan tombol hijau.


Abdul yang mendengar percakapan kedua sahabatnya langsung menoleh dan bertanya.


"Bang Rio nelpon Lo?" Tanyanya memicingkan mata


"Iya." Dani menyahuti. Abdul terdiam sejenak lalu tersenyum beberapa detik kemudian.

__ADS_1


"Kita ke markas bang Agam nungguin disana." Ucap Miftah setelah sambungan telepon terputus.


Gerak langkah kaki Abdul terhenti sejenak dan menoleh ke arah tetangga kos sebelah. Suara-suara aneh yang terdengar di telinganya tak dapat di bohongi. "Ck kayak kosan milik mereka aja." Cibirnya membatin.


__ADS_2