
Rama menatap jam di pergelangan tangannya berkali-kali. Harap-harap cemas setelah mendapat telepon dari Tante siang tadi perihal sebuah paket yang membuat Karin ketakutan.
Alunan musik yang sejak tadi berputar tidak membuat Rama tenang. Justru ia semakin abai dan sibuk memikirkan keadaan Karin yang ketakutan.
"Pak kita sudah melewati batas kabupaten, ini arahnya kemana?" Tanya sang sopir sewaan yang sudah ia minta menyetir sejak dari desa tempat proyek.
"Desa xxx pak, nanti ada plang selamat datang terus saja sekitar 100 meter baru sampai di rumah saya." Kata Rama memberi petunjuk. Sang sopir mengangguk saja dan mengikuti arahan Rama.
Di dalam kamar, Karin tak habis pikir kenapa ada paket semacam itu datang kerumah Tante Rosa. Padahal rencana awal ia mengikuti Rama ke desa adalah untuk menenangkan diri karena rasa takut yang sudah ia rasakan selama beberapa bulan terakhir sejak ia menerima buket bunga tanpa nama.
Lima belas menit lalu ia baru saja berbicara dengan Abdul perihal paket yang selama ini ia terima bahkan ketiga sahabatnya pun menerima paket yang sama justru lebih menjijikkan.
Karin merasa ngeri-ngeri sedap mendengar cerita Abdul. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi teror seperti ini. Bahkan ia sendiri tak pernah merasa memiliki musuh.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Karin bergegas keluar kamar dan meminta Tante Rosa untuk mengantarnya ke kamar mandi.
"Aku takut Tan, mas Rama kok belum pulang ya?" Kata Karin menggandeng lengan Tante Rosa.
"Sebentar lagi sampai, dah sana masuk, Tante tunggu di depan pintu." Titah Tante Rosa.
Tak butuh waktu lama Karin langsung keluar begitu sudah selesai membersihkan diri. Ia berjalan di belakang Tante Rosa dan saat masuk ke dalam rumah terkejut melihat Rama sudah duduk di ruang tamu sembari menggendong Naira yang sedang tertidur.
"Baru sampai ram?" Tanya Tante Rosa.
"Iya, baru saja, Aziz kemana Tan kok Naira tidur sendirian di depan televisi." Tanya balik Rama
"Ke rumah sebelah lagi takziyah malam ke-tujuh. Kamu langsung makan atau mau istirahat dulu?" Tanya tante Rosa.
"Istirahat dulu Tan, oh ya ada sopir yang bawa mobil nanti nginap disini satu malam ini, minta tolong nanti Aziz ajak ke rumah pak RT minta izin dulu Tan." Kata Rama.
"Lah orangnya kemana?" Tanya Tante Rosa
"Ke warung beli rokok. Tante siapin saja makan malamnya, abis itu tunggu Aziz pulang biar di antar ke rumah pak RT." Ucap Rama
"Ya sudah, kamu istirahat dulu sana, kasihan istrimu dari tadi bingung itu." Kata Tante Rosa
__ADS_1
"Iya Tan,aku masuk dulu."
Rama mengikuti langkah Karin yang sudah masuk ke kamar lebih dulu. Ia tahu Karin tengah dilanda gelisah sejak menerima paket aneh siang tadi.
Rama sudah menghubungi Abdul dan Agam yang sedang menyelidiki paket itu diam-diam. Mereka masih belum tahu pasti siapa pengirim paket tak bernama itu pada Karin dan ketiga sahabatnya.
Jika ia melihat ke masalah sebelumnya antara Jihan dan Karin. Ia rasa tidak mungkin karena Jihan sudah pindah keluar negeri. Sedangkan Santi sudah pindah kampus dan kembali ke kampung orang tuanya.
Rama benar-benar tak habis pikir, apa keuntungan yang didapat oleh pengirim paket bahkan tanpa pernah bosan mengirim teror seperti itu.
Karin tengah mengganti bajunya saat Rama masuk ke dalam kamar. Sikap Karin yang diam tak berbicara sedikitpun membuat Rama yakin jika sang istri tengah ketakutan.
"Udah mau tidur?" Tanya Rama saat memeluk sang istri dan menciumi pucuk kepalanya.
"Hem, bentar mau benerin celana dulu." Kata Karin mencoba mencari celah agar tangannya tidak kesulitan membenarkan letak celana piyama yang ia pakai.
"Dah ayok tidur, aku capek." Putus Rama setelahnya.
"Kok tidur?" Tanya Karin menatap aneh pada Rama
"Lah maunya apa? Aku baru sampai, kamu juga pasti capek, lebih baik kita tidur dulu, jangan bahas apapun sampai besok Oke." Ucap Rama menatap lekat mata Karin.
Karin masuk ke dalam pelukan Rama dan tak lama langsung terlelap. Begitu juga Rama hingga adzan subuh berkumandang, mereka baru terbangun karena suara tangis Naira yang melengking menghiasi subuh hari mereka.
"Tan, pak Kusir sudah pulang ya?" Tanya Rama mencari sang sopir sewaan yang ia bawa dari kabupaten sebelah.
"Ke masjid sama Aziz. Tadi malam orangnya nginap dirumah pak RT, nggak mau disini katanya nggak enak sama warga karena bukan warga sini." Jawab Tante Rosa panjang lebar.
"Oh gitu, baguslah artinya dia menghargai dan mentaati aturan juga menghormati budaya orang lain." Tukas Rama.
"Emang harus begitu lah Ram. Istri kamu mana?" Tanya Tante Rosa
"Di dalam masih tidur, kemarin gimana ceritanya bisa dapat paket begitu Tan?" Tanya Rama
Tante Rosa diam sejenak, mengatur napas perlahan lalu berbalik dan menatap Rama penuh makna.
__ADS_1
"Sebelum Tante cerita, kamu harus jawab dulu pertanyaan Tante, bisa kan?" Tanya balik Tante Rosa.
"Soal?" Tanya Rama bingung.
"Ini soal Satria, apa selama ini baik kamu atau Agam pernah bertemu dengannya?" Tanya Tante Rosa menatap wajah Rama lekat-lekat.
"Semenjak almarhum bang Ramon meninggal, kami sudah putus komunikasi Tan, aku dan Agam tidak pernah lagi bertemu dengannya." Jawab Rama berbohong.
"Ya sudah kalau begitu, Tante sempat kepikiran kalau paket itu ulah Satria. Tante nggak tahu harus dengan cara apalagi menebus kesalahan keluarga Tante sama kamu dan almarhum orang tua mu Ram kalau ternyata itu ulah Satria. Tentu kamu masih ingat bagaimana Satria mempengaruhi kakak iparnya sendiri dan membunuh Ramon kakak kandungnya karena keegoisannya." Ucap Tante Rosa berlinang air mata.
"Tan, sudahlah doakan saja Satria bertaubat suatu saat. Allah itu maha baik." Kata Rama menenangkan Tante Rosa.
"Biar bagaimanapun Tante masih ingat bagaimana Satria memperdaya kami selama ini Ram, kalau sampai dia melakukan hal itu pada istri mu Tante nggak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri yang sudah gagal mendidik anak." Kata Tante Rosa dalam isaknya.
"Sudahlah Tan, biar waktu yang akan menjawabnya. Sebenernya kalau boleh jujur saat almarhum mbak Sintya meninggal Satria datang tapi aku mengusirnya." Kata Rama akhirnya. Tante Rosa seketika terdiam menatap Rama tak percaya.
"Di..dia datang?" Tanya Tante Rosa meyakinkan diri.
"Iya, tapi aku mengusirnya karena tak ingin membuat keributan dan membuat Tante shock, maaf Tan aku baru ngomong." Ucap Rama mengusap punggung tangan Tante Rosa.
"Dia ngomong apa Ram? Dia menyesal?" Cecar Tante Rosa.
"Kami nggak sempat ngomong banyak, dia langsung pergi begitu aku usir." Kata Rama.
"Tan, masalah paket yang Karin terima kemarin itu sudah yang kesekian kalinya, tapi baru kali ini ada paket seperti itu bahkan sampai datang kerumah ini. Padahal kalau di pikir desa ini jauh dari ibu kota sudah beda provinsi, nggak mungkin kalau itu Satria yang melakukannya, aku dan Agam sedang menyelidiki siapa pelaku pengirim paket itu." Lanjut Rama lagi.
"Maksudnya sudah lama kalian menerima paket seperti itu?" Tanya Tante Rosa
"Iya, sudah beberapa bulan belakangan. Tan aku minta satu hal bisa?" Tanya Rama menatap lekat manik mata wanita paruh baya itu.
"Apa?"
"Aku mau bawa Karin pergi dari keluarganya juga dari sini untuk sementara waktu tanpa sepengetahuan mereka. Tante bisa kan janji satu hal ke aku?"
"Apa itu?"tanya Tante Rosa nampak berpikir.
__ADS_1
"Ada rumah baru di pulau xxx dan aku akan bawa Karin kesana dan tinggal disana sementara waktu hingga aku dan Agam bisa menemukan siapa pelaku teror itu. Tante bisa ikut kesana dan tinggal bersama kami?" Pinta Rama memohon
"Untuk apa kamu harus lari dari masalah? Semakin kamu menjauh semakin dia datang bahkan bisa jadi lebih besar dari ini. Masalah itu harus kamu hadapi dulu jangan terburu untuk menjauh dan pergi. Jangan khawatir Karin tetap aman disini. Kalau kamu mau pindah kampus saja di kota sini. Untuk masalah itu kamu selesaikan dulu. Jangan biarkan Karin terguncang dan tertekan." Nasihat Tante Rosa. Rama memilih diam menelan pelan-pelan nasihat Tante Rosa yang memang ada benarnya juga.