Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 63


__ADS_3

"Itu menantunya ya Bu Rosa?" Tanya seseibu yang sedang memilih sayur.


"Iya Bu, menantu kemenakan, istrinya keponakan saya yang biasa datang kesini." Jawab Bu Rosa.


"Cantik ya, pinter masak nggak Bu?" Tanya pelan seseibu yang lain.


"Alhamdulillah bisa semua pekerjaan rumah tangga, dia juga punya toko kue bahkan punya beberapa ruko di kota. memang anak kota soal penampilan pasti bedalah sama kita Bu, tapi dia baik dan sopan Bu." Jawab Tante Rosa tersenyum.


"Nggak percaya, penampilannya aja begitu Bu, mana mungkin bisa masak." Enek ibu yang lain.


"Husss, jangan suka ngejek orang lain apalagi belum kenal. Nggak baik." Tegur Bu RT yang ikut nimbrung.


"Eh Bu RT, kebanyakan anak kota emang begitu kan Bu?" Seloroh seseibu yang lain


"Emang ibu nggak mikir, kalau anak ibu di rumah kerjanya cuma main Hape sama pacaran terus? Trus kapan masaknya?" Balas Bu RT membuat ibu-ibu yang lain terdiam.


"Eh Bu, jangan melihat apapun dari luar kalau emang belum kenal. Jangan sok menghakimi, lebih baik lihat kekurangan sendiri daripada lihat kekurangan yang lain." Nasihat Bu RT membuat Tante Rosa tersenyum senang dalam hati.


Karin sedang menjemur pakaian meski samar-samar mendengar percakapan ibu-ibu yang berkumpul di tukang sayur depan rumah hanya mengangkat alis begitu mendengar ucapan Bu RT yang masih terdengar jela di telinga.


"Pasti ngomongin gue lagi kayak kemarin di warung sana. Ibu yang itu lagi, udah muka nggak modal sok kecakepan." Batin Karin tersenyum mengejek.


Langkahnya mantap berjalan menghampiri Tante Rosa dan kumpulan ibu-ibu yang sedang mendengarkan ceramah singkat dari Bu RT.


"Mas, ada ayam nggak? Atau daging sapi gitu?" Tanya Karin pada penjual dengan senyum mengembang. Para ibu-ibu langsung minggir begitu melihat Karin ikut berkumpul dengan mereka. Sedangkan wajah Tante Rosa terlihat menahan tawa melihat ibu-ibu yang mengejek Karin tadi langsung pamit pulang tanpa membayar. Malah ada yang terang-terangan menghutang.


"Kalau daging cuma bawa sesuai pesanan saja mbak, ayam ada ini 1 ekor baru dari pemotongan kalau mau." Jawab penjual menunjuk seekor ayam di dalam wadah sterofoam.


"Kasi satu ya mas, biar saya potong sendiri di rumah, hari ini saya mau bikin tumpeng nasi kuning buat di bagiin ke tetangga yang sedang membutuhkan uluran tangan dari orang kota." Ucap Karin membuat Bu RT langsung menyenggol lengannya.


"Hehe maaf Bu, saya memang dari kota kan." Ucap Karin mendayu membuat Bu RT memutar bola mata jengah.


"Totalnya berapa pak Usman?" Tanya Tante Rosa.


"Masih muda Tante kok di panggil pak?"tanya Karin spontanitas


"Anaknya sudah dua Rin, jangan ngawur kamu." Seru Tante Rosa. Karin langsung menutup mulutnya dengan keduanya tangan.


"Masih ganteng gini, coba di poles dikit pak Rama pasti kalah hihihi." Batin Karin dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu di lokasi proyek, Rama yang sedang menyantap sarapan paginya langsung tersedak tiba-tiba.


"Ini mas." Suara gadis muda berusia puluhan tahun menyodorkan segelas air putih padanya.


"Terimakasih, nggak papa, mungkin istri saya di rumah sedang membicarakan saya mbak." Tolak Rama halus namun menohok membuat wajah gadis berhijab putih itu langsung berubah masam.


Kedua orang tuanya yang juga melihat sikap sang anak hanya mampu menghela nafasnya berlahan. Dalam hati mereka tahu jika sang putri diam-diam menaruh hati pada tamu mereka yang baru satu minggu menginap disini.


"Istri bapak sudah hamil ya?" Tanya Bu desa saat mereka sudah selesai sarapan.


"Belum Bu, kami juga masih belum lama menikah." Jawab Rama sopan.


"Sudah periksa pak? Katanya sudah satu tahun menikah, itu sudah lama loh pak." Ujar Bu desa.


"Anak itu hak prerogatif Allah swt Bu, saya tidak memaksa urusan anak. Istri saya juga masih belasan tahun, bulan depan baru genap dua puluh tahun." Jawab Rama gamblang.


"Berarti masih sangat muda ya pak, pantas saja pak Rama nggak bisa lama-lama disini." Ujar Bu desa. Sang suami yang mendengar istrinya terlalu mencampuri urusan pribadi tamu mereka langsung mencubit pinggang sang istri dari belakang.


"Apasih pak?" Protes Bu desa.


"Siapkan tas bapak, ada rapat di kantor desa soal pembangunan jembatan dan sekolah yang akan dimulai besok." Titah pria yang masih terlihat gagah di usia yang terbilang sudah setengah abad itu.


Bu desa melipir tanpa menoleh. Bak sudah hapal betul bagaimana tabiat suaminya yang tidak suka ia mencampuri urusan orang lain. Sedangkan anak gadisnya yang sejak tadi mencuri dengar obrolan ibunya dan Rama langsung masuk ke dalam kamar begitu sang kepala rumah tangga menginterupsinya dengan tatapan menakutkan.


"Iya pak Rama, saya mengerti. Yang penting saat peresmian nanti usahakan datang ya pak. Saya mewakili warga desa mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan pemerintah dan perusahaan yang bekerjasama untuk membangun desa kami yang sudah lama tertinggal ini."


"Sama-sama pak. Saya juga terimakasih banyak sudah di terima di desa ini dengan baik." Kata Rama.


***


"Rama katanya mau pulang besok Rin?" Tanya Tante Rosa.


"Iya Tan, sudah ada orang lain yang gantikan dia di sana." Jawab Karin.


"Baguslah kalau begitu." Ucap Tante Rosa merasa lega.


"Tante seneng banget pak Rama mau pulang?" Tanya Karin tersenyum lucu melihat sikap Tante Rosa.


"Tante khawatir kalau Rama banyak godaan Rin, Rama itu dimana-mana banyak yang suka. Makanya Tante takut kalau Rama di goda perempuan lain." Ucap Tante Rosa merasa khawatir.

__ADS_1


"Semoga saja nggak Tante, kalaupun ada yang berani goda suami saya, ya harus siap-siap hadapi saya secara jantan hehehe." Kata Karin membuat Tante Rosa tertawa terbahak-bahak.


Di sela tawa mereka, Aziz memanggil dari arah depan dengan suara lantang tidak seperti biasanya.


"Kenapa ziz?" Tanya Karin dengan wajah kaget dan penuh tanda tanya melihat Aziz bersikap aneh.


"Mbak, barusan ada yang ngirim paket atas nama mbak, saya terima, trus sama Naira di rebut jatuh isinya terhambur seperti ini mbak." Ucap Aziz menunjuk ke arah lantai yang berserak sampah potongan kertas dan foto Karin yang sobek.


Karin dan Tante Rosa mengamati dengan seksama, setelah beberapa saat kemudian mereka sadar kalau paket itu berisi foto-foto Karin yang sudah di robek-robek. Karin langsung terduduk lesu memandang lantai dengan wajah panik dan takut. Ia ingat dengan mimpinya beberapa waktu lalu.


"Tante, suruh pak Rama pulang sekarang Tan, aku takut." Ucap Karin langsung memeluk Tante Rosa. Wanita setengah baya itu tak tahu apapun tapi langsung memberikan pelukan pada Karin. Aziz justru membawa Naira keluar rumah untuk bermain dengan teman sebaya nya.


"Tante nggak tahu ada apa Rin, ini kenapa paket isinya foto kamu yang sudah di robek?" Tanya Tante Rosa bingung.


"Telpon pak Rama Tante, aku takut." Lirih Karin.


"Iya iya sebentar, ayo ke kamar Tante dulu." Ucap Tante Rosa.


***


"Ini udah seminggu lebih sejak terakhir kita dapat paket menjijikkan itu." Kata Abdul.


"Iya, gue takut malah paket itu sekarang bukan ke kita tapi langsung ke Karin." Tambah Dani.


"Gue juga mikirnya ke situ, tapi pak Rama juga nggak ada kabar selama itu. Semoga aja semua baik-baik saja." Kata Miftah.


"Tetep aja gue khawatir. Apalagi bang Agam juga mau gantiin pak Rama di proyek, hari ini berangkat kesana." Kata Abdul.


"Coba telpon Karin deh, atau pak Rama gitu." Usul Miftah.


"Mana beranii gue telpon pak Rama. Kalau Karin mah masih ada nyali." Ucap Abdul.


"Ya udah buruan." Desak Miftah.


"Gue nggak tahu mau ngomong apa Panjul. Lo ja deh yang telpon." Kata Abdul.


"Udah biar gue yang telpon." Putus Dani.


Setelah berkali-kali tidak tersambung akhirnya Dani juga menyerah. "Nomor Karin nggak aktif, telpon pak Rama aja deh." Kata Dani

__ADS_1


"Mana berani." Kata Miftah.


"Mau sampai kapan kita di bayangin ketakutan nggak faedah gini." Gumam Abdul.


__ADS_2