
Gerimis masih menghiasi malam ini. Tetes air hujan mampu menghipnotis semua orang untuk sekedar bersantai dan berleha-leha menikmati pulau kapuk hingga pagi menjelang.
Karin masih terjaga saat laki-laki berstatus suami itu bangun dari tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit dini hari. Mata Karin masih betah tertutup meski tak tidur sama sekali.
Insiden beberapa hari lalu saat malam kepulangan Rama, Karin tak pernah merasakan nyenyaknya liburan di pulau kapuk. Bayangan saat netra mereka saling menyatu masih terus menghantuinya dan membuat jantungnya jungkir balik.
Meski sejak tadi mengubah posisi tidur hingga bantal pun jadi sasaran, tetap saja tidak ada rasa mengantuk sama sekali.
Helaan nafasnya terdengar berat hingga tanpa disadarinya pegas kasur super king size itu berderit saling bergesekan dan menimbulkan suara.
Karin abai hingga tak menyadari jika Rama sedang memperhatikan gerak-gerik nya di atas kasur dengan tatapan heran.
"Rin, kamu kenapa?."tanya Rama mendekat.
"Astaghfirullah." Ucap Karin sedikit berteriak karena terkejut.
Terduduk dan menatap nyalang pada Rama yang menatapnya heran.
"Kamu kenapa?." Tanya Rama sekali lagi
"Nggak usah bikin orang jantungan pak." Sungut Karin membuat Rama memicing.
"Justru saya tanya, kamu dari tadi gerak sana sini kenapa? Bukannya AC menyala?." Cecar Rama.
Karin mendecih dan langsung berbaring tanpa peduli dengan pertanyaan Rama.
Rama memilih diam saja dan mengambil keperluan sholat di dalam lemari. Entah bagaimana ceritanya, semua isi kopernya sudah berpindah ke dalam lemari.
Padahal sejak pulang dari rumah sakit hingga sekarang Karin tak pernah sekalipun menyiapkan kebutuhannya bahkan menawarkan lemari untuk pakaiannya saja tidak.
Hendak bertanya sejak kemarin tapi urung ia lakukan karena tak ingin membuat Karin tersinggung dan membuat hubungan mereka berantakan lagi.
Sudah dua kali Karin masuk rumah sakit karena dirinya. Ia tak mau lagi melihat Karin kesakitan seperti sebelumnya. Meskipun kecelakaan kedua itu menjadi titik balik ingatan nya yang hilang. Tetap saja Rama masih merasa bersalah pada Karin.
Rama menunaikan kewajiban sepertiga malam dengan khusuk dan mata Karin sibuk menelisik penampilan Rama dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dari balik selimutnya. Diam-diam ada lengkungan bulan sabit di bibirnya.
Merasa canggung dan takut ketahuan jika sedang mengintip, Karin cepat-cepat menutup kembali selimutnya dan akhirnya terlelap hingga pagi menjelang siang.
__ADS_1
**
"Ram, hari ini kamu ada acara nggak?." Tanya Ardi saat mereka tengah berkumpul di meja makan.
"Ke kantor bang, sampai sore lagi kayaknya, soalnya saya sempat ambil cuti beberapa minggu jadi banyak pekerjaan bertumpuk." jawab Rama.
"Oh ya udah." Kata Ardi
"Mau kemana bang?."tanya Arkan.
"Mau ku ajak mancing, udah lama nggak healing Ar." Jawab Ardi
"Mau dong, tapi jangan ke muara. gue masih trauma sama hewan buas." Kata Arkan
"Ayo lah, kali ini nggak ke muara tapi ke kolam pemancingan di daerah xxx, katanya baru buka sih makanya mau nyoba kesana." Kata Ardi.
"Oh yang itu, karcis nya biar gue minta ke temen gue di kantor bang." Usul Arkan
"Ada temen Lo kerja disana?." Tanya Ardi
"Dia keponakan yang punya kolam pemancingan." Jawab Arkan.
"Ini pada ngegosip, cepat makan. udah jam berapa ini?." Cecar mami melihat ketiga pria itu masih ngobrol dan belum menyentuh sarapannya.
"Belum bangun mi." Jawab Rama membuat kedua saudara iparnya saling memandang dan memberi isyarat.
"Oh." timpal mami ber-oh saja.
"Ehm." Ardi berdehem diikuti oleh Arkan. Sedangkan Rama yang menjadi topik hanya diam saja tidak menanggapi dan mulai memakan sarapannya dengan tenang.
Jam sepuluh pagi Karin baru terbangun saat rumah sudah benar-benar terasa sepi. Mami sudah ke pasar menggantikan mbak Uti yang sudah ikut suaminya bertugas dan menjadi ibu Persit di kabupaten sebelah.
Sesekali juga Uti pulang menjenguk mami dan mertuanya meski hanya dua hari dua malam. Meski kini mami yang menggantikan Uti, tapi mami tidak merasa kerepotan sama sekali karena Riko dan anak-anak jalanan yang sudah di asuh Karin selalu bergiliran membantu mami di pasar induk setiap hari.
Saat membuka tudung saji, hanya di dapatinya telur goreng dan sambal terasi, tak ada apapun selain itu. Karin tetap saja melahap semuanya sampai habis tak bersisa.
"Untung aja gue masuk jam satu. Masih ada waktu tiga jam buat kerja tugas yang udah numpuk, untung Abdul sedia setiap saat." Batin Karin melihat jam dinding di dapur.
Selesai makan, Karin beranjak ke kamar untuk mandi dan mengerjakan tugas. Dan matanya melotot kala mendapati Rama baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
__ADS_1
"Pep..pak Rama kapan pulang?." Tanya Karin gugup dan mengalihkan pandangannya.
"Tadi waktu kamu makan. Maaf ya, aku cepat pulang soalnya baru dari makam." Jawab Rama.
Karin menoleh ke sisi lain agar tidak melihat cetakan perut sixpack milik Rama dan sekaligus menjaga keremajaan matanya.
"Rin, bisa siapin baju saya?." Pinta Rama denga suara pelan membuat langkah Karin langsung berhenti.
"E.e.e baju buat apa ya pak?." Tanya Karin menahan gugupnya meski tak berani menoleh, diktat di atas meja belajarnya sengaja ia bolak-balik untuk menyembunyikan kegugupan nya.
"Baju buat ke kantor, aku mau nelpon sekretaris dulu, Tolong kamu siapin ya." Pinta Rama.
"A.i.iya pak." Jawab Karin pasrah.
"Ah sial kenapa lagi gue harus nyiapin bajunya?." Gerutu Karin dalam hati.
Rama tersenyum tipis lalu mengambil ponsel dan menuju ke balkon untuk menghubungi Agam. Matanya sedikit melirik ke arah Karin yang berjalan ke lemari dan memilih bajunya.
"Gimana, berhasil nggak?." Tanya Agam di seberang telpon.
"Sepertinya sembilan puluh persen. Terimakasih pak atas laporannya." Jawab Rama membuat Agam tertawa keras di sebrang sana.
"Ah sial, gue juga gugup kalau gini caranya. Ide Agam bener-bener bikin gue panas dingin." Batin Rama kesal.
Beberapa jam lalu setelah sarapan Rama sempat melihat Karin di kamar masih tertidur. Ia memilih langsung mengambil tas dan berangkat ke kantor.
Sampai di kantor rupanya gosip tentangnya sudah menikah menjadi topik hangat di kalangan karyawan kantor.
Rama dengan gelar Mr. Perfect, mampu menyihir semua karyawan perempuan jadi patah hati setelah melihat foto Rama beredar di salah satu akun sosial media salah satu karyawan.
Agam yang tahu temannya menjadi topik berita hangat, sempat mendapat teguran kocak dari bos pemilik perusahaan saat selesai briefing.
"Teman kamu sudah laku sejak lama tapi baru sekarang viral ya, sepak terjangnya bagus juga." Ledek tuan Sean tersenyum pelan.
"Ya harap maklum tuan, pak manajer memang orang nya tertutup. Saya aja nggak di undang boro-boro tuan muda." Seloroh Agam.
"Hahaha kamu bisa aja gam, nggak salah saya milih kamu jadi ahli marketing di sini." Ucap tuan muda Sean menepuk-nepuk pundak Agam.
Sampai di ruang kerjanya, rupanya Rama ada di sana sedang duduk di sofa dengan santainya.
__ADS_1
"Hai pak manajer, sekarang viral ya." Ledek Agam.
"Apaan." Timpal agam.