Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 54


__ADS_3

"Mereka udah pulang?." Tanya Rama saat baru saja tiba di rumah dan Karin sedang membersihkan bagasi di samping rumah.


Mami langsung masuk kerumah dan melihat ketiga teman anaknya sedang tertidur di depan televisi dengan buku dan diktat berceceran serta laptop yang masih menyala.


Mami hanya bisa menghela nafas berat dan tersenyum, lalu ke dapur untuk menyimpan makanan.


"Rin, kamu masak Coto Makassar?." Tanya mami saat masuk melihat satu kuali besar yang isinya tinggal setengahnya saja.


"Tanya aja mantu mami, mana bisa aku bikin masakan kayak begitu mi." Jawab Karin


"Rama yang masak?." Tanya mami meyakinkan


"Iyalah siapa lagi. Aku mau masak aja di larang semalam. Katanya nanti capek." Ucap Karin dan mami tersenyum lalu menepuk pundak anaknya.


"Sudah seharusnya dia begitu, laki-laki kalau udah punya rasa tanggung jawab dan sayang ke istri ya memang begitu Rin, sama kayak papi mu dulu juga begitu." Kata mami.


Karin hanya memutar bola mata jengah dan bibirnya mencebik tak karuan.


Mami langsung berlalu dan masuk ke dalam kamar. Hatinya benar-benar merasa tenang dan bahagia, karena Karin mendapatkan suami yang sesuai harapannya.


"Rin, itu anak-anak udah makan belum? Ini udah jam empat sore." Tanya Rama masuk ke dalam dapur.


"Bapak lihat aja tuh, isi kuali masih utuh atau berkurang? Saya mau nyuci piring. Coba bapak ingat tadi pas pergi ke pasar wastafel isinya sebanyak ini atau tidak." Jawab Karin sedikit ketus menunjuk ke arah wastafel yang penuh piring kotor.


Rama hanya tersenyum dan mencium kening Karin tiba-tiba. "Makasih, enak nggak Coto nya?." Tanya Rama. Tangannya sibuk memeluk Karin dari belakang.


"Ck pak lepasin lah. Malu pak di lihat yang lain." Kata Karin berusaha melepaskan pelukan Rama dari pinggang nya.


"Gini aja bentar." Ucap Rama berbisik di telinga Karin. Bulu kuduk nya seketika meremang.


"Ck, bapak tahu kan saya atlet bela diri hem?." Ucap Karin menahan kesal


"Iya tahu, kenapa?." Kata Rama


"Mau saya buat bapak nggak bisa jalan lagi." Ancam Karin


"Ya nggak lah." Kata Rama.

__ADS_1


"Lepasin atau saya…..bugh." Karin langsung menyenggol sisi perut Rama dengan kekuatan sikunya.


"Aargh..sakit Rin." Kata Rama mengaduh kesakitan.


"Makanya jangan macem-macem." Ucap Karin mengejek.


Rama terduduk di kursi dengan memegang sisi perut nya yang terasa kram. Karin tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu kenapa ram?." Tanya bang Ardi yang baru saja pulang dari kantor.


"Mencret terus dari tadi bang, makan Coto habis empat porsi, pedes lagi." Jawab Karin cepat.


"Coto?." Tanya Ardi mengeryit.


"Tuh lihat di kuali masih banyak kok, Coto Makassar." Ucap Karin menunjuk ke arah kompor.


"Kayak yang pernah aku makan di Karebosi waktu pelatihan di Makassar." Kata Ardi mencium aroma Coto.


"Nah emang dari sono. Tuh pak dosen yang buatin." Ucap Karin menunjuk Rama yang masih meringis kesakitan.


"Oh ini buatan kamu Ram, cobalah pasti enak kayak aslinya." Ucap Ardi langsung mengambil mangkuk.


"Rin, itu temen kamu udah makan?." Tanya Ardi.


"Udah, Abang nggak lihat ini cucian piring ku numpuk?."


"Lihat, cuma nanya aja, siapatahu mereka belum makan."


"Ck, basi, bilang aja mau abisin sisa di kuali." Ucap Karin.


"Nggak lah, yang lain nanti nggak kebagian. Mami pasti belum makan, apalagi mbak mu." Ucap Ardi


"Bang Arkan nggak pulang lagi ya kok tumben." Tanya Karin.


"Ke kampung halaman Raisa, nyari kerabat Raisa yang masih hidup, katanya ibu panti tempat Aisyah di asuh, masih nyimpan alamat salah satu orang yang pernah jenguk Raisa di panti waktu masih kecil." Kata Ardi.


"Mami tahu?."

__ADS_1


"Iyalah, mami mana mau lamarin Raisa kalau nggak walinya, makanya mami minta di undur sampai Raisa menemukan keluarganya yang masih tersisa." Jelas Ardi sambil mengunyah daging.


"He, itukan udah puluhan tahun bang, mana bisa nemuin lagi." Kata karin


"Setidaknya berusaha, jaman udah canggih Rin, pasti bakalan ketemu." Sanggah Ardi.


"Kasihan banget sih bang Arkan, dapat istri ular kayak Sintya akhirnya cerai, sekarang dapat istri kayak bidadari kendalanya nggak punya wali. Berat bener ujian nya bang Arkan." Kata Karin. Tangannya sibuk membilas piring.


"Doakan aja, makanya kamu bersyukur dapat suami kayak Rama. Dewasa, penyayang, sabar, ulet, tanggung jawabnya luar biasa." Seru Ardi sedangkan Karin hanya mencebik tak jelas.


*****


"Kenapa nggak nginep disini aja, lagian hujan deras kalian cuma bawa motor." Tanya mami pada ketiga tamunya.


"Kami nggak izin kalau mau nginap di hotel Tante, nanti ibuk saya marah." Jawab Abdul.


"Hotel? Hahahah kamu ini ada-ada aja. Udahlah mana hape kamu biar saya yang bicara." Kata mami


"Nggak usah Tan, kami pulang aja, lagian masih bisa di kerja besok. Nggak enak mana emak saya tadi nggak tahu kalau saya kesini." Ucap Miftah menolak secara halus.


"Udah nggak papa sini, saya yang akan bicara sama orang tua kalian." Kata mami memaksa.


Akhirnya ketiga orang itu mengalah saja setelah mami bicara dengan orang tua mereka.


"Mi, kenapa sih harus maksa mereka nginep?." Tanya Karin sedikit tak enak pada ketiga sahabatnya.


"Biar rumah ini rame lagi Rin, Abang kamu belum pulang, Ardi nginep di rumah mertuanya."


"Ya elah, udah biasa gitu kali mi, nggak usah lebay. Lagian kalau bang Arkan nikah juga udah tinggal di rumah nya sendiri." Ucap Karin


"Apa bedanya sama kamu, kalau nanti bakalan ninggalin mami juga kalau udah punya rumah sendiri." Balas mami


"Ck, nggak ada rencana kesana mi, sampai kapanpun aku tetap di sini, nggak bakalan ninggalin mami." Ucap Karin


"Makanya bikin anak cepat, biar mami nggak kesepian." Sahut mami membuat Karin melongo.


Mami langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan ketiga sahabat anaknya itu terpingkal-pingkal melihat Karin mencebik tak karuan.

__ADS_1


"Kalian tidur di kamar tamu aja ya, udah di bersihkan tadi sama mbak Sri." Ucap Rama di ujung tangga.


"Baik pak, terimakasih." Ucap ketiganya.


__ADS_2