
"Kamu tega ngusir Rama dari sini Rin?" Tanya mami menatap tajam sang anak yang menunduk ketakutan.
Karin hanya bisa diam dan terisak memegang kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya.
"Jawab mami Rin" bentak mami dengan kesal.
"Jangan salahin Karin mi, ini semua salah mami. kenapa mami setuju saja menerima lamaran laki-laki jadul itu?" Jawab Karin membantah
Plak
Satu tamparan melayang ke pipi sebelah kiri Karin. Seumur hidup baru kali ini Karin mendapatkan perlakuan buruk dari orangtuanya. Bahkan papi pun tak pernah menyakiti nya semasa hidup.
Bu Maryam menatap nyalang pada anak bungsunya yang menangis dan mengusap pipinya yang memerah.
"Kamu pernah mami sekolahkan di pesantren, apa tidak pernah di ajar cara berbicara dan bersikap terhadap suami?" Tanya mami
"Jawab mami Rin" bentak Bu Maryam sekali lagi.
Karin hanya menggeleng lemah, mengetahui kalau ia sudah salah. Dan apa yang dikatakan mami benar. Tidak seharusnya ia bersikap kurang ajar pada Rama.
"Kalau kamu belum bisa menyadari kesalahanmu kali ini, mulai malam ini angkat kaki dari sini, mami nggak suka ada anak mami yang berani kurang ajar pada suaminya. Keluar dari rumah ini sekarang juga" bentak mami marah
"Mi" pekik Uti dan Ardi di depan pintu kamar.
Mereka berdua memang sengaja menghampiri kamar adiknya karena khawatir akan terjadi sesuatu. Dan ternyata benar, mami benar-benar marah besar pada Karin.
Uti menghampiri Karin yang berdiri kaku di tepi ranjang sedangkan Ardi langsung memeluk mami dari belakang.
"Mi, ayo keluar, tenang dulu mi" rayu Ardi menuntun paksa ibunya keluar dari kamar.
"Keluar dari rumah ini dalam waktu kurang satu jam, jangan pernah kembali kerumah ini jika kamu belum menyadari Kesalahan yang kamu buat, Rama pergi kamu juga harus angkat kaki dari rumah ini, camkan itu" ucap mami sebelum pergi mengikuti langkah kaki anak laki-lakinya.
Bu Maryam mengikuti langkah kaki anaknya keluar kamar Karin. Ardi setia menggandeng tangan ibunya hingga sampai di dalam kamar.
Di tepi ranjang, mami tergugu dan menangis dalam pelukan Ardi.
"Maafin mami di, mami udah ngusir Karin" ucap Bu Maryam tergugu.
__ADS_1
Ardi mengusap punggung ibunya dengan sayang. Ia tahu ibunya terpaksa berbuat keras pada Karin agar anak itu bisa belajar mandiri dan menyadari kesalahannya kali ini.
Beruntung Bu Rosa dan Aziz sudah pamit pulang sejak pagi membawa Naira. Mereka tak tahu kalau Rama sudah pergi sejak semalam, dan mereka mengira Rama sudah pergi ke kampus.
Di kamar Karin terdiam, kemarahan mami benar-benar membuatnya takut. Mami orang yang sabar meskipun terkadang bar-bar. Tapi jika marah mami tidak pernah segan-segan berbuat sesuatu yang membuatnya takut.
"Mbak siapin koper kamu, mbak antar kerumah adiknya bang Tomi dulu, kalau kamu kerumah Rama nanti akan jadi pertanyaan aneh karena yang mbak dengar kalau Rama sudah pergi meninggalkan rumah itu semalam dan Tante nya juga nggak tahu." Ucap Uti seraya memasukkan baju-baju Karin ke dalam tas dan koper.
Subuh tadi Uti sengaja menghubungi Rama dan menanyakan permasalahannya dengan Karin dan Rama menceritakan semuanya hingga membuat Rama memilih pergi untuk waktu yang tidak bisa di tentukan demi keinginan Karin. Bahkan Rama sudah mengajukan surat resign di kampus.
Karin hanya terdiam tak menggubris sama sekali setiap kata yang keluar dari bibir kakaknya. Karin benar-benar merasa hancur saat mami tega mengusir nya.
Kondisi mental Karin yang masih belum stabil membuat Karin merasa hidup seolah sedang mempermainkannya.
"Rin, ayo pergi, nanti mami tambah marah kalau kamu masih disini" ucap Uti seraya menyeret koper adiknya. Tas ransel dan selempang ia simpan di bahu.
"Rin" panggil itu kala menyadari sang adik tidak mengikuti langkahnya.
Uti berbalik dan menoleh melihat Karin masih tetap duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Uti menarik nafas panjang. Hatinya juga sedih sang adik terluka karena orang tuanya meskipun kesalahan ada pada Karin sendiri.
Sampai di depan pintu, langkah Karin terhenti dan menoleh ke arah pintu kamar mami yang tertutup rapat. Uti ikut berhenti dan menatap sang adik.
"Sudah ayo mbak antar kerumah Sukma" paksa Uti menarik lengan Karin.
Karin mengikuti perintah Uti, Arkan yang baru datang terkejut melihat Uti membawa koper dan tas.
"Kalian mau kemana?" Tanya Arkan terkejut.
"Kemarin lagi mobilnya antar kerumah Sukma" titah Uti membuka pintu mobil bagian belakang dan memasukkan koper dan tas milik Karin.
"Hei jawab dulu mau kemana?" Tanya Arkan sekali lagi.
"Sudah, cepat putar mobilnya" bentak Uti pada Arkan.
Karin di paksa masuk ke dalam mobil oleh Uti dengan ucapan ultimatum yang membuat Karin langsung menurut.
Arkan menurut saja meskipun hatinya masih bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada dua saudara perempuannya. Sejak kemarin ia memang tidak pulang karena harus keluar kota untuk meninjau proyek yang ditugaskan oleh kantor.
__ADS_1
Arkan melajukan mobil dengan kecepatan sedang, meskipun pikirannya tengah kacau dengan banyaknya kemungkinan yang terjadi di rumah saat ia tidak ada sejak kemarin.
"Mau kerumahnya Sukma mbak?" tanya Arkan sekali lagi.
"Iya" jawab Uti singkat
Arkan berbelok arah menuju ke kompleks perumahan tempat tinggal Sukma calon adik ipar Uti.
Setelah sampai, rumah Sukma nampak sepi hanya ada dua orang satpam yang berjaga di pos. Arkan turun dan menanyakan sang pemilik rumah.
"Bu Sukma sedang ikut suaminya ada Sertijab di kantor kecamatan pak, mungkin malam baru kembali karena harus kerumah mertuanya dulu sih tadi katanya" kata pak satpam
"Oh gitu, ya udah pak, bilang aja nanti sama Bu Sukma kalau saya kesini, saya permisi dulu pak" ucap Arkan. satpam itu mengangguk.
"Mbak orangnya pergi mungkin malam baru pulang, emang tadi udah di telpon dulu?" tanya Arkan pada Uti.
"ya udah ke hotel dulu, nanti disana kita cari solusi" putus Uti. Arkan mengikuti saja.
Sampai di hotel, Arkan langsung memesan satu kamar untuk Uti dan Karin.
"Lo nggak pesen kamar?" tanya Uti.
"Nggak, siapa suruh ngajak kesini, kalau mau aku ajak ke rumah baru ku mau?" seloroh Arkan
"Rumah baru? Jangan ngaco Lo" seru Uti
"kalau nggak percaya ya udah, sebelum gue selesaikan reservasinya, gue tawarin sekali lagi, daripada keluar uang, mending mana kalau kerumah baru aku? Nggak jauh dari hotel ini kok, cuma belok ke kanan lurus aja mentok sampai ujung trus belok kanan lagi trus nyampe dah rumah baru gue" ucao Arkan menawarkan.
"Serius Lo? Itu kan cluster baru harganya juga lumayan wah" sanggah Uti.
"Ya udah lah, mbak saya batalin pesanan kamarnya, maaf ya" ucap Arkan pada resepsionis.
Arkan akhirnya mengajak kedua saudara perempuannya pergi ke rumah barunya.
"Mbak sebenarnya ada apa to?" tanya Arkan di sela menyetir mobil
"nanti lah, sampai di rumah mu baru kita ngobrol" ucap Uti
__ADS_1