
“Ian... Ian... Iaaaaaaan!!!” teriak Asti membuat gue terbangun di pagi ini.
“Apa sih?!” ucap gue membalas.
“Bangun! Katanya kita mau ke rumah kamu.”
“Masih pagi gini juga, agak siangan aja,” ucap gue sedikit malas karena semalam gue tidak bisa tidur hingga pukul 2 pagi.
“Masih pagi dari mana? Ini udah jam setengah 10,” ucapnya dan membuat gue terperanjat dari tempat tidur. Gue pun langsung bangun menuju kamar mandi dan segera melakukan berbagai ritual di dalam sana.
Hari ini gue udah janji dengan Asti akan pergi ke rumah gue. Sebenarnya gue mengajak Gina juga, tapi dia hari ini mesti masuk kerja. Oh, iya, hari ini adalah hari Sabtu pertama di awal tahun yang baru. Tidak ada yang berbeda yang gue rasa.
Soal Asti yang bisa masuk ke kamar gue, sejak kami jadian di akhir tahun, gue memberikan satu kunci serep untuknya sehingga saat pagi dia bisa masuk ke kamar gue tanpa mengganggu tidur gue.
“Nah, gitu dong, kan ganteng,” ucap Asti dari pintu kamar gue.
“Kamu juga cantik, kok, Sayang,” ucap gue membalas tanpa melihatnya.
Tak lama, sebuah pelukan menyergap gue dari belakang. Gue yang sedang menyisir rambut hampir-hampir saja terjatuh ke depan. Erangan manja dari Asti pun terdengar pelan.
“Heh, ngapain, sih? Nanti diliat orang, loh,” ucap gue sambil kembali mencoba berdiri tegak.
“Aku lagi gemes aja sama kamu,” ucapnya.
“Lepasin dulu sebentar,” ucap gue sambil mencoba membuka pelukannya.
“Ih, orang lagi enak-enak malah dilepasin, yaudah ah, aku mau bete.” Ekspresi wajah Asti pun berubah cemberut sambil menyilangkan tangannya di dada.
Gue sejenak membenarkan rambut gue dengan menyisirnya sebentar. Lalu gue membalikan badan gue menghadap Asti dengan ekspresi yang sama.
“Hehe, jangan cemberut gitu dong.” Sebuah kecupan gue layangkan pada pipi kirinya yang segera membuatnya kembali tersenyum.
“Satu lagi,” ucapnya manja sambil menunjuk pipi kanannya.
“Dasar,” ucap gue mengecup pipi sebelah kanannya. “Udah, yuk, berangkat, keburu ceritanya jadi stensilan.”
“Haha, sialan, aku juga enggak mau kalau sampai ke sana,” ucap Asti pun beranjak dan gue ikut menyusulnya sambil mengunci kamar.
Dengan sepeda motor milik Asti, kami pun berangkat. Cuaca hari ini sangat pas untuk berpergian, matahari tidak terlalu terik dan awan pun tidak terlihat mendung. Namun, kedaaan jalanlah yang tidak pas untuk berpergian. Sebagai kota tujuan wisata singkat, kota ini akan padat saat weekend seperti ini.
Setelah berjibaku dengan kendaraan-kendaraan lain, melewati jalan tikus dan jalan yang benar, gue pun berhenti di depan gerbang sebuah rumah.
Gerbang hitam dengan tinggi sedada orang dewasa itu Asti buka dengan menggesernya. Gue memasukan motor yang gue kendarai ini ke halaman rumah yang cukup luas.
“Rumah kamu besar juga, ya, Ian,” ucapnya.
“Masih kecil rumah ini ma, cuma keliatannya aja luas,” jawab gue.
Rumah dengan dominasi warna biru tua ini berdiri dengan dua lantai, halaman rumahnya cukup luas dengan taman kecil dan sebuah kolam ikan. Tempat parkir untuk kendaraan pun cukup untuk menampung sebuah mobil dan sebuah odong-odong. Maaf, gue bercanda.
“Ting tong” suara bel saat gue tekan.
__ADS_1
“Eh, Ian, perasaan ini rumah kamu, kok mencet bel, sih?” tanya Asti heran.
“Oh, iya ya,” ucap gue sambil menggaruk kepala gue.
Pintu rumah pun gue buka dan ternyata sedang tidak dikunci, aroma khas rumah ini baru gue cium kembali setelah satu bulan lebih gue meninggalkannya.
Seorang wanita paruh baya pun datang ke arah pintu ini. Iya, itu Ibu gue dengan gaya khas ibu-ibu di Indonesia. Gue pun mencium tangannya dan memberinya salam.
“Eh, kemana aja kamu?” ucapnya.
“Biasa, kerjaan, Mah,” ucap gue menjawab.
“Hebat, ya, kerjaannya bisa sampai bawa perempuan ke rumah,” ucapnya bercanda.
Gue pun mengenalkan Asti dan mereka pun berbasa-basi agar bisa saling kenal lebih dekat tentunya. Kami pun beranjak ke ruang keluarga yang ada di sebelah ruang tamu ini. Televisi yang tengah menyala sedang menayangkan sebuah sinetron kesukaan ibu gue.
“Bapak kemana, Mah?” tanya gue.
“Semenjak kamu pergi, bapak kamu jadi sibuk sama usahanya, tiap hari pergi sampai sabtu minggu juga pergi. Katanya sih sibuk akhir tahun sama mau buka cabang baru,” jawab ibu gue.
“Tau gini Ian enggak perlu pergi dari rumah,” ucap gue mengeluh.
Gue pun menceritakan kalau gue selama ini tinggal di kosan yang tentunya enggak gue sebutkan secara lengkap alamatnya. Gue menceritakan apa yang sudah terjadi selama sebulan ini. Ibu gue pun tampak paham akan perasaan gue tentang suasana rumah saat sebelum gue pergi.
“Udah pada makan belum?” ucap Ibu gue saat gue selesai menceritakan semuanya.
“Belum,” ucap Asti antusias.
“Yaudah, kalau mau makan, bantu ibu masak, yuk,” ajak ibu gue.
“Wah, kebetulan tuh Mah, Asti pinter masak, loh,” ucap gue membuat Asti pun menggelengkan kepalanya.
“Yaudah, ayo, Ti.” Ibu gue pun beranjak menuju dapur, sedangkan Asti mau tidak mau harus mengikutinya.
Gue masih terduduk sambil mengganti saluran televisi yang rasa-rasanya kian hari kian membosankan. Sampai, gue berinisiatif untuk beranjak ke kamar gue sejenak dan merebahkan badan ini di kasur untuk tidur menggantikan utang tidur gue semalam.
Saat gue akan menaiki tangga ke lantai dua, tiba-tiba saja suara bel berbunyi memanggil penghuni rumah untuk membukakan pintu itu. “Hah, siapa sih,” gerutu gue.
Gue berjalan malas menuju pintu untuk membukakannya. Dan saat gue membuka pintu rumah, gue cukup kaget dan tidak menyangka dengan siapa yang ada di balik pintu itu.
Rasa dari senyum itu masih terasa sama seperti dulu. Walau setahun sudah gue tidak bertemu dengan wanita ini, tetapi gue masih merasakan kehangatannya.
“Eh, Ran, tumben, ada perlu apa, ya?” tanya gue pada wanita yang ada di balik pintu ini.
“Enggak, Ian, tadi kebetulan lewat, jadinya mampir dulu aja,” jawabnya dengan senyum tanggung.
“Mau masuk?” tawar gue padanya.
“Emm, boleh,” jawabnya setuju.
Kami pun berjalan menuju ruang tamu dan gue persilahkan dia untuk duduk di sofa. Tampak dia malu-malu seperti ada sesuatu yang salah.
__ADS_1
“Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya gue.
“Enggak, kok. Setahun enggak ketemu, kamu enggak ada perubahan, ya.”
“Perubahan apa?”
“Kamu masih sama kaya dulu, kaya yang enggak pernah terjadi apa-apa sama kita,” jawabnya.
“Ya, namanya juga manusia, pasti ada masalahnya masing-masing, tapi gue enggak mau terlalu berlarut sama satu masalah dan menghambat pekerjaan gue.” Bijaknya gue berucap padahal kenyataannya gue galau satu bulan gara-gara ini cewek. Sial.
“Lu ada benarnya juga, sih. Oh, iya, gue ke sini sebenernya mau ngasih lu ini.” Dia pun merogoh tasnya seperti mencari sesuatu.
Sebuah surat undangan pernikahan dia sodorkan pada gue. Surat itu berwarna biru muda dengan ornamen khas pernikahan dengan tulisan nama gue di kolom nama undangan.
“Asyik yang mau nikah,” ucap gue menggodanya.
“Ih, biasa aja kali.” Rani pun tersipu.
“Sayang banget, ya, Ran.”
“Sayang? Sayang kenapa?” ucapnya penasaran.
“Iya, sayang banget nama gue ditulisnya di sampul depan bukan di sini, di sebelah nama kamu.” Gue pun tertawa kecil sambil menahan rasa yang tertahan di dada ini.
Suasana hening pun menyergap segera. Detak jam tangan yang dipakai Rani pun terdengar. Gue masih dalam keadaan membaca surat undangan itu, dan Rani memegang tas yang dia pangku di atas pahanya.
“Kalau gitu, gue balik dulu, ya, Ian.” Rani pun bangkit dari duduknya.
“Buru-buru amat, belum juga gue suguhin minuman,” ucap gue basa-basi.
“Enggak ah, takut diracun.” Tawa kami pun pecah.
“Yaudah, hati-hati, ya,” ucap gue seraya mengantarkannya hingga halaman rumah.
Pagar rumah gue pun ditutupnya dan dia kembali menghilang. Hah, kenapa gue harus ketemu lagi dengannya, padahal gue enggak mau lagi ketemu dengan wanita itu. Gue pun masuk kembali ke dalam rumah.
Segera gue berjalan menuju kamar di lantai dua, hingga gue dicegat oleh Asti saat akan menaiki anak tangga.
“Siapa, Ian?” tanya Asti yang mengejutkan gue.
“Oh, temen, ngasih undangan, nih,” ucap gue sambil menyodorkan surat undangan itu.
“Kok nganterinnya sendiri?”
“Enggak tahu dong, Sayang. Mungkin cowoknya lagi kerja.” Gue pun kembali melanjutkan langkah gue menaiki anak tangga. “Oh, iya, masakannya udah jadi belum?”
Asti menyilangkan tangannya di depan dada, “Makanya bantuin, biar cepet.”
“Iya, nanti gue bantuin makannya, sekarang mau bobo dulu gantiin utang semalem.”
Gue langsung menuju kamar tanpa melihat Asti kembali. Saat sampai di kamar, gue langsung menjatuhkan diri di atas kasur ini. Kalau dibandingkan dengan kasur di kosan, tentu lebih nyaman kasur gue yang ini. Tak lama gue memejamkan mata dan terbang menuju alam mimpi.
__ADS_1