
Seminggu sudah Raka keluar dari rumah sakit, selama itu pula Raka tinggal di rumah orang tuanya.
Raka yang sudah terbiasa bekerja merasa jenuh harus beristirahat di rumah. Sejak hari pertama kepulangannya Raka tetap bekerja dari rumah mengecek berkas-berkas laporan melalui email.
Seperti saat ini Raka tengah fokus pada laporan yang di kirim asistennya, tak menyadari maminya masuk ke dalam kamar dan telah berdiri di samping sofa yang tengah di duduki Raka.
"Sayang, kamu itu harus banyak istirahat. Biarlah kantor papi dan radit yang urus" kesal mami karna Raka tetap bekerja di masa pemulihannya.
"Iya mi, sebentar lagi juga selesei. Aku cuma ngecek laporan dari minimarket sama restauran aja mi"ucap Raka jujur.
" Mini market? Restauran?" tanya mami "sejak kapan papi berbisnis di bidang itu nak? kok mami baru tau ya?"
Mendengar perkataan maminya membuat Raka menyadari kejujurannya yang tanpa di sengaja, bukan bermaksud membohongi keluarganya. Raka yang diam-diam membangun usahanya sendiri dan menjalankannya bersamaan dengan mengurus perusahaan papinya. Raka bangkit dan membawa maminya untuk duduk di sofa kemudian Raka memposisikan dirinya di samping maminya.
" Beberapa tahun ini Raka membangun usaha sendiri ma, saat ini ada beberapa restauran dan minimarket yang baru-baru ini aku geluti. Raka ingin mandiri mi menafkahi keluarga Raka dengan tangan dan kaki Raka sendiri." ujar Raka jujur.
"Mami bangga sama kamu nak" ucap mami.
"Karna itu Raka mau mengembalikan perusahaan papi. Raka minta maaf pernah membawa perusahaan papi pada kondisi kritis, Raka menyesali kecerobohan Raka. Tapi sekarang perusahaan sudah stabil, walaupun masih memerlukan investor tapi perusahaan sudah bisa melewati masa-masa sulitnya. Raka akan selalu berusaha membantu membangun kembali perusahaan papi tapi bukan sebagai CEO-nya, biarlah Vanya dan Rayi yang meneruskan perusahaan papi" ucap Raka panjang lebar.
Raka yang beberapa waktu lalu menolak perjodohannya dengan Giska, membuat perusahaan papinya hampir bangkrut. Tapi Raka sadar untuk tetap berusaha membawa perusahaan bangkit kembali.
Siang malam Raka berusaha menstabilkan kembali perusahaan papinya, mencari investor dan Raka juga membantu keuangan perusahaan papinya dari keuangan di restauran dan minimarketnya hingga perusahaan stabil dan berkas-berkas penting perusahaan tidak sampai bocor.
__ADS_1
Selain bekerja siang dan malam Raka juga selalu menyempatkan untuk mencari Dhea, hatinya masih belum bisa melepaskan Dhea.
Terlebih lagi Raka selalu di gelayuti rasa bersalah karna perbuatannya memperkosa Dhea dan menutupinya dari keluarganya.
******
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan bulan berganti tahun, hingga 3 tahun sudah berlalu dan kini Raka sudah tidak memimpin perusahaan papinya, posisi Raka di gantikan oleh CEO wanita yang cantik dan tak kalah hebatnya dari Raka. Walau masih baru dan di bawah bimbingan Raka sebagai kakaknya serta pendidikannya di bangku kuliah membuatnya cepat mempelajari bisnis.
Vanya menggantikan Raka menjadi CEO di perusahaan papinya sementara Raka kini tengah merambah bisnis perhotelan di samping restauran dan minimarket yang sudah semakin berkembang.
Atas permintaan maminya Raka tetap tinggal di rumah orangtuanya, hanya sesekali saja Raka berkunjung ke rumahnya Dhea. Raka juga menempatkan satu orang pelayan dan dua penjaga untuk menjaga rumah Dhea dan memberitahukannya apabila Dhea pulang ke rumahnya.
Seperti saat ini Raka berkunjung ke rumahnya Dhea dan mengurung diri di kamar Dhea menatap fotonya lama, kerinduannya akan sedikit berkurang jika Raka telah memeluk foto Dhea dan berlama-lama di kamar Dhea. Meskipun kerinduan itu tidak akan pernah terobati, Raka tetap mencari keberadaan Dhea meskipun kini harapannya semakin kecil untuk menemukan Dhea mengingat Dhea sudah pergi selama tiga tahun lebih.
*****
Wanita itu memalingkan wajahnyanya ke kanan dan ke kiri seakan mencari sesuatu namun tidak ada apa-apa. kemudian wanita itu melangkahkan kakinya menuju pagar rumah dan menyentuhnya lama sebelum akhirnya menggeser pagar dan membuka sedikit jalan untuknya masuk ke dalam pekarangan rumah.
Wanita itu tertegun melihat rumah seakan takjub namun sejurus kemudian berlari kecil keluar pagar dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sejurus kemudian berlari kembali ke dalam pekarangan dan berjalan sedikit lebih cepat untuk mendekati pintu rumah.
Mendekati pintu rumah wanita itu kembali diam melihat sekeliling dan terlihat takjub dengan bangunan rumah minimalis bertingkat dua. Raut wajahnya menampakan keheranan entah apa yang di pikirannya, kemudian berjalan lagi mendekati pintu yang terbuka menampakan isi rumah tersebut.
"Rumah yang cantik" gumamnya " Apa aku salah alamat ya?" pertanyaan yang di tujukan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Saat hendak mengetuk pintu ia mendengar suara yang tengah berbicara, nada yang tegas dan berwibawa diselingi sahutan dari seorang wanita dan juga seorang laki-laki dengan jenis suara yang berbeda dari suara yang pertama.
"Assalamualaikum" akhirnya ia memberanikan diri mengucap salam walau dalam hatinya masih diselimuti rasa penasaran dan raut kemarahan.
"Waalaikumsalam" jawab seorang wanita dari dalam rumah dan tak berapa lama menghampiri tamu yang datang.
" Maaf nona mencari siapa?" tanya wanita paruh baya dari dalam rumah.
" Maaf apa benar ini rumah bapa
Pramudya?" tanya wanita muda melihat kearah rumah dengan penuh keheranan.
"Iya betul nona, silahkan masuk biar saya panggilkan tuan sebentar nona" wanita paruh baya itu mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu dan berlalu untuk memanggil tuannya.
Wanita muda itu duduk di kursi melihat sekeliling ruangan itu dan disalah satu sudutnya terpasang foto keluarga sepasang laki-laki dan perempuan bersama seorang gadis kecil.
"Maaf anda mencari bapa Pramudya?" tanya seseorang di belakang wanita itu
Wanita itu berdiri perlahan kemudian berbalik dan dilihatnya sosok laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya. Laki-laki gagah dan tampan tengah menatapnya tajam, menautkan kedua alisnya.
Kedua mata saling terpaut terkunci pandangan hingga beberapa saat kedua mata mereka berkaca-kaca. Ada kerinduan dalam mata yang saling terpaut hingga tetes bening berhasil meluncur bebas di pipi sang wanita. Begitupun dengan Raka, tetesan bening membasahi pipinya membasuh kerinduan membangkitkan harapan yang hampir punah tersapu waktu.
"Sayang"
__ADS_1