Dua Hati

Dua Hati
Tentang pernikahan


__ADS_3

"Hehe," Javis memamerkan gigi kelincinya, tangannya mengusap pipi Jihan yang kemudian meninggalkan bekas warna kuning di sana. Perpaduan Jihan dan warna kuning itu lucu di mata Javis jadi Javis tidak berniat membersihkannya sampai Jihan nanti tersadar sendiri dan mencebik kesal.


"Buruan dateng, keburu yang lain yang dateng," Jihan memangku totebagnya sekarang, menatap Javis penuh harap dengan hangat, "Risa aja sampai tanya kapan kita nikah."


"Risa itu enggak pernah pacaran makanya engga paham kalo nikah enggak segampang ijab kabul nya," Javis menorehkan warna di kanvas, "sekarang ijab kabul, aku juga udah bisa kok."


jihan tersenyum simpul, menatap nanar Javis dari samping dalam diam, "Ya udah coba ngomong. Aku mau denger."


“Enggak mau, nanti enggak surprise. Maunya ngomong di depan penghulu sama Kak Agus."


"Javis!"


Javis tertawa, hampir menumpahkan cat dalam kanvas jika tidak segera memegang perutnya yang tidak berhenti bergetar akibat kekehannya, "Btw, kamu sama Vin sampai mana?"


"Huh?"


Javis menoleh, meletakkan peralatan lukisnya ke meja dan memutar tubuh menatap Jihan dalam, "Udah jauh ya? Aku ketinggalan berapa langkah?" Jihan mendadak murung, tangannya berusaha meraih jemari Javis, "Enggak, bukan gitu."


"Ya? " tanya Javis


"E-enggak ada apa-apa kok. Masih sama. Jalan di tempat doank."


"Syukur deh," Javis mengusap pipi Jihan lagi sebelum mencubit hidung kecil itu gemas.


Aku takut kamu pergi, Ji. Aku takut kamu enggak bisa nunggu aku lebih lama.


Tapi Vin orang baik, mungkin kalau kalah pun aku tetap bahagia untuk kamu.


Lirih Javis dalam hati sambil memandang gadis tercintanya itu.


*****


Jihan sudah dua kali ini menumpangi mobil Vin dan duduk di kursi samping pengemudi sambil melihat-lihat Jogja. Jihan sering keliling Jogja tentu saja, tetapi dia hanya duduk di kursi penumpang ketika berkendara dengan kak Agus atau Ayahnya dulu saat kecil, sisanya Jihan yang pegang kendali atas mobilnya sendiri.


Jogja di balik kaca mobil memang rasanya berbeda, lebih dingin dan hambar. Sedangkan saat merasakannya di jok motor Javis, lebih hangat, sedehana, dan penuh rasa. Oh entah itu hanya efek kendaraan atau orang yang ada di dalamnya. Vin yang memegang kendali kali ini, berputar, belok ke arah yang dia inginkan sore ini selepas menjemput Jihan dari rumah Javis.


Pemberhentian terakhir kali ini di lampu merah, baru mau keluar dari wilayah titik nol menuju ke Tamansiswa ketika dia membuang napas dan menatap Jihan, "Kok diem aja?"


"Emang biasanya aku ngomong?"

__ADS_1


"Dari tadi saya muterin Jogja tanpa tau arah bukan karena enggak tahu peta, Jihan. Saya mau kamu negur saya seenggaknya sekali," Vin menjelaskan, mengetuk stir mobilnya menunggu, "kamu sudah bilang kita mau menikah sama Javis?"


"Belum lah, gila apa."


Delapan bulan mengenal, dua bulan bertunangan, Jihan masih sama sikapnya pada Vin. Selalu menolak, tetapi tidak memberi respon dengan fisik, seolah verbal itu sudah cukup menjadi bukti. Contohnya saat Vin berkata Jihan harus makan, Jihan bilang tidak walaupun nyatanya gadis itu tetap akan makan. Saat Vin bertanya apa kuliahnya sudah selesai hari ini dan Jihan menjawab tidak juga, Jihan nyatanya sudah pulang dan Vin menatap kepergian itu di tempat parkir fakultas dalam diam.


"Makanya saya hanya memutar enggak jelas di Jogja kayak gini, itu karena saya nunggu kamu cerita maunya gimana."


"Kenapa nunggu? kamu yang pegang kendali atas aku dan udah dapat izin dari Bunda juga."


"Kalau kita fitting baju sekarang, kamu memangnya bisa?" Vin akhirnya memasukkan gigi untuk kembali berjalan, "saya coba ngertiin kamu. Makanya saya ulur waktu sampai kamu siap."


Vin seperti itu, maka ada secuil dari hati Jihan berkata bahwa menikah dengan pria di sebelahnya ini bukanlah sebuah kesalahan fatal. Vin mengerti, dia sangat dewasa perihal perasaan, dia selembut ini dan sangat menghargai orang lain. Bunda memang tidak pernah salah memilih seseorang. Nyatanya Bunda itu mengerti Jihan dengan baik.


Namun, empat tahun mengenal Javis tentu ada harganya, Jihan akan menjadi insan paling bahagia di dunia jika akhir hidupnya akan dihabiskan menua dengan Javis, bukan Vin. Javis punya sesuatu yang lain, senyumnya, lesung di pipinya, semuanya, seolah Javis Permana diciptakan hanya untuk dicintai Jihan.


"Jihan?" suara bariton lembut itu memenuhi kabin mobil, "cerita sama saya, mau? Ceritain apapun biar saya ngerti dan bisa nolong hubungan kamu sama Javis sekarang. Mumpung masih belum terlambat."


"Kamu beneran mau denger?"


"Saya kayak gini tujuannya cuman satu, biar kamu seneng. Saya sampai sejauh ini bukan cuma mau nyenengin diri sendiri, Jihan."


Mereka akhirnya menepi, sengaja memarkirkan mobil di bawah pohon tempat parkir swalayan masih dengan AC yang masih menyala. Vin menyalakan radio dengan volume kecil, hanya mengalun membantu meramaikan suasana hening yang tercipta.


Yang diajak berbicara hanya menyimak, tidak memotong, hanya menatap ke langit sore yang masih cerah sementara orang-orang keluar masuk dari pintu supermarket.


"Kalau sukses, Javis mau datang ke rumah," tangan Jihan memegang cincin yang melingkar di jari manis milik Vin dan juga miliknya sendiri, "jadi gue mau nungguin dia. Tadi itu yang aku bahas ke dia. Lucu ya? Bahas nikah mulu kayak enggak ada masalah yang lebih penting."


"Enggak lucu, perasaan itu enggak bisa diajak bercanda, Jihan. Termasuk perasaan kamu, Javis, dan perasaan saya. Keputusannya harus tepat, yang pergi dan ngerasa sakit harus orang yang tepat," Vin akhirnya menyahut, mulai membuka kunci di pintu mobil.


"Aku tahu. Enggak lucu ya ternyata."


Vin tersenyum, mengacak rambut Jihan pelan lalu merapikannya lagi, "Terima kasih sudah mau cerita. Kita belanja makanan dulu. Nanti makan malam di kantor dengan saya ya?"


*


Tempat kerja Vin dan Javis itu jika dibandingkan memang berbeda jauh. Bukan, bukan karena fasilitas dan materi yang ada di dalamnya. Jika Javis berwarna, maka Vin monokrom. Jika Javis terlihat bebas dan liar, maka Vin tertata dan terjadwal.


Jihan belum pernah memiliki kantor selain dulu pernah ikut berinvestasi kecil pada restoran ayam geprek di dekat suatu SMA di Jogja, tetapi tidak melanjutkannya. Kantor normal dengan bentuk meja dan komputer berjajar seperti ini, Jihan belum pernah coba.

__ADS_1


"Kamu taruh di mana tadi mie nya?" Vin membawa alat untuk memanaskan air dalam ruangan yang hanya berisi mereka berdua malam ini, "saya rebus air dulu."


Jihan mengambil mie cup dari dalam kantung plastik dan membukanya satu persatu untuk memasukkan bumbu, "Kenapa ngajak ke kantor?"


"Biar kamu tahu kerjaan saya." ucap Vin.


"Buat apa kalau aku tau?"


"Karena kamu kerja di bidang bisnis juga 'kan kayak saya? Enggak mau belajar di lapangan langsung? Tunangan kamu ini bisa bantu padahal," Vin berujar santai, tersenyum tipis lalu duduk di kursinya, "ya intinya cuman mau ngasih tau aja sih. Saya juga kepikiran ini karena kamu suka ke studio lukisnya Javis di belakang rumah dia kan?"


Jihan mengangguk membenarkan, dia lantas duduk di bangku dekat jendela besar yang mengarahkan pada pemandangan malam di luar sana. Sedangkan Vin menuangkan air ke dalam tempat perebusan dan menutupnya untuk ditancapkan pada saklar, "Lihat apa?"


"Liatin malam." ujar Jihan


Vin lantas duduk di hadapan Jihan, di seberang meja juga sama menoleh pada jendela besar di kantornya yang ternyata belum ditutup sejak dirinya pulang untuk menjemput Jihan tadi,


"Bagus langitnya?"


" Hmm."


"Saya suka langit," bahas Vin tiba-tiba, dia memutar gorden semakin memberi ruang dua pasang obsidian itu untuk menatap ke atas, "makanya kantor saya paling atas. Lantai empat."


"Baru sadar, langit cantik juga. Selama ini cuma liatin ke bawah kalo lagi di atas Bukit Bintang gitu, liatin lampu-lampu kota. Kalo aku di kota, lihat tanganku yang digenggam sama Javis atau paling tinggi ya liatin lurus ke ramainya Jogja," Jihan bercerita panjang lebar, nadanya sangat santai seolah membuka diri pada Vin sudah dilakukannya sejak bertahun-tahun lalu.


"Lihat ke bawah juga bagus kok, tapi lihat ke atas enggak kalah bagusnya. Langit itu lebih cantik, lebih berwarna dan luas."


Jihan menoleh pada Vin, suara adzan isya berkumandang di luar seolah mengetuk hati Jihan dan merasa sangat damai malam ini. Mengenal Vin itu tidak bisa dibohongi, menyenangkan. Andai saja dia bisa menjadi teman Vin, teman, bukan tunangan sehingga hubungan keduanya tidak sangat canggung dan terbatas seperti ini.


"Ji," Vin berani memanggil Jihan dengan sebutan itu kali ini, "boleh saya minta sesuatu dari kamu?"


Jihan meraih cup-cup mie yang lama ditinggal untuk dibuka bumbunya sebab tidak tahu harus melakukan apa, "Tergantung."


"Gampang kok" ucap Vin


Jihan menggunting bumbu-bumbu mie dan menuangkannya hingga habis tak bersisa dalam plastik kecil itu, "Oke."


"Bolehin saya panggil kamu Ji. Bukan sok akrab, tapi saya sudah kenal kamu lebih lama, mungkin kamu lupa."


"Hah?"

__ADS_1


"Saya tahu kamu pernah dijahit di mata kamu, iya kan? Kamu jatuh dari kamar mandi."


Jihan meluruskan garpu plastik putih bawaan dari dua cup mis itu dengan sedikit terkejut, "Tau dari mana?"


__ADS_2