Dua Hati

Dua Hati
Bab 29 : PMS


__ADS_3

Selama satu minggu ini aku tidak ada pekerjaan merias hanya ada beberapa pertemuan dengan para clienku demi membahas lebih lanjut tentang masalah kerja sama kami.


Aku bahkan sampai lupa untuk meminta bantuan Ibram agar menjadi fotografer di acara pertunangan Fisya, untungnya Fisya yang mengingatkanku. Jadi aku bisa memintanya lebih awal.


Aku mengirim pesan pada Ibram pada siang hari dan Ibram membalas pesanku ketika sudah jam sembilan malam untungnya dia mengiyakan ajakanku. Fisya sangat senang sekali karena Ibram mau menjadi fotografer di acara pertunangannya.


Tepat hari ini aku sedang merias Fisya. Setelah aku merias ummi dan kakak iparnya Fisya. Ibram meneleponku. Aku menyuruh Fina untuk mengangkatnya.


"Mbak, Mas Ibram gak tahu jalanya meskipun udah dikirimin alamatnya Mas Ibram bingung." Kata Fina.


Aku berhenti merias Fisya. Masalahnya aku juga bingung daerah sini ini. Ini pertama kalinya aku datang ke sini dan aku juga tidak akan ingat dengan rute jalannya.


Lalu aku teringat Amir. Dia pasti tahu jalan kesini. Aku tidak mungkin menyuruh Gus Alvin untuk menjemput Ibram bukan. Dia seorang Gus yang menurutku kurang sopan saja jika aku menyuruh-nyuruhnya.


Kalau lagi berdua saja tidak masalah aku menyuruh Gus Alvin ini itu. Situasi kondisinya sekarang tidak memungkinkan. Dia pasti berkumpul dengan keluarga besar lainnya. Lagian, dia mana mau suruh jemput Ibram. Gus Alvin kan sudah mem -blacklist Ibram dari kamus hidupnya.


"Minta bantuan sama Amir yaa. Terus kamu minta Alma untuk nemenin kamu." Kataku dan Fina mengangguk mengerti.


Aku kembali merias Fisya. Lalu ada mbak Anisa dan Aira masuk.


"Mbak, aku nyuruh Alma buat nemenin Fina, dia mau jemput Ibram katanya. Gak papa?"


"Iya mbak tadi Fina udah pamit ke saya."


Ucapnya yang kini duduk di sampingku. Aira berdiri mematung melihatku mendadani Fisya. "Umma, Nde Fisya mau di apain?" Kata Aira.


"Mau di buat cantik." Jawab Fisya dengan centilnya.


"Oh berarti awalnya Nde Fisya jelek. Iya sih memang cantikan Aila." Ucap Aira yang membuat aku dan mbak Anisa tertawa.


Fisya yang mendengar itu merasa tertohok dan mendelik pada Aira. Fisya mencubit pipi Aila gemas dan tidak berkata apa-apa lagi.


Setelah selesai merias Fisya, Fina datang dengan Alma. "Ibram nya ada?"


"Iya lagi ditemenin sama Amir dan Gus Alvin." Ucap Fina lirih.


"Serius?" Tanyaku tak percaya.


"Kok Gus Alvin mau nemenin Ibram." Tambahku kaget.


"Memangnya kenapa mbak? Mas Ibram kan tidak ada yang kenal disini. Dia hanya kenal sama Mas Alvin jadi Mas Alvin yang nemenin Mas Ibram." Kata Mbak Anisa.


Masuk akal juga sih apa yang diucapkan mbak Anisa.

__ADS_1


Tapi kan mbak Anisa tidak tahu kalau Ibram menyukaiku. Jadi secara logis. Mana mau seorang suami berbicara kepada seorang laki-laki yang mencintai istrinya.


Aku keluar dari kamar Fisya berkumpul dengan keluarga Gus Alvin lainnya. Aku melihat Gus Alvin yang duduk berdampingan dengan Ibram. Menemani sih, lebih tepat hanya duduk di bersebelahan tanpa ada kata yang terucap. Ibram sedang sibuk mengeluarkan kameranya.


Aku, mbak Anisa dan Aira berjalan menghampiri Ibram dan Gus Alvin.


"Assalamualaikum Mas Ibram." Sapa mbak Anisa.


"Waalaikumussalam mbak Anisa." Jawab Ibram kikuk. Lalu Ibram melihatku dan menyapaku.


"Hai Nadia." Sapanya.


"Hai." Jawabku riang. Sebuah sapaan yang berbeda bukan. Aku kalau bertemu dengan temanku aku lebih sering mengucapkan kata Hai. Hanya pada keluarga Gus Alvin saja aku mengucapkan salam.


"Halo Om Ibram." Sapa Aira juga.


Ibram tersenyum merekah. "Halo Aira." Sapa Ibram dan mengacak rambut Aira gemas.


Aku melirik pada Gus Alvin dia sedang menekuk kedua alisnya. Aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.


Pasti dia bertanya-tanya kenapa mbak Anisa dan Aira bisa kenal dengan Ibram. Bahkan Aira sepertinya sudah kenal dekat dengan Ibram.


Aku mencolek pinggang mbak Anisa dan Mbak Anisa menoleh padaku. Aku berbisik padanya. Aku tidak peduli jika Ibram dan Gus Alvin menatapku.


"Nadia kenapa kamu berbisik-bisik?" Tanya Gus Alvin terlihat kesal.


Aira dengan teganya meledek Gus Alvin. "Abi kayak Angry bird." Ucap Aira dengan cekikikannya.


"Maaf sebelumnya, apa pakaian saya sopan?" Tanya Ibram yang sepertinya merasa tidak nyaman dengan pakaiannya sendiri. Dia memakai celana dan memakai kemeja putih dengan lengan yang dia lipat sampai siku dan celana jeansnya berwarna coklat susu.


Mungkin ini pertama kalinya bagi dia mendapat clien dari background pesantren. Dimana semua pria yang ada disini memakai sarung atau seperti Gus Alvin yang sedang memakai jubahnya.


"Sopan." Jawabku dan mbak Anisa kompak.


Aku dan mbak Anisa melirik Gus Alvin yang wajahnya semakin muram. Apa dia sedang cemburu? Karena dua istrinya yang terlihat begitu dekat dengan musuhnya.


Mari kita anggap Ibram adalah musuh Gus Alvin.


"Oh ya Mas Ibram, saya ambilin minum dulu yaa." Kata mbak Anisa pamit dan Aira dia berikan padaku.


Gus Alvin semakin dibuat heran. Dia melihat kepergian mbak Anisa dengan pandangan penuh tanda tanyanya.


Dia pasti ingin menyusul mbak Anisa dan bertanya kepada mbak Anisa tentang dimana kenal sama Ibram, kenapa bisa kenal sama Ibram dan kenapa mbak Anisa sepertinya sudah kenal lama dengan Ibram.

__ADS_1


Pertanyaan yang menunjukan bahwa dia sedang cemburu dan tidak suka jika mbak Anisa dekat dengan lawan jenis.


Gus Alvin sama denganku. Yang pasti kaget karena mbak Anisa yang bisa dekat dan dengan santainya berbicara dengan lawan jenis. Tanpa kikuk dan malu-malu. Seperti halnya Ning pada umumnya. Kalau denganku Gus Alvin bisa mengerti dan memaklumi.


Kalau dengan mbak Anisa tentu saja dia pasti heran.


Tapi di lain sisi dia tidak mungkin meningalkanku dengan Ibram berdua saja meskipun ada Aira yang sedang aku gendong.


"Om Iblam, Anlez mana?" Tanya Aira.


"Ya gak ikut Aira, Om kan lagi kerja."


"Om kelja?" Kelja apa?" Tanya Aira begitu bawelnya.


"Bawel banget sih anak Umma." Kataku gemas.


Gus Alvin tetap dengan bungkamnya hanya melihat dan menilai interaksi kami. Pandangannya lalu fokus di belakangku, aku menoleh ke belakang dan melihat mbak Anisa yang membawa minuman.


Gus Alvin lalu berlari kecil untuk bisa sampai pada mbak Anisa dan mengambil alih minuman yang dibawa mbak Anisa.


Sweet sekali.


"Makasih Mas." Ucap mbak Anisa. Gus Alvin tidak menjawab dia hanya menatap mbak Anisa dengan wajah datarnya.


"Silakan diminum." Ucap Gus Alvin dingin.


"Maaf kami harus tinggal sebentar." Pamitnya.


Dia lalu bergantian melihat kami berdua. "Saya mau bicara dengan kalian berdua. Ayo masuk." Ucapnya dan berjalan begitu saja. Tanpa mendengar jawaban kami iya atau tidak.


"Anisa, Nadia." Tegur Gus Alvin yang melihat kami berdua tidak beranjak sedikitpun.


"Iya Mas."


"Iya Gus."


"Ummi. Abi kenapa?" Tanya Aira yang bingung dengan sikap Abinya.


Mbak Anisa hanya tersenyum dan mengedikan bahunya. "Entahlah ummi juga tidak paham."


"Aira Abimu lagi PMS." Jawabku asal.


"Mbak Nadia." Tegur mbak Anisa karena aku yang menjawab sekenanya pada Aira.

__ADS_1


"PMS itu apa?" Tanya Aira lagi.


"Aira mending tanya ke Abi langsung nanti yaa." Kataku yang akhirnya melangkahkan kakiku mengikuti jejak Gus Alvin dengan mbak Anisa yang hanya geleng-geleng kepala.


__ADS_2