
Kesibukan gue pun meningkat selepas diterima sebagai pekerja lepas di kantor tersebut. Sebagai pekerja yang tergolong baru, gue ditempatkan di bagian design, meskipun gue masih bisa ditempatkan di bagian kreatif juga.
Pekerjaan baru dan tujuan gue pun semakin jelas saat ini. Nikah cepat-cepat adalah tujuan mulya gue selepas mendapat pekerjaan. Dengan begitu, gue sudah berani mengambil banyak pekerjaan sekaligus. Banyak pekerjaan sama dengan banyak uang dan tentunya gue bakal semakin sibuk.
Gue yang sudah gila kerja dan semakin sibuk, akhirnya melupakan pacar gue yang sudah jarang gue kontak seminggu ini. Sampai suatu hari pacar gue menelpon terus menerus hingga gue menjawabnya.
“KEMANA AJA LU!!!” seru suara wanita dengan sangat keras keluar dari speaker ponsel gue.
Gue mencoba tetap tenang, “Iya, sayang sabar, aku lagi ngerjain kerjaan.”
“Ngapain ngerjain kerjaan di mall gini dan sama cewek?” tanya wanita itu sekarang lebih tenang.
“Kan kemarin aku kabarin kamu lewat sms kalau aku mau kerja sama klien diluar,” jawab gue apa adanya.
“Coba lu keluar dulu gue mau ngomong sama lu,” ucap wanita itu.
Gue pun langsung meminta izin kepada klien gue untuk sebentar pergi dengan alasan ke toilet. Gue berjalan keluar restoran dan gue melihat wanita yang sedari tadi bersuara dari balik telepon.
“Halo, sayang,” sapa gue sambil tersenyum padanya.
“Jadi kerja lu gitu?” ucapnya judes.
“Maksudnya gitu gimana?”
“Ketawa-ketawa, deket-deket sambil asyik banget gitu ngobrolnya.”
“Loh, terus emang aku harus gimana? Diem? Jutek?” tanya gue dengan emosi gue yang sedikit terpancing kini.
“Lu tuh, ya, pacaran sama siapa? Semenjak lu kerja di kantor sekarang ini, gue ngerasa udah bukan jadi pacar lu lagi, lu udah nyuekin gue sampai segininya. Lu bayangin aja, seminggu lu enggak kontak gue dan kemarin dengan santainya lu bilang mau ngerjain kerjaan di mall bareng klien.
“Please, deh, gue aja yang pacar lu enggak diajak jalan sehari atau bahkan sejam doang kaya klien itu,” ucapnya yang penuh emosi.
Suasana mall kini gaduh oleh gue dan pacar gue. Banyak pasang mata tertuju pada gue dan wanita di depan gue, petugas sekuriti pun sedari tadi melihat kami penuh kesigapan apabila terjadi hal yang tentu saja meresahkan.
“Gue kerja gini juga buat modal kita nikah. Lu enggak tau rasanya kerja dikejar deadline, butuh revisi sana sini, konsentrasi yang ngg sedikit dan bahkan enggak ada waktu gue megang tuh ponsel sampai kerjaan gue beres.”
“Lu tau kagak gue butuh perhatian lu, gue butuh waktu lu, bukan cuma omongan lu yang kaya gitu buat nyenengin gue. Liat sendiri, pas kerja sama klien, lu ketawa-ketiwi kaya lagi piknik bukannya kerja, gue dari tadi liatin lu terus, bahkan lu enggak nyadar karena saking ramenya lu ngobrol sama itu klien.”
“Yaudah terus mau lu apa?” tawar gue pasrah.
__ADS_1
“PUTUS!!!” ucapnya singkat sambil berlalu dari hadapan gue.
Enggak, gue enggak mengejarnya, gue hanya melihat tubuh yang sering gue peluk pergi begitu saja. Hubungan yang sudah begitu lama gue jalin dengannya kini sudah hancur. Dirinya pun hilang bersama kenangan-kenangan gue dengannya.
Untuk saat ini, gue masih bisa bersikap seperti biasa. Gue mengerjakan pekerjaan gue bersama klien walau dengan rasa aneh di hati gue. Setiap permintaan klien, gue kerjakan saat itu juga, gue lakukan secepat mungkin agar gue bisa segera pulang menuju rumah dan menjatuhkan tubuh ini di atas tempat tidur.
Masa-masa kelabu hati gue pun berjalan bersama waktu. Deadline pekerjaan gue sudah terlewat sedangkan gue tidak bisa mengerjakan pekerjaan itu. Bukan karena gue tidak mampu, tetapi hati ini terasa berat dengan beban kehilangan seseorang yang sudah gue cintai.
Pihak kantor mencoba menghubungi gue, tetapi tidak gue respon. Sampai suatu hari, beberapa orang datang ke rumah gue dan salah seorang dari mereka adalah Mas Irfan sendiri. Pekerjaan yang tidak gue kerjakan dengan tepat waktu membuat gue terkena SP3 langsung dan sudah pasti gue dikeluarkan.
Sebenarnya gue sudah tidak peduli, masa terpuruk gue seperti semakin tambah larut dan akan tambah panjang untuk bisa bangkit. Tapi gue bersyukur, Mas Irfan selaku salah satu karyawan senior, berani menjadi jaminan agar gue tetap bekerja di kantor itu.
“Kualitas kamu itu baik, Ian. Kamu belajar cepat dan setiap pekerjaan yang kamu tangani saya suka hasilnya. Jangan cuma karena perempuan, kamu hancur seperti ini. Masih banyak wanita yang mau denganmu dan bahkan kamu bisa mendapatkan lebih dari satu jika kamu mau,” nasihatnya pada gue.
“Entahlah, Mas. Saat saya punya tujuan, saya selalu ingin mencapainya tanpa kegagalan. Dan saat-saat gagal adalah saat yang paling saya tidak sukai. Kalau Mas tahu, sedari dulu saya melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh agar saya bisa sukses dan tidak mengalami kegagalan.
Tapi, langkah saya sekarang sepertinya salah, tujuan saya menikahinya tapi dengan cara melupakannya dan berfokus pada pekerjaan adalah hal bodoh.”
“Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Setidaknya kamu masih bisa kerja di kantor ini, silahkan kamu lepaskan dahulu beban kamu, kami akan selalu menerimamu,” ucap Mas Irfan tenang.
Gina dan Asti mengangguk-ngangguk seperti paham apa yang gue ceritakan. Setelah panjang lebar gue menceritakan kejadian itu, sambil sesekali Mas Irfan pun angkat bicara, gue meminum kopi yang sudah mendingin sebagai tanda mengakhiri cerita.
“Tapi kamu masih suka cewek kan, Ian?” tanya Gina setelah gue bercerita.
“Terus kalau diajak pacaran sama cewek bakal diterima enggak?” tanya Gina kembali.
Sebelum sempat gue menjawab pertanyaan Gina, panitia sudah memanggil para peserta yang merupakan karyawan kantor ini untuk berkumpul di dekat tempat api unggun. Mungkin Gina penasaran dengan apa yang akan gue jawab.
Dengan alat pelantang yang biasa dipakai demo mahasiswa, seorang laki-laki membuka acara dengan sambutannya dan tentunya kami berdo’a agar acara tahun baruan ini bisa berjalan selancar-lancarnya.
Hari sebenarnya masih terang, tetapi acara ini tentunya diisi dengan berbagai macam games dan kuis. Mereka semua antusias untuk mengikuti games dan kuis itu. Gue duduk di barisan paling belakang, karena gue tidak terlalu tertarik dengan kuisnya, hanya sebagai tim hore dan menyorakan suara yang bisa gue lakukan.
Tio, Mas Irfan pun duduk paling depan karena dua orang ini bisa dibilang pengincar hadiah dalam setiap lomba. Di samping gue ada Asti, sedangkan Gina membaur dengan para perempuan tidak jauh dari tempat duduk gue.
Sorak sorai para peserta bersemangat, suara mereka membelah keheningan. Ada banyak hadiah tentunya yang siap dibagikan dan berasal dari sponsor bahkan klien kantor. Beberapa orang berdiri di depan, mereka diminta melakukan sesuatu sesuai permintaan MC yang dengan luwesnya membawa acara ini.
Ditengah suara sorak sorai ini, ekor mata gue melihat Asti yang tengah melihat serius ke arah gue. Spontan gue pun menoleh dan saat gue lihat, Asti langsung mengalihkan pandangannya.
“Kenapa liatin gue mulu, Ti?” tanya gue basa-basi.
__ADS_1
“Eh, enggak kok, pede amat, sih,” jawab Asti yang sedikit salah tingkah.
“Kamu enggak ikut main? Lumayan hadiahnya, tuh.”
“Enggak minat.”
“Enggak ikut gabung sama para cewek? Sama si Gina juga, tuh,” ucap gue sambil menunjuk barisan cewek yang berada beberapa meter di depan gue.
“Enak di sini.”
“Oh, yaudah,” ucap gue singkat dan kembali melihat keseruan dari acara.
Beberapa menit Asti terdiam, “Eh, Ian, btw lu belum pacaran lagi semenjak kejadian itu?” tanyanya sedikit malu-malu.
“Oh, pacaran. Enggak, bahkan gue enggak pernah hubungan lagi sama cewek manapun, kecuali cewek yang itu,” ucap gue sambil menunjuk wanita bagian administrasi.
“Emang dia siapa?”
“Dia yang ngasih gue duit, dia bagian administrasi kantor,” jelas gue.
Obrolan kami berlanjut dengan bahasan seputar kantor. Di kosan sendiri, gue jarang membicarakan masalah kerjaan pada Asti. Kami lebih sering membahas seputar kosan tentunya dan Asti sangat senang bercerita tentang penghuni di tiap kamar.
“Ian, sebenernya lu mau pacaran lagi enggak, sih?” tanya Asti.
“Eh, kenapa emangnya?” gue balik bertanya.
“Enggak apa-apa sih, cuma mau tau aja,” jawab Asti malu.
“Asal si ceweknya bisa dan kuat kalau gue cuekin. Bukan dicuekin sih sebenernya. Ya, ditinggal kerja gitu deh, kaya kamu kerja kan pasti enggak bisa sms atau chat pacar, kan.”
“Oh gitu,” ucapnya.
“Emang kenapa?”
“Em, Ian, kalau gue bisa jadi kaya yang lu mau, lu mau enggak jadi pacar gue?” ucap Asti yang sama sekali gue enggak percaya dia akan mengucapkannya.
“Eh, enggak salah dengerkan gue?” ucap gue sambil mengorek-ngorek kuping.
Para peserta sangat senang dengan kuis yang disajikan, mereka seperti tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Asti barusan. Mungkin jika mereka mendengar, pandangan mereka akan langsung tertuju pada gue dan Asti.
__ADS_1
“Jadi gimana?” tanyanya sekali lagi.
Gue tersenyum padanya dan berucap, “Gue ....”