Dua Hati

Dua Hati
Bab 25 : Mari Kompak


__ADS_3

Malam in aku menemani Aira belajar, belajar mengenal nama-nama hewan, warna, buah dan lainnya. Kedua orang tuanya sedang mengajar para santri.


Untung ada Aira yang menemaniku ketika aku bermalam di rumah Gus Alvin. Jadi aku merasa tidak kesepian. Jam sembilan kedua orang tuanya belum datang juga, sedangkan putri mereka sudah terlelap di kasurku.


Aku pergi ke dapur untuk menghilangkan rasa hausku. Di dapur ternyata ada makanan yang sepertinya enak. Aku mencari pisau untuk memotongnya. Setelah aku temukan aku memotongnya dengan kecil.


"Mbak Nadia."Panggil seseorang yang berada dibelakangku membuatku kaget dan tidak sengaja tanganku terkena pisau. Aku meringis karenanya.


Aku berbalik dan melihat siapa gerangan yang membuatku terkejut.


"Ya ampun Mbak Nadia tangan mbak terluka." Ucapnya kaget dan segera menghampiriku tapi dia malah menyenggol gelas yang aku letakan tadi. Itu salahku karena aku meletakan di pinggir meja.


Suara pecahan gelas terdengar membuat kehebohan di malam hari di rumah Gus Alvin. Semoga tidak ada yang mendengar keributan ini. Nanti di kira aku sedang bertengkar dan saling lempar piring.


"Tunggu ya mbak, saya bersihin dulu pecahan gelasnya." Dia merendahkan tubuhnya dengan bertumpu pada dua lutut dan mengambil pecahan gelas tersebut. Ku rasa malam ini kami berdua sedang sial. Karena mbak Anisa terkena goresan pecahan beling yang aku yakin pasti menempel di kulit tangannya meskipun hanya pecahan kecil.


"Ya ampun mbak Anisa sekarang mbak yang terluka." Kini aku yang mulai panik. Tanganku berdarah dan tangan dia juga berdarah.


Kami saling bertatapan dengan wajah khawatir lalu berubah menjadi sebuah tawa.


"Kita sama-sama ceroboh yaa mbak." Ucapnya tertawa senang tidak peduli dengan lukanya begitupun dengan aku yang tertawa karena kecerobohan kami berdua.


"Astaghfirullah kalian berdua kenapa?" Ucap Gus Alvin yang datang dengan terkejut melihat tangan kedua istrinya sama-sama sedang terluka.


Gus Alvin terdiam melihat tangan kami. Kami tahu dia sedang bingung yang manakah yang harus dia tolong terlebih dahulu?


"Mas bantu mbak Nadia saja, darah mbak Nadia sudah keluar dari tadi." Kata mbak Anisa yang berdiri dengan susahnya ketika perutnya sudah enam bulan.


"Enggak. Ini cuman luka kecil aku bisa obatin sendiri.


"Gus bantu mbak Anis saja. Takutnya ada pecahan gelas yang menempel di kulitnya." Tolakku merasa tidak nyaman.


Mbak Anisa kenapa mbak harus mengalah jika di hati mbak, mbak Anisa ingin di obatin Gus Alvin?


Aku mendorong tubuh Gus Alvin agar dia segera menolong mbak Anisa. Posisi mbak Anisa menurutku lebih parah dibanding dengan diriku. Dia sedang hamil harus banyak butuh perhatian extra dari suaminya.


"Tidak ada kok. Hanya luka sedikit." Mbak Anisa terus mundur menjauh dari kami dan berjalan ke wastafel.


"Aku juga bisa sendiri." Tolakku keras kepala.


Gus Alvin menghela napasnya. "Yasudah gini saja.


Kalian basuh tangan kalian dulu, kalian sama-sama bantu buat ngobatin luka kalian. Saya ambil kotak P3K.


Setelahnya saya akan bersihin ini." Tunjuk Gus Alvin pada lantai dimana ada pecahan gelas lalu darahku dan darah mbak Anisa yang menetes di lantai.


"Kalian berdua kenapa ceroboh sekali sih?!" Ucapnya kesal dan meninggalkan kami berdua mengambil kotak P3K, sapu dan alat lainnya untuk membersihkan lantai yang sudah kami kotori.


Aku dan mbak Anisa saling melirik dan tersenyum geli.


Bukannya sedih di marahi kami malah tertawa.

__ADS_1


"Gus Alvin kalau marah seperti itu ya mbak?" Tanyaku berbisik padanya. Gus Alvin sudah datang dan mulai memungut pecahan gelasnya.


"Iya. Tapi saya jarang sekali melihat dia marah."


Jawabnya dengan berbisik juga.


"Kalian sampai kapan mau berbisik- bisik seperti itu? Sindirnya. Aku dan mbak Anisa langsung berbalik mencuci tangan kami dan setelah itu saling membantu mengobati luka kami.


🍁🍁🍁


Kami sudah selesai mengobati luka kami dengan saling bahu-membahu. Sedangkan suami kami malah melihat kami dengan pandangan datarnya. Bahkan dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Kami seakan mempunyai salah besar.


"Mas, sudah jangan lihatin kami seperti itu. Ini kan cuman luka kecil ya mbak?" Ucap Mbak Anisa padaku.


Aku mengangguk dan sedikit tersenyum. Kenapa Gus Alvin terlihat lucu tidak membuatku takut.


"Iya cuman luka kecil kenapa Gus sampai melihat kami seperti itu. Memangnya kami melakukan sebuah dosa besar apa? Ya mbak?" Kataku yang tidak mau kalah oleh tindasan yang diberikan Gus Alvin dari tatapannya.


Dia tetap melihat kami tanpa berkata apapun. "Gus, Gus jelek kalau seperti itu." Ledekku.


"Iya kan mbak?" Kataku yang selalu mengikut sertakan mbak Anisa. Mbak Anisa malah terlihat kaget dengan ucapanku. Dia seperti tidak terima jika suaminya di katakan jelek.


"Hah...Aaaa, iya." Katanya yang tidak yakin dan melirik Gus Alvin takut-takut.


Aku berbisik pada mbak Anisa tapi aku membuat bisikanku masih terdengar oleh Gus Alvin. "Mbak, kita harus kompak kita jangan mau di tindas sama Gus Alvin." Kataku sedikit melirik pada Gus Alvin.


Mbak Anisa malah tertawa mendengar ucapanku. Asal kalian tahu mbak Anisa tertawanya begitu renyah, indah dan sopan sekali masuk ke telingaku.


"Siapa yang menindasmu Nadia?" Kata Gus Alvin yang akhirnya bersuara juga.


"Eh Gus Alvin dengar." Kataku pura-pura keget. Gus Alvin mendengus kesal dan memutar bola matanya jengah.


"Ini salah saya, coba gak panggil mbak Nadia, pasti mbak Nadia gak kaget dan tanpa sadar dia kena pisau." Ucapnya menatapku dengan bersalah.


"Eh enggak itu emang salah saya saja gak hati-hati. Saya juga yang letakin gelasnya terlalu ke pinggir jadinya kena senggol mbak Anisa."


"Jadi intinya kalian berdua..." ucap Gus Alvin memotong pembicaraan kami dan menggantung kalimatnya agar supaya kami sendiri yang melanjutkan kalimatnya.


Dengan lesu aku dan mbak Anisa secara bersamaan mengatakan. "Iya tahu, kami ceroboh."


Perdebatan yang tidak penting ini terhenti karena Aira yang terbangun memanggil umminya, Mbak Anisa.


Mbak Anisa berdiri dan berteriak kecil dengan memegang perutnya. Gus Alvin dengan sigap berdiri dan menghampiri mbak Anisa.


"Kenapa?" Tanya Gus Alvin yang ikut memegang perut mbak Anisa.


"Dia kayak nendang Mas." Kata Mbak Anisa dengan wajah berbinarnya. Yang membuatku ikut menarik kedua sudut bibirku.


Aku merasa bahagia juga mendengarnya.


Gus Alvin tersenyum, menundukan tubuhnya dan mencium perut buncit Mbak Anisa lalu melafalkan sebuah doa pada calon anaknya.

__ADS_1


Kali ini aku tidak cemburu tapi lebih ke perasaan terharu. Aku melihat hal yang begitu romantis. Hal yang membuatku ingin cepat-cepat seperti mbak Anisa juga dan Gus Alvin melakukan hal yang sama denganku ketika aku hamil nantinya.


"Ummi." Panggil Aira yang kini berubah menjadi sebuah isakan. Karena orang tuanya masih beromantis ria aku yang menghampiri Aira.


Ternyata mereka berdua berjalan di belakangku.


Aira sudah hangun dan sedang duduk dengan wajah sedihnya. Dia merentangkan tangannnya.


Aku berhenti dan membiarkan mbak Anisa maju.


Karena Aira memanggil umminya.


"Anak ummi bangun yaa." Ucap mbak Anisa dan Aira memeluk manja umminya.


"Umma Nadia kok Aila di tinggal." Protes Aira. Aku menghampirinya dan duduk di atas kasur di samping Aira.


"Maaf sayang, tadi umma ke dapur soalnya umma haus."


Aira hanya mengangguk mendengar ucapanku. Lalu dia melihat pada Abinya.


"Kok Abi disini?" Tanya Aira bingung.


"Ya soalnya Aira nangis jadi Abi samperin Aira." Gadis kecil itu hanya mengangguk mendengar jawaban Abinya.


"Yaudah pindah yuk, atau mau tetap tidur di sini?" Kata mbak Anisa.


Aira menatap umminya lalu menatapku. "Tidul disini sama Umma, ummi juga tidul disini?" Ucapnya dengan menepuk kasur.


"Terus abi?" Tanya Gus Alvin.


"Abi? Abi kan laki-laki gak boleh tidul sama pelempun. Disini kan pelempuannya ada...." Ucapan Aira terhenti dia masih menghitung ada berapa orang perempuan di kamar ini.


"Ada tiga." Ucapnya senang.


"Pinter sekali anak ummi." Puji mbak Anisa.


"Jadi gak boleh tidul disini." Ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.


Aku dan mbak Anisa hanya bisa menahan tawa kami.


Gus Alvin melihatku dan mbak Anisa dengan pandangan yang mencoba untuk sabar.


Tadi dia harus sabar menghadapi dua istrinya sekarang di tambah dengan satu putrinya. Kasian suamiku ini di kelilingi wanita-wanita yang hanya membuatnya pusing saja.


"Baiklah jika itu mau kalian." Ucapnya mengalah dan berjalan ke arah pintu.


Aku berbisik pada Aira. "Abi jangan lupa pintunya di tutup." Perintah Aila meniru kalimat yang aku bisikan padanya barusan. Kalau aku yang bilang Gus Alvin akan tambah marah. Kalau mbak Anisa, mana mungkin dia berkata seperti itu pada suami tercintanya.


Gus Alvin menoleh dan tersenyum yang sangat di paksakan.


"Laksanakan Tuan Putri."

__ADS_1


__ADS_2