Dua Hati

Dua Hati
Bab 33 : Cerita Gus Alvin


__ADS_3

Sudah seminggu semenjak kematian Ayah, semua saudara dari jauh datang untuk melayat. Dari keluarga besar Gus Alvin dan mbak Anisa juga datang melayat.


Kini semuanya terasa benar-benar sepi. Hanya aku yang ada di rumah ini. Gus Alvin selama seminggu sudah waktunya dia balik bersama keluarganya di pesantrennya.


Sampai saat ini, aku belum memberitahu pada dirinya bahwa aku sedang hamil. Entahlah aku hanya tidak mau memberitahu dia. Meskipun dia harus tahu karena dia ayah dari anak yang aku kandung saat ini.


Keluargaku yang lain juga tidak ada yang tahu entah itu Mas Naufal, mbak Zahra ataupun Fina.


Berat badanku tambah turun saja. Tapi tetap aku usahakan makan meskipun hanya lima suap saja. Aku hanya merasa pusing saja sedangkan untuk mual sudah berkurang.


Gus Alvin datang dengan membawakanku sarapan. Hari ini dia akan pulang. Dia lalu duduk di pinggir kasur dan dengan telaten menyuapiku. Aku menatap wajah tampan suamiku yang sedang tersenyum padaku.


"Kenapa lihatin saya?" Tanyanya.


"Gus mau pulang hari ini?" Tanyaku dengan sedih. Gus Alvin menatapku dan meletakan piring yang masih tersisa banyak di atas nakas.


"Iya saya mau pulang. Kamu mau ikut?" Candanya.


Aku menggeleng. "Saya tetap mau disini." Kataku terisak kembali. Apakah karena pengaruh hormon ibu hamil aku sekarang mudah menangis.


Gus Alvin membawaku dalam pelukannya. "Iya, tidak apa-apa kalau kamu mau disini. Saya cuman becanda Nadia. Nanti saya akan sering-sering datang kesini." Ucapnya mencium rambutku.


Setelah Ayah meninggal, Mas Naufal memutuskan untuk tinggal disini. Lalu rumahnya akan di sewakan pada orang lain.


Dia ingin menemaniku.


"Boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Gus Alvin.


"Apa?"


Dia sedang menimbang-nimbang atau lebih tepatnya sedang menyusun sebuah kalimat yang baik. "Nadia, bukannya saya melarangmu untuk tinggal disini. Hanya saja, saya ingin kamu tinggal bersama saya dengan Anisa juga. Kita satu rumah." Tanyanya pelan.


"Tidak." Tolakku tegas. Bahkan aku melepas tangan dia yang ada di tanganku. "Dari sebelum nikah saya kan sudah bilang saya tidak mau satu rumah dan saya tetap disini sampai kapanpun dan Gus menyanggupi itu." Kataku merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Nadia, dengerin saya dulu. Jangan marah yaa sayang." Ucapnya yang menenangkanku dengan mengelus rambutku lembut.


"Disini tidak ada yang menjagamu. Kamu sendirian di rumah ini. Saya khawatir sama kamu." Katanya yang menarik tanganku kembali untuk dia gemgam.


"Mas Naufal dan mbak Zahra akan tinggal disini jadi Gus tidak perlu khawatir saya akan sendirian di rumah ini." Kataku menatapnya kesal.


Dia membalas tatapanku dengan tatapan yang lembut dan dengan sabar dia mengatakan. "Syukurlah kalau begitu. Jadi saya tidak khawatir lagi." Dia kemudian mengelus kembali rambutku dengan sayang.


Sedangkan aku, aku memukul dadanya tanpa alasan dan kembali menangis. Dia menerima saja aku memukulnya. Membiarkan diriku menyakiti tubuhnya.


"Maaf yaa kalau ucapan saya menyakiti hati kamu." Ucapnya lembut dan mengusap air mataku.


Aku meyentuh tangannya yang berada di atas pipiku. "Gus saja yang tinggal disini." Pintaku pelan dan terisak.


Gus Alvin terdiam, menatapku begitu dalam. Dia mendekat padaku menangkup kedua pipiku dan mencium bibirku.

__ADS_1


Aku tahu, dia tidak bisa memenuhi permintaanku. Dan bodohnya aku kenapa aku masih menanyakan hal itu.


Setelah menciumku dia menyentuhkan keningnya pada keningku. Menatapku dari dekat.


"Tidak bisa kan? Sama. Saya juga tidak bisa tinggal di rumah Gus. Jadi mari tetap seperti ini saja." Kataku yang terus terisak dan entah sampai kapan akan seperti ini. Karena aku mulai lelah.


Dia kembali menciumku bahkan lebih intens lagi. Aku tidak membalas ciumannya aku hanya membiarkan rasa kesalnya tersalurkan dengan cara menciumku.


Ketika dia membuka kedua matanya. Mata Gus Alvin berkaca-kaca. Apa dia sedang menangis juga?


"Saya mencintaimu Nadia. Sangat mencintaimu. Saking saya mencintaimu saya takut, saya takut saya tidak bisa membahagiakanmu. Saya takut kamu akan meninggalkan saya." Kata Gus Alvin dengan menggemgam tanganku dan menangis dibalik tanganku yang dia gemgam begitu erat di depan wajahnya.


Dia suamiku, sedang menangis di depanku.


Aku melepas tanganku, kini aku yang membawa Gus Alvin dalam pelukanku. Dia menangis sampai tersedu-sedu. Layaknya anak kecil yang menangis dalam pelukan ibunya. Bahkan aku tidak pernah melihat laki-laki menangis seperti tangisannya Gus Alvin. Dia menangis dengan memelukku erat.


Seolah-olah aku akan pergi.


"Kamu cinta pertama saya Nadia." Ucapnya di sela tangisnya tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Gus Alvin berhenti memelukku. Dia kemudian menatapku. Dia sedang menstabilkan emosinya.


Setelah merasa terkontrol Gus Alvin mengatakan sebuah kejujuran yang membuatku terkejut.


"Kamu adalah cinta pertama saya Nadia. Saya sudah menyukaimu dari dulu, dari saya masih kecil. Saya menyukai gadis kecil yang dulu meminta bantuan saya untuk bisa menghafal surah Al-kaafirun yang bagi dirinya waktu itu sulit sekali karena setiap ayatnya hampir sama. Gadis itu bingung dengan posisi ayatnya.


Terkadang ayat kedua dan ketiga dia letakan di ayat ke empat dan lima. Lalu setelah sadar bahwa bacaannya salah. Dia lalu bingung dan mencubit saya." Katanya di sela tawa dan tangisnya. Dia menyentuh pipiku lembut.


Tapi, Aku masih bingung. Sungguh.


"Dan wajah gadis itu tidak berubah sama sekali.


Terlebih ketika dia sedang bingung sama dengan ekspresi kamu saat ini Nadia." Katanya menyentil hidungku.


"Gus lagi ngarang cerita buat menghibur saya ya." Kataku pada akhirnya.


"Astaghfirullah Nadia, Ya Allah." Ucapnya tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan sambil berdiri dan menggusar rambutnya kebelakang.


Aku mengkerutkan alisku kenapa sampai istighfar sih memangnya ucapanku ada yang salah.


Gus Alvin lalu duduk bersila di lantai membiarkan diriku yang tetap duduk di pinggir kasur. Dia menatap wajahku dari bawah.


"Nadia, kamu tahu saya mengucapkan kalimat itu dengan penuh rasa haru dan penuh dengan emosi bahkan sampai membuat saya deg-degan. Tapi kamu malah bilang seperti itu." Ucapnya yang meletakan tanganku di atas dadanya. Dia benar, jantungnya sedang berdetak dengan cepat.


"Setelah sekian lama saya bisa mengungkapan perasaan saya pada gadis yang saya sukai yaitu kamu Nadia." Ucapnya yang kini tersenyum padaku. Merasa lega karena bisa mengungkapkan sesuatu yang akhirnya dia simpan begitu lama.


"Jadi itu beneran? Bukan cerita?" Tanyaku yang masih bingung.


Aku cinta pertama Gus Alvin? Serius.

__ADS_1


Gus Alvin dari saking gemasnya sampai-sampai bangun. Kedua lututnya sebagai tumpuan dan kemudian mengecup bibirku dengan gemas. Lalu berpindah pada setiap inci di wajahku. Dari ke dagu, kedua pipiku, hidungku, kedua mataku, dan terakhir di kening.


"Nadia, kamu kok lemot sih." Ucapnya mencubit kedua pipiku gemas.


Aku tersinggung dengan ucapannya. Kesal, aku pelintir saja dadanya. Dia mengerang kesakitan. Syukurin. Tidak tahu apa kalau aku sedang hamil anaknya dia.


"Kenapa baru bilang sekarang kenapa tidak awal-awal nikah?" Tanyaku sewot.


Wajahnya berubah serius. Dia lalu duduk di dekatku.


"Karena saya tahu, kamu menerima pernikahan ini karena ayah. Saya hanya takut, karena Ayah sudah meninggal kamu berniat meninggalkan saya." Ucapnya dengan tersenyum manis padaku.


Aku terdiam mendengar ucapan Gus Alvin. Bagaimana bisa dia tahu isi pikiranku.


"Jadi saya mohon...." Ucapnya yang kembali menyentuh pipiku. Menatapku dengan pandangan yang begitu meminta.


Benarkah dia begitu mencintaiku sedari dia kecil bahkan sampai sekarang?


Ketika Gus Alvin menceritakan kejadian waktu kami kecil memori yang entah disimpan dibagian mana oleh otakkku muncul kembali setelah Gus Alvin menceritakannya dan aku ingat akan hal itu.


Gus Alvin adalah kakak Al yang dulu membantuku menghafal surah Al-kafiruun. Aku dulu memanggilnya kakak Al, karena seingatku dia mengenalkan namanya padaku dan memintaku untuk memanggil namanya dengan sebutan Kakak Al. Dan seingatku waktu kenal dengan dia, dia sedang memiliki beberapa jerawat di wajahnya. Mungkin waktu itu dia dalam masa puber.


"Jangan tinggalkan saya Nadia, jangan meminta saya untuk...." kalimatnya terhenti. Sepertinya dia sangat tidak suka dengan kalimat selanjutnya sehingga dia tidak mau mengucapkannya.


"Mengerti Nadia." Ucapnya yang memintaku untuk paham dengan kalimatnya.


Aku tersenyum dan sedikit menganggukan kepalaku.


"Lalu bagaimana Gus menikah dengan mbak Anisa?" Tanyaku penasaran. Apa dijodohkan?


Tapi setahuku, ayah pernah bilang kalau Gus Alvin dijodohkan dengan Mbak Anisa karena wasiat dari kakek Gus Alvin. Aku hanya ingin mendengar langsung dari Gus Alvin.


"Saya dijodohkan dengan Anisa karena wasiat dari kakek saya." Ucap Gus Alvin dengan menunduk.


Ceritapun mengalir begitu saja dari Gus Alvin yang awalnya dia bisa menyukaiku sampai dewasa hingga dia harus memendam perasaannya padaku karena harus menikah dengan mbak Anisa.


Lalu setelah menikah, dia bertemu denganku lagi. Setelah sekian lama dia bisa melihatku lagi ketika aku ikut memondokan Zahwa di pesantren Gus Alvin. Tapi waktu itu aku sudah tidak mengenalinya. Hanya Gus Alvin yang mengenaliku.


Gus Alvin juga menceritakan bagaimana malam itu mbak Anisa tahu tentang perasaan Gus Alvin padaku dan tahu bahwa aku adalah cinta pertamanya. Mbak Anisa dengan hati malaikatnya mengizinkan Gus Alvin berpoligami.


Setelah mendengar semuanya. Aku membawa sebuah kesimpulan. Bahwa aku harus membuat mbak Anisa bahagia. Aku harus mengembalikan Gus Alvin pada mbak Anisa lagi. Tanpa ada aku di antara mereka.


Aku memegang perutku ketika Gus Alvin masih berbicara tentang mbak Anisa.


Aku tahu, Gus Alvin tidak mungkin menyakiti mbak Anisa karena dia tidak pantas untuk disakiti.


Aku teringat pada mbak Anisa yang menangis sendirian di dapur. Kami semua merasa tersakiti dengan keadaan ini. Jadi lebih baik aku yang mundur saja. Agar sakit yang sama-sama kami tanggung segera berakhir.


Aku mencium pipi Gus Alvin secara tiba-tiba dan tersenyum dengan manis. Gus Alvin lalu tersenyum padaku dan kembali mencium bibirku.

__ADS_1


Maafkan saya Gus, jika suatu saat nanti saya meminta hal yang membuat Gus Alvin akan membenci saya.


__ADS_2