
Empat bulan kehamilanku bertepatan dengan hari ulang tahunku jadi ada dua acara dalam satu acara yang di gabung sekalian.
Aku mengundang orang untuk membacakan doa untuk keselamatan bayiku dan juga keselamatan diriku sendiri yang bertambah usia.
Aku tidak mengharapkan kado tapi suami dan anak-anakku memberikan kado untukku. Ketiga anakku memberikan sebuah gambar. Gambar tentang Happy Family. Sebuah kado yang di gambar oleh mereka bertiga.
Lalu suamiku memberi sebuah video yang membuatku deg - degan sendiri. Di video itu Gus Alvin hanya duduk dengan sarung serta kaos pendek dan sebuah peci putih.
Dia tersenyum ke arah kamera. Dia mengambil sebuah gitar dan mulai memetiknya. Gus bisa main gitar adalah salah satu dari kesekian keahlian dari dirinya yang baru aku tahu. Kenapa Gus mempunyai banyak keahlian yang tidak ku tahu.
Jangan-jangan dia juga seorang penyanyi aslinya.
Yang membuatku menganga adalah dia menyanyikan lagu korea yang aku tidak tahu itu lagu apa. Suaranya lembut dan merdu. Setelah bernyanyi dia kemudian tersenyum kembali dan mengatakan dia sangat mencintaiku. Dia tidak mau kehilanganku untuk kedua kalinya. Dia memohon untuk tetap bersama sampai menua nanti. Sampai rambut kita sama-sama beruban.
Melihat satu-persatu anak kita tumbuh dewasa dan akhirnya mereka menikah punya anak dan punya cucu. Lalu kita akan menjadi kakek dan nenek bukan ayah dan ibu lagi.
Gus Alvin mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca sedangkan aku. Aku sudah menangis dari awal dia bicara.
Dia lalu mengirimkan link lagu yang di nyanyikan dia beserta artinya dan ketika aku tahu artinya semakin membuatku menangis terharu.
Aku mencintai dia. Sangat.
Dia sengaja mengirimkan video ini ketika dia pergi ke Kediri. Masih besok dia akan pulang.
Tak bisa memendung perasaanku aku telepon saja dia meskipun sudah lewat dari jam sembilan malam.
Dia mengucapkan salam dan bertanya dengan
paniknya ketika aku menangis. Aku melakukan panggilan video. "Nadia kenpa telepon malam-malam? Loh kok nangis. Kamu kenapa kok nangis Nadia?"
Aku belum menjawab. Aku masih terbawa suasana aku tidak bisa mengontrol emosiku. Aku hanya terus mengalirkan air mataku.
"Nadia jangan membuat saya khawatir. Kamu kenapa? Kenapa nangis?" Tanyanya lagi.
"Gus kenapa ngirim videonya ketika Gus sedang ada diluar kota. Gus tanggung jawab sudah bikin saya nangis. Jadi saya gak bisa peluk Gus saat ini." Kataku yang merengek seperti anak kecil.
Gus Alvin terkekeh. "InsyaAllah besok saya pulang. Nyampe rumah sekitaran jam empat sore."
Aku masih menangis sesegukan. "Kamu mau melakukan apa yang saya katakan di video itu?" Tanyanya sambil menopang dagu.
__ADS_1
"Mau sekali." Kataku yang semakin nangis kencang.
Gus Alvin tersenyum dengan hangatnya. "Sudah jangan nangis nanti anak-anak bangun dan kagett ummanya nangis sendirian."
Aku menyeka air mataku tapi masih ada sisa sesegukannya. "Coba Gus nanyi lagi kayak di video." Pintaku. Aku ingin tahu secara langsung.
"Banyak orang disini Nadia, saya ini menjauh dari kerumunan soalnya dapat telepon dari kamu." Katanya merubah layar video menjadi sebuah ruangan yang dihadiri para ulama.
"Besok yaa di rumah." Ucapnya lembut. Aku yang mendengar suaranya semakin membuatku menangis.
Kenapa aku se emosioanal ini. Apa karena anak yang dalam perutku juga rindu akan Abinya.
"Saya kangen Gus, pulang." Rengekku manja. Gus Alvin lagi-lagi hanya tersenyum dengan manisnya.
"Oh ya lupa, saya belum bilang kalau saya mencintaimu." Katanya yang memberikan finger love padaku. Aku tertawa sambil menangis.
Tahu dari siapa dia finger love padahal suamiku itu sedikit kulot. Dia amat jarang sekali bermain sosial media. Pasti Naura yang mengajarinya dan juga pasti lagunya dapat rekomendasi dari Naura. Karena dia tahu aku suka nonton drakor dan tahu boyband kesukaanku.
Aku membalas nya dengan memberikan finger love juga. Yang membuatku tersentuh dengannya adalah dia setiap hari tidak lupa untuk mengatakan bahwa dia mencintaiku.
Dia berbisik ketika dia membangunkanku atau ketika kami akan tidur.
Dia tidak hanya mencintaiku hanya sebatas mulut saja tapi dengan perilaku dan tingkah lakunya juga.
"Cepet pulang." Rengekku lagi sebelum kami mengakhiri vidio call kami.
❤❤❤
Aku menunggu kedatangan Gus Alvin di pintu pembatas bagian dhalem. Dia bilang sudah dekat dengan daerah pesantren jadi aku menunggunya. Ada santri putra yang menghampiriku dan bertanya apa aku membutuhhkan sesuatu.
Aku menggelang dan mengatakan kalau aku sedang menunggu Gus Alvin pulang. Seketika dua santri yang menghampiriku tersenyum memaklumi dan mereka pamit undur diri.
Mobil Gus alvin akhirnya datang juga dan semakin membuatku tersenyum merekah sambil memegang perutku. Padahal aku hanya ditinggal sehari semalam saja tapi rasanya sudah setahun.
Gus Alvin yang melihat ku tersenyum dengan geleng-geleng kepala. Aku merentangkan tanganku agar dia segera mendatangiku. Coba kalau aku bukan istri dari seseorang yang berpengaruh aku sudah lari-lari kayak film India agar bisa memeluk pasangannya ketika lama tidak berjumpa.
Gus Alvin berjalan memandangiku dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. Aku tahu setiap kami berdua kami akan menjadi tontonan gratis oleh para santri kami. Seperti halnya saat ini.
Semakin dekat Gus Alvin berjalan menghampiriku semakin aku dibuat geregetan. Karena dia seperti menjahiliku. Dia berjalan dengan lamban.
__ADS_1
Kini aku berada dalam pelukanku hangat. Dia memeluku tidak begitu erat karena sadar perutku sudah menonjol. Dia mencium keningku sambil menyintil hidungku
"Kangen." Rajukku manja.
Gus alvin melapas pelukanku dan segera membawaku masuk ke area dhalem (rumah) dan menutup pintu agar keromantisan kami tidak dilihat para santri.
"Kamu ini yaa kalau lagi ada maunya harus diturutin juga." ucapnya dengan mencubit pipiku lalu mengecupnya sekilas.
"Lagi." Pintaku manja.
"Di kamar saja yaa." Ucapnya lembut dan menggemgam tanganku untuk segera masuk ke dalam rumah kami.
Kami sering menghabiskan waktu berdua jika Gus sedang tidak ada kegiatan pesantren karena ketiga anak kami akan pulang sendiri ke rumah kami. Saat ini mereka sedang bermain dengan para santri atau pergi ke dhalem utama menganggu para auntynya. Yang mana nanti Shofi dan Naura akan melapor padaku.
Mengadu apa saja yang sudah mereka berantakan di dhalem utama atau di kamar pribadi mereka.
Tapi ketiga anakku ketika bersama kakek dan neneknya mereka akan sangat penurut sekali. Mungkin mereka sadar mereka tidak boleh menjahili kakek dan nenek mereka.
"Abi sudah pulang?" Kata Anin yang datang bersama mbak santri yang menjaganya. Anin mendatangi Gus Alvin lalu salim padanya. Gus Alvin lalu memberikan kecupan manis di pipi Anin.
"Oleh-olehnya mana Abi?" Tanya Anin.
"Maaf, Abi gak bawa oleh-oleh." Kata Gus Alvin menyesal. Iya biasanya dia bawa oleh-oleh kenapa sekarang dia lupa. Apa karena hanya sebentar keluar kotanya jadi tidak perlu membawa oleh-oleh.
"Yasudah Anin main lagi yaa sama mbak santri." Kata Anin yang melambaikan tangannya pada kami.
"Kakak Aira mana Anin?" Tanyaku yang tidak melihat si sulung.
"Lagi sama aunty Shofi, kalau adik Akhtar lagi sama kakek." Katanya yang terlihat sedang buru-buru.
"Sudah yaa Abi Umma, Anin mau main. Abi sama Ummma pacaran saja." Ucapnya polos.
Aku dibuat melongo dan tidak percaya apa yang di ucapkan Anin barusan. Aku dan Gus Alvin saling menatap satu sama lain.
Satu nama orang yang sama sudah ada dalam otak kami. Siapa lagi kalau bukan Naura.
❤❤❤
Note Penulis : Halo semua, cuma mau memberi tahu kalau cerita Dua Hati akan Tamat kurang lebih di tiga bab lagi. Terima kasih.
__ADS_1