
Begitu uniknya perjalanan cinta kami. Dari pertemuan awal kami waktu kami kecil. Bertemu kembali ketika sudah dewasa. Lalu Allah menyatukan kami kembali ketika aku mengalami patah hati yang berat kala itu, ditinggal ibu dan alm. Mantan tunanganku.
Lalu kami berpisah di kala kami dirundung nestapa. Dia kehilangan wanita sholehah dalam hidupnya dan aku kehilangan sosok pelindung dalam hidupku.
Allah mempertemukan kami kembali di tempat Adam dan Hawa pertama kali bertemu setelah di turunkan dari surga.
Dan akhirnya kami benar-benar bersatu kembali. Menjadi keluarga yang bahagia.
Dia yang mencintaiku dengan sabar. Dia yang mencintaiku dalam diam. Dia yang menungguku kembali kini sedang tersenyum padaku.
Bermain bersama dengan ketiga anak kami.
Sedangkan aku memangku yang paling bungsu Akhfas. Berbicara dengan bahasa bayinya yang aku sendiri ummanya terkadang tidak mengerti.
Dia yang menyebut namaku dalam doanya membuat Allah menjatuhkan hatiku padanya. Dia yang mengadu dengan isakan tangis membuat Allah tak kuasa untuk tidak mengabulkan doa hambanya.
Allah Sang Pemilik Hati yang sesungguhnya.
Dia meminta pada Allah agar aku mencintai dia. Dan Allah mengabulkannya. Dia meminta pada Allah agar hatiku tetap padanya. Dan Allah mengabulkannya.
Allahlah yang memegang kuasa atas hati manusia. Maka pintalah hati dia yang kau cintai pada Sang Pemilik Hati.
Hatiku dan hatinya di satukan oleh Allah menjadi Dua hati yang saling keterikatan.
Dua Hati yang Allah satukan dalam ikatan cinta. Ikatan cinta dalam sucinya tali pernikahan yang menghadirkan dua bidadari dalam hidup kami dan dua pangeran dalam hidup kami.
Dia yang sering memperhatikanku dimana aku juga sedang memerhatikannya. Kami saling memerhatikan satu sama lain.
Dia yang berlari-larian di bibir pantai karena sedang di kejar oleh Aira, Anin dan Akhtar dengan tawa riang mereka yang membuatku ikut tertawa juga meskipun hanya menjadi penonton saja.
__ADS_1
Berlarian dengan lincah serta riang tanpa alas kaki mereka yang membuatku ingin bergabung juga.
"Ummaa mau ikut main juga." Rengekku
.
"Sini saya yang gendong Akhfas." Kata Gus Alvin yang terengah-engah karena lelah berlarin. Dia mengambil Akhfas dalam gendonganku.
"Karena tadi kalian yang kejar Abi sekarang Umma yang kejar kalian." Kataku semangat dan mulai mengejar mereka. Mereka berpencar dan berteriak karena tidak mau di tangkap olehku.
Setelah puas berlari-larain di pantai. Kamipun kelelahan. Duduk di atas pasir yang kini mereka sedang membangun sesutu. Seperti istana pasir tapi selalu roboh.
Bahkan Akhfas juga ikut bergabung dengan saudaranya. Akhfas yang sudah bisa merangkak hanya bisa mengganggu apa yang di buat oleh ke tiga kakaknya.
"Kok anak-anak gak ada capeknya yaa." Kataku dengan nafas yang terputus-putus.
Gus Alvin yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengelus kepalaku lembut. Karena aku capek aku letakan kepalaku di atas paha Gus Alvin.
Kami melakukan liburan ke pantai bersama keluarga kecilku. Serta dua Santri yang juga kami ajak untuk menjaga ke empat anak kami yang sedang bermain.
Aku melihat suamiku dari bawah menyentuh seluruh wajahnya dengan satu jariku. Iseng, aku cubit pipinya.
Gus Alvin berjengit kaget dan mengaduh kesakitan.
"Nakal yaa." Katanya gemas dengan mencubit hidungku. Dia sekilas mengecup bibirku.
"Ih di lihat anak-anak juga."
"Mereka gak lihat." Kilahnya.
__ADS_1
"Ya tetap saja gak boleh." Protesku.
"Suruh siapa kamu cubit saya."
"Ih jawab terus Gus." Kataku kesal dan kembali melihat anak-anak kami yang sudah mulai bosan.
Anin menghampiriku. "Umma haus." Ujarnya.
"Haus nak." Kataku bangkit dari rebahanku dan mengambil air minum. Setelah minum Anin kembali bermain.
Aku kembali menjatuhkan kepalaku. Lima menit kemudian Aira yang datang menghampiri kami.
Bahkan dia ikut rebahan di paha Abinya yang di sebelah kanan. "Capek Abi." Keluhnya.
Aku tertawa cekikikan. Aira mirip denganku. "Aira mau minum?" Tanya Gus Alvin. Aira menggeleng dan kembali membenarkan posisinya agar dia bisa rebahan dengan nyaman di atas paha Abinya.
Anin dan Akhtar yang melihat kakak tertuanya sudah lelah mereka akhirnya menyudahi permainan mereka. Mereka berdua menghampiriku.
"Mau tidur kayak kakak Aira." Kata mereka berdua kompak. Mendengar itu aku langung bangun dan menyuruh mereka untuk tidur di atas kedua pahaku.
"Mbak, sini Akhfasnya." Pintaku pada santri yang menggendong Akhfas. Lalu aku meminta pada mereka untuk memfoto kami berempat.
Gaya yang tidak beraturan. Akhfas yang di pangku Gus Alvin dan kakak Aira yang bersandar pada bahu Abinya. Sedangkan dua anak tengahku tetap tidur di atas kedua pahaku.
Tepat sebelum kami di foto, Gus Alvin menarik bahu kiriku dan mencium pipiku kananku.
Aku yang terbelalak kaget sedangkan Gus Alvin yang tersenyum bahagia karena menciumku. Akhfas yang mulai merengek dan Aira yang panik supaya bisa menenangkan Akhfas. Anin dan Akhtar yang mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Kira-kira seperti itulah hasil foto kelurga kami.
__ADS_1
Tamat