
Sabtu pagi ini cuaca mendung dan udara cukup dingin menyelimuti gue. Kalau bukan karena deadlinepekerjaan yang mepet, gue enggak akan bangun sepagi ini. Gue mengambil lima pekerjaan di hari Jum’at kemarin untuk mengisi weekend gue ini.
Sebenarnya gue sengaja mengambil cukup banyak pekerjaan karena sebagai alasan menolak ajakan Asti untuk berjalan-jalan saat dirinya libur. Bagi gue, weekend adalah hari macet di kota ini. Dari Sabtu pagi hingga Minggu malam, jalanan pasti padat oleh orang-orang yang menghabiskan liburannya.
“Enggak bisa, gue lagi ngerjain kerjaan, nih,” tolak gue saat dia datang ke kamar gue.
“Ih, gue kan pengen jalan-jalan juga, bosen di kosan mulu,” ucapnya dengan manja.
“Yaudah, tungguin kerjaan gue beres gimana?” tawar gue.
“Emang kapan beresnya?”
“Senin.” Gue pun tertawa melihat wajahnya yang cemberut.
“Senin gue kerja, ih.”
“Yaudah, lu jangan ganggu biar gue cepet nyelesainnya.”
Asti hanya mengangguk dan sekarang dirinya duduk di samping gue sambil melihat apa yang sedang gue kerjakan. Tangan kiri gue menari di atas keyboard dan tangan kanan gue berlari bersama tetikus ke sana ke mari.
Sesekali, Asti terkagum melihat apa yang ada di layar laptop gue. Dia berucap keheranan dan sambil memperlihatkan ekspresi yang cukup aneh.
“Ih, kok bisa, sih. Tadikan kotak sama segitiga, tapi sekarang jadi bagus gitu.” Setelah berucap begitu, kepalanya bersandar di pundak gue.
“Heh, ngapain? Modus lagi pake tercengang segala.”
“Hehe, enggak apa-apa, dong. Enak juga, ya, pundak lu.”
Gue pun membiarkannya dengan keadaan seperti itu. Paling juga nanti dia mengeluh lehernya pegal dan terasa sakit.
Mungkin karena bosan melihat gue tengah bekerja, Asti pun bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan kamar gue ini. Gue sendiri tetap melanjutkan pekerjaan gue ini tanpa terusik olehnya.
Hari-hari gue berjalan kembali monoton setelah tinggal seminggu di sini. Namun, gue bisa lebih produktif dan pastinya semakin banyak kerjaan yang gue selesaikan. Asti pun sempat marah sama gue karena weekend kemarin gue tidak mengajaknya jalan-jalan. Beberapa hari selanjutnya dia sudah seperti biasa lagi, tapi sekarang pasokan nasi goreng atau makan malam dari dirinya terhenti.
“Bikin sendiri, aja, gue males,” ucapnya saat malam ini dia main di kamar gue.
“Dih, kok gitu, kan lu masih pake kamar mandi gue,” ucap gue tidak setuju.
“Lu enggak ajak jalan-jalan gue, kamar mandi ma udah beda lagi,” ucapnya membela dirinya sendiri.
“Awas aja, besok gue enggak bangun waktu lu gedor-gedor pintu kamar gue,” ancam gue.
__ADS_1
“Biarin, besok Gina libur,” ucapnya sambil menjulurkan lidah mengejek gue.
Gina yang ada di kamar gue pun hanya tertawa melihat gue dan Asti bertengkar. Memang mengesalkan juga jika sudah berhadapan dengan wanita seperti ini. Tapi gue pun tidak mau kalah dengannya.
“Yaudah, seterusnya gue enggak akan buka pintu kamar gue buat lu mandi pas pagi,” ucap gue mengultimatum Asti.
“Gue juga mau bangun pagi seterusnya,” ucapnya membela.
Namun pada akhirnya, ucapannya tidak terbukti. Lusa setelah pertengkaran itu, Asti kembali mengetuk-ngetuk kamar gue di pagi hari. Gue pun tidak membukakan pintu kamar gue. Tapi ketukan kamar gue kian lama kian keras seperti diketuk menggunakan martil.
“Berisik!!! Pintu kamar gue awas aja kalau sampai rusak.”
“Bukain, dong, Ian. Nanti gue bikinin makan malam deh.” Sebuah kata kunci yang gue harapkan pun akhirnya gue dengar. Gue pun membuka kembali pintu kamar gue demi makan malam yang sudah dijanjikan Asti.
Pertengahan bulan Desember, Tio menelpon gue untuk memberitahukan acara akhir tahun yang diadakan kantor gue. Dia berkata bahwa acara tersebut akan diadakan di daerah atas kota ini dan setiap karyawan hanya boleh mengajak seorang pasangannya.
“Duh, kalau gitu gue enggak bisa ajak temen cewek kosan gue dong, Bro,” ucap gue ditelpon. “Kalau gue cuma ajak seorang nanti yang satu lagi ngambek. Btw, lu ajak siapa?” lanjut gue.
“Gue? Ah kaya enggak tahu gue aja lu ma,” jawab Tio.
“Yaudah, jatah lu buat ajak satu temen gue aja, gimana?” ucap gue.
“Tapi ada kemungkinan enggak gue dapet salah satu temen lu?” tanyanya.
“Ya, jadi pacar gue gitu,” ucapnya sedikit malu-malu.
“Ah, itu ma tergantung elunya, lu kan harus bisa mempromosikan diri lu buat cewek yang lu mau. Kalau mastiin gue enggak bisa janji, soalnya track record lu dalam percintaan amblas.” Gue pun tertawa setelah mengakhiri ucapan gue.
Dia pun akhirnya setuju dan dua cewek temen gue bisa gue ajak ke acara akhir tahun itu. Gue takut bila hanya mengajak seorang, nanti muncul kecemburuan dari yang lainnya. Walau pun mereka sudah berteman dari SD, tetapi gue masih enggak yakin kalau mereka enggak menyimpan rasa cemburu satu sama lain.
Malamnya, gue pun mengajak mereka Asti dan Gina untuk ikut datang ke acara kantor gue. Mereka pun bisa dan setuju untuk ikut gue ke sana, kebetulan juga mereka libur dua hari saat akhir tahun. Rencananya, kami bertiga akan dijemput oleh Tio dengan mobilnya dan langsung sama-sama ke lokasi acara, kebetulan juga jalan ke daerah atas melewati jalan dekat kosan gue ini.
“Emang nanti acaranya ngapain aja?” tanya Asti antusias.
“Ya, biasa sih, bakar-bakaran sambil liat kembang api dari atas. Keren banget tau pas tahun kemarin gue ikut juga acaranya, pemandangan kotanya juga keren,” jawab gue meyakinkan.
“Seru juga, ya, Ti. Jarang-jarang kita tahun baru keluar kosan, paling bakar-bakar sama anak kosan sini juga di atas,” ucap Gina terlihat senang dan Asti pun mengangguk mengiyakan.
Waktu berjalan begitu lambat saat gue tahu bahwa akhir tahun ini akan ada acara yang pastinya seru buat gue menikmati liburan. Mereka berdua pun selalu mengeluh saat malam main ke kamar gue. Gue sedikit khawatir juga dengan kerjaan mereka yang mungkin konsentrasi mereka sudah teralihkan untuk membayangkan keseruan nanti.
Gue tengah mengemasi pakaian gue ke dalam tas ransel di tanggal 31 Desember ini. Rencananya, Tio akan menjeput kami pukul sepuluh nanti. Asti dan Gina pun tidak tampak dari kemarin malam, entah mungkin mereka sibuk sedang mengemasi pakaian seperti gue ini. Tapi semoga saja barang bawaan mereka tidak berlebihan, karena besok siang pun kami sudah pasti pulang ke kosan.
__ADS_1
Setengah sepuluh gue sudah siap dan berpakaian rapi. Gue pun sengaja ke kamar kedua wanita itu untuk memastikan keduanya sudah siap. Pintu kamar mereka terbuka dan saat gue lihat ke dalam, sebuah koper berdiri tegak di samping pintu.
“Pantes biasanya ke kamar gue, ternyata lagi pada dandan,” ucap gue sambil melihat kedua wanita itu tampil sangat cantik.
Asti menggunakan setelan dressberwarna putih selutut dan make upyang benar-benar sempurna menurut gue, tidak terlalu menor dan tidak terlalu simple juga. Sedangkan Gina, menggunakan kemeja wanita berwarna biru muda dipadu dengan rok selutut.
Ah, untungnya saat seperti ini saja mereka tampil cantik, jika setiap mereka main ke kamar gue dengan keadaan sempurna begini, mungkin iman gue sudah goyah dan hal yang tidak diharapkan pun bisa terjadi.
Kedua wanita itu tersenyum saat melihat gue di depan kamarnya, jantung gue berasa berdetak tidak karuan seperti ada sesuatu yang meremas-remasnya.
“Iya, dong, mesti dandan biar cantik,” ucap Asti.
“Eh, Ian, menurut lu cantikan gue atau Asti?” tanya Gina.
Di saat seperti ini pun, pertanyaan seperti itu bisa terlontar dari mulut wanita itu. Gue tidak mau menjawab pertanyaan itu dengan jujur dan mencoba mengalihkan dengan mencari topik lain.
“Ini kok sampai bawa koper segala, sih? Acaranya kan cuma sampai besok siang,” ucap gue sambil menunjuk koper.
“Ih, enggak dijawab,” ucap Gina sedikit kesal dan gue balas senyum.
“Bawa satu baju sama satu celana dalam aja juga cukup kali,” ucap gue tidak menghiraukan pertanyaan Gina tadi.
“Nih, si Asti lagi bocor, jadinya dia mesti ganti celana dalam ampe tiga kali, Ian.” Gina pun akhirnya tertawa setelah berkata seperti itu.
Gue pun kembali ke kamar gue tanpa permisi daripada iman gue tambah goyah dan jantung gue semakin diremas-remas oleh perasaan. Gue hanya menunggu kabar dari Tio jika dia sudah sampai. Gue pun iseng dengan mengirim pesan singkat yang berisi, ‘Eh, jaga iman lu, ya, dua bidadari lagi turun dari kayangan.’
Akhirnya, Tio menelepon gue dan mengabarkan bahwa dia sudah sampai di depan apotek seperti saat dia mengantarkan gue dulu. Gue dan kedua wanita itu lalu segera menuju ke tempat Tio menunggu. Sepanjang jalan, banyak mata memandang ke arah kami bertiga. Seolah-olah gue didampingi dua bidadari, padahal nyatanya gue yang menarik koper mereka dan sepertinya gue tampak seperti asisten mereka. Sial.
Raut wajah Tio dari kejauhan tampak jelas seperti kagum melihat kedua wanita ini. Dia berdiri di belakang mobilnya dengan bagasi yang telah dibukanya. Kami pun menyebrang jalan yang sudah cukup ramai dengan berhati-hati.
“Wih, bro, beneran kata lu, ya, mesti jaga iman,” ucap Tio basa basi sambil kami bersalaman.
“Makanya lu percaya sama gue,” ucap gue tersenyum, “Nih kenalin, Asti.”
Tio dan Asti pun bersalaman. Sedangkan dengan Gina, tidak gue kenalkan karena mereka sudah saling kenal. Barang bawaan gue masukan ke bagasi dan para bidadari pun masuk ke dalam tempat duduk belakang di mobil ini.
“Eh, lu bisa konsentrasi enggak nyetirnya?” tanya gue sedikit menggoda.
“Bisa lah, cuma mungkin kaca spion tengahnya gue tutupin aja, ya,” ucapnya tertawa kecil.
“Kalau enggak bisa, biar gue yang nyetir,” tawar gue.
__ADS_1
“Enggak, enggak usah, enggak apa-apa.” Dia pun langsung menuju bangku pengemudinya seperti takut akan direbut oleh gue.
Mobil ini pun melaju menuju daerah atas tempat acara kantor akan diselenggarakan.