
Anisa Aziza
Aku menyadari perubahan Mas Alvin semenjak menikah dengan Mbak Nadia. Pertama kali aku mengenalnya tentu dia wanita cantik dengan karir yang bagus.
Wanita modis tapi tetap syar'ie mungkin karena dia seorang MUA. Dia juga wanita yang fashionable. Dia wanita yang serba bisa menurutku. Wanita yang bebas tapi tetap terjaga.
Bisa bawa mobil dan motor sendiri tanpa harus ada sopir yang menemaninya. Sedangkan aku. Aku tidak bisa dua-duanya. Aku harus menunggu Amir jika ingin keluar dari pondok.
Aku wanita yang menghabiskan seluruh hidupku di pondok. Lalu setelah lulus kuliah aku dinikahkan dengan Gus Alvin. Aku tidak seperti mbak Nadia yang tahu dunia luar. Yang aku lihat dari akun instagramnya sudah pergi ke tempat wisata terkenal di Indonesia dia juga cukup sering jalan-jalan keluar negeri.
Apakah aku iri? Tidak. Belum tentu apa yang kita lihat luarnya tidak sebahagia dan sebagus kelihatannya.
Setiap orang punya kesedihannya masing-masing.
Punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Mungkin aku di juluki istri tersabar dan terikhlas jika bertemu dengan orang-orang. Aku anggap itu bukan sebuah pujian. Tapi sebuah doa agar aku bisa benar-benar ikhlas, tabah dan sabar berbagi suami dengan perempuan lain.
Aku terlalu mencintai suamiku hingga aku merelakan dia menikah lagi dengan wanita yang dia idam-idamkan selama ini.
Aku menikah karena perjodohan dari kakekku dan kakek Mas Alvin. Tidak ada cinta di antara kami. Tapi lambat laun aku mencintai suamiku. Aku menerima perjodohan itu dengan senang hati karena Mas Alvin sudah terkenal di antara para Ning.
Terkenal akan ketampanannya, kepintarannnya dan kesholihannya. Aku seperti mendapatkan seorang pangeran berjubah putih dengan kuda putihnya.
Mas Alvin suami yang baik dan lembut. Tapi selama dua bulan awal pernikahan kami dia tidak menyentuhku dan sejak saat itu aku tahu dia menerima pernikahan ini dengan setengah hati.
Dia menikah denganku karena wasiat dari kakek Mas Alvin.
Tapi dengan mbak Nadia, dia tidak perlu waktu sebulan dari pernikahannya, Mas Alvin sudah menyentuh mbak Nadia. Aku tahu karena sepulang dari rumah Mbak Nadia ada bekas merah di bawah lehernya.
Aku sakit hati.
Aku ikhlas Mas Alvin menikah lagi karena aku tidak sengaja mendengar percakapan Abi dan Ummi mertuaku. Mereka begitu menyayangi mbak Nadia seperti layaknya anak sendiri.
__ADS_1
Mertuaku dengan orang tua mbak Nadia mereka sahabat karib sehingga mereka berniat menjodohkan Mas Alvin dan mbak Nadia sedari kecil. Tapi kakek Mas Alvin, Ayah dari Abi mertuaku tidak setuju dengan alasan mbak Nadia bukan dari kalangan kami.
Kakek Mas Alvin tidak setuju jika cucu laki satu-satunya yang akan meneruskan pesantren kelak menikah dengan gadis yang tidak sekufu dengan Mas Alvin. Menikah dengan gadis yang bukan kalangan pesantren. Gadis yang diharapkan bisa menemani Gus Alvin dalam memimpin pesantren.
Kakek Mas Alvin ingin menjaga nasab keluarga dengan baik.
Atau bahasa kasarnya mbak Nadia tidak sederajat dengan kami. Dia berbeda level dengan kami.
Aku menemukan nama mbak Nadia di buku Mas Alvin ketika dia masih mondok dulu. Bahkan di buku Mas Alvin waktu kuliah di Mesir masih ada nama mbak Nadia di dalamnya. Nama Mas Alvin dan mbak Nadia tertulis bersejajar.
Suamiku sudah mencintai Mbak Nadia dari kecil. Mbak Nadia adalah cinta pertama suamiku.
Aku yang seharusnya tidak hadir dalam hubungan mereka. Bukan mbak Nadia. Aku yang menjadi boomerang dalam hubungan mereka bukan Mbak Nadia.
Apa ini yang dinamakan jodoh tidak akan lari kemana. Mereka tetap bersatu juga pada akhirnya. Dengan mbak Nadia yang awalnya mempunyai tunangan tapi tunangannya meninggal dalam kecelakaan dan Mas Alvin yang sudah menikah denganku. Namun pada akhirnya mereka tetap bersatu juga.
Hal yang memantapkanku untuk menyuruh, Iya aku sendiri yang menyuruh Mas Alvin untuk menikahi mbak Nadia. Karena aku tahu seberapapun Mas Alvin mencintai mbak Nadia dia tidak akan menikahinya karena dia sudah beristri. Dia tidak ingin menyakitiku.
Mencintai wanita lain padahal dia sudah punya istri.
Aku ingin melindungi dia dari berbuat maksiat dan dosa. Dengan cara mengizinkan Mas Alvin menikah lagi. Setidaknya rasa cintanya pada mbak Nadia mendatangkan pahala bukan mendatangkan dosa.
Waktu itu suamiku melihat mbak Nadia yang benar-benar sedang terpuruk. Kami sekeluarga pergi melayat ketika hari kematian ibu mbak Nadia yang beberapa bulan yang lalu mbak Nadia sudah kehilangan kekasih hatinya.
Ummi mertuaku memeluk mbak Nadia dengan linangan air mataku juga. Ummi mengatakan dia boleh menganggap ummi sama seperi ibu kandungnya.
Dan aku melihat pada suamiku. Tatapan penuh cinta dan rasa ingin merengkuh tubuh mbak Nadia kala itu terpancar dari sorot matanya.
Rasa ingin melindungi, menjaga dan memiliki ada dari tatapan Mas Alvin. Tapi dia sadar. Dia sudah punya aku sebagai istrinya.
Jadi akulah penghalang sebenarnya dalam hubungan mereka.
Sepulang dari itu hatiku semakin bimbang. Aku melaksanakan sholat istikharah meminta petunjuk kepada Allah.
__ADS_1
Kemudian Allah memberikan jawaban melalui sebuah mimpi yang membuat hatiku tenang dan damai.
Aku bermimpi Mbak Nadia mengajari Aira mengaji.
Itu membuktikan bahwa mbak Nadia adalah wanita yang pantas untuk Mas Alvin. Wanita yang juga pantas untuk menjadi Umma Aira.
Dengan mengucap bismillah aku mengutarakan niatku pada abi dan ummi mertuaku terlebih dahulu. Ummi menanyakanku sampai berkali-kali dan menyuruhku untuk memikirkan ulang. Dengan mantap dan penuh kesadaran dan juga keikhlasan aku meridhoi Mas Alvin menikah lagi dengan mbak Nadia.
Ummi mertuaku sampai mencium tanganku karena aku memiliki hati yang begitu lapang yang orang lain tidak akan punya.
Setelah mencapai kesepakatan. Kami berkumpul berempat. Aku pikir Mas Alvin akan langsung setuju karena aku sudah mengikhlaskan dirinya menikah lagi. Tapi sebaliknya dia marah.
Dia marah karena itu akan hanya memberatkan kami bertiga. Mas Alvin takut tidak bisa berlaku adil. Dia takut menyakiti kami berdua.
Lalu aku katakan padanya jika aku lebih sakit hati jika aku tahu suamiku masih ada rasa dengan perempuan lain yang mana perempuan itu bukan siapa-siapanya dia. Aku mengatakan secara tidak langsung Mas Alvin sudah menyakitiku dan berselingkuh.
Aku lebih baik di poligami dari pada suamiku mencintai wanita lain di belakangku. Aku mengizinkan dia berpoligami karena aku percaya dan yakin Mas Alvin bisa berlaku adil.
Gus Alvin luruh di depanku dia menangis tersedu-sedu. Waktu itu aku duduk di pinggir kasur sedangkan dia duduk di lantai.
Dia meminta maaf padaku, dan mengatakan dengan jujur kalau dia masih ada rasa dengan mbak Nadia. Dia mengakui kalau mbak Nadia adalah cinta pertamanya.
Jujur, aku sakit hati mendengarnya. Hatiku sakit dan perih. Tapi lebih baik jujur meski menyakitkan.
Aku menangis dengan mengelus perut buncitku.
Berharap anak yang ada dalam kandungan tidak merasakan sakit yang Umminya rasakan ini. Aku Mengatakan pada calon anakku, memintanya agar bisa memaafkan Abinya yang mencintai wanita lain selain Umminya.
Mas Alvin memelukku dan menangis sejadi-jadinya. Dia meminta maaf padaku dan memintaku untuk memukulnya. Tapi dengan ikhlasnya aku mengelus pipinya dengan terisak aku mengatakan.
"Saya mencintai Mas Alvin dan saya tidak mau Mas Alvin jatuh dalam kemaksiatan dan dosa. Tolong segera lamar mbak Nadia yaa Mas." Ucapku tulus dan mencium keningnya.
Aku selalu tersenyum mengingat itu dan aku tidak menyesalinya. Setidaknya Mas Alvin tetap menjadi suami dan Abi yang baik untukku dan untuk Aira. Aku percaya Mas Alvin bisa berlaku adil.
__ADS_1