Dua Hati

Dua Hati
Bab 38 : Rindu


__ADS_3

Muhammad Alvin Abdullah


Ini sudah hari ke enam Nadia pergi tanpa kabar dan aku benar-benar tidak semangat untuk hidup. Aku tidak mengajar santri lagi selama hampir sepekan. Aku hanya pulang ketika menjelang maghrib. Mencari keberadaan Nadia, bertanya pada teman-temannya yang aku kenal.


Anisa menunggu kepulanganku dan wajahnya sendu ketika aku belum mengetahui dimana Nadia berada.


"Mas sudah makan?" Tanyanya.


"Saya sudah kenyang Anisa." Kataku lemah. Anisa hanya menghela napasnya. Dia tahu aku sedang berbohong. Aku hanya makan sehari sekali.


"Mas, nanti kalau mbak Nadia ketemu. Pasti dia ngomel-ngomel lihat Mas karena Mas kurusan."


Aku hanya tersenyum padanya. Mengelus pipinya.


"Saya istirahat dulu yaa." Kataku yang di jawab oleh sebuah senyuman oleh Anisa.


Ketika malampun aku tidak bisa tidur. Aku selalu tidur di kamar Nadia. Mengingat bagaimana dia begitu bawelnya ketika mau tidur.


Dia bercerita tentang apapun termasuk ketika ada kejadian yang tidak disukainya yang dia temukan ketika bekerja.


"Jangan ghibahin orang Nadia." Tegurku kala itu.


"Ini bukan ghibah Gus, ini cuman ngasih tahu." Katanya yang tidak mau disalahkan.


Aku yang gemas hanya mencubit pipinya dan menciumnya.


Aku merindukan momen seperti itu.


Lalu ketika dia sibuk dengan pakaian yang akan aku pakai.


"Gus, pakai yang ini cocok." Katanya yang mencocokan pakaian dan celananya. Padahal pakaian ku hanya itu-itu saja. Lebih banyak sarung, jubah yang berwarna putih, hitam dan abu-abu. Hanya ada beberapa pakaian casual. Dan semenjak ada Nadia kini pakaian casualku sudah lumayan banyak.


"Tidak. Sepertinya kurang pas." Katanya lalu mengambil pakaian yang lain di lemari dan aku hanya memandanginya yang sibuk bolak-balik membuka lemari baju.


Lalu percakapan yang menurutku sedikit aneh. Nadia cepat sekali merubah topik pembicaraan. Padahal pembicaraan satunya belum selesai dibahas. Sudah bahas yang lain. Dia mengatakan keburu lupa, jadi cepat diutarakan.


"Gus, kalau saya mati duluan. Gus bakalan sedih gak?" Ucapnya yang tiba-tiba beralih topik waktu itu. Padahal awalnya kami membahas makanan. Bagaimana bisa dari pembicaraan yang awalnya membahas makanan berubah kepada pembicaraan yang cukup dark.


Nadia itu, orangnya random sekali.


"Kenapa tiba-tiba pertanyaannya itu?" Tanyaku heran.


"Ya kan umur tidak ada yang tahu Gus." Katanya acuh.


Aku menggeman tangannya dan dia tersenyum padaku. "Saya lebih milih, saya yang pergi duluan. Saya tidak tahu, hidup saya akan seperti apa jika saya di tinggalkan kamu."  Kataku jujur.


"Lebay." Ledeknya.

__ADS_1


"Saya serius Nadia." Kataku dengan memasang wajah serius.


Seketika Nadia bungkam dan wajahnya kembali menjadi aktif lagi. "Terus saya jadi janda dong Gus? Ih, gak mau." Tolaknya dengan sikap yang berlebihan.


Padahal dia sendiri yang berlebihan bukan aku.


"Kalau suaminya meninggal yaa jelas istrinya jadi janda Nadia." Kataku yang masih bersabar meladeni pembicaraan Nadia.


"Memangnya Gus mau saya jadi janda? Jadi janda itu berat yaa.. gimana kalau saya di goda sama duren atau brondong." Katanya menggebu-gebu.


"Duren?" Kataku bingung dengan kalimat yang menurut dia kata-kata anak zaman sekarang.


"Duren itu, Duda keren." Ucapnya dengan mengangkat satu alisnya.


"Astaghfirullah Nadia." Kataku takjub. Nadia, dia gadis yang tidak terduga dan ekspresif sekali.


Buktinya dia malah tertawa bahagia karena aku sampai beristighfar.


"Gus pasti stres punya istri seperti saya?" Katanya cengengesan.


"Tidak. Saya bahagia sekali punya istri kamu." Kataku jujur. Tapi setiap aku berkata jujur dia selalu tidak percaya. Nadia malah cemberut dan berucap. "Halus banget sindirannya." Kesalnya.


"Saya tidak menyindir Nadia, saya benar-benar bahagia bisa menikah denganmu." Kataku dengan menatapnya lekat dan perlahan wajahnya bersemu merah dan tersenyum malu-malu. Jika seperti itu dia pasti akan mencubitku.


Nadia, saya merindukanmu. Saya merindukan saat-saat seperti itu.


Yang membuatku semakin sedih adalah Aira marah padaku. Dia tidak mau berbicara padaku karena aku belum bisa menemukan Ummanya.


Aku memberi tahu pada keluargaku kalau Nadia sedang hamil. Mereka semakin histeris dan berseru sedih mengetahui itu. Terlebih ummi. Dia menangis tidak bisa membayangkan keadaan Nadia sekarang.


Ummi dan Abi juga membantuku dengan meminta bantuan para alumni santri untuk mencari Nadia.


Aku juga memberitahu kabar kehamilan Nadia kepada mbak Zahra yang tentunya mbak Zahra akan memberi tahu Mas Naufal. Aku tidak peduli jika Mas Naufal semakin membenciku karena sudah menyakiti Nadia yang sedang hamil muda.


Aku bertanya pada mbak Zahra apa Nadia menghubungi Mas Naufal lagi dan jawabannya tidak. Nadia hanya menghubungi Mas Naufal hanya waktu itu saja.


Aku sudah lelah memulai hari jika kenyataannya aku belum menemukan Nadia. Masih tidak ada kabar tentang Nadia yang besok sudah memasuki hari ke tujuh.


🍁🍁🍁


Aku terbangun jam tiga dini hari. Aku sholat dan meminta petunjuk pada-Nya dengan menangis merintih. Menangis tergugu pada-Nya. Meminta pada-Nya agar segera di pertemukan dengan Nadia.


Bersujud pada-Nya dengan begitu lama. Mengemis pada-Nya dan mengatakan aku sangat mencintai istriku, Nadia.


Ketika selesai sholat shubuh. Ada panggilan masuk di Handphoneku. Aku dengan lesu mengangkat teleponnya dan ketika aku melihat siapa yang menelepon. Mataku membulat dengan sempurna. Aku menggeser panel hijau tersebut dengan hati yang berporak-poranda.


"Fina..." Kataku dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Gus, saya akan kirim alamat dimana kami berada. Gus cepat kesini. Saya tidak bisa melihat Mbak Nadia seperti ini terus?" Katanya terisak.


"Ada apa dengan Nadia, Fina. Apa dia baik-baik saja?" Kataku yang berubah menjadi panik.


"Mbak Nadia melarang saya untuk menghubungi Gus, tapi saya sudah tidak tahan dengan keadaan yang di alami mbak Nadia. Saya kasihan dengan mbak Nadia. Nanti saya akan ceritakan setelah bertemu." Ucapnya dengan mengakhiri percakapan kami.


Aku segera bersiap untuk pergi ke tempat dimana Nadia berada. Ternyata selama ini dia berada di sebuah hotel.


Aku membuka pintu kamar dan melihat Anisa. Dia tersenyum padaku. "Nadia sudah ketemu." Kataku senang.


"Alhamdulillah." Syukurnya.


Aku menghampiri Anisa memeluknya dan mencium pipinya. "Terima kasih sudah selalu ada untuk saya." Kataku dan kemudian mencium keningnya lama.


"Itu sudah tugas saya Mas." Jawab Anisa.


"Saya pergi dulu. Tolong katakan pada Abi dan ummi." Ucapku padanya sebelum berpisah.


Kali ini aku akan berangkat sendirian tanpa ada Amir yang menemani.


🍁🍁🍁


Aku melihat Nadia yang sudah tertidur. Wajahnya semakin tirus. Dia tertidur dengan wajah yang sepertinya ada yang mengganggu tidurnya. Apa yang dia mimpikan?


Aku duduk di pinggir kasur dengan menatap seksama pada wajah istriku. Aku menahan isakan tangisku untuk tidak membangunkannya.


Teringat akan percakapan dengan Fina tadi.


Waktu masih awal pergi mbak Nadia masih baik-baik saja Gus. Tapi menjelang hari ketiga. Mbak Nadia sering mengigau. Jadwal tidurnya mulai berantakan.


Mbak Nadia terkadang tidak bisa tidur semaleman.


Terkadang malam dia juga jadikan siang dan siang dia jadikan seperti malam. Pernah saya terbangun di malam hari. Mbak Nadia menangis sesegukan. Dia merindukan Gus. Dia berucap dengan mengelus perutnya.


Fina berkata dengan meneteskan air matanya. Lalu dia menatapku lagi.


Mbak Nadia merindukan Gus, dia selalu melihat pada layar Handphonenya yang saya tahu, itu foto mbak Nadia dengan Gus Alvin. Mbak Nadia bilang,  


"Sayang, kamu kangen sama Abi kamu yaa... sama Umma juga kangen sama Abi kamu. Tapi umma tidak mau ketemu sama Abi kamu tapi di lain sisi Umma juga merindukannya. Umma aneh kan yaa nak. Umma masih marah sama Abi kamu. Umma benci sama Abi kamu. Tapi Umma juga mencintai Abi kamu. Sabar yaa nak dan maaf jika Umma egois."


Tangisku semakin pecah ketika tadi Fina menceritakan itu. Aku memandangi wajah cantik Nadia yang sedang tertidur. Aku menyentuh pipi Nadia dengan gemetar.


Aku ingin memeluknya. Sangat. Tapi aku takut membangunkan tidurnya. Karena semalaman dia tidak bisa tidur. Kata Fina dia baru bisa tidur setelah shubuh.


Aku menyentuh tangannya pelan dan menggemgam tangannya erat. Mencium tangannya dan meletakan tangannya di pipiku.


Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Nadia.

__ADS_1


__ADS_2