
Malam itu gue masih mengerjakan kerjaan gue. Jam sudah menunjukan pukul 19:00 tapi Asti tampaknya belum pulang. Suasana sepi gue rasakan sekarang. Walau gue mengharapkan suasana seperti ini, tapi sudah terlambat karena gue sudah betah dengan suasana yang dua wanita itu bawa ke kamar gue.
Gina yang gue harapkan ada dikamar ini sekarang untuk mengusir sepi gue, malah tidak muncul dan mungkin dia tengah asyik menikmati rintik hujan di lantai atas. Gue sendiri gengsi untuk mengajaknya menemani gue di kamar.
Suara motor akhirnya terdengar masuk ke dalam kosan. Tak berlama-lama Asti muncul membuka pintu kamar gue. Dia tampak dengan helm dan jas hujan yang basah, namun wajahnya berseri seperti membawa berita baik.
“IIIIAAAAAAANNN!!!” teriaknya di depan kamar dan mengagetkan gue.
“Apa sih teriak-teriak?” ucap gue dengan reflek sedikit membentak. Untung saja suasana kosan sedang sepi karena ditinggal mudik oleh para pemiliknya.
Asti pun berlari mendekati gue dengan keadaan seperti itu, tanpa melepas sepatunya juga dan membuat lantai serta karpet gue kotor. Dia langsung menabrak gue dengan pelukannya, membuat gue yang tengah duduk bersila terjatuh kebelakang. Baju gue jadi ikutan basah karenanya.
Gue pun menerima pelukannya walau sebenarnya dingin yang gue rasa. Tanpa gue percaya, bibir gue dikecupnya. Namun, karena wajah gue terbentur dengan helmnya, sontak saja gue menjauhkan wajah ini.
“Kamu kesambet setan apa, sih?” ucap gue sambil memegang bagian wajah yang sakit.
“Eh maaf, sakit, ya?” tanyanya sambil menjauhkan badannya.
“Enggak, ada enak-enaknya dikit,” ucap gue sambil tersenyum.
“Sialan, aku kira sakit beneran.”
“Tumben kamu kaya gini? Ada apa?” tanya gue sambil tidak mempercayai dengan apa yang terjadi.
Asti pun membuka jas hujannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop cokelat ukuran A4 dia berikan pada gue. Gue membuka dan membaca isinya. Sebuah surat dengan kop surat bertuliskan tempat Asti bekerja.
“Ini beneran? Kamu naik jabatan dong?” ucap gue sambil membaca surat itu lebih lanjut.
“Iya, aku dipromosiin jadi assisten manager,” ucapnya yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Wah, hebat dong,” ucap gue sambil meneruskan membaca surat itu.
“Aku juga dapet kuliah gratis kelas karyawan.”
“Enak banget dong, udah naik jabatan terus dapet kuliah gratis.”
“Enggak sia-sia deh, Ian, aku kerja di situ selama dua tahun, temen-temen yang dulu masuk bareng udah pada keluar semua. Aku juga ingin keluar, cuma emang ini rezeki aku.”
__ADS_1
“Terus ini Indra juga temen kamu? Indra Panca, namanya bagus banget,” ucap gue bertanya saat melihat sebuah kotak dengan nama Asti dan Indra di dalamnya.
“Eh, iya dia juga dipromosiin sama kaya aku, malah bakal jadi partner kerja terus sama kuliah.”
“Oh, gitu,” ucap gue malas.
“Tenang, kok, Ian, hati aku cuma buat kamu. Mau siapa pun partner kerja aku, cuma kamu, kok, yang ada di hati aku.” Sebuah kalimat yang semoga saja bisa dia pegang.
Gue tersenyum ke arahnya dan Asti pun kembali memeluk gue.
“I love you,” ucapnya berbisik di telinga gue.
“I love you, too,” balas gue sambil sebuah kecupan gue layangkan pada pipi kanannya.
Sampai titik ini gue merasakan bahwa mungkin pilihan gue tidak salah, walau gue jadian dengan Asti hanya dengan sekedar rasa suka, tapi selama dua minggu ini dia bisa membuat gue menjadi sayang kepadanya. Ingin gue meminta maaf padanya, karena tadi siang Gina memeluk gue dan gue tidak menolaknya.
“Udah sana bersihin badan kamu, bau banget, ih,” ucap gue sambil menutup hidung.
“Alah, bilang bau tapi tetep dicium juga.” Dia pun pergi meninggalkan gue bersama dingin dari air hujan yang dia bawa.
Gue pun mengganti baju gue yang cukup basah ini dan mengepel sekedarnya lantai yang kotor karena lumpur dari sepatu Asti. Noda di karpet hanya gue lap saja dan besok akan gue masukan bersama pakaian yang lain ke penatu atau jasa cuci pakaian.
Suara perut gue yang lapar membuat gue menunda dahulu pekerjaan dan keluar mencari makan. Ya, dari sekarang mungkin Asti akan lebih sibuk dan tidak sempat lagi membuatkan gue makan malam. Dengan sweeter yang gue pakai untuk menahan rasa dingin, gue keluar untuk membeli makanan di restoran depan.
Akhir Februari.
Semenjak Asti dipromosikan, kehidupan gue terasa sepi. Dia semakin sibuk dan bahkan setiap hari pulang di atas jam 7 malam. Waktu gue dan dia hanya dihabiskan Sabtu-Minggu saja. Dua hari terasa sangat berharga bagi kami, gue selalu mengajaknya main keluar untuk melepaskan jenuh dari pekerjaannya.
Awal Maret nanti pula, Asti akan memulai kuliahnya. Dengan begitu, hari-hari yang bisa kami habiskan bersama akan semakin sedikit, atau malah tidak ada sama sekali. Gue belum mengetahui bagaimana jadwal kelasnya nanti.
Sedangkan Gina, wanita yang gue harapkan bisa mengisi kosong gue di saat Asti tidak ada, juga semakin hari semakin jarang gue temui. Setiap hari dia pulang malam dan Sabtu-Minggu pun dia pergi entah kemana.
Firasat gue mengatakan, mungkin Gina mendapatkan promosi jabatan seperti Asti, sehingga mereka berdua semakin sibuk dengan karirnya. Di satu sisi gue senang karena rezeki mereka semakin baik. Namun, di satu sisi gue merasa kosong.
Andai saja gue bisa bertahan sebulan atau dua bulan lagi di rumah waktu itu, mungkin gue akan merasa nyaman dan tidak perlu menyewa kamar seperti ini. Gue enggak akan merasakan kosong walau tanpa kehadiran wanita.
Tapi jalan hidup kita tidak ada yang tahu, sebuah keputusan kecil saja bisa memberikan dampak yang besar dan merubah hidup seseorang. Setidaknya gue tidak menyesal mengenal kedua wanita itu.
__ADS_1
Sebenarnya gue sudah mulai kenal dengan tetangga di kamar lainnya. Gue ketemu mereka saat menyeduh kopi atau memasak mie instan di dapur. Kami sering ngobrol basa-basi tentang pekerjaan dan lainnya dalam obrolan singkat.
Dari obrolan itu, gue sering dipuji karena bisa mendapatkan perhatian dari dua wanita yang menjadi primadona kosan. Salah satu hal yang gue baru tahu saat ini.
“Di kosan ini, ada tiga cewek yang jadi primadona. Yang dua itu yang sering main sama kau, Bang. Yang satu lagi penghuni kamar no 1, dia jarang keliatan, tapi kalau kau lihat, mendadak enggak bisa ngedip mata kau itu, Bang,” ucap Anton salah satu laki-laki penghuni kamar kos ini.
“Baru tau mereka itu primadona, emangnya cuma tiga itu, ya, ceweknya?” tanya gue basa-basi.
“Sebenarnya ada lima, tapi yang dua lagi penampilannya standar, Bang.” Anton pun tertawa, “Mungkin faktor kamar juga jadi kau gampang dapat perhatian dua wanita itu,” lanjut Anton.
“Emang gitu, Bang. Asalnya salah satu cewek itu sering pake kamar mandi saya, jadinya kami bisa agak deket gini,” jelas gue.
“Nah, itu maksud aku. Tapi tetap saja kau belum ada apa-apanya kalau belum bisa dapet perhatian wanita kamar no 1.”
“Ah, dua aja udah cukup, Mas,” jawab gue.
“Cukup apanya? Aku lihat kau sekarang lebih sering sendiri, kan? Dua wanita itu jadi sering pulang malam karena sibuk atau entah karna apa aku tak tahu.”
“Iya, emang sekarang mereka jadi lebih sibuk.”
“Sudahlah, kalau kau mau dapat perhatian cewek kamar no 1 itu, datang saja ke kamar aku di kamar no 2, sebelah kamar cewek itu,” tawarnya.
“Enggak deh, Bang, tujuan saya ke sini juga buat nyari damai, bukan nyari cewek,” tolak gue.
“Yasudah kalau gitu. Ngomong-ngomong kau bisa main sepak bola di plestisen?” tanyanya membuat gue bingung.
“Plestisen apaan, Bang?”
“Itu mainan dari Jepang itu, apalah namanya aku tak perduli,” jawabnya.
“Oh, itu. Jadi ngajak tanding nih, Bang?” ucap gue semangat.
“Paling nanti kau kalah lawan aku. Tidak tahu saja kalau aku ini juara tingkat RT dulu waktu di kampung,” ucap Anton bangga.
“Nanti malam saya ke kamar buat tanding, sekarang saya beresin dulu kerjaan, ya,” ucap gue sambil meninggalkannya di dapur.
“Yasudah sana, siapkan diri kau untuk kalah lawan aku.” Anton tertawa dari dapur dan gue tidak menjawabnya.
__ADS_1
Gue senang bisa dapat teman untuk mengisi kekosongan ini. Walau pun dua wanita itu tidak bisa terganti tentunya. Gue segera mengerjakan kerjaan gue yang akan selesai sebentar lagi. Setelah itu gue langsung datang ke kamar Anton untuk mengalahkannya dalam permainan sepak bola virtual itu.