
Semenjak pertemuan pertama mereka. Dia sering menghubungiku untuk bertanya kabar Akhtar. Dia sering melakukan panggilan suara ataupun panggilan vidio.
Terkadang Akhtar sendiri yang meminta untuk menelepon Abinya.
Sedihnya, Dia tidak bertanya tentang kabarku sama sekali.
Pada waktu itu, dia sampai pulang ketika adzan maghrib dan meminta izin untuk membawa Akhtar keluar dan mengajakku juga tentunya.
"Saya tahu apa yang kamu khawatirkan Nadia, tenang saja saya tidak akan membawa pergi Akhtar tanpa izin darimu."
Aku percaya dengan ucapannya. Karena dia orang yang bisa di percaya dan jujur.
Jadi sekarang aku sudah siap menunggu dia datang untuk menjemputku dan Akhtar. Mbak Zahra tidak bisa menemani karena di sekolah anak ketiganya sedang ada acara yang melibatkan wali murid.
Gus Akhtar memberi solusi bahwa dia akan membawa salah satu adiknya. Aku tebak pasti Naura yang dia bawa. Dan tentu saja tebakanku benar seratus persen.
Naura turun dari mobil dengan tangan yang dia letakan di bibirnya nya.
Aku tahu dia melakukan itu untuk tidak bereriak.
"Mbak Nadia, Naura kangen banget sama mbak. Boleh gak Naura peluk mbak Nadia." Katanya dengan suara ceria nya yang tidak berubah.
Tanpa berkata aku hanya tersenyum mengangguk dan melebarkan tanganku menyambut pelukan rindu dari Naura.
"Ya Allah mbak, Naura kangen banget sama mbak." Ulangnya lagi.
"Sama. Mbak juga." Kataku terharu. Dia adik ipar tapi juga serasa keponakan bagiku, kerena dia sahabatan dengan Zahwa.
"Kamu sudah besar yaa. Dulu kamu masih segininya mbak sekarang tingginya sudah sama." Kataku yang melepas pelukannya dan mengukur tinggi badannya yang dulu hanya sampai di bawah telingaku sekarang tingginya sudah sama.
"Gak tahu. Pokoknya Naura masih pengen peluk mbak Nadia." Katanya merengek dan kembali memelukku.
Bahkan sifatnya masih sama saja.
Aku melihat pada Gus Alvin yang langsung membawa Akhtar dalam gendongnaya. Ah, dia bahkan belum menyapaku. Seharusya ibunya dulu kan yang di sapa lalu kemudian anaknya.
Tapi kenapa aku harus kesal jika dia tidak menyapaku terlebih dahulu. Toh, sekarang aku bukan siapa-siapanya dia lagi.
Hanya mantan istri. Ingat itu Nadia. Mantan istri.
Perdebatan kecil terjadi karena masalah tempat duduk. Aku bermaksud untuk duduk di tengah. Sedangkan Naura duduk di depan di samping Gus Alvin.
Tapi Naura melarangku untuk duduk di tengah dan menyuruh ku untuk duduk di depan.
__ADS_1
Katanya Gus Alvin bukan sopir jadi ada yang harus duduk di depan menemaninya.
"Akhtar sama Aunty saja yaa. Biar umma dan Abi duduk di depan. Jangan ganggu mereka." Kata Naura yang setengah berbisik.
Aku melirik Gus Alvin dia sedang tersenyum senang mendengar ucapan adik bungsunya.
Di dalam mobil aku tidak bicara yang terus bicara hanya Naura dan celotehannya Akhtar. Dia membawa kami ke sebuah Mall dan tempat bermain anak-anak. Naura yang menjaga Akhtar dia sedang berada di kolam bola.
Aku dan Gus Alvin duduk di sebuh meja dengan pandangan yang sama.
"Kenapa kamu tidak menikah lagi Nadia?" Tanyanya tiba-tiba yang membuatku tersentak kaget.
Aku tersenyum miris. "Lalu kenapa Gus tidak menikah lagi?" Tanyaku balik. Dia seorang Gus penerus sebuah pesantren besar yang pasti ada banyak Ning yang akan mau dengannya.
"Karena saya mencarimu, saya menunggumu dan akhirnya doa doa saya di ijabah sama Allah. Allah mempertemukan kita kembali di tempat bersejarah." Katanya yang menatapku dalam.
Aku dibuat terdiam mendengar ucapannya. Ucapan yang dia lontarkan dengan mudahnya. "Kenapa Gus mencari saya dan menunggu saya?" Tanyaku sendu.
Dia tidak lekas menjawab dia masih betah menatapku lama. Dia kemudian tersenyum. Tersenyum yang mampu membuatku terpesona padanya.
Senyuman yang telah lama ku rindukan.
"Apa harus di jawab. Saya kira kamu tahu jawabannya."
"Saya ingin dengar langsung dari Gus."
Dia mengatakan kalimat panjangnya dengan pelan tapi terdapat banyak makna dalam ucapannya. Seakan dia menanggung rasa cinta, kesal marah dan benci dalam ucapannya. Semua rasa itu dia tujukan padaku.
Aku tertunduk malu mendengar pengakuan Gus Alvin yang apa adanya.
"Bolehkah saya mendekatimu lagi?" Tayanya lagi yang mampu membuatku berjengit kaget.
"Hah?" Tanyaku bengong. Tersadar kembali, kukatakan "Iya silakan saja." Jawabku pada akhirnya. Menjawab dengan gelagapan.
Percakapan itu terhenti karena Akhtar yang berlarian mendekatiku. "Akhtar senang?" Tanyaku dengan mentowel pipinya.
"Lagi. Sama umma." Ajaknya dengan menarik tanganku. Aku berdiri dan meletakan tasku di meja.
"Sama Abi juga." Kataku yang membuatku terdiam.
"Tentu saja." Jawab Gus Alvin yang ikut berdiri dan memegang tangan kanan Akhtar dan aku memegang tangan kirinya.
Aku melihat Naura yang sedang cekikan. Lalu wajahnya berubah panik. "Jangan lihat Naura. Itu bukan Naura yang nyuruh. Itu inisiatif Akhtar sendiri.
__ADS_1
Sungguh." Bantah Naura cepat.
Aku mau berbicara lagi. Tapi Akhtar sudah keburu menarik tanganku.
Akhtar sangat ceria sekali hari ini. Gus Alvin ikut bermain dengan Akhtar.
Melihat dia yang dengan leluasanya bermain dengan putranya. Pemandangan yang membuatku bermimpi bahwa kelak aku akan mempunyai keluarga kecil yang lengkap, bahagia dan sejahtera.
Tanyakan pada hatimu Nadia, jauh di dalam hatimu kamu juga ingin bersama dengan nya lagi kan? Membina rumah tangga impianmu dengan orang yang kamu cintai.
Aku memang mencintai dia tapi lingkungan kami sangat berbeda. Selain itu ada sesuatu yang menbuatku bimbang.
Aku takut dia menduakanku.
Cukup sekali aku menjadi yang kedua. Aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya.
❤❤❤
Kami pulang ketika langit berwarna jingga. Aku turun dari mobil dengan Akhtar yang sudah kecapean karena saking aktifnya bermain.
Naura juga ikut turun. Berpindah posisi duduk. Naura melambaikan tangannya dan Akhtar mulai merengek.
Dia mau ikut bersama dengan Aunty dan Abinya.
Aku menenangkannya dan membujuknya tapi rayuanku tidak mempan. Akhtar tetap menangis dan memaksa ingin ikut dengan Abinya.
Gus Alvin akhirnya turun dari mobil. Dia menggendong Akhtar sebentar dan tangisannya mereda. "Abi akan sering-sering ke sini. Sekarang Akhtar sama umma dulu yaa, Akhtar mau minta apa sama Abi kalau Abi datang?"
"Ice cream." Jawab Akhtar cepat.
Seketika kami dibuat tertawa mendengar jawaban Akhtar. "Kalau Abi belikan sekarang. Akhtar mau?" Tanya Gus Alvin lagi. Akhtar mengangguk senang.
"Pakai motor saja biar cepat." Usulku dan mengambil kunci motorku ke dalam rumah.
Aku hendak mengambil Akhtar kembali karena Gus Alvin harus membawa motor. Tapi Akhtar tetap tidak mau lepas. Jadi terpaksa Naura membonceng di belakang sambil menggendong Akhtar.
Serelah selesai drama membeli ice cream Akhtar akhirnya mau berpisah dengan Abinya.
"Ini ice cream untuk ummanya biar gak nangis juga karena ditinggal Abinya." Ledeknya yang mampu membuatku melotot padanya.
"Ih Gus GR banget." Ucapku ketus dan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Akhtar yang sudah belepotan makan ice cream.
Padahal dalam hati aku senang sekali.
__ADS_1
"Akhtar senang bisa ketemu sama Abi lagi?" Tanyaku gemas. Akhtar mengangguk dengan tersenyum. Dia lebih fokus makan ice creamnya.
"Sama. Umma juga." Kataku riang dan mencium pipi tembem Akhtar.