Dua Hati

Dua Hati
part 12


__ADS_3

Semenjak Sabtu itu, kelakuan Gina pun sangat berubah. Hari minggu dia tidak ada di kosan seharian, setiap malam dia lebih sering di lantai atas untuk teleponan dengan seseorang.


"Kayanya kita jujur aja deh, Ian, tentang hubungan kita sama Gina?" ucap Asti di malam ini.


"Loh, kenapa? Belum tentu juga dia jadian sama si Tio." Gue membantah karena belum ada cukup bukti yang kuat.


"Kita kupingin aja ke atas, yuk!" ajak Asti tapi gue tolak.


"Enggak, biarin waktu yang ngejawab, gue juga enggak ingin terlalu tau," ucap gue yang sebenarnya tidak ingin merusak suasana hati.


Mungkin seperti itulah saat dua insan sedang merasakan cinta, sampai-sampai dalam seminggu ini Gina selalu pulang telat. Alasan kerja lembur pun dia gunakan jadi senjata.


"Emang kerja SPG lemburnya ngapain?" tanya gue ke Asti.


"Ya, mungkin tokonya buka sampai mallnya tutup kali, tapi enggak tau juga soalnya beda juga."


"Kalau kamu sendiri pernah lembur selama jadi crew store?"


"Hampir enggak pernah, soalnya yang lembur gitu, ya, bagian gudang. Mereka yang itungin stok sampai nyiapin barang untuk besoknya, baru deh pagi-pagi sebelum buka, aku sama temen-temen yang beresin ke rak atau tempatnya."


Semakin penasaran aja gue sama manuver si Tio yang seperti ini. Salut deh kalau bener mereka jadian.


Sabtu pagi di minggu kedua bulan Januari. Hari ini adalah hari gue mesti menahan sebuah rasa yang tertahan di dalam hati, mantan gue nikah dan gue belum. Gue pun diundang dan dengan sangat terpaksa gue mesti hadir.


Tepat pukul 9:53 gue siap untuk berangkat. Sialnya gue harus pergi sendiri karena gue belum sempat bilang sama Gina tentang hal ini. Maka dari itu Gina sudah pergi sejak tadi entah kemana.


Hah, pake ojek online aja kalau gini,keluh gue sambil mengeluarkan ponsel. Tak lama seseorang dengan motornya menghampiri gue dan kami pun langsung menuju salah satu gedung di komplek militer tengah kota ini.


Hingga sekitar 45 menit gue pun sampai, dan dengan segera memberikan ongkos kepada tukang ojek itu.


"Ke nikahan, kok, sendiri mas?" tanyanya sambil menghitung kembalian.


"Protes aja lu, bang," ucap gue tak acuh.


Sang tukang ojek pun pergi setelah gue menerima kembalian. Tanpa ragu gue menuju pintu masuk yang dijaga oleh tentara.


"Mau kemana, Mas?" tanya salah seorang tentara.


"Mau ke resepsi itu, Pak, dia temen saya," ucap gue polos.


"Bisa lihat surat undangannya?"


"Enggak saya bawa, Pak," ucap gue sambil garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Maaf, Mas engga boleh masuk kalau enggak ada surat undangannya."


Ah, sial, mana gue lapar, kenapa mesti pake surat undangannya segala, sih.


Gue pun pamit untuk pergi dan tidak jadi ke pesta pernikahan itu. Gue sengaja meng-SMS Rani mengabarinya bahwa gue tidak boleh masuk.


Perut gue pun terasa lapar, dan semestinya sekarang gue tengah mengambil daging di meja prasmanan, tapi nyatanya gue di pinggir jalan dan banyak angkot yang menawari gue tumpangan.


Akhirnya gue putuskan ke mall terdekat, dimana Asti tengah bekerja di pasar swalayan modern di mall itu. Gue menggunakan angkot untuk mencapainya.


Tak berlama-lama, setelah gue turun dari angkot itu, gue langsung menuju restoran cepat saji dan mengantri untuk membeli makanan. Mata gue menyisir setiap ruangan untuk mengusir jenuh, hingga gue berhenti pada satu titik. Gue melihat Gina, Tio, Mas Irfan, dan seorang wanita yang tidak gue kenal tengah asyik mengobrol dan menikmati makan siang.


"Mas..! Mas..! Mau pesan apa?" ucap pelayan yang membuat gue sedikit terkejut.


"Paket burger aja dua, dibungkus, ya," ucap gue dan memberikan uang kepada kasir tersebut.


Setelah menunggu, pesanan gue datang dan gue langsung pergi dari restoran itu sebelum ketahuan. Sudah bisa ditebak gue pergi kemana. Iya, gue mencari Asti dan semoga saja dia masih ada diantara rak-rak pasar swalayan itu.


Dengan menenteng bungkusan kertas, gue berjalan sambil mencari di mana Asti berada.


Duh, Asti di mana, ya, gumam gue terus mencari hingga akhirnya gue menemukan Asti diantara kardus mie instan.


"Kerja yang bener, jangan leha-leha gitu," ucap gue mencoba mengagetkannya.


"Iya, Pak," balasnya manut pada gue. "Eh, Sayang, ngapain di sini? Aku kira atasan."


"Ah... Makasih," ucapnya sambil mengambil satu bungkus paket burger. "Eh, tapi kok kamu ke sini? Emangnya udah ke nikahan temennya?"


"Aku ditolak gara-gara enggak bawa surat undangannya, jadi enggak bisa masuk, padahal perut udah laper."


"Kenapa enggak dibawa? Jadinya kan enggak bisa masuk ke dalem."


Gue hanya tersenyum, "Eh, tau ngg kalau si Gina lagi makan siang di sini."


"Sama si Tio?" tanyanya antusias.


"Iya, sama Mas Irfan sama satu cewek yang enggak aku kenal juga," ucap gue menjelaskan.


"Double date maksudnya?"


"Enggak tau juga sih, tapi kalau Mas Irfan udah punya istri dan pastinya istrinya enggak semuda cewek yang aku liat tadi.”


“Hmm, kamu enggak kenal juga? Kali aja dari divisi mana gitu di kantor kamu?” tanya Asti meyakinkan.

__ADS_1


Gue hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala. Gue pun melihat keadaan sekitar yang ternyata tidak ada orang di jalan antara rak ini. Gue pun mengecup pipi Asti dan bangkit untuk segera pergi meninggalkannya.


“Gue balik dulu, ya, ada kerjaan soalnya.” Asti pun ikut bangkit.


“Iya, makasih makanannya, aku mau simpen dulu di belakang.”


Kami pun berpisah, gue mengambil sebotol air mineral dan langsung meninggalkan tempat itu. Sejenak gue duduk di salah satu bangku di pinggir jalan untuk menikmati burger yang sudah dingin ini. Sambil melihat kendaraan yang lewat, pikiran tentang kemungkinan Gina dan Tio pun semakin sering berseliweran di pikiran gue.


Mungkin saja Tio sedang berkonsultasi dengan Mas Irfan tentang hubungannya dengan Gina dan menyangkut perasaan gue juga. Tapi cewek yang satu lagi itu siapa? Ah, gue ingat sesuatu....


“Ian! Hei, ngapain di sini?” ucap seorang wanita dan saat gue lihat dia Gina.


“Eh, Gin, lagi makan aja, tadi ke nikahan temen tapi gue enggak bawa surat undangannya, jadi ditolak, mana udah laper, udah aja gue ke sini terus uang yang udah gue amplopin gue beliin ini,” ucap gue sambil menunjukan makanan roti isi khas Amerika itu.


“Haha, kok enggak dibawa?” ucap Gina sambil duduk di samping gue.


“Iya, gue kira enggak penting, eh, taunya. Btw, lu darimana?” tanya gue pura-pura tidak tahu.


“Habis ketemu temen, bahas soal kerjaan,” jawabnya.


“Oh, tumben hari Sabtu gini, kenapa enggak waktu kerja aja?” tanya gue menyelidik.


“Orang bisanya hari ini, gimana dong?” jawabnya sedikit ngotot.


“Btw, temennya siapa?” ucap gue menggoda.


“Ada deh, kepo banget, sih.” Gina pun tertawa dengan menunjukan ekspresi yang aneh.


Gue pun menghabiskan makanan yang ada di tangan gue. Sebuah rahasia membuat gue berpikir bahwa Gina tengah berbohong. Ingin rasa-rasanya gue langsung bertanya poin sesungguhnya, tapi seperti pendirian gue sebelumnya, biar waktu yang menjawab.


“Mau pulang bareng enggak?” ucap Gina sambil melihat jam.


“Eh, emangnya ada helmnya?” tanya gue memastikan.


“Bawa dong, enggak tahu aja tadi perasaan gue ingin bawa dua helm, taunya benerkan ada yang numpang,” ucapnya bercanda.


“Yaudah, yuk!”


Kami pun berjalan ke parkiran dan tentu saja gue yang menyetir. Andai saja gue tidak ada kerjaan yang menunggu, gue ajak jalan-jalan dulu cewek yang satu ini, tapi yasudahlah. Gue keluar dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan, dan yang membuat gue cukup kaget adalah kali ini Gina memeluk gue dari belakang.


“Tumben pake meluk gue?” tanya gue sambil menunggu lampu merah berubah hijau.


“Gue ngantuk, Ian. Enggak apa-apa, kan? Enggak ada yang marah, kan?” tanyanya.

__ADS_1


“Enggak ada, kok, enggak ada yang marah,” jawab gue dengan melanjutkan sebuah hipotesa sambil bergumam, kalau enggak ketahuan.


Ketenangan yang gue harapkan datang dengan menyewa kamar kos ternyata berbanding terbalik, gue malah harus berhadapan dengan rasa penasaran yang sebenarnya gue enggak berhak tahu, tapi gue ingin tahu.


__ADS_2