
Muhammad Alvin Abdullah
Aku mengadzani putri keduaku dengan linangan air mata. Linangan air mata haru sedih mengadzani putri keduaku menahan tangisku agar tidak pecah.
Tersenyum melihat putriku yang masih berlumuran darah dan menangis melihat istriku yang sudah memejamkan matanya untuk selamanya.
Aku memberikan putriku pada perawat. Mencium tubuh istriku yang sudah meninggal. Bagaimana bisa kamu juga meninggalkan Mas, Anisa?
Katanya kamu tidak akan meninggalkan Mas? Mas harus bagaiaman ini? Mas tidak bisa merawat kedua putri kita sendirian. Dia butuh sosok seorang ibu.
Aku memeluk istriku dengan erat. Ummi memegang pundakku. "Alvin. Tegarkan hatimu. Kuatkan hatimu.
Anisa mati syahid Alvin. Anisa sudah pasti akan masuk surga." Ucap ummiku terisak. Abi dan ummi mertuaku memandangi putrinya. Mencium kening mereka dengan linangan air mata.
"Ummi." Ucap suara bidadari kecilku.
Aira putri sulungku yang sedang di gendong Shofi mulai merengek. Aku menghampirinya mengambil alih Aira. "Ummi kenapa Abi? Kenapa semua liatin ummi sambil nangis?" Tanyanya polos.
Aku tak kuasa untuk berbicara. aku menangis sambil memeluk putri kecilku. Aira mulai menangis dan berontak untuk pergi ke umminya.
"Aira mau ke ummi Abi, Aira mau ke ummi." Ucapnya yang memukul tubuhku dengan tangan kecilnya. Aku hendak membawa Aira ke luar ruangan.
"Nggak mau! Aira mau disini. Aira mau ke ummi. Ummi gak meninggal kan Abi? Aira mau ikut ummi juga." Katanya yang berteriak dengan tangisan yang membuat hatiku semakin pilu.
Aku duduk bersimpuh karena tidak kuat untuk berdiri dengan masih memegang Aira di pangkuanku.
Aku menatap wajah putriku yang memerah yang di sertai sesegukannya yang semakin membuat hatiku teriris. "Aira sayang... Ummi pergi ke surga." Kataku yang terbata-bata sambil merapikan anak rambutnya.
"Iya Abi, Aira mau ikut. Aira mau ikut. Aira kali ini mau jika ummi ngajak Aira. Kenapa Aira sekarang gak di ajak sama ummi." Ucapnya yang membuatku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku hanya bisa menangis dan memeluknya erat.
"Alvin kamu tenangin Aira dulu, biar kami yang mengurus kepulangan Anisa." Ucap Abi mertuaku.
Aku mengangguk seraya berucap. "Terima kasih Abi."
Aira masih terus memberontak tidak mau di bawa menjauh dari Anisa. Aku membawa ke tempat yang lebih tenang ke Mushalla rumah sakit.
__ADS_1
Aku duduk dengan Aira yang masih menangis di pangkuanku. Sudah masuk waktu shubuh. "Kamu tahu sayang, Aira kan anak baik, anak sholehah. Aira mau kan buat ummi yang ada di surga bahagia?"
Aira mengangguk sambil menangis. "Sekarang kita sholat shubuh. Terus berdoa pada Allah. Ngirim surah Al-fatihah buat ummi. Aira hafal kan surah al-fatihah." Tanyaku lembut.
Dia mengangguk kembali. "Ummi yang ngajarin Aira baca surah Al-fatihah." Katanya yang kembali menangis keras.
"Iya. Ummi ngajarin Aira hafal surah Al-fatihah supaya bisa ngirim al-fatihah buat ummi."
Tangis Aira perlahan mereda tapi sesegukannya masih begitu kuat. Aku mengajak Aira untuk ambil wudhu, berhubung mushalla masih sepi. Aku membantu Aira berwudu di tempat laki-laki. Ambil wudhu di bagian luar saja. Setelahnya kami sholat. Karena tidak ada mukena yang pas untuknya jadi dia memakai kerudungnya yang sempat aku pinta tadi pada sofi.
Dia bidadari kecilku yang mau menginjak umur empat tahun.
Selesai salam Aira langsung mencium tanganku. Aku tersenyum bangga. Dia melakukan ini karena sering melihat umminya yang selalu salim setiap selesai sholat jika kami sholat berjamaah.
Aku berdoa untuk dilapangkan kuburannya Anisa dan di berikan nikmat kubur.
Isakan Aira terdengar kembali. Aku menoleh ke belakang. Dia sedang menengadahkan tangannya dengan kedua matanya yang terpejam. Berdoa yang disertai sebuah tangisan.
Dia kemudian mengusap kedua tangannya dan melihat padaku. Dia kemudian berdiri dan memelukku.
Mungkin Anisa sudah bisa dipulangkan.
"Aira gak mau di gendong abang Amir. Aira mau di gendong Abi terus." Ucapnya yang mengeratkan lingkaran tangannya di leherku.
"Iya sayang. Abi akan gendong Aira sampai Aira puas."
Amir memberitahuku kalau jenazah Aira sudah berada di dalam mobil ambulance. Aku aku akan ikut mobil ambulance.
Aira tidak menangis lagi melihat jenazah umminya yang di tutupi kain putih. Selama perjalanan aku terus berdzikir. Perjalanan setengah jam itu mampu membuat Aira tertidur.
Sesampainya di Pesantren Al-Hikam semua ribuan santri sudah menunggu ke datangan kami. Jenazah Anisa di bawa ke ke ruang tamu terlebih dahulu.
Menyambut orang yang bertakziah selama menunggu proses mandi dan penggalian kubur selesai.
Anisa akan di makamkan di lingkungan pesantren Al-Hikam yang sudah membesarkannya berdekatan dengan kakek dan nenek Anisa.
__ADS_1
Ummi mertuaku hendak ingin mengambil Aira yang tertidur untuk di letakan di kamar tapi Aira bangun dengan kaget dan berteriak keras.
"Nggak mau! Aira mau sama Abi. Aira gak mau ditinggal Abi juga." Ucapnya yang memberontak untuk lepas dari gendongan neneknya.
Sontak saja ucapan Aira membuat semua orang yang datang melayat berseru sedih. Semua menghibur Aira tapi tidak bisa dia tetap ingin bersamaku.
Aku terdiam melihat putriku yang terus menangis. Tak tega. Aku melangkahkan kakiku menghampiri keluarga besarku yang sedang menenangkan Aira.
"Tidak apa-apa ummi biar Aira sama saya." Kataku dengan suara serakku.
Tak kuasa aku juga menangis melihat putriku yang sedari shubuh dia tidak berhenti menangis. Sebenarnya dia mengantuk tapi rasa takut akan di tinggal pergi olehku mengalahkan rasa kantuknya.
"Abi, Abi, Abi." Ucapnya yang menyebut namaku dengan menangis.
"Sayang... Abi gak akan kemana. Abi sama Aira terus kok." Kataku yang ikut menitikan air mata sambil menghapus air mata putriku.
Jadi selama aku menerima tamu aku juga menggendong Aira. Kepada siapapun dia tidak mau.
Termasuk Abiku dan Abi mertuaku. Aira terus menempel padaku. Ketika aku duduk dan berdiri untuk bersalaman dengan keluarga yang baru datang Airapun juga ikut berdiri. Bahkan dia terus menggemgam tanganku.
Aira bisa terlepas sebentar denganku ketika aku izin padanya untuk mensholati jenazah umminya. Aku berucap padanya. "Sayang, Abi sholatin jenazahnya ummi dulu yaa setelah itu Abi anter ummi untuk segera dimakamkan. Aira sama Aunty Naura dulu yaa. Abi tidak bisa gendong Aira sekaligus ketika Abi juga sedang mengantarkan ummi untuk di makamkan.
Setelah selesai semuanya Abi akan samperin Aira. Abi janji." Kataku dengan memberikan jari kelingkingku.
Aira terlihat ragu dia hanya menatapku sedih. Naura mengelus kepala Aira. "Sayang... percaya sama Abi yaa. Aunty Naura akan gendong Aira agar bisa dekat dan bisa melihat Abi." Bujuk Naura.
Aira perlahan memberikan jari mungilnya padaku. "Abi janji kan?" Tanyanya sekali lagi.
"Janji." Jawabku pasti.
Setelah izin pada Aira aku segera berjalan ke Masjid pesantren dimana yang akan menjadi imam adalah Abi mertuaku. Abi mertuaku menungguku datang. Karena dia tahu aku masih membujuk Aira.
Selesai sholat aku membawa keranda jenazah Anisa berdiri paling depan. Di sampingku adalah kakak iparku dan di belakang adalah para santri yang berebutan untuk mengosong keranda jenazah istriku.
Anisa. Terima kasih kamu sudah menjadi istri saya.
__ADS_1
Saya beruntung bisa memilikimu. Kelak, saya akan bersaksi di hadapan Allah bahwa kamu adalah istri sholehah, istri yang taat kepada suami. Ibu yang baik untuk putri kita. Doakan saya. Agar saya bisa mendidik dua putri kita dengan baik agar kelak ketika mereka besar nanti, mereka menjadi seorang wanita yang berahlakul karimah sepertimu.