Dua Hati

Dua Hati
Bab 55 : Perkara Nama


__ADS_3

Setelah memberi tahu kalau anak kami berjenis kelamin laki-laki. Semua keluargaku sangat bahagia.


Pasalnya anakku lengkap. Dua cewek dan dua cowok.


Keluargaku dan keluarga Gus Alvin memberi saran agar anak ke empat kami berawalan huruf A juga. Supaya sama dengan dua saudari dan satu saudaranya.


Aku kepikiran seperti itu juga sebenarnya. Lalu ketika aku membicarakan tentang hal itu kepada Gus Alvin, ternyata dia sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Dia ingin semua anaknya awalan namanya hurus A. Sama seperti dengan namanya yang berawalan A juga.


Pantas saja waktu aku berpisah dengannya dulu dia meminta agar nama anaknya di beri nama Akhtar.


Niat sekali yaa suamiku itu.


Kalau ada mbak Anisa mungkin akan lengkap karena dia namanya juga A. Jadi bisa dibilang keluarga A.


Aku yang jadi pembeda di keluargaku. Dari awal aku sudah menjadi pembeda di keluarga ini. Tidak masalah, aku berbeda karena aku unik.


Gus Alvin juga sudah menyiapkan nama yang namanya hampir mirip dengan nama Akhtar. Meskipun aku kurang setuju dengan alasan nanti dikira anaknya kembar. Terus nanti aku manggilnya Akhtar malah yang menyahut adalah adiknya.


Azka adalah nama yang aku usulkan artinya juga bagus yaitu orang yang sholeh, suci, orang yang berakal dan berbudi pekerti tinggi.


Sedangkan nama yang diinginkan Gus Alvin adalah Akhfas. Nama yang memiliki arti orang yang percaya diri, memimpin dengan wibawa, petualang dan mandiri. Gus Alvin mengatakan ada ulama Nahwu yang menginspirasinya yaitu Al-Akhfasy Al-akbar.


Ilmu Nahwu itu salah satu cabang ilmu bahasa arab yang digunakan untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.


Kalau dalam Bahasa Arab ada Nahwu Shorrof maka dalam Bahasa Inggris ada Grammar.


Jujur saja, aku baru tahu nama akan ilmuwan tersebut.


Ilmuwan muslim yang aku tahu hanya tiga yaitu Ibnu Sina yang ahli dalam dunia kedokteran dan dijuluki bapak kedokteran modern. Lalu Al-khawarizmi, beliau ahli dalam matematika dan mendapat julukan Penemu Aljabar dan yang ketiga Abbas ibn Firnas Sang Penemu Mesin penerbangan.


"Azka ajah Gus." Pintaku ketika kami sedang sarapan bersama dengan ketiga anak kami yang makannya belepotan apalagi Anin dan Akhtar. MasyaAllah.... Meja makan jadi banyak sisa makanan mereka yang berjatuhan. Mereka tidak mau di suapi dengan alasan mereka sudah besar padahal mereka masih balita.

__ADS_1


Serasa mendapat ide. Aku  tanyakan saja kepada ketiga anakku. Mereka lebih suka nama Azka atau Akhfas.


"Anak-anaknya umma yang cantik-cantik dan ganteng maunya nama adik bayi siapa? Akhfas atau Azka?" Tanyaku pada mereka.


"Akhfas?" Tanya Akhtar yang merespon terlebih dahulu.


"Kok namanya hampir sama dengan Akhtar." Kata Akhtar yang berpikir sambil memakan wortelnya.


"Iya memang namanya hampir sama kayak nama Akhtar. Akhtar suka tidak? Apa lebih suka yang namanya Azka?" Tanyaku.


"Akhfas saja. Biar mirip kayak Akhtar namanya. Nanti sering main sama adik bayi, main bola." Serunya senang. Aku yang mendengarnya tersenyum masam.


Sedangkan Gus Alvin tersenyum puas.


Satu, Kosong. Untuk Gus Alvin dan aku.


"Tapi kalau namanya mirip nanti ketuker dong." Kata Anin yang ternyata memiliki pemikiran yang sama denganku.


"Iya kan sayang. Nanti ketuker namanya. Azka saja yaa." Kataku yang merasa punya teman sekongkol.


Yes! Satu, Satu.


Wajah Gus Alvin berubah serius. Kini penentunya ada di Aira. Aira yang sadar kalau dirinya yang belum memberi suara. Nampak berpikir sejenak.


"Aira sayang, putri umma yang cantik. Aira lebih suka adik bayi diberi nama siapa? Akhfas atau Azka?" Bujukku lembut.


Gus Alvin dia malah tertawa sambil geleng-geleng kepala. Mungkin karena aku yang merayu Aira supaya berada di pihakku dan dia merasa lucu sendiri.


"Kenapa kalau namanya di gabung saja. Jadi Akhfas Azka Abdullah atau di balik menjadi Azka Akhfas Abdullah. Terserah. Kalau nama Aira sama adik Anin kan pakai nama Abi. Kalau adik Akhtar dan adik bayi laki-laki pakai nama kakek buyut." Jelas Aira yang langsung menangkap pembicaraan kami.


Dia memang putri sulungku yang cerdas.

__ADS_1


"Jadi di panggil siapa?" Tanyaku dan Gus Alvin kompak.


Aira kembali dilanda kebingungan. Kami tahu dia sebenarnya tidak mau memihak kepada siapapun.


Padaku atau pada Gus Alvin. Kami menunggu jawabannya dengan harap-harap cemas.


"Panggil Abdullah saja." Kata Aira yang melenceng dari perkiraan.


Seketika aku dan Gus Alvin sama-sama tertawa.


Ekspresi Aira yang semakin membuat tawa kami lepas. Dia merasa lelah dan tidak mau berpikir lagi. Gara-gara Abi dan Ummanya yang repot dengan nama adik bayi.


Jawaban Aira sangat tidak terduga. Jawabannya yang membuat kami tidak habis pikir. Bisa-bisanya dia menjawab yang tidak ada di pilihannya. Dia memilih nama kakek buyutnya agar terhindar dari dua nama yang di usulkan Abi dan ummanya.


Sebuah plot twist yang sangat menggembirakan.


Pagi yang ramai karena gelak tawa yang berasal dari jawaban Aira.


❤❤❤


Karena aku istri yang baik, istri yang penurut. Istri yang taat kepada suami. Aku mengalah tentang perkara nama anakku. Anakku akan diberi nama sesuai nama keinginan Abinya, Akhfas.


Akhfas Alvin Abdullah.


Dari Aira aku tahu, bahwa tidak perlu membesarkan masalah kecil menjadi masalah besar. Lagian kedua nama yang kita ajukan sama-sama nama yang bagus. Jadi terserah mau pakai nama yang mana.


Terlebih umur kandunganku  baru empat bulan masih ada lima bulan lagi.


Tapi meskipun hasil USG berjenis kelamin laki-laki. Ada beberapa kasus ketika lahir malah berjenis kelamin perempuan.


Aku sudah mengatakan itu kepada Gus Alvin dan Gus Alvin sudah menyiapkannya. Yaitu nama yang dia sarankan dulu ketika aku berpisah dengannya. Ainayya. Tapi untuk nama tengah dan nama belakang di ubah menjadi Alvina Hasan. Ada nama Abinya dan nama kakeknya, yaitu ayahku.

__ADS_1


Sebuah planing yang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari oleh suamiku yang menginginkan nama ke empat anaknya berawalan A semua.


Hebat sekali yaa suamiku. Tidak salah aku semakin mencintainya. Meskipun terkadang dia menurutku sedikit aneh. Tapi aku tetap cinta. Sungguh.


__ADS_2