Dua Hati

Dua Hati
part 9


__ADS_3

Sepi segera terasa saat gue bangun dari tidur. Samar-samar terdengar sorak sorai dari luar kamar ini. Ah, sial gue tertidur dan melewatkan acara yang seharusnya gue ikuti. Sambil mengucek mata, gue segera keluar kamar dan menuju tempat semua orang berkumpul.


Api unggun anggun berkobar dikelilingi para manusia-manusia yang tengah bergembira. Mereka menikmati alunan musik yang dilantunkan. Gue pun mencari teman gue diantara banyaknya orang. Nah, itu dia, gue melihat Tio bersama Gina. Gue langsung menuju ke tempat dua orang itu duduk.


“Pacaran mulu,” tanya gue sambil duduk bergabung dengan mereka.


“Eh, tadi gue bangunin lu enggak bangun-bangun, doorprize-nya jadi milik anak divisi admin tuh,” ucap Tio menunjuk salah satu laki-laki yang dimaksud.


“Lah, emang gue yang dapetnya?” tanya gue penasaran.


“Tanya aja nih sama Gina,” ucap Tio.


“Iya, tadi nama lu keluar pas dikocok, tapi lunya enggak ada, yaudah tuh jadi dikocok ulang,” jelas Gina.


“Ah, biar deh, cuma motor ini,” ucap gue menghibur, “BTW, Asti mana?”


Tio menunjuk ke arah pagar pembatas di mana Asti tengah berdiri sambil melihat ke arah kota, “Itu tuh, kayanya dia enggak mau lewatin kembang api bentar lagi.”


“Kesana, yok!” ajak gue.


“Lu aja sana, gue mau di sini dulu liat yang nyanyi,” ucap Tio.


“Lu, Gin?”


“Gue juga mau di sini dulu,” jawabnya.


Gue pun beranjak menuju tempat Asti berada. Soal Gina yang tidak mau ikut, gue hanya berpikir kalau dia ingin agar gue meminta maaf tentang kejadian tadi sore secara intim, atau mungkin juga Gina sudah dekat dengan Tio. Ah, gue tidak mau berpikiran negatif dengan tidak berpikir kemungkinan yang kedua.


Cahaya lampu kota langsung menyambut gue saat gue berdiri di samping Asti yang tidak bergerak dengan kedatangan gue. Wajahnya datar dan terus menatap ke arah kota. Gue pun mendeham agar mendapat sedikit perhatiannya.


“Sendirian aja, Ti?” ucap gue saat matanya melihat gue.

__ADS_1


“Emm,” jawabnya singkat.


“Pemandangannya bagus, ya?” ucap gue basa basi.


“Emm.” Kembali gue hanya mendengar jawaban itu.


“Gue minta maaf soal tadi sore kalau bikin lu cemburu.”


“Iya, enggak apa-apa, kok. Lupain aja,” ucapnya.


“Terus ngapain di sini, enggak gabung sama yang lain?” tanya gue penasaran.


“Aku kalah, Ian, dikit lagi padahal aku tadi bisa dapet motor,” ucapnya dengan ekspresi kecewa yang lucu.


“Sial, gue kira lu masih marah sama gue, emang tadi disuruh ngapain?”


Asti pun menceritakan tentang kegagalannya untuk mendapatkan sebuah sepeda motor baru. Dia menceritakan jika ada dua nama yang keluar dan salah satunya nama dirinya. Lalu panitia pun membuat sebuah permainan sederhana, dimana Asti dan seorang laki-laki di suruh menebak siapa orang yang membawa kertas bertuliskan motor di antara tiga panitia dihadapan mereka.


Asti dan laki-laki itu hanya boleh bertanya tiga soal yang berkaitan dengan isi kertas yang panitia bawa, yang membuatnya sulit adalah satu pertanyaan itu hanya untuk satu panitia dan panitia hanya menjawab dengan ya, tidak, atau mungkin.


“Oh, kirain cuma dikocok nama aja, tahun kemaren ma nama yang keluar langsung dapet doorprize-nya,” ucap gue sambil mengingat acara tahun lalu.


“Ih, tau enggak? nama kamu yang duluan keluar, tapi kamunya enggak ada. Coba kalau ada, kita berdua yang main,” ucapnya mengkhayal.


Dalam obrolan kami, Gina dan Tio pun datang menyusul ke tempat gue dan Asti mengobrol. Sudah gue duga, sebentar lagi tahun baru akan datang dan kembang api pun akan menggema membisingkan setiap sudut kota.


Semakin ramai di tempat ini dengan orang-orang yang berdiri dan ingin melihat kembang api dari sini. Suasana sudah mulai padat, tangan kiri gue pun menggenggam tangan Asti agar kami tidak terpisah. Dan gue tidak menyangka, Gina yang berada di samping kanan gue pun menggenggam tangan kanan gue, yang gue balas menggenggamnya.


Mungkin ini salah di mata Asti, tapi gue dan Gina hanya sebatas teman. Terlebih lagi Gina belum mengetahui gue dan Asti sudah berhubungan. Eh, tapi gue juga tidak tahu jika Asti sudah berbicara pada Gina saat tadi di kamar. Ah, gue tidak terlalu memikirkannya, karena ini demi keselamatan masing-masing.


“Tiga... Dua... Satu....” Kami semua menghitung mundur dan kembang api pun diluncurkan hingga meledak indah tepat saat kami selesai menghitung. Kemeriahan semakin terasa dengan sorak sorai dan suara terompet yang panitia berikan pada masing-masing peserta.

__ADS_1


Semua terlarut dalam euforia akhir tahun. Asti pun memeluk lengan gue dengan lembutnya, pipinya dia elus-eluskan pada lengan atas gue. Tidak lama, Gina memeluk lengan gue sebelah kanan. Oh, Tuhan, ampuni dosa hambamu ini.


Gue melihat ke arah Tio yang ada di samping Gina. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, gue pun menunjukan ekspresi yang heran dengan kelakuan kedua wanita ini. Mulut Tio pun berucap tanpa suara seperti mengatakan “buat gue satu” dan gue balas dengan senyuman mengejek.


1 Januari 201x


Gue terbangun tepat pukul delapan pagi saat semua orang di kamar ini sudah berpakaian rapi. Untungnya gue masih beruntung karena Tio masih tertidur di ranjang atas.


“Tumben udah pada rapi, Mas,” ucap gue basa-basi pada teman kantor gue.


“Biar enggak pada numpuk aja yang mandinya,” jawab salah satu teman gue.


Gue pun mengobrol basa-basi sambil menunggu giliran menggunakan kamar mandi. Tak berapa lama gue pun mandi dan berpakaian rapi. Persiapan untuk kembali pulang pun sudah gue lakukan.


Acara beres-beres dan foto-foto pun kami lakukan sebelum pulang. Sudah menjadi tradisi baru acara foto-foto yang kini seperti tidak bisa dilepaskan dari setiap aspek acara. Mirisnya, acara beres-beres yang lebih penting malah semakin ditinggalkan.


Tepat pukul sepuluh kami pun meninggalkan villa ini setelah berdo’a bersama. Mobil merah milik Tio pun kembali kami tumpangi untuk mencapai tempat kami tinggal.


“Udah enggak ada yang ketinggalan?” tanya Tio sambil menyalakan mobilnya.


“Enggak ada, udah semua,” jawab gue dan kedua wanita di kursi belakang pun mengiyakan.


Mobil merah ini pun kembali melaju menuju kenyataan yang membosankan. Kembali aktivitas rutin akan kami jalani setelah menikmati keseruan liburan ini. Tapi mau gimana lagi, kita hanya bisa menikmatinya.


“Kayanya ini tahun baruan kita yang terbaik, ya, Gin,” ucap Asti pada Gina.


“Iya, kapan lagi, ya, bisa kaya gini,” jawab Gina.


“Ya, tahun depan, lah. Mana ada tahun baruan tiap bulan,” celetuk gue sambil tertawa.


“Hih, nyaut aja lu, nyebelin,” Gina pun mencubit lengan gue pelan.

__ADS_1


Tawa dan obrolan-obrolan ringan pun menyertai kami di jalanan yang macet ini, seperti mencegah kami kembali menuju kenyataan.


Awal tahun ini juga, gue kembali menjalani sebuah hubungan yang lebih dengan seorang wanita. Walau ada dua wanita yang mengisi hidup gue, tetapi hanya satu prioritas gue. Mudah-mudahan saja tidak akan ada yang namanya keributan antara kedua wanita itu.


__ADS_2