Dua Hati

Dua Hati
Bab 52 : Ketahuan


__ADS_3

Satu hal yang baru aku tahu dari Gus Alvin, ternyata dia seorang peternak. Dia mempunyai puluhan sapi dan juga puluhan kambing. Bisnis yang bagus ketika menjelang lebaran Haji atau Hari Raya Idul Adha.


Sedangkan kambing untuk aqiqahan.


Sapi dan kambing-kambing itu diurus oleh salah satu kepercayaan Gus Alvin yang tak lain adalah santri Gus Alvin sendiri yang sudah berhenti mondok.


Dan juga dia mempunyai tanah yang luasnya membuatku berdecak kagum. Wah.... tidak salah dia memberikan Akhtar tanah seluas satu hektar dan uang ratusan juta.


Aku tersenyum penuh arti pada Gus Alvin yang kebetulan sedang melihatku. "Kenapa senyummu seperti itu Nadia?" Tanyanya yang terlihat tidak suka.


"Tidak apa-apa hanya tidak menyangka saja suamiku ternyata juragan tanah dan sapi." Jawabku tersenyum penuh maksud.


Dia lalu mencubit pipi kananku


"Ternyata saya juga baru tahu kalau kamu memiliki mata yang berbinar setelah saya memberi tahu apa yang saya punya." Sindirnya halus.


Aku melepas cubitannya dengan sabar aku menjelaskan maksud ucapanku. Aku memberikan empat jariku padanya. Dia terlihat bingung.


"Gus, kita akan punya empat anak dan selisihnya nggak jauh. Terus kalau ke empatnya pengen kuliah di luar negeri gimana? Satunya pengen kuliah Arab, satunya pengen kuliah di Mesir, satunya pengen kuliah di Jerman terus satunya lagi pengen kuliah di Amerika. Gimana dong?" Kataku yang berpikir realistis. Tidak salah kan ucapanku. Aku berbicara tentang pendidikan mereka di masa yang akan datang.


Dia kembali mencubit pipiku dan tersenyum yang di paksakan. "Pintar sekali yaa istriku ini." Katanya yang terdengar kesal dan gemas menjadi satu.


"Terima kasih." Jawabku cengengesan.


"Umma." Kata Anin yang tiba-tiba datang dengan memeluk pinggangku.


"Iya Anin kenapa?" Kataku yang mengelus rambutnya.


Kami berlima sedang melihat keadaan peternakan Gus Alvin. Dari tadi ketiga anakku sedang memberi makan pada sapi atau kambing.


"Sapinya gak mau makan rumputnya Anin yang di makan cuma rumputnya kakak Aira dan adik Akhtar." Ucapnya dengan wajah sedihnya.


"Oh iya? Kalau begitu kita cari sapi lain yang mau sama rumputnya Anin." Jawabku dengan menggendong Anin.


"Sini gendong sama Abi."


"Gak mau sama Umma." Tolak Anin dan dia semakin melekat padaku.


Aku lihat Akhtar dan Aira yang sedang sibuk memberi makan sapi. Gus Alvin menghampiri mereka. 


Aku menjauh dari mereka. Mencari sapi yang sekiranya mau di beri makan oleh Anin. Aku menemukan sapi coklat yang menarik perhatianku.


Anin sudah memegang rumput dan aku membantunya memberi makan kepada Sapi.


"Sapinya mau umma." Pekik Anin senang. Aku tersenyum dan menciumnya gemas. "Anin senang sekarang?"


"Hmmm." Ucapnya yang hanya dijawab dengan anggukan.


Anin anakku yang paling manja di antara Aira dan Akhtar.


Mungkin karena dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang Umma jadi dia sering menempel padaku.

__ADS_1


Hari itu adalah hari libur kami, dimana hari libur kami diisi dengan jalan-jalan meninjau usaha milik Gus Alvin.


❤❤❤


Ketika malam sebelum tidur aku membacakan kisah tentang para Nabi kepada anak-anaku. Lalu setelahnya aku akan memberi pertanyaan dari kisah yang sudah ku ceritakan kepada mereka.


Anin dan Aira tidur di kamar yang sama sedangkan Akhtar tidur di kamar Aira dulu. Anin dan Aira tidur di kamar mbak Anisa.


Setelah mereka tidur aku membawa Akhtar untuk pindah kamar. Saat itu juga Gus Alvin datang dari mengajar kelas diniyah.


Gus Alvin mengikutiku ke kamar Akhtar. Aku meletakan Akhtar dengan hati-hati takut menganggu tidurnya.


"Anak-anak sudah tidur semua?" Tanyanya dengan merangkulku mesra.


"Iya." Jawabku sambil menguap. Tubuhku tiba-tiba terangkat karena Gus Alvin yang tiba-tiba menggendongku.


"Gus ini, untung saya tidak berteriak." Kataku dengan menepuk dadanya.


Dia tidak menjawab perkataanku . Dia terus berjalan menggendongku sampai ke kamar kami. Meletakanku dengan pelan. Dia duduk di sampingku dan mulai memijit kakiku.


"Capek?" Tanyanya.


"Iya Gus capek sekali." Rengekku manja. Gus Alvin hanya geleng-geleng kepala mendengar rengekanku.


"Sudah minum susunya?"


Aku menggeleng. Dia lalu berhenti memijatku.


"Nggak usah Gus. Sudah tadi. Saya mau peluk Gus saja." Kataku yang memeluknya erat. Gus Alvinpun mengelus punggungku lembut.


"Apa kamu lagi pengen sesuatu?" Tanyanya.


Aku berpikir sejenak. "Lapar." Jawabku memelas.


"Kamu lapar? Lagi?" Tanyanya kaget dan mengacak rambutku.


Aku mengangguk sedih. Gus Alvin lalu menarik tanganku untuk pergi ke dapur. Dia menyuruhku duduk dan melihat dia memasak.


Dia memasakanku nasi goreng serta telur mata sapi. Aku bertepuk tangan riang ketika meliat nasi goreng yang sedang mengepulkan asapnya yang semakin membuatku kelaparan.


"Sini saya suapin." Dia lalu mengambil satu suapan sendok dan menyuapiku pelan. Membersihkan sisa nasi yang menempel di sudut bibirku.


"Kalau dihabiskan gak papa kan Gus?" Tanyaku dengan mulut penuhku.


"Habisin semua. Saya todak akan minta. Ini saya buat khusus buat kamu? Enak?"


Aku dengan cepat memberikan dua jempol jariku serta senyuman manisku. "Enak banget Gus pinter masak juga ternyata." Pujiku tulus.


Sekalian dia buka kedai nasi goreng. InsyaAllah laku.


"Tentu saja. Saya dulu waktu masih kuliah di Yaman saya masak sendiri. Sama lah seperti anak rantauan yang sedang kuliah dan sedang ngekos." Katanya sambil menyuapiku kembali.

__ADS_1


Aku membuka mulutku dan mengunyahnya dengan senang. Jadi aku fokus makan sedangkan Gus Alvin fokus bercerita sambil menyuapiku.


"Alhamdulillah kenyang." Kataku sambil mengelus perutku. "Sayang kamu pasti kenyang juga kan?"


Aku berbicara pada perutku.


"Iya umma, adik kenyang juga." Kataku yang seolah-olah bayi yang dalam kandunganku yang menyahut.


Gus Alvin menatapku sendu. Dia mendekat padaku dan mengecup bibirku. "Ih Gus, saya baru selesai makan. Nanti bau nasgor." Protesku dengan menyentuh bibirku.


Dia hanya tersenyum miring sambil memandangiku lekat. "Apa sih Gus kok natap saya." Kataku salah tingkah dan menutupi kedua matanya.


Dia mengambil tanganku dan dikecupnya kedua tanganku.


Dia merapikan anak rambutku, memandangiku dengan seksama.


"Gus cinta banget ya sama saya?" Tanyaku iseng.


Dia berhenti menyusuri setip inci wajahku. Menatapku tepat pada mataku. "Sangat." Ucapnya dalam.


Aku menggigit bibirku. Menahan rasa di hatiku yang membuncah. Tersanjung dengan ucapan dalamnya.


Aku menarik kerah gamisnya lalu ku cium bibirnya. Gus Alvin masih sedikit tersenyum melihatku yang sedikit agresif.


Dia membalas ciumanku dengan lembutnya.


Menyentuh belakang leherku dan menekannya lebih dalam lagi.


"Abi, Umma." Panggil suara kecil yang membuat kami kaget dan menghentikan aksi ciuman kami secara mendadak.


"Aira? ada apa sayang? Kok bangun." Kataku gelapan sendiri dan Gus Alvin tertunduk malu. Dia mengusap bibirnya dan melirikku dengan senyuman jahatnya.


Awas saja yaa! Sebuah yang kalimat yang kukatakan dari sorot mataku.


"Abi kenapa kok senyum-senyum sendiri Umma?" Tanyanya ketika aku menghampirinya dan menuntunnya ke kamar mandi. Dia bangun karena ingin ke kamar mandi.


"Gak tahu, umma jadi takut. Ayo cepetan ke kamar mandinya." Kataku dengan sedikit mendorong Aira.


Gus Alvin makin tertawa mendengar perkataanku. Aku tidak tahu apa yang membuat dia sampai tertawa seperti itu.


Bahkan Aira yang sudah selesai ke kamar mandinya menatap takut pada Abinya.


"Umma Aira takut." Katanya yang memeluk pinggangku.


"Berhenti senyum-senyum Gus! Ya Ampun gak lihat apa anaknya takut gini." Protesku yang menuntun Aira kembali ke kamarnya.


Aku sempatkan untuk mencubit tangannya. Tapi dengan gesit dia menghindar dari cubitanku. Wajah bahagianya semakin membuat ku kesal.


"Saya mau tidur sama anak-anak." Ketusku.


"Nadia." Serunya tidak terima.

__ADS_1


__ADS_2