Dua Hati

Dua Hati
Bab 27 : Hati yang Tersakiti


__ADS_3

Pembicaraan kami diisi dengan Ibram yang bertanya tentang kehidupan di pesantren kepada mbak Anisa.


Sejak aku mengatakan ketidaknyamananku pada sikap dan tutur kata Ibram. Pandangan Ibram padaku berubah.


Bahkan dia tidak mau menatapku dia hanya berbicara pada mbak Anisa saja. Apa dia marah? Tapi bukankah itu suatu yang baik jadi Ibram bisa menjaga jarak dan sikapnya padaku.


Setelah bertanya tentang dunia kepesantrenan, Ibram bertanya tentang agama. Dan mbak Anisa menjawabnya dengan lugas. Jawaban yang dia berikan begitu mudah di mengerti. Aku pernah dengar dari Zahwa bahwa dia santri teladan dan santri yang terpintar di angkatannya.


Aku merasa dibuat insecure olehnya. Jika dibandingkan dengan mbak Anisa. Aku seperti manusia biasa yang tidak mempunyai kelebihan apapun.


Selama mereka berdiskusi. Aku hanya menjadi pendengar saja. Sibuk membantu Aira yang makannya belepotan.


"Senang sekali saya berbincang dengan mbak Anisa." Ucap Ibram sopan. Acara makan siang sudah. Kami hendak ingin pulang. Tapi Anrez dan Aira makannya begitu lama. Mereka tidak mau disuapin dengan alasan mereka sudah besar. Ayolah mereka baru berumur lima dan tiga tahun.


"Sama. Saya senang sekali bisa berbincang dengan Mas Ibram juga. Maaf, apa Mas Ibram sudah berkeluarga?"


Aku menatap pada ibram menunggu jawaban darinya.


Akhirnya dia menatap padaku dalam sepersekian detik. Setelah sekian menit dia tidak melihatku.


Aku kira mbak Anisa adalah wanita yang akan gugup jika berbicara dengan lawan jenis karena background dia yang sangat jarang bertemu dengan pria. Tapi nyatanya mbak Anisa begitu luasanya menjelaskan tentang ilmu yang dia tahu kepada Ibram.


Ibram tersenyum dengan sambil melirikku. "Belum. Saya belum berkeluarga."


Mbak Anisa mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.


Seandainya orang lain yang bertanya pasti akan bertanya lebih rancu lagi. Seperti...


"Kenapa belum menikah? Kan sudah mapan?""Jangan sibuk kerja." Umur sudah berapa?"


Pertanyaan yang sering aku dengar ketika berjumpa dengan seseorang yang mungkin maksudnya ingin berbasa-basi tapi basa-basi mereka menyinggung perasaan orang yang ditanya. Bukankah lebih baik diam saja. Jangan bertanya apapun.


"Om Ibram baru patah hati. Belum bisa move on." Ucap Anrez yang ikut menyambung perkataan kami dengan memegang paha ayam yang sudah tinggal tulang di tangannya.


Dari mana Anrez tahu kalau Omnya sedang patah hati? Apa dia mendengar ucapanku dengan Ibram. Tapi mana mungkin Anrez mengerti tentang pembicaraanku dengan Ibram. Atau malah Ibram sendiri yang bercerita kepada keponakannya?


Apa gunanya bercerita masalah asmara orang dewasa kepada anak kecil?

__ADS_1


Ibram hanya tersenyum dan mencubit pipi Anrez.


"Semoga Mas Ibram mendapatkan jodoh yang bisa memberikan kebahagian dunia dan akhirat. Saya hanya bisa mengatakan itu sebelum kami berpisah." Ucap mbak Anisa dengan bahasa lembutnya.


"Boleh cerita sedikit." Ucap Ibram yang membuatku menatapnya dengan penuh selidik dan sedikit memohon.


Kumohon jangan mengatakan apapun yang hanya akan menyulitkanku nantinya.


Mbak Anisa mempersilakan Ibram untuk bertanya atau bercerita yang kesekian kalinya.


"Ini tentang hati." Ucap Ibram dengan pelan.


Aku menahan napasku, meremas tanganku sendiri.


Menatap nanar pada Ibram. Berharap dia mengerti akan tatapanku. Ibram mengerti dan dia terpaku dengan tatapanku. Tatapan dia melunak ketika dia melihat mataku yang mungkin sudah menggenang.


"Ah, tidak jadi." Ucap Ibram dan dengan bersandar pada kursi dan bersedekap.


"Maaf itu terlalu privasi untuk diceritakan." Ucap Ibram pada akhirnya. Aku menunduk dan berpura-pura mengetik pesan random pada Fina.


"Tapi, terima kasih do'anya. Saya ingin menambah doanya. Saya ingin perempuan itu adalah perempuan yang memberikan tatapan penuh harapnya pada saya meskipun tatapan penuh harapnya menyakiti saya. Perempuan yang saya cintai dari dulu."


Fina, terima kasih dan aku bersyukur bisa mengenalmu. Kamu mengerti apa yang aku mau.


"Mbak, saya angkat telepon dari Fina dulu yaa."


Pamitku berdiri dan sedikit menjauh dari mereka dengan jarak hanya dua meter saja. Tentu saja aku membelakangi mereka.


"Mbak Nadia kenapa?" Tanyanya khawatir.


"Gak papa? Bicara saja terus."


Fina langsung mengerti dan dia bercerita tentang kesibukannya hari ini. Setelah tiga menit menelepon aku mengakhiri telepon kami.


"Apa ada masalah mbak?" Tanya mbak Anisa khawatir.


"Tidak ada hanya ada masalah kecil mbak tidak serius." Kataku berbohong. Aku tahu Ibram sedang memerhatikanku sekarang.

__ADS_1


Setelah Aira selesai dengan makannya kami akhirnya pulang. Tapi tidak untuk Anrez, dia masih ingin makan satu ayam lagi.


Aku meminta mbak Anisa berjalan terlebih dahulu bahwa aku yang akan membayarnya tapi tersenyata semuanya sudah di bayar oleh Ibram.


Ibram mendekatiku dan memberikan sebuah sapu tangan.


Ini sapu tanganku yang hilang dulu.


"Saya menyimpannya selama dua tahun. Jadi saya kembalikan sekarang kepada pemiliknya. Tidak ada lagi barang kamu yang ada di saya, semuanya sudah saya kembalikan."


Aku mengambil sapu tangan itu, sapu tangan pemberian dari ibuku. Ibram menyimpannya selama dua tahun sama dengan dia yang menyimpan fotoku selama dua tahun juga.


"Seharusnya saya tidak menyatakan perasaan saya padamu, seharusnya saya tetap memendamnya.


Seharusnya saya tetap memfotomu secara diam-diam.


Tetap mengagumimu hanya dari lensa kamera. Jika pada akhirnya pernyataan saya hanya membuat wanita yang saya cintai akhirnya membenci saya. Saya tidak akan pernah melakukan itu. Maaf jika sikap saya menyakitimu. Tapi, jangan paksa saya untuk membuang perasaan saya padamu Nadia. Saya ingin rasa ini hilang secara perlahan dan dengan sendirinya bukan karena sebuah permintaan. Meskipun yang meminta adalah orang yang saya cintai sendiri."


Kali ini tatapannya seperti sebuah tatapan yang kehilangan akan harapannya.


"Saya kalah cepat dengan suamimu. Saya hanya berani mengagumi tanpa berani datang pada ayahmu. Tapi saya ingin mengerti posisimu yang dulu saat itu kamu baru ditinggal ibu dan mantan tunanganmu. Saya tidak ingin membebanimu dengan saya yang orang asing bagimu yang kamu tidak kenal dengan datang tiba-tiba untuk melamarmu."


Ibram berulang kali membuang napasnya. Aku tahu dia sekuat tenaga mencoba untuk tidak berteriak.


Mencoba untuk tidak menumpahkan segala rasa sesalnya saat ini. Aku akan membiarkan dia untuk tetap berbicara apapun tanpa memotongnya.


Mendengarkan semua keluh kesahnya.


"Satu hal yang saya yakini. Saya memberikan seluruh hati saya pada kamu seorang Nadia, tidak seperti suamimu yang membagi cintanya dengan perempuan lain. Dan saya juga menyakini saya orang yang lebih lama menyukaimu bahkan dari mantan tunanganmu."


Aku membenarkan ucapannya tentang Gus Alvin. Tapi tentang Mas Faris. Benarkah dia menyukaiku lebih dulu dari Mas Faris? Selama itukah Ibram menyukaiku.


Ibram menjeda kalimatnya dia menengadah ke atas.


Dia sedang mengatur emosinya. Dia kemudian menunduk membuang napasnya kasar dan menatapku kembali. Sepertinya dia bisa lebih tenang.


"Saya harap jika kita satu project lagi. Kita bisa bekerja secara profesional." Ucapnya dengan memberikan tangannya. Lalu dia teringat bahwa aku tidak akan menjabat tangannya dia menurunkan kembali tangannya.

__ADS_1


"Pasti Ibram." Kataku yakin. Aku pamit padanya dengan sebuah senyuman. Entah kenapa aku masih menoleh ke belakang dan melihat Ibram yang masih memerhatikanku ketika aku pergi menjauh darinya.


__ADS_2