Dua Hati

Dua Hati
Bab 35 : Benar-benar Pergi


__ADS_3

Malamnya aku tidur di kamarku berdua dengan Fina. Aku yang memintanya pada Gus Alvin agar dia tidur bersama ku dan Gus Alvin mengizinkannya.


Gus Alvin, Abi mertuaku dan ummi mertuaku sedang pergi ke luar. Setelah selesai acara pernikahan tadi dia langsung di ajak menjenguk salah satu satu guru Abiku yang masih hidup tapi sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Kemungkinan akan pulang malam.


Aku dan Fina sedang merapikan alat make up kami dan dress yang kami bawa dan kami masukan dalam koper. Biasanya kami melakukan pekerjaan ini dengan mengemil.


Aku izin sama Fina untuk mencari cemilan di rumah utama yaitu di rumahnya Abi mertuaku. Karena aku sudah mengecek di dapur tidak ada cemilan dan mbak Anisa juga tidak ada. Mungkin sedang berada di santri putri.


Aku berjalan menuju rumah utama atau biasa disebut dhalem sepuh. Aku menghentikan langkahku karena aku mendengar sebuah keributan.


Shofi dan Naura.


"Kenapa sih mbak Shofi selalu nyuruh Naura mondok? Ummi dan Abi gak maksa kenapa mbak Shofi yang maksa? Lagian Naura disini juga mondok. Naura mengikuti semua kegiatan di pesantren ini semua pengurus juga melakukan hal yang sama pada Naura, kalau Naura salah. Ya Naura di hukum." Ucap Naura dengan suara lengkingannya.


"Beda Naura. Dengan kamu mondok kamu bisa lebih dewasa dan mandiri tidak suka merengek lagi sama ummi. Lagian hanya kamu seorang di keluarga kita yang tidak mondok dengan alasan hanya disini ada sahabat kamu yang bernama Zahwa itu." Kata Shofi yang terdengar sinis di telingaku.


"Kenapa bawa Zahwa sih mbak?" Tanya Naura kesal.


"Gara-gara dia kamu tidak bertingkah seperti Ning pada umumnya. Kamu seorang Ning Naura kamu harus jaga sikap kamu."


"Memangnya Zahwa punya akhlak yang buruk apa mbak? sehingga mbak bisa bilang seperti itu? Zahwa anak yang baik. Naura tahu mbak gak suka sama Zahwa karena dia keponakan mbak Nadia kan? Karena mbak Nadia istri kedua Mas Alvin." Sengit Naura.


"Kamu masih kecil. Kamu tidak akan tahu rasanya di poligami. Mbak Anisa itu udah ngerelain Mas Alvin menikah dengn mbak Nadia." Ujar Shofi menggebu.


"Terus salah mbak Nadia?" Sambar Naura.


"Memangnya siapa yang mau jadi istri kedua?


Meskipun Naura masih enam belas tahun. Tapi Naura sudah mengerti. Naura tidak memihak pada siapapun.

__ADS_1


"Mbak Nadia dan mbak Anisa sama-sama terluka. Mbak jangan berpikir mbak Nadia tidak terluka. Dia lebih parah. Dia bahkan di pandang sebelah mata sama keluarga kita sendiri. Kita selalu mengatakan bahwa setiap manusia itu sama derajatnya di mata Allah. Tapi nyatanya terutama mbak Shofi sendiri yang memandang mbak Nadia rendah karena mbak Nadia bukan seperti kita." Jawab Naura lantang.


"Itu namanya menjaga nasab. Agar lahir keturunan yang bernasab baik juga. Kita dari keluarga pesantren Naura. Kita harus mencari pendamping yang cocok agar bisa meneruskan pesantren di masa yang akan datang dan mbak Anisa lebih pantas mendampingi Mas Alvin. Dia bisa menggantikan ummi suatu saat nanti sedangkan mbak Nadia. Tidak." Katanya yang tidak mau kalah berdebat dengan adiknya.


Aku mengelus dadaku sendiri mendengar pertengkaran dua saudara yang bertengkar hanya masalah dua istri kakak sulungnya.


Jujur aku sakit hati dengan ucapan Shofi. Aku tahu dari awal dia tidak menyukai. Tapi aku tidak tahu dia ternyata membenciku.


"Jika dia menerima lamaran Mas Alvin hanya karena alm ayahnya itu bisa di bicarakan baik-baik. Mbak Nadia bisa menolak lamaran Mas Alvin. Pasti alm ayahnya mbak Nadia akan mengerti." Ucap Sofi yang masih dengan suara menggebu-gebunya.


"Mbak tidak akan pernah mengerti posisi seseorang jika mbak belum berada di posisi orang tersebut." Ucap Naura bijak.


"Kamu tahu Naura, mbak Anisa hampir tiap malam menangis ketika Mas Alvin pergi menginap di rumah mbak Nadia. Mbak juga bisa merasakan sakit hatinya mbak Anisa."


"Dan mbak Shofi juga tidak tahu kan kalau mbak Nadia juga sering menangis. Dia juga tersiksa. Dia tersiksa dengan menjadi istri kedua. Mbak Nadia, dia selalu menempatkan mbak Anisa yang yang pertama. Mbak Nadia yang selalu mengalah. Karena dia tahu dia harus melakukan itu. Jadi mbak Shofi jangan menyalahkan mbak Nadia semua."


"Dia yang salah Naura. Secara tidak langsung dia sudah merebut suami orang. Dia pelakor."


Tapi tidak bisa, suara isak tangisku tidak bisa ku tahan lagi. Aku terlanjur sakit hati mendengarnya. Aku kecewa, karena mereka setengah hati menerimaku.


"Siapa itu?" Tanya Shofi.


Aku bergegas pergi dan berlari ke rumah Gus Alvin.


Ketika aku hendak sampai di rumah Gus Alvin aku melihat mbak Anisa yang keluar dari dalam rumah dan sedang menutup pintu.


"Mbak Nadia kata Fina..... loh mbak Nadia kenapa menangis?"


Kata mbak Anisa kaget melihatku menangis dengan sejadi-jadinya. Mbak Anisa mengikuti langkahku sampai masuk ke kamarku.

__ADS_1


Fina langsung berdiri terkejut melihatku yang menangis. "Fina kemasi pakaianmu kita pulang malam ini." Kataku yang sudah bergegas memasukan pakaianku ke dalam koper.


"Cepat Fina." Bentakku ketika aku melihat Fina yang masih mematung.


"Mbak Nadia kenapa? Ada apa? Kenapa mbak malam-malam gini mau pulang. Mbak sudah izin sama Mas Alvin." Katanya yang terus mengikuti langkahku.


"Mbak Nadia." Bentaknya padaku karena aku mengabaikannya.


Aku menatap mbak Anisa dengan pandangan buram karena air mataku yang menggenang di mataku.


Ya Allah, Kenapa sakit di hati hamba begitu perih sekali.


"Jujur, mbak Anisa tersiksa kan dengan pernikahan ini." Kataku terisak.


Mbak Anisa terdiam. Dia kaget dengan apa yang aku ucapkan barusan.


Aku melihat Naura sudah berdiri di depan pintu kamarku. Wajahnya penuh penyesalan. Dia pasti tahu kalau aku sudah mendengar pertengkarannya dengan saudarinya.


"Saya pernah melihat mbak Anisa menangis di dapur. Ketika saya, Gus Alvin dan Aira mau menginap di rumah saya. Saya juga tersiksa dengan pernikahan ini. Jadi intinya kita semua sama-sama tersiksa. Dan saya ingin mengakhiri siksa ini dengan saya yang pergi saja. Saya sudah lelah menjadi yang kedua, saya tidak mau dipandang sebelah mata lagi. Saya capek. Saya mau pergi, biarkan saya yang pergi dan mbak Anisa tetap dengan Gus Alvin." Kataku yang sudah selesai memasukan pakaianku begitu juga dengan Fina.


Aku menyeret koperku. Fina langsung berjalan terlebih dahulu menyiapkan mobilku.


"Mbak Nadia, jangan pergi." Cegah Naura dengan memegang tanganku.


Aku tersenyum padanya. "Terimakasih sudah menjadi sahabat Zahwa." Kataku mengelus kepalanya.


"Umma." Panggil Aira yang baru bangun tidur. Dia terbangun karena keributan yang aku ciptakan. Aku menghampirinya dan aku sempatkan untuk mencium kedua pipinya.


"Umma kok nangis. Terus umma mau kemana? Sama Abi kan perginya." Tanya gadis kecil itu yang juga ikut sedih melihatku karena aku yang sedang menangis.

__ADS_1


Aku hanya menangis mendengar ucapannya. Aku mencium kedua pipinya lagi dan kali ini aku benar-benar pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.


__ADS_2