Dua Hati

Dua Hati
Bab 24 : Dua Adik Vs Dua Istri


__ADS_3

Pagi ini aku sudah berada di kediaman Gus Alvin. Yang membuatku kaget adalah Aira sudah menungguku dan langsung memelukku.


"Assalamu'alaikum Umma Nadia." Sapanya riang.


Aku yang tersentuh dengan sapaan riangnya membuatku membawanya dalam gendonganku. Mbak Anisa hanya tersenyum melihatku dan Aira.


Gus Alvin merangkul mbak Anisa dan melihatku yang sedang menggendong Aira.


"Makasih Umma Nadia Aila suka sama bajunya."


Ucapnya dengan suara cadelnya.


"Sama-sama sayang." Kataku gemas dan mencium pipinya.


Aku masuk ke rumah Gus Alvin dengan tetap menggendong Aira sedangkan Gus Alvin masih merangkul bahu mbak Anisa sampai mereka masuk ke dalam rumah. Sepertinya dia sedang rindu dengan istri pertamanya.


Aku sempat melirik Gus Alvin yang sedang mencium pipi mbak Anisa yang tembem dan mengelus perut mbak Anisa dengan sayang.


"Mas sama mbak Nadia belum sarapan kan? Saya sudah masak. Jadi ayo makan bersama. Saya sudah lapar." Keluh mbak Anisa dengan memegang perut buncitnya.


"Kenapa harus nunggu kami Anisa, kamu bisa makan duluan." Kata Gus Alvin dengan tatapan khawatirnya dan mengusap kepala mbak Anisa dengan penuh kelembutan.


Bisakah mereka tidak bermesraan di depanku. Membuatku kesal saja di pagi hari yang cerah ini.


Aku cemburu.


"Umma, Aila juga lapar. Aila mau disuapin sama Umma." Pinta Aila yang mampu membuatku teralihkan dari Gus Alvin dan mbak Anisa.

__ADS_1


"Dengan senang hati tuan putri." Ucapku senang dan berjalan ke arah meja makan. Makanan sudah tersedia semua di meja makan. Aku langsung duduk dan mengabaikan dua orang yang masih berada di ruang tamu.


Sesaat kemudian mereka datang dengan Gus Alvin duduk di tengah. Sedangkan Mbak Anisa duduk di seberangku.


"Aila, makan sama ummi yaa, umma Nadia mau makan juga."


Aku tahu maksud perkataan dia adalah mbak Anisa takut kalau Aira akan merepotkanku.


Seketika Aila memanyunkan bibir mungilnya. Tidak setuju dengan ucapan Umminya.


"Gak papa mbak, lagian saya tidak begitu lapar. Mbak makan ajah kasian bayinya ikut kelaparan juga." Kataku dengan tersenyum dan mencoba mengerti.


Mbak Anisa tersenyum mendengar ucapanku. Lalu akupun sibuk menyuapi Aira dengan melirik pasangan suami istri tersebut. Mereka saling berpandangan dengan saling melempar senyum dan dengan romantisnya mereka berdua berbicara seperti tidak ada aku.


Mbak Anisa mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Gus Alvin. Lalu setelahnya dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"Maaf yaa Anisa, besok Mas kan harus pergi ke rumah paman,  bibi serta keluarga besar lainnya untuk mengundang mereka ke acara haulnya Embah." Tolak Gus Alvin halus dan mengelus tangan mbak Anisa pelan.


Mbak Anisa tersenyum sungkan. "Oh iya yaa, Anisa lupa." Ucapnya dengan nada biasa saja tapi aku tahu mbak Anisa sedang kecewa.


Meskipun aku belum hamil, tapi aku tahu salah satu kebahagiaan seorang wanita adalah ketika suaminya menemani dan mendampingi mereka untuk pergi menemui dokter kandungan.


Contohnya saja Mbak Zahra, kakak iparku. Dia tidak mau cek kandungan sendirian tanpa ada Kak Naufal meskipun aku menawarkan diri untuk menemani dia tapi mbak Zahra tetap tidak mau. Dia mengatakan bahwa ditemani suami jauh lebih terasa bahagianya.


"Ke dokter Tasya kan? Saya kenal, atau kalau mbak Anisa mau saya saja besok yang nganterin." Kataku menimbrung percakapan mereka.


Yang langsung menjawab bukan Mbak Anisa atau Gus Alvin. Malah yang menjawab dan mengiyakan adalah Aira.

__ADS_1


"Iya Aila setuju dan juga Aila mau ikut." Kataya dengan mengangkat satu jari telunjuknya.


Kami tertawa mendengar ucapan Aira. Aku secara bersamaan dengan Gus Alvin mengacak rambut Aira gemas. Bahkan tangan kami bersentuhan. Tanganku yang berada di bawah tangannya Gus Alvin.


Gus Alvin dengan usilnya mencubit tanganku dan aku membalas cubitannya. Gus Alvin tertawa senang karena berhasil menjahiliku.


Aku melirik mbak Anisa ingin tahu reaksi dia. Dia sedang menunduk atau pura-pura tidak melihat. Ketika dia mengangkat kepalanya dia hanya tersenyum dengan senyuman yang menurutku dipaksakan.


Ayolah mbak Anisa sedang sakit hati melihatku yang bisa bergurau dengan Gus Alvin. Sedangkan mbak Anisa aku yakin dia belum pernah memukul atau mencubit Gus Alvin.


Dia wanita yang penuh dengan kelembutan. Berbeda dengan diriku yang sedikit kasar.


Aira duduk di samping Abinya. Aku memindahkan dia tadi. Karena dia mau duduk di dekat abinya.


"Iya ummi yaa?" Jangan ajak Aunty Naura." Sungut Aira. Mbak Anisa mengiyakan ucapan putri sulungnya dengan sebuah anggukan.


"Aunty?" Tanya Gus Alvin yang merasa asing dengan sebutan bibi untuk Naura.


"Iya Abi, Aunty Naura suruh manggil Aunty jangan Ndhe." Ndhe itu singkatan yang dibuat oleh Aira yang asal katanya bude.


"Itu pasti karena dia ngikut Zahwa manggil saya aunty jadi Naura juga pengen Aira manggil dia Aunty." Kataku berspekulasi.


Gus Alvin hanya manggut-manggut mengerti. "Naura suka sekali sama Mbak Nadia loh, sepertinya ngefans sama mbak." Ucap mbak Anisa.


Dan Shofi suka sekali sama mbak Anisa. Kalimat yang aku hanya simpan sendiri. Dua adik dari Gus Alvin mempunyai idolanya sendiri dari kedua istri kakak sulung mereka.


Posisinya juga sama. Adik pertama Gus Alvin yaitu Shofi menyukai istri pertama kakaknya, Mbak Anisa. Lalu adik keduanya, Naura menyukai istri kedua kakaknya yaitu aku.

__ADS_1


Kenapa bisa kebetulan seperti itu yaa..


__ADS_2