
Anisa Azizah
Satu bulan semenjak kepergian mbak Nadia. Aku merasakan perbedaan itu kembali. Kembali ke semula.
Aku tahu semuanya merasa kehilangan dan merasa bersalah kepada mbak Nadia. Kami bertemu perempuan baik, ceria yang membawa warna dalam keluarga pesantren ini tapi di waktu yang kurang tepat.
Tidak ada yang membahas mbak Nadia. Di acara syukuran tujuh bulanan kehamilanku. Semua seperti tidak mengenal mbak Nadia sama sekali. Menyebut namanya saja membuat keluarga pesantren ini di rundung nestapa.
Bagaiamana kabar mbak Nadia selama satu bulan.
Tidak ada kabar dari dia atau dari keluarganya.
Padahal dia sedang hamil juga. Hamil anak pertamanya. Apakah dia baik-baik saja dengan kehamilannya? Bagaimana dengan ngidamnya? Yang biasanya seorang suami yang harus menuruti rasa ngidam seorang istri.
Mas Alvin tetap seperti biasanya bahkan dia semakin perhatian padaku dan dia semakin manja padaku.
Tapi aku tahu jauh dari lubuk hatinya dia merindukan mbak Nadia. Tapi dia menyimpannya dan memendamnya seorang diri. Aku sangat tahu sifat suamiku. Karena aku begitu mengenal suamiku.
Aku tahu dia tidak bisa membalas rasa cintaku dengan kadar yang sama seperti apa yang ku berikan padanya.
Tapi aku sudah bersyukur dia bisa mencintaiku meskipun hanya seperempat dari hatinya.
Menurutku dia laki-laki terbaik yang pernah ketemui.
Meskipun dia mencintaiku hanya seperempat dari hatinya tidak masalah aku akan memberikan dia sepenuh hatiku padanya.
Dia tidak sempurna, tapi nyaris.
Dari segi wajah tidak perlu di ragukan lagi. Dia memiliki paras ketampanan khas orang Indonesia. Kulitnya tidak terlalu putih tapi dia tampan dan manis. Dia memiliki tinggi badan 175 cm. Berbeda denganku yang hanya 158 cm.
Kepintarannya? Ah jangan tanyakan lagi. Dia santri terbaik di angkatannya dulu. Seorang Gus yang sudah terkenal semenjak aku remaja.
Sifatnya? Dia santun dan berbudi luhur. Bahkan dia tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya padaku.
Dia memperlakukanku dengan sangat lembut. Dia tahu cara menghormati seorang wanita.
Bagaiamana aku tidak luluh dengannya? Siapa yang tidak jatuh hati dengan seorang pria yang seperti itu.
Tidak salah kan Aku terlalu mencintai suamiku.
__ADS_1
Aku melihatnya dari jauh. Dia sedang berbincang dengan Abiku dan abi mertuaku. Tersenyum padanya dari jauh. Merasakan hati yang berdegup kencang setiap dia tersenyum dengan manisnya padaku seperti hal nya saat ini.
Dia bahkan mendatangiku karena aku melihatnya begitu lama.
"Ada apa Anisa? Apa perutmu sakit?" Ucapnya yang meletakan tangannya di atas tanganku. Aku mengelus perut buncitku.
"Ah tidak apa-apa Mas. Hanya ingin menatap Mas saja." Kataku malu-malu. Setiap dia berlaku manis padaku aku sendiri yang salah tingkah. Meskipun usia pernikahan kami mau menginjak lima tahun. Aku masih bertingkah seperti pengantin baru yang selalu kikuk jika dia bersikap romanris dan memberikan sentuhan hangat.
Mas Alvin mengembangkan senyumannya dan mengecup keningku lama. "Mas masih mau berbincang dengan Abi yaa?" Izinnya dan kembali ke pada Abi mertuaku dan Abi kandungku.
❤❤❤
Waktu melahirkan anak pertamaku Aira, aku melahirkan di rumahku orang tuaku. Kali ini untuk kehamilan keduaku, aku juga akan melahirkan di rumahku sendiri. Aku sudah meminta izin untuk melahirkan di sana dan Mas Alvin memberi izin.
Dia selalu memberi izin jika aku melakukan apapun itu.
Termasuk pergi umrah tanpa dirinya. Aku pergi umrah hanya dengan keluargaku saja. Waktu itu Aira juga tidak ikut.
Karena dia tahu, aku tidak akan pergi kemanapun tanpa ada seseorang yang menemaniku.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku anak tengah.
Satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Kakakku sudah menikah dan adikku masih Tsanawiyah.
Baru ketika sudah masuk usia sembilan bulan aku berhenti mengajar untuk sementara.
Waktu aku mengajak Aira untuk ikut denganku ke rumah Embah Nyainya. Dia menggeleng. Dia masih mau bermain di sini.
"Aira masih mau main disini dulu ummi. Besok saja Aira ke rumah embah Nyai. Jangan lama-lama yaa cepat pulang sama adik bayi. Nanti kayak Umma Nadia, yang sampai sekarang gak pulang-pulang." Kata Aira yang mampu membuatku dan keluarga Mas Alvin terdiam.
Aku melirik pada Mas Alvin yang langsung tertunduk sedih mendengar ucapan Aira.
Iya sampai sekarang kami tidak memberi tahu kepada Aira. Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Dia akan menangis jika dia tahu ummanya tidak akan kembali lagi.
Aku hanya bilang pada Aira kalau Ummanya belum bisa pulang karena sedang sibuk. Sedang banyak acara.
Sedang banyak pekerjaan menghias pengantin jadi ummamya belum bisa menemui Aira.
"Sayang, berdoa saja yaa.. biar pekerjaan Umma Nadia cepat selesai. Biar bisa kembali lagi sama-sama kita." Kataku mengelus rambutnya dan mencium pipinya.
__ADS_1
Ada sedikit kepercayaan kalau mbak Nadia suatu saat nanti akan kembali lagi pada keluarga kami.
Semenjak mendengar ucapan Aira aku berdoa di setiap sholatku bermunajah pada-Nya agar kembalikan mbak Nadia pada kami. Satukan kembali Mas Alvin dan Mbak Nadia. Jadikan Mbak Nadia umma Aira yang bisa mengajari Aira mengaji seperti yang terjadi di mimpiku dulu.
Satukan kembali mereka di waktu yang tepat Ya Allah, pertemukan mereka kembali di tempat yang terbaik menurut-Mu. Di tempat yang sekiranya yang membuat mereka tidak akan berpisah lagi. Di tempat yang sekiranya membuat mereka berpikir bahwa mereka memang sudah di takdirkan untuk berjodoh.
Mas Alvin mengantarku pulang ketika sore menjelang maghrib. Dia bermalam satu malam ini. Besok pagi dia akan kembali lagi ke pesantren An-nur.
Dia akan kembali setelah dekat dengan perkiraan jadwal kelahiranku. Malam ini dia memelukku sangat erat sambil membaca buku.
"Mas. Mau nikah lagi gak?" Tanyaku iseng.
Dia nampak kaget. Menatapku tidak suka. Dia meletakan bukunya melepas pelukannya dariku. Apa dia marah?
"Bagaiamana bisa kamu bertanya seperti itu Anisa? Cukup sekali kamu menyuruhku menikah lagi Anisa.
Kali ini aku tidak akan menuruti permintaanmu. Istriku hanya kamu seorang tidak ada lagi." Ucapnya kesal.
Aku menjangkau tangannya. Menenangkan dia yang terlihat kesal. Melihatku kesusahan dia akhirnya mendekat dan memelukku. "Tolong jangan berkata seperti itu. Mari kita hidup berdua saja beserta anak-anak kita nantinya." Ujarnya seraya mengecup keningku.
Aku tidak menjawab hanya tersenyum di dalam pelukannya.
Malam semakin larut tapi mataku tidak kunjung mengantuk. Aku berinisiatif menulis sebuah pesan untuk suamiku dan untuk mbak Nadia kelak. Aku tidak tahu apa yang mendasariku untuk menulis kepada keduanya. Aku hanya mengikuti naluriku saja.
Menulis pesan penuh cinta kepada suamiku dengan memandanginya yang sedang tidur terlelap.
Teruntuk suamiku tercinta, Mas Alvin.
Kamu tahu Mas, aku menulis surat ini ketika kamu sudah tidur. Aku menulis ini sambil memandangi wajah tampanmu yang rupawan.
Mas.... seberapa rapat kamu menyembunyikan perasaanmu aku tahu, aku mengerti bahwa kamu merindukan mbak Nadia. Wanita pujaan hatimu.
Apa Anisa cemburu? Jawabannya iya. Dan itu lumrah loh Mas. Istri cemburu sama suaminya.
Tapi Anisa tahu kalau hati tidak bisa dipaksa. Anisa tahu, Ratu di hati Mas Alvin adalah mbak Nadia bukan Anisa. Tapi meskipun Mas lebih mencintai mbak Nadia dari pada Anisa Tidak apa, Anisa ikhlas. Mungkin sudah jalannya Anisa seperti ini.
Mas tahu, Anisa dulu pernah bermimpi mbak Nadia mengajari Aira mengaji. Jadi sebab itu Anisa membolehkan Mas menikah lagi dengan mbak Nadia.
Umur kan tidak ada yang tahu Mas, hanya Allah yang tahu. Jika seumpama Anisa lebih dulu yang meninggal dari pada Mas. Tolong menikahlah kembali pada mbak Nadia. Bujuk dia agar menjadi istri Mas lagi dan menjadi umma dari Aira lagi.
__ADS_1
Kalau mbak Nadia belum menikah lagi dengan laki-laki lain. Tapi Anisa yakin, Mas akan disatukan kembali dengan mbak Nadia. InsyaAllah.
Istrimu yang selalu mencintaimu. Anisa Azizah.