
3 tahun kemudian
Setiap mengingat hari kematian Anisa tepatnya yang sekarang sudah mencapai 1000 hari meninggalnya Anisa. Aku meminta pada umi dan abi mertua agar seribu hari meninggalnya istriku di adakan di rumahku.
Karena dari tahlilan hingga sampai satu tahun kematian istriku di adakan di kediaman mertuaku. Aku ingin yang ke seribunya di adakan di rumahku untungnya Abi dan ummi mertuaku menyetujuinya.
Selama tiga tahun itu aku hanya fokus pada perkembangan dua putriku, pesantren dan Nadia.
Aira baru masuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah lalu Anin berumur tiga tahun. Aira dia pintar seperti umminya tapi dia anak yang aktif dan suka berbaur. Kalau Anin dia gadis yang pemalu sama seperti umminya.
Ada banyak kejadian selama tiga tahun tersebut. Satu tahun pertama masih beradaptasi tanpa adanya Anisa.
Aku yang memandikan, menyuapi dan menidurkan Aira selama aku tidak sibuk dengan kegiatan dalam pondok atau di luar pondok. Jika aku aku kesulitan aku minta ummi atau salah satuĀ adik perempuanku.
Beruntungnya aku memiliki Aira dalam hidupku jadi aku merasa tdiak kesepian. Aku bahkan sangat tahu proses pertumbuhannya dari menenangkan Aira ketika giginya goyah dan berulang kali membujuknya agar mau dicabut.
Hingga akhirnya giginya copot sendiri dan dia tertawa sendiri karena berpikir dia akan mengalami kesakitan jika giginya di copot.
Sebulan sekali aku dan Aira datang ke kediaman mertuaku untuk menengok perkembangan Anin. Aku akan membawa serta ummi atau salah satu kedua adikku untuk menggendong Anin jika aku ingin membawanya pulang. Jika tidak cukup hanya aku dan Aira saja.
Ummi mertuaku juga selalu memberi tahuku jika Anin sedang sakit maka saat itu juga aku akan datang menghampiri putriku untuk menjenguknya. Ummi mertuaku juga memberitahu perkembangan putriku ketika dia sudah mulai miring, tengkurap, duduk, merangkak, berdiri dan akhirnya berjalan.
Meskipun aku tidak tahu langsung kejadian itu setidaknya ummi mertuaku mengirimkan video kepadaku.
Kini aku tahu, kenapa Anisa menginginkan putrinya di rawat oleh umminya karena dia ingin hubunganku dengan keluarganya tetap terjalin harmonis meskipun tanpa ada dirinya. Silaturrahim yang tetap terjaga dengan adanya Anin dan Aira.
Terkadang, beberapa saudara jauhku ketika sedang berkunjung mereka dengan nada gurau bahkan ada juga bernada serius dengan ucapannya menyuruhku untuk menikah lagi. Alasannya Anin dan Aira.
Anin dan Aira membutuhkan seorang ibu yang bisa menjaganya. Kasih sayang seorang ibu. Mereka bertanya apa aku akan selamanya menduda. Terbilang kalau aku masih muda belum genap tiga puluh lima tahun. Rata-rata bahkan mereka menjodohkan putri mereka sendiri untuk aku jadikan istri.
Aku tahu tahu ucapan mereka ada benarnya. Tapi aku hanya mencintai dia. Dia wanita yang menjadi umma dari anakku. Anakku yang tidak aku tahu berjenis kelamin apa.
Laki-laki kah? Atau perempuan kah?
Nadia terlanjur sakit hati padaku dan pada keluargaku sehingga dia memutuskan hubungan yang sekiranya bisa mengetahui kabar dirinya dan keluarganya.
Aku sudah mencarinya. Melalui Naura. Tapi Naura juga tidak berhubungan lagi dengan keponakan Nadia, Zahwa. Bahkan dengan Fina asistennya dia bilang kalau dia sudah berhenti dan menikah. Dia tidak tahu kabar Nadia lagi. Entahlah apa dia berkata jujur atau berkata bohong.
__ADS_1
Karena ini acara ke seribu harinya jadi aku mengadakan tahlilan akbar dengan seluruh santriku beserta keluarga besarku.
Semuanya sudah berkumpul di masjid pesantren.
Bagian perempuannya berada di lantai dua.
Sedangkan para lelaki berada di lantai satu.
Waktu acara berlangsung aku melihat Naura yang baru datang dari kampusnya. Bahkan dia tidak sempat mengganti pakaiannya. Dimana setiap ada acara kami memakai baju putih.
Dia sudah seorang mahasiswi yang baru masuk kuliah. Sedangkan Shofi dia melanjutkan S2 nya.
Naura berbisik kepada ummiku dan membuat respon ummi kaget. Ummiku kaget dan wajah ummiku tersenyum bahagia. Bibirnya mengucap syukur berkali-kali. Lega setelah mendengar ucapan Naura.
Mereka berdua kemudian menatapku bersamaan dari lantai dua. Mereka menatapku dengan perasaan haru.
Terlebih Naura yang memberi isyarat di tengah pembacaan dzikiran. Tapi ummi keburu menegurnya.
Naura dia adikku yang berjiwa bebas sama seperti Nadia dan Shofi dia seperti Anisa.
Ada apa gerangan sehingga membuat Naura seceria itu. Dia seperti tidak sabar untuk segera memberi tahuku.
Acara yang di adakan jam sepuluh pagi selesai sebelum waktunya sholat dhuhur. Lima belas menit sebelum adzan berkumandang.
Para santri dan undangan pun sholat dhuhur bersama karena memang acaranya sudah tertulis di undangan dan perempuan di anjurkan untuk membawa mukena. Jika sedang tidak berhalangan.
Yang menjadi imam sholat adalah Abi mertuaku.
Seorang Kiai yang terkenal akan tutur katanya yang selalu menyejukan hati.
Selepas sholat dhuhur acarapun selesai. Aku menyalami keluarga besarku yang hadir dan mengucapkan terima kasih atas doa yang di panjatkan untuk Anisa, almh. istriku.
Setelah tamu undangan dan keluarga besar pulang.
Aku segera masuk ke rumah Abiku dimana sudah ada keluarga istriku yang juga ikut duduk bersama.
Mereka semua menatapku. Naura yang melihatku berdiri menghampiriku menarik tanganku untuk duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Naura punya kabar sangat baik untuk Mas Alvin dan juga untuk kita semua." Kata Naura yang senyumannya tidak lepas dari bibirnya.
"Apa?" Tanyaku yang menjadi takut.
"Mas tahu kan tadi Naura baru pulang kuliah. Terus tadi di kampus Naura gak sengaja ketemu sama orang yang udah lama gak Naura ketemu. Dia sahabat Naura." Katanya yang bermain tebak-tebakan.
Aku berpikir sebentar, setahuku sahabat Naura hanya Zahwa seorang selebihnya Naura hanya menganggap teman saja.
"Zahwa?" Tebakku ragu.
"Iya bener banget. Naura tadi ketemu sama Zahwa Mas. Ya ampun Naura kangen banget sama Zahwa dan ternyata Zahwa juga kangen sama Naura dia juga kuliah di kampus yang sama dengan Naura hanya beda jurusan saja. Terus Naura sama Zahwa peluk-pelukan." Katanya histeris sendiri dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Naura... langsung ke intinya." Tegur ummi.
"Hee... iyya ummi." Ucapnya cengengesan. "Setelah Naura lepas kangen sama Zahwa. Naura coba tanya tentang mbak Nadia." Katanya takut-takut.
"Terus?" Tanyaku yang menjadi gugup ketika mendengar kabar Nadia.
"Alhamdulillah keluarga Zahwa baik-baik saja semuanya. Apalagi mbak Nadia, dia sekarang katanya tambah gemukan dan suka bawel karena Akhtar yang sekarang lagi aktif-aktifnya." Kata Naura dengan senyuman manis di bibirnya.
"Anakku laki-laki?" Tanyaku pada Naura dengan suara tercekat. Naura mengangguk dengan mata yang mulai menggenang.
"Iya Mas. Ponaanya Naura laki-laki. Naura sudah minta foto terbarunya mbak Nadia dan Akhtar." Ucapnya dengan mengambil handphonenya dan memberikan handphonenya padaku.
Di layar itu ada dua orang yang sangat ku rindukan.
Akhtar yang lebih muda dari Anin sedang duduk di atas meja tanpa ekspresi sedangkan Nadia duduk di belakangnya sedang tersenyum lebar.
Aku menggeser layar itu lagi. Ada foto Akhtar yang sedang tertawa lepas menampilkan gigi kecilnya. Jika dia tertawa seperti ini dia seperti ummanya, Nadia.
Nadia Mahira Hasan.
Aku mengelus foto anakku. Tak terasa air mataku jatuh pada layar handphone Naura. Aku merindukan putraku. Aku ingin memeluknya, menciumnya dan mendekapnya hangat.
Ya Allah, bagaimana kelak aku akan mempertanggung jawabkan tugasku seorang ayah . Seorang ayah yang baru tahu akan sosok anaknya.
Abi macam apa aku ini?
__ADS_1
Naura menyentuh pundakku. "Mas bisa ketemu mbak Nadia lagi. Kata Zahwa mbak Nadia akan umroh bulan depan. Dia umroh sendirian untuk menenangkan dirinya. Mbak Nadia juga belum menikah dia fokus dengan karirnya dan Akhtar. Naura yakin, mbak Nadia masih mencintai Mas. Jadi tolong susul mbak Nadia, Mas. Bawa mbak Nadia kesini lagi seperti wasiat mbak Anisa. Kita semua merindukan mbak Nadia dan kita semua ingin bertemu dengan Akhtar." Ucap Naura yang ternyata dia juga sedang menangis.