Dua Hati

Dua Hati
Bab 26 : Calon


__ADS_3

"Kalian hati-hati yaa." Kata Gus Alvin. Aira sudah masuk ke dalam mobil bersama satu santri putri yang selalu menjaga Aira.


Aku jadi mengantar mbak Anisa untuk cek up kandungan ke dokter Tasya. Gus Alvin mencium kening mbak Anisa lalu mencium kedua pipinya.


Dia lalu melihat padaku. Gus Alvin tersenyum. Bukan mencium keningku, dia malah mencubit hidungku gemas kemudian dia mencium keningku dan juga di pipi kananku. Di pipi kiriku dia memberikan sebuah cubitan lagi padaku.


Berbeda sekali perlakuan dia padaku dengan perlakuan Gus Alvin pada mbak Anisa. Gus Alvin tahu aku dan mbak Anisa berbeda. Jadi cara untuk menunjukan sayangnya pada kami juga berbeda.


Benar kata mbak Anisa dia suami idaman dan pengertian. Tidak salah mbak Anisa cinta banget sama Gus Alvin.


Kami janjian dengan dokter Tasya jam sembilan. Jam sembilan kurang sepuluh menit kami sudah sampai di rumah sakit.


Ketika sudah tiba waktunya kami masuk ke ruangannya dan dokter Tasya terkejut melihatku. "Loh Nadia, kenal sama Anisa?" Sapa dokter Tasya riang.


"Iya dok, dia kakak saya." Kataku spontan dengan melirik mbak Anisa. Dia juga tersenyum padaku.


Setelah berbasa-basi sebentar dokter Tasya lalu membawa mbak Anisa ke ranjang pasien mengecek kandungan dia. Aku menunggu mbak Anisa dengan Aira yang duduk di pangkuanku. Santri yang ikut kami, kami biarkan untuk menunggu di mobil saja.


Ada sebuah salam yang terdengar dari seorang pria yang mendorong kereta bayi dengan tiga bayi yang sedang sibuk dengan dunia mereka.


Mereka kembar tiga dan yang mendorong keretanya adalah ayah mereka. Mas Arkan


"Loh Nadia, kok ada di sini?" Sapa Mas Arkan. Aira yang melihat bayi yang sepertinya seumuran dengannya langsung turun dan menghampiri tiga bayi kembar tersebut.


"Iya Mas, ini lagi nemenin mbak." Kataku berdiri dan ikut berjongkok mencubit satu-persatu ketiga anak kembar mereka.


Aira sudah berbicara dengan bayi perempuannya.


Mbak Anisa sudah selesai di periksa. Ketika membuka tirai pembatas, dokter Tasya terpekik senang melihat suami dan ketiga anaknya yang menghampiri dirinya ketika sedang bekerja.


Aku kembali duduk menemani mbak Anisa membiarkan Aira bermain dengan ketiga anak dokter Tasya. Dokter Tasya mengatakan kalau bayi yang di kandung mbak Anisa baik-baik saja dan sehat.


Setelah menuliskan resep dan tips kami undur diri tapi masalahnya Aira yang sekarang tidak mau pulang. Dia ingin bermain dengan Kanasya putri satu-satunya dokter Tasya. Mereka hanya terpaut usia satu tahun.


"Umma, Aira mau main sama adik-adik kembar." Kata Aira yang mulai menangis.


"Iya nanti main lagi. Kita pulang dulu yaa." Kataku yang kerepotan menggendong Aira. Tidak mungkin aku membiarkan mbak Anisa yang menggendong Aira.


Takutnya kakinya mbak Anisa malah semakin bengkak.


Dua anak laki-laki dokter Tasya hanya melihat saja.


Sedangkan Kanasya melambaikan tangannya dengan tersenyum  bersiap untuk berpisah.


"Dadah." Ucapnya gemas.


Melihat betapa gemas dan cantiknya Kanasya membuatku ingin punya anak juga. Aku ingin sekali anak pertamaku seorang bayi perempuan.


Aira semakin menangis mendengar ucapan perpisahan dari Kanasya. Kami berdua akhirnya bisa membujuk Aira untuk berhenti menangis dengan mengatakan kami akan mengajaknya ke wahana permainan di salah satu Mall yang sering aku datangi ketika aku menemani ke tiga keponakanku.


Dulu sebelum aku menikah aku sudah terlatih dari SMP bagaimana mengasuh seorang bayi dan anak kecil karena ulah kakakku yang sering menitipkan anaknya padaku.


Sejak saat itu aku menjadi babysitter dari ketiga keponakanku.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Kami sedang memerhatikan Aira yang sedang bermain dengan anak laki-laki. Anak laki-laki yang selalu menjaga Aira dengan baik. Sudah kecil anak kecil itu sudah tahu kodratnya yaitu menjaga dan melindungi seorang perempuan.


"Sweet sekali yaa mbak." Kataku terharu melihat Aira yang di jaga dengan baik oleh anak laki-laki itu. Dia menuntun Aira untuk bisa naik ke tangga perosotan  kemudian Aira meluncur dan tenggelam di kolam bola.


"Tapi tunggu, orang tua dari anak laki-laki itu dimana ya mbak?" Kataku heran. Dari tadi waktu aku datang. Anak laki-laki itu sudah ada dan tidak ada orang tuanya yang sedang mendampinginya.


"Dia keponakan saya." Ucap seseorang bersuara dingin dan aku kenal. Dia berdiri tempat di sampingku.


Melihatku dengan tersenyum sedangkan aku mengkerutkan alisku.


Kenapa aku harus bertemu dengannya?


"Hai... Nadia." Sapa Ibram dengan satu tarikan di sudut bibirnya.


"Siapa mbak?" Tanya mbak Anisa di sampingku.


"Hmmm dia Ibram. Teman saya, dia seorang fotografer." Kataku kikuk.


Mbak Anisa menangkupkan tangannya di depan dadanya. Sedangkan Ibram menatap pada  mbak Anisa lalu menatapku. Dia seperti menebak aku punya hubungan apa dengan mbak Anisa.


Dia lalu tersenyum sendiri dan mengangguk seolah sedang mengerti suatu hal.


"Salam kenal, saya Ibram. Calon Nadia." Katanya yakin membuatku membulatkan kedua mataku dengan sempurna.


Apa yang sedang ada di otaknya dia sekarang?


"Calon maksudnya?" Tanya mbak Anisa.


"Calon besan." Sambungnya dengan senyuman menyebalkannya.


"Besan?" Tanyaku dan mbak Anisa terkejut. Aku tidak mengerti. Apa yang sedang ada di pikiran Ibram saat ini. Apa dia sengaja menggangguku di depan mbak Anisa.


Ibram tidak menjawab dia hanya melihat pada Aira dan keponakan laki-lakinya yang sedang bermain bersama. Aku dan mbak Anisa langsung mengerti maksud dari ucapan Ibram.


"Jangan berlebihan Ibram." Kataku menekannya.


"Anrez. Ayo pulang." Panggil Ibram kepada keponakannya. Kedua anak kecil tersebut sama-sama menoleh.


Aira juga berjalan menghampiri kami. Aira memintaku untuk menggendongnya. Akupun menuruti kemauan Aira. Aku merasa Ibram sedang memerhatikan gerak gerikku.


Dia menatapku dengan tanpa senyumannya. Wajahnya begitu datar.


"Om Ibram, Anrez lapar." Katanya yang membuat Ibram tidak lagi menatapku.


"Umma Aira juga lapar." Ucap Aira meniru ucapan Anrez.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Usul Ibram.


Itu adalah ide yang buruk.


Padahal aku ingin sekali pergi darinya. Tapi aku tidak mau langsung menolaknya itu hanya akan membuat mbak Anisa curiga. Entahlah sejak Ibram mengatakan kata Calon perasaanku sudah tidak enak lagi.

__ADS_1


Bagaimana jika selama makan siang bersama dia berkata yang tidak-tidak lagi.


"Iya ayo." Kata Aira senang.


"Gimana mbak?" Kataku meminta persetujuan mbak Anisa.


"Kita turuti kemauan Aira saja yaa." Ucap Mbak Anisa dengan mengelus rambut Aira lembut.


Oh tidak, kenapa situasi ini semakin tidak membuatku nyaman.


"Aku tidak tahu, kamu bisa sedekat itu dengan istri pertama suamimu dan anak suamimu dari istri pertamanya." Ucap Ibram yang berjalan di sampingku.


Dia tidak lupa untuk menekan kata istri pertama dari ucapannya.


Dia sedang menyindirku atau bagaimana?


Aku harap mbak Anisa tidak mendengar apa yang di ucapkannya padaku. Jarakku dengan Mbak Anisa hanya berapa puluh cm saja. Dia berjalan di depanku.


Dia sedang menuntun Aira berjalan. Anrez yang memimpin di depan. Santri yang ikut dengan kami dia berjalan di sisi kiri Aira.


Aku tidak mengubris ucapan Ibram. Aku terus berjalan dan menyusul mbak Anisa. Tapi Ibram juga mempercepat langkahnya. Aku kira dia akan berdiri di sampingku lagi tapi nyatanya dia berjalan menyusul Anrez yang berjalan paling depan.


"Tunggu dulu, kamu menjadi pemimpin jalan tapi tidak mau makan dimana?" Tebak Ibram yang di jawab dengan sebuah cengiran dari Anrez.


"Nadia, kita mau makan dimana?" Tanya Ibram langsung padaku.


Kenapa dia hanya bertanya padaku seorang.


Seharusnya  dia menggunakam kata kita sudah cukup tanpa menyebut namaku.


Kalau dia dengan spesifik menyebut namaku itu berarti dia hanya igin makan denganku saja bukan?


Padahal di sini ada Mbak Anisa  dan juga Alma, nama santri yang ikut dengan kami. Mereka harus ditanya juga mau makan apa.


"Mbak Anisa pengen makan apa?" Aku tidak mau memutuskan sepihak karena ini makan bersama jadi aku tidak mau menentukan sendiri. Lagian aku sudah tidak berselera yang mau makan.


"Kalau restoran indo tidak apa-apa?" Tanya mbak Anisa pada Ibram.


"Ok setuju." Ucap Ibram.


Aku menghela napasku resah. Sepertinya ini tidak akan baik.


Ibram membiarkan mbak Anisa yang mencari sendiri restoran yang dia ingin kunjungi.


Ibram kembali mendekatiku. Aku harap mbak Anisa dan Alma tidak mencurigaiku. Meskipun aku tahu aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Hanya saja aku merasa tidak nyaman.


Statusku yang sebagai istri dari Gus Alvin yang memiliki santri banyak dan sudah memiliki alumni yang tersebar dimana-mana pasti tahu sedikit banyak tentangku. Atau mungkin saja secara tidak sengaja aku bertemu dengan orang tua santri nantinya dan mereka akan menilai yang tidak-tidak tentangku jika aku berbicara terlalu lama dengan Ibram.


Aku harus menjaga sikap dan mawas diri terlebih kepada lawan jenis. Meskipun sekarang ada mbak Anisa yang menemani tapi tetap saja. Aku harus jaga jarak dengan Ibram.


"Aku tidak menyangka hatimu setegar itu Nadia." Ucapnya yang berbicara santai padaku.


Aku berhenti melangkahkan kakiku menatap pada matanya. Memberikan sebuah ketegasan dalam tatapanku. "Berhenti menilai saya dari luarnya saja. Anda tidak tahu saya dan berulang kali saya bilang, saya sudah menikah tolong anda tahu batasan. Saya tahu saya istri kedua dan ini sudah pilihan saya. Saya tahu resikonya. Saya yang akan menanggungnya sendiri. Saya harap anda juga bisa menjaga sikap dan tutur kata anda pada saya." Kataku sopan dan berbicara seformal mungkin dan meninggal Ibram sendirian.

__ADS_1


Ya Allah kuatkan hamba. Sekuat apapun godaan yang menimpa saya nantinya semoga saya bisa melaluinya.


__ADS_2