Dua Hati

Dua Hati
Bab 30 : Cemburunya Gus Alvin


__ADS_3

Gus Alvin meminta Alma untuk menemani Aira sebentar. Fina aku minta juga agar dia bersama Alma saja. Biar ada teman mengobrol.


Aku dan mbak Anisa duduk berdampingan. Kalian tahu, kami seperti dua orang yang diduga melakukan sebuah kesalahan yang kami sendiripun tidak tahu apa dan dimana letak kesalahan kami.


"Saya mulai dari Anisa." Kata Gus Alvin membuka suara. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa. Ini apa sih yang dipermasalahkan. Kenapa Gus Alvin sampai bertingkah seperti itu.


Dia seperti bapak hakim di sebuah persidangan.


Aku tahu, mbak Anisa dia juga sedang menahan senyumannya.


"Anisa, sejak kapan kamu kenal sama Ibram?"


Tanyanya dengan suara yang masih pelan dan lembut.


"Sejak hari Senin jam 11 siang disebuah Mall di tempat bermain anak-anak." Jawab mbak Anisa detil sekali.


Aku sampai menengok ke mbak Anisa karena takjub dengan jawaban detil dan jujur mbak Anisa. Aku saja tidak ingat itu hari apa dan jam berapa. Pantas saja dia seorang hafidhah. Dia pasti mempunyai daya ingat yang kuat.


"Kamu sampai ingat sedetil itu yaa?" Kata Gus Alvin yang terisirat dari pertanyaannya penuh dengan sindiran halus.


Mari kita mulai pertengkaran suami istri ini yang penyebab awalnya memang dari pihak suami.


Biasanya, masalah kecil dibesar-besarkan terjadi pada pihak perempuan atau pihak istri. Tapi untuk Gus Alvin dia berbeda.


"Iya kenapa Mas?" Tanya mbak Anisa dengan wajah tidak berdosanya.


Mbak Anisa polos sekali sih. Aku ingin mengatakan padanya kalau Gus Alvin sedang cemburu. Aku hendak mencolek mbak Anisa tapi aku urungkan karena aku mendapat teguran dan sebuah peringatan dari Gus Alvin.


"Jangan colek-colek Nadia. Kamu saya juga bakalan intograsi." Ucap Gus Alvin dengan lirikan mematikannya.

__ADS_1


Aku hanya cemberut mendengar Gus mengatakan itu. "Semangat mbak Anisa." Bisikku.


Mbak Anisa mengangguk dengan antusias dan memberikan jempolnya padaku.


Gus Alvin membuang napasnya lelah dan sedikit mengangkat wajahnya melihat padaku dan mbak Anisa yang mana kami tidak peduli jika saat ini Gus Alvin emosinya sedang tidak baik.


Kalau ada orang yang marah jangan menjadi orang terpancing amarah juga. Kalau Gus Alvin jadi api kalau begitu saya dan mbak Anisa yang jadi airnya begitu juga sebaliknya.


"Jawab Anisa." Kata Gus Alvin mengingatkan pertanyaannya yang dia ajukan kepada mbak Anisa.


"Iya saya ingat soalnya hari itu saya baru selesai cek up kandungan. Itu loh Mas yang gak bisa anterin saya jadi mbak Nadia yang baik hati ini yang menemani saya." Sindirnya dengan tetap tersenyum.


Aku tidak tahu kalau mbak Anisa pintar menyindir juga.


Mbak Anisa kembali melanjutkan kalimatnya. "Iya Anisa tahu, Mas lagi sibuk waktu itu jadi gak bisa anterin Anisa." Sepertinya mbak Anisa menyesal karena sudah menyindir suaminya.


Kali ini malah Gus Alvin yang terdiam.


Mas Ibram itu suka tanya-tanya tentang agama Mas, jadi saya suka sharing dengan Mas Ibram."


"Suka?" Tanya Gus Alvin dengan wajah menahan cemburunya.


"Maksudnya senang." Mbak Anisa meralat ucapannya.


Kenapa situasi ini tidak ada tegang-tegangnya sama sekali yang ada malah membuatku ingin tertawa.


"Sudahlah lupakan." Ucap Gus Alvin lelah. Lalu pandangan dia tertuju padaku.


"Sebelumnya kamu sudah janjian sama Ibram."

__ADS_1


Menurutku itu bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah tuduhan.


"Enggak." Tolakku tegas. "Mbak Anisa kan sudah bilang kami itu tidak sengaja bertemu Ibram. Kalau gak percaya tanya saja sama Alma. Ya mbak?" Tanyaku pada Mbak Anisa meminta persetujuannya. Mbak Anisa menganggukan kepalanya. Manut-manut saja mbak Anisa. Lucu.


"Lagian Gus jangan fitnah saya yaa... yang katanya sudah janjian sama Ibram buat ketemuan." Sungutku kesal.


"Saya tidak memfitnah Nadia, saya bertanya." Kilah Gus Alvin. Sepertinya dia mulai lelah menghadapi kami berdua sekaligus.


Aku melihat pada Gus Alvin yang kini wajahnya benar-benar kusam. Kusam menghadapi kedua istrinya sekaligus.


"Sebuah pertanyaan diawali dengan 5W+1H. Sedangkan dari ucapan Gus tadi tidak ada unsur yang mengandung dari 5W+1H." Kataku yang bertingkah layaknya orang yang memiliki otak pintar.


Jangan pernah berdebat dengan seorang wanita, yang mana wanita itu juga seorang istri dan juga seorang ibu. Pasti para suami akan kalah berdebat. Terlebih si suami punya dua istri. Satu istri saja kalah debat apalagi dengan dua istri.


Gus Alvin mengusap wajahnya dengan gusar bahkan dia sampai membuka kopiah putihnya. Lagi-lagi kami hanya bisa menahan tawa kami.


"Kenapa kalian kompak sekali?" Tanya Gus Alvin dengan memicingkan kedua matanya.


"Karena kami memang tidak bersalah." Kataku dan mbak Anisa kembali kompak.


"Yasudahlah, terserah kalian." Ucapnya yang kemudian berdiri memakai kopiahnya kembali. Bertepatan dengan itu Gus Alvin hampir menabrak Amir.


"Maaf Gus, Lamaran pihak prianya sudah datang." Lapor Amir.


"Iya saya sudah tahu." Ucapnya judes kepada Amir. Gus Alvin melihat kami berdua lagi.


"Awas kalian di rumah." Ancamnya.


Selepas Gus Alvin pergi tentu saja kami tertawa dengan sepuas hati. Mengeluarkan tawa kami begitu lepasnya yang sudah kami tahan dari tadi.

__ADS_1


Dasar suami cemburuan. Sudah istrinya dua masih saja takut di ambil orang.


__ADS_2