Dua Hati

Dua Hati
Bab 19 : Pernyataan 2


__ADS_3

"Fina kamu yang nyetir yaa." Pintaku.


Pukul sebelas acara sudah selesai. Kami segera pulang dan bisa lekas istirahat. Aku mau membuka pintu mobilku tapi dihadang oleh sebuah tangan.


Tangan dari seseorang yang tadi menyatakan perasaannya padaku.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Saya ingin bicara sebentar. Lima menit." Ucapnya.


Dia kemudian merendahkan kepalanya berbicara pada Fina yang sudah ada di dalam mobil.


"Fina boleh keluar sebentar." Pinta Ibram. Apa dia tahu, kalau aku tidak mau berbicara dengannya tanpa ada orang ketiga di antara kami.


Fina keluar dan berjalan menghampiriku. "Maaf jika perkataan saya menyakitimu." Ucap Ibram. Dia menatapku tepat pada mataku. Dia pasti tahu kalau aku baru selesai menangis. Dia mungkin merasa bersalah padaku.


"Di maaf kan. Hanya itu?" Kataku cuek. Aku benar-benar memaafkannya. Ibram adalah satu dari sekian orang yang mengutarakan pendapatnya tentang pernikahanku.


Entah itu cibiran, tidak menyangka, terkejut, tidak percaya dan bagaimana bisa.


"Saya menyukaimu Nadia, sejak pertama kali saya bertemu denganmu dua tahun yang lalu. Sejak saat itu saya mulai mencari tahu tentangmu. Saya sakit hati dan kecewa ketika tahu kalau kamu sudah ada yang punya. Waktu itu kamu masih bersama mantan tunanganmu. Beberapa bulan kemudian saya mendengar tunanganmu meninggal dan beberapa minggu yang lalu saya mendengar kamu menikah. Tapi, saya lebih sakit hati lagi bahkan membuat saya marah, benci dan kesal karena kamu menikah hanya untuk di jadikan istri kedua. Nadia, Kamu tidak pantas menjadi yang kedua. "


Aku melihat pada jam tanganku tersisa dua menit lagi.

__ADS_1


Ibram melanjutkan kalimatnya. "Jika kamu bahagia dengan pernikahanmu saya bersyukur akan hal itu. Tapi percaya lah Nadia, kebahagianmu tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang akan kamu terima nantinya."


Aku menatap tepat pada matanya. Kenapa pria ini merasa dirinya sangat tahu tentangku.


"Apa kamu bisa melihat masa depan?" Sindirku.


Ibram menatapku dengan senyuman dan tatapan sendunya. "Saya tahu Nadia, jauh dari hati kecilmu. Kamu tidak mau menjadi yang kedua. Semua wanita tidak mau menjadi yang kedua atau di duakan. Semua wanita ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya. Saya ingin tahu, sampai mana batas kesabaranmu. Jika kamu sudah tidak bisa menahannya lagi. Saya yang akan mewujudkan impianmu untuk menjadi Ratu tidak untuk menjadi Selir."


Dia lalu melihat pada jam tangannya sendiri. "Pas lima menit. Semoga kamu mengerti dengan apa yang saya katakan." Ucapnya dan berlalu pergi. Meninggalkan diriku yang mematung seketika.


"Wah, saya tidak menyangka Mas Ibram bisa segila itu. Bisa-bisanya dia ingin merebut istri orang." Ucap Fina kaget yang tidak menduga pria yang dikaguminya memiliki kegilaan yang akut.


Mungkin jika aku menikah dan posisiku tidak sebagai istri kedua. Ibram akan mengikhlaskanku kembali sama dengan ketika dia tahu aku dulu bersama Mas Faris. Merelakan aku hidup bahagia dengan orang lain.


Tapi, ketika gadis yang dia cintai dan dia ikhlaskan malah di sakiti oleh pria lain dengan cara menjadikannya istri keduanya, tentu saja dia akan marah dan tidak terima.


Fina menatapku tegas. "Mbak, jangan dengarkan Mas Ibram. Secara tidak langsung dia menginginkan pernikahan mbak Nadia hancur dengan Gus Alvin." Ucap Fina menyentuh pundakku.


Fina berdiri di depanku. Menggemgam tanganku erat.


"Saya tahu pasti sangat berat menjadi yang kedua, menjadi pihak yang selalu mengalah. Tapi saya yakin Gus Alvin adalah orang yang baik. Dia pasti bisa berlaku adil. Saya bisa lihat Gus Alvin mencintai mbak dengan sepenuh hatinya. Meskipun secara status mbak sebagai selir. Tapi saya yakin. Mbak Nadia adalah Ratu di hati Gus Alvin."


Aku tidak berkomentar apapun dengan ucapan panjang Fina. Aku terlalu pusing untuk berbicara. Hanya air mataku yang jatuh begitu saja.

__ADS_1


Fina tidak berkata apalagi. Dia menatapku iba, menghapus air mataku dan memelukku lembut.


🍁🍁🍁


Aku tiba di rumahku waktu adzan untuk sholat Jum'at yang kedua kalinya. Itu berarti ayahku sudah ada di masjid. Fina langsung pulang ke rumahnya dengan motornya.


Aku meminta Fina untuk tidak menghubungiku sampai nanti malam. Aku juga menon-aktifkan handphoneku.


Aku ingin sendiri dan menyendiri untuk saat ini.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang membuatku sangat nyaman sekali. Melepas lelah dan penat. Menatap dinding kamarku dalam diam.


Aku ingin tidur sebentar saja.


Terlebih nanti sore aku akan pergi ziarah dengan keluargaku ke makam ibuku. Setidaknya moodku akan kembali baik lagi setelah bangun tidur nanti.


Gus Alvin memintaku untuk menghubunginya kembali jika aku sudah sampai di rumah. Tapi aku mengabaikannya. Jika Gus Alvin mencariku biarlah dia bertanya pada Fina atau Ayah. Atau mungkin dia tidak akan mencariku.


Aku teringat kembali akan kata-kata Ibram. Dia benar, sampai kapan aku akan mempertahankan posisiku ini?


Yang aku tahu poligami tidak bisa bertahan lama.


Kebanyakan istri kedua akan di ceraikan oleh suaminya.

__ADS_1


Apakah suatu saat nanti Gus Alvin akan menceraikanku? Atau aku sendiri yang ingin berpisah dengannya.


Membayangkannya saja aku sudah sakit hati. Aku sudah mencintai dia. Akankah kami tetap bisa hidup bersama atau kami akan menjalani hidup kami masing-masing pada akhirnya. Aku kembali menangis. Menangis dalam diam hingga mataku terkantuk dan terlelap.


__ADS_2