
Awan-awan mendung tampak di antara sinar matahari siang ini di penghujung November. Awan-awan yang datang seolah membohongi orang-orang di kota ini. Walau pun mereka terlihat hitam, tetapi hujan belum tentu turun.
Gue terbangun dengan kepala yang berat dan mata yang sangat pedih. Perlu waktu beberapa menit untuk bisa bangun dalam keadaan sadar tidak sadar. Waktu sudah menunjukan pukul satu siang saat gue melihat jam tangan gue. Suasana kosan sepi dan hampir-hampir seperti tidak ada kehidupan di luar sana.
Rasa lapar pun datang menghampiri perut gue yang sedari kemarin sore tidak gue isi dengan makanan berat. Hanya makanan ringan saja yang gue makan sembari mengerjakan pekerjaan semalaman. Hanya menyisir rambut dan menyemprotkan minyak wangi pada tubuh ini, gue pun keluar mencari makanan untuk gue isikan pada perut ini.
Kamar-kamar lain seperti tidak memiliki kehidupan sedari kemarin. Kamar para wanita itu pun tertutup rapat. Tak ada satu pun motor yang terparkir. Gue tidak terlalu memperdulikannya.
Gue sejenak berdiri di depan gerbang kosan ini. Gue berpikir untuk mengambil ke arah kiri menuju jalan besar dan membeli makanan di restoran pinggir jalan, atau gue ambil ke arah kanan menuju area perumahan yang mungkin ada tukang bakso atau bubur sekali pun. Setelah cukup lama, gue mengambil arah kanan sembari mencari tahu keadaan daerah sini.
Jalan di sini cukup sepi, hanya ada satu dua motor yang melewati gue. Anak-anak yang sering bermain pun sepertinya sedang bersekolah. Hanya satu dua orang penghuni rumah yang berderet di sisi kiri dan kanan jalan ini yang gue lihat. Tapi ada sesuatu hal yang aneh. Semua penghuni rumah yang ada di sisi kiri gue ini, tersenyum dan bahkan tertawa kecil melihat gue. Sedangkan penghuni rumah sebelah kanan, cuek-cuek saja. Apakah penghuni rumah sebelah kiri lebih ramah? Pikir gue bertanya. Tapi gue tidak memperdulikannya.
Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter, gue menemukan seorang tukang bakso yang gue lihat berada di ujung pertigaan sana. Ah, syukurlah gue bisa menemukan makanan untuk gue makan siang ini. Gue pun dengan semangat menambah kecepatan berjalan ini.
Dua orang bapak-bapak tengah menikmati semangkok baksonya. Mereka pun tersenyum dan tertawa kecil saat melihat gue. Heran, tadi pagi perasaan gue udah mandi, sekarang pun paling mata gue doang yang hitam. Ah, bodo amat, pikir gue tak acuh.
“Bang, bakso semangkok makan di sini, ya!” seru gue pada tukang bakso yang tengah berjongkok mencuci mangkok.
“Iya, Dek, tunggu sebentar, ya,” ucapnya sambil membalikan badan melihat gue.
Dan abang tukang bakso itu pun melakukan hal yang sama, tersenyum bahkan tertawa yang sudah bisa gue dengar cukup jelas. Semua rasa penasaran gue harus terjawab sama tukang bakso ini.
“Bang, boleh tanya enggak?” tanya gue sambil berdiri di dekatnya yang tengah membuat semangkok bakso.
“Tanya apa, Dek?” jawabnya sambil menahan tawa.
“Saya kan dari sana ke sini jalan, orang-orang yang di rumah sebelah kiri pada senyum sama saya, tapi yang kanan enggak. Terus dua bapak-bapak itu yang lagi makan bakso,” ucap gue sambil menunjuk, “Juga senyum lihat saya. Abang juga kan sampai ketawa gitu. Emang ada yang salah sama saya, Bang?”
Dengan gesture yang malu-malu, abang tukang bakso itu lalu menunjuk cermin kecil di atas pintu lemari gerobaknya sambil berucap, “Lihat sendiri aja, Dek, di cermin ini.”
“Anjir!!!” Gue teriak cukup kencang karena kaget dengan apa yang gue lihat. Sontak tiga orang yang ada di dekat gue tertawa kencang dan begitu lepasnya.
“Makanya, Dek, kalau habis pacaran dibersihin dulu itu bekasnya,” ucap salah satu bapak-bapak yang tengah duduk itu.
“Saya dijailin ini ma, Pak, saya baru bangun tidur,” jawab gue.
“Yaudah nih lap aja pake serbet,” tawar abang tukang bakso sambil menyodorkan serbet yang hitam penuh jelaga.
“Sialan lu, Bang, masa saya dikasih serbet bekas ngelap pantat panci, mana item gini lagi,” ujar gue sedikit kesal.
“Ya, mana ada tisu di sini, tuh kalau mau beli tisu di warung itu aja.” Sebuah warung yang tidak jauh ditunjuk olehnya.
“Biar gue hapus pake tangan aja, Bang.” Tangan gue terus menggosok pipi gue yang tergambar bekas ciuman bibir dengan lipstik berwarna merah. “Bungkus aja, Bang, baksonya, bikin dua bungkus, ya.”
Gue pun terpaksa harus makan di kosan karena bekas bibir di pipi gue. Sebenarnya gue sedikit malas makan di kosan, karena akan membuat kotor karpet baru gue, tapi dari pada muka gue tambah merah dan tambah malu.
__ADS_1
Bakso yang gue pesan pun akhirnya selesai dibuatkan, gue membayar dan segera pergi dari tempat sialan itu. Gue berikrar dalam hati untuk tidak pernah belok ke arah kanan lagi dari kosan. Mending gue ke jalan gede daripada di ketawain sama orang satu RT.
Gue berjalan menuju kosan dengan wajah tertunduk dan tetap menggosok-gosokan pipi gue yang sebelah kiri ini. Mungkin sekarang warna pipi gue berubah merah acak-acakan karena dari tadi gue gosok asal. Andai gue bayar kos buat sebulan, udah cari kosan yang baru deh.
Akhirnya, gue sampai di kamar kos gue dengan selamat walau sedikit malu. Gue segera membersihkan sisa lipstik yang membekas hingga benar-benar hilang dengan air. Cukup sulit untuk menghapusnya karena mungkin lipstik ini sudah ada dari tadi pagi.
Setelah beberapa lama, gue berhasil menghapus bekas lipstik itu. Gue sudah menduga siapa yang melakukan hal ini dan gue mau membuat perhitungan sama itu cewek. Sial udah bikin gue malu sebagai orang baru di sini. Eh, tapi sebentar. Kalau gue langsung labrak, mungkin strateginya berhasil supaya dia bisa kenalan sama gue. Kalau begitu, mending gue jutekin aja tuh cewek. Daripada mikirin hal yang tidak penting, gue pun menikmati sebungkus bakso yang sudah gue beli dan sebungkus lagi untuk nanti malam.
Sambil membuka laptop, gue membuka akun gue di website perusahaan untuk mencari pekerjaan baru yang siap gue kerjakan. Walau gue kerja mobile, tetapi gue selalu menyempatkan diri untuk datang ke kantor setiap akhir bulan. Tentunya untuk mengambil bonus gue sebagai karyawan lepas. Gue belum tahu kapan akan pergi ke sana, karena bulan ini tinggal tersisa tiga hari lagi. Jika awal bulan ke sana, bonus gue sudah dianggap hangus. Aneh banget deh perusahaan gue ini.
Jam yang berada di kanan bawah layar laptop gue sudah menunjukan pukul 18:57 saat ini. Suara motor yang masuk ke kosan ini sejak pukul 17:00 tadi gue hitung mencapai 10 motor. Berarti rata-rata satu kamar diisi satu orang dan dua kamar diisi dua orang, dan wanita-wanita itu salah satunya.
Gue tengah mengerjakan kerjaan design yang gue ambil tadi siang selepas menghabiskan sebungkus bakso. Perkerjaan gue baru beres sekitar enam puluh lima persen dan deadline hingga besok jam satu siang. Sudah bisa sedikit santai gue untuk saat ini.
Musik Inggris lawas gue putar untuk sejenak gue rehatkan tubuh ini dan memakan sebungkus bakso yang sudah mendingin. Hawa dingin malam ini sudah masuk melalui jendela yang gue buka cukup lebar. Mungkin sebentar lagi gue tutup karena takut ada nyamuk yang masuk ke kamar ini.
Suasana santai sambil menikmati makanan merupakan keadaan terindah yang selalu gue nikmati dalam hidup ini. Menghayal akan hal yang aneh pun sesekali mampir di pikiran gue.
“Tok... tok... tok....” Suara pintu kamar gue diketuk pelan oleh seseorang.
“Siapa?!” teriak gue dari dalam.
“Aku yang tadi pagi mampir ke sini,” suara wanita menjawab.
Pasti cewek yang bikin sial yang ada di balik pintu itu. Gue ingin menolaknya dan tidak membiarkannya masuk. “Enggak ada orang di dalam!” ucapku asal.
“Operator!” jawab gue asal.
Pintu gue pun terbuka sendirinya dan muncul sosok wanita dengan pakaian seperti tadi pagi. Sial, pintu itu belum gue kunci dari tadi. Wanita itu pun masuk membawa kresek hitam dan duduk dihadapan gue sambil tersenyum aneh.
“Mau ngapain?” ucap gue ketus.
“Ini, mau ngasih makanan ucapan terima kasih aja karena udah dibolehin mandi tadi pagi,” ucapnya sambil menyodorkan kresek itu.
“Simpen aja, gue lagi makan bakso enggak liat apa?”
“Ih, lu kok ketus banget, sih, sama cewek?” ucapnya dengan ekpresi gemas.
“Lagian lu ngapain ngasih makanan, bukannya udah nyium gue tadi pagi?” ucap gue meledeknya.
“Eh, hehe, gue mau ngucapin terima kasih tapi lu-nya udah tidur, yaudah gue cium aja,” ucapnya sambil menyidik ke arah pipi kiri gue.
“Gara-gara lu gue jadi malu tau, bangun tidur gue keluar cari makan diketawain sama orang-orang di jalan, taunya di pipi gue ada bekas bibir dari cewek kampret,” ucap gue sedikit kesal.
“Ya, salah lu sendirilah, kagak cuci muka dulu, bangun tidur main nyelonong aja.”
__ADS_1
“Terus lu mau ngapain lagi di situ, temen lu si Gina sendirian tuh di kamarnya.” Gue mencoba untuk mengusirnya.
“Ya, ngobrol aja kek kaya gini. Eh, lu kok tau nama temen gue Gina?” tanyanya penasaran.
“Bukannya tadi pagi lu teriak namanya di depan kamar mandi sana?”
“Oh, iya, ya. Gue lupa soalnya tiap pagi kaya gitu,” jawabnya seperti tanpa dosa.
Tiap pagi? Dia bilang tiap pagi? Jangan-jangan dia datang ke kamar gue cuma buat usaha biar bisa pake kamar mandi gue tiap hari. Gue harus segera mengusirnya kalau begini.
“Udah sana lu balik ke kamar, temen lu lagi nungguin,” ucap gue sambil menunjuk ke arah luar.
Betapa kagetnya gue saat gue melihat seorang wanita tengah berdiri di depan pintu kamar gue. Itu Gina, teman dari wanita yang tengah duduk di hadapan gue. Setelannya lebih tertutup, dia menggunakan piyama berwarna putih dengan garis-garis biru langit.
Dia tersenyum seperti meledek dan kemudian berucap, “Ih, kok tahu, sih, gue lagi nungguin temen gue, saking lamanya gue susul dia ke sini.”
“Sini duduk Gin, kenalan nih sama cowok yang belum gue kenal namanya,” ucap wanita yang ada di depan gue.
Sial. Tuhan cukup satu wanita saja yang engkau kirim, jangan sampai dua seperti ini, gue jadi bingung milih yang mana. Eh, stop! Gue jangan sampai berhubungan sama kedua wanita ini yang mungkin nanti cuma manfaatin kamar mandi gue doang.
“Kenalin dong, nama gue Asti,” ucapnya sambil menyodorkan tangan ingin bersalaman.
Gue pun terdiam. Gue bingung antara mengusirnya langsung atau menyambut tangannya itu. Mungkin sekedar kenal tidak menjadi masalah. Akhirnya gue memperkenalkan diri gue.
“Iya, gue Ian,” ucap gue singkat.
“Gue Gina,” ucap wanita yang satunya.
“Gue udah tahu.”
“Ih, kok dijawab gitu doang, nyebelin, sih.”
“Biar. Udah, ya, sekarang udah malem, gue mau tidur, pada balik ke kamar masing-masing,” ucap gue sedikit mengusir.
“Yaudah, balik, yuk, Gin,” ajak Asti pada Gina.
“Iya, yuk, judes amat nih cowok,” timpal Gina sambil bangkit.
Mereka pun berjalan keluar dari kamar gue. Saat akan menutup pintu, Asti berucap, “Eh, besok pagi gue numpang mandi lagi, ya.”
“Iya, boleh, asal ada makan malam aja buat gue.”
“Ih, ogah, yuk, Gina, kita ke kamar.”
Pintu pun ditutupnya dan suara berisik mereka perlahan-lahan lenyap tergantikan suara musik Inggris lawas yang sejak mereka datang suaranya seolah menghilang.
__ADS_1
Jendela gue tutup dan laptop pun gue matikan. Besok saja gue selesaikan sisa pekerjaan itu. Gue pun membuka kresek yang tergeletak pemberian Asti tadi. Sebuah bungkus nasi berwarna cokelat dengan karet merah yang mengikatnya, mengeluarkan aroma lezat saat gue mengeluarkannya dari dalam kresek itu. Sebungkus nasi goreng lengkap yang terdapat di dalam bungkus itu setelah gue mengintipnya. Gue pun memasukannya kembali ke dalam kresek dan menggantungkannya di gagang pintu untuk gue makan sebagai sarapan.
Teman baru di kosan baru semoga tidak menjadi pengganggu kerjaan gue. Kalau mereka sering ganggu gue, entah apa yang harus gue perbuat ke depannya. Mudah-mudahan saja kerjaan-kerjaan gue tidak ada yang kelewat deadline seperti kemarin.