
Nadia Mahira Hasan
Aku berjalan sendirian menapaki pasir yang aku injaki saat ini. Terik panas tidak menyurutkanku untuk tetap berjalan menatap pada puncak bukit bebatuan yang bernama Jabal Rahmah.
Tempat yang begitu romantis bagiku. Tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka lama tidak bertemu.
Aku menunaikan umrah sendirian. Tanpa ada Mas Naufal dan mbak Zahra yang menemani. Karena aku tugaskan mereka untuk menjaga anakku yang berumur dua tahun lebih yang bernama Akhtar Alvin Abdullah.
Kabar tentang Fina. Dia sekarang dia sedang sibuk. Dia sedang menyiapkan kelahiran anak pertamanya. Aku di suruh cepat pulang agar aku bisa lekas melihat anaknya yang di prediksi lahir dalam waktu dekat ini.
Aku tetap dengan pekerjaanku sebagai MUA dan Fina sebagai asistenku.
Kalian tahu siapa jodoh Fina? Jodoh Fina adalah tetanggaku. Tetangga baru ku ketika keluargaku pindah. Sepertinya Fina memang sudah ditakdirkan untuk menemaniku sampai kapanpun.
Aku berhenti sejenak dan melihat ke atas puncak Jabal Rahmah. Ada begitu banyak jamaah umrah yang datang ke tempat ini setiap harinya. Aku mengedarkan pandanganku. Lalu pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang di foto. Aku jadi teringat seorang temanku yang berprofesi sebagai fotografer.
Aku di jadikannya tempat curhatnya. Dia sekarang berada di Maroko dan bercerita dia sedang tertarik dengan perempuan bercadar yang katanya nama perempuannya bernama Hanin.
Seorang gadis blasteran Indo dan Maroko. Pasti cantik sekali.
Aku mengatakan padanya agar dia segera melamar gadis itu takutnya dia akan mengalami hal yang sama ketika dia menyukaiku dulu dan dengan santainya dia bilang. "Kalau jadoh tidak akan kemana."
Aku sedikit tidak setuju dengan ucapannya. Jodoh itu harus di kejar dan di pertahankan. Bukan hanya menunggu dan pasrah.
Aku mulai menaiki bukit ini dengan perlahan. Sambil mengamati tempat bersejarah ini. Ini memang bukan yang pertama kalinya aku kesini hanya saja setiap aku datang ke tempat ini ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku selalu bersyukur dan berharap akan bisa datang ke sini lagi.
Di depanku ada pasangan yang sepertinya suami istri. Mereka saling melempar senyum. Si suami dengan semangatnya mengajak istrinya untuk berjalan cepat agar cepat sampai.
Aku menarik sudut bibirku ikut bahagia menyaksikan keromantisan mereka.
Ketika aku sampai di tempat puncak Jabal Ramah. Aku melihat pada tugu beton persegi yang ditandai sebagai peristiwa bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawwa.
Tugu yang memiliki tinggi hingga 8 meter.
Terbersit dalam hatiku, cerita cintaku sama dengan cerita Nabi Adam dan Siti Hawa. Yang bertemu dengan kekasih hatinya di tempat ini. Siapa tahu di antara banyaknya para jamaah disini ada yang masih singel dan menjadi jodohku.
Jodoh yang tidak hanya untuk aku seorang tapi yang juga bisa menjadi ayah dari anakku. Akhtar.
__ADS_1
Aku melihat ke segala penjuru dari atas bukit ini dengan perasaan senang dan senyuman yang merekah. Bahagia dan bersyukur bisa datang kembali ke sini. Bisa berumrah dan bisa menunaikan haji kelak bersama suamiku nanti.
Setelah puas memandangi daerah sekitar bukit aku berbalik menghadap ke belakangku. Tapi, Senyumanku tiba-tiba memudar karena seseorang yang aku lihat saat ini. Seorang pria yang sudah lama tidak aku temui.
Aku masih bisa mengingat wajahnya. Wajah dia juga sama-sama terpakunya. Meskipun dia sedang memakai kaca mata hitam. Tapi aku tahu dengan jelas siapa laki-laki yang juga sedang memandangiku saat ini.
Dia mungkin sama terkejutnya denganku. Setelah pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku benar-benar menjauh darinya dan memutus hubungan dengannya. Bahkan dia tidak tahu bahwa anaknya dia adalah seorang laki-laki.
Tapi mungkin saja dia tahu tentang kehidupanku karena bertanya pada Naura. Karena setahuku, Zahwa kembali berhubungan dengan Naura. Kedua gadis itu sudah menjadi mahasiswi dan berada di kampus yang sama hanya berbeda jurusan saja.
Sekarang aku harus bagaimana? Menyapanya? Atau pura-pura tidak mengenalinya? Situasi ini benar-benar tidak membuatku nyaman. Ini benar-benar canggung.
Kenapa dari sekian banyaknya tempat, kami harus di pertemukan kembali di tempat ini? Di negara orang.
Bukan di negara kami sendiri. Kami bertemu lagi setelah tiga tahun tidak bertemu di tempat Nabi Adam dan Siti Hawwa di pertemukan kembali. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi dengan situasi yang sangat kebetulan ini. Apakah ini takdir?
Padahal aku mengatakan keinginanku baru satu menit yang lalu. Secepat itukah keinginanku terkabulkan?
Pandangan mata kami terputus karena tiba-tiba ada yang membentur tubuhku, benturannya sangat kuat hingga membuatku terjatuh. Orang yang tidak sengaja menbenturku itu adalah orang yang tinggi dan berbadan besar.
Pria berbadan besar itu hendak menolongku dan mengatakan kalimat bahasa arab tapi pria berbadan besar itu mengurungkan niatnya ketika mendengar ucapan dari dia yang sejak tadi aku pandangi.
Lalu dia berbicara dengan bahasa arab pada pria berbadan besar itu. Pria berbadan besar itu melihat padaku tersenyum dan menangkupkan tangannya.
Akupun juga menangkupkan tanganku padanya.
Kalian tahu, setelah lama kami tidak bertemu kalimat pertama yang aku ucapkan padanya adalah. "Apa katanya?" Tanyaku bersikap santai. Seolah-olah aku masih istrinya dia. Aku tidak bisa membendung rasa penasaranku. Sebaiknya aku harus belajar dan kursus bahasa arab juga. Tidak hanya fokus pada bahasa Inggris dan bahasa Korea saja.
Dia berbalik padaku dan tidak lekas menjawab pertanyaanku. Dia lebih memerhatikan tubuhku dari atas sampai bawah.
"Di bagian sini bajumu kotor." Katanya menunjuk tubuhnya sendiri. Dia tidak berani menyentuh tubuhku.
Akupun membersihkan sisa debu dan pasir yang menempel di bajuku. Dan ketika aku melihatnya lagi dia ternyata sedang memandangiku. Aku menundukan pandanganku dan mataku melihat pada jari tangannya.
Aku mendengar kabar itu, kabar tentang meninggalnya mbak Anisa. Dia meninggal ketika melahirkan putri keduanya. Semoga dia bisa tenang di alam sana dan insyaAllah dia akan menjadi salah satu penghuni surga nantinya. Dia meninggal dalam keadaan mati syahid.
"Bagaimana kabarmu Nadia?" Tanyanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik." Jawabku kikuk.
"Anak kita?" Tanyanya yang membuatku harus mengulang kembali kata itu. Memang sih Akhtar anaknya aku dan dia. Tapi masalahnya kita sudah bukan suami istri lagi.
"Akhtar sehat, lincah dan pintar." Jawabku seperlunya.
Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Sungguh ini situasi yang sangat tidak aku sukai. Kenapa begitu awkward sekali.
"Oh tadi pria berbadan besar itu mengucapkan kata maaf karena tidak sengaja membentur tubuhmu. Dia juga bertanya kamu siapanya saya dan saya mengatakan kalau kamu ibu dari anak saya." Katanya memandangiku dengan tatapan lembutnya.
Ok itu benar kalimatnya aku adalah umma dari anaknya. Tapi sekali lagi kalimatnya dia membuatku merasa aneh.
"Hmmm yasudah yaa Gus saya duluan." Pamit ku.
Akupun berjalan bergegas pergi darinya.
Allah, kenapa jantung hamba menjadi panik seperti ini.
"Nadia." Panggilnya dan menyusulku kembali.
"I..ya." Jawabku gugup. Karena dia berdiri tepat di depanku dan cukup dekat.
"Boleh saya bertemu dengan Akhtar dan bersilaturrahmi ke rumahmu." Izinnya dengan pelan dan lembut.
"Iya saya tunggu." Jawabku spontan dan begitu semangatnya. Aku meremas tanganku. Ah, aku malu sekali. Kenapa aku menjawabnya dengan kalimat seperti itu.
"Maksudnya iya tentu saja boleh. Silahkan." Kataku gelagapan.
Tuhan, Aku ingin sekali segera pergi dari hadapannya sekarang juga. Terlebih jantungku ini kenapa tidak bisa di ajak berkompromi sedikitpun sih semakin membuatku gugup saja.
"Kalau begitu saya harus benar-benar pergi." Kataku yang menjadi gagap sendiri kemudian mempercepat langkah kakiku.
Berjalan menuruni bukit dengan tergesa dan menunduk dalam. Aku malu sekali. Aku berbalik melihat ke belakang dan ternyata dia masih melihatku.
Aku menyesal kenapa aku harus menengoknya lagi.
Jadi aku bisa melihat dia sedang tersenyum dengan manisnya karena melihat tingkahku ini.
__ADS_1
Senyuman yang sudah lama tidak kulihat tapi masih mampu membuatku terkesima dan tersipu karenanya.
Bahkan detak jantungku tetap berdegup kencang untuknya. Karena memang pemilik hatiku sampai saat ini hanya dia seorang. Yaitu mantan suamiku. Abi dari anakku, Muhammad Alvin Abdullah.