Dua Hati

Dua Hati
Bab 48 : Melamar


__ADS_3

Lantunan sholawat mengiringi datangnya calon mempelai laki-laki. Calon pengantin perempuan sudah berubah menjadi seorang ratu yang cantik jelita.


Aku tetap bekerja untuk mencari nafkah untuk Akhtar dan untuk diriku sendiri tentunya. Meskipun dia sudah mendapat warisan dari Abinya yang sampai sekarang tidak aku sentuh sama sekali.


Aku akan gunakan itu ketika Akhtar sudah besar. Ketika dia sudah masuk kuliah.


Setiap aku menerima pekerjaan pasti tentunya ada beberapa clien ku yang tahu akan tentangku. Mereka tahu karena mereka dulunya pernah menjadi santri Gus Alvin. Sudah menjadi sebuah kebiasan seseorang yang pernah menjadi santri ketika mereka menikah mereka mengundang keluarga Kiyai mereka dan biasanya yang menikahkan adalah Abi mertuaku.


Seperti halnya pengantinku saat ini. Dia pernah mondok di pesantren An-Nuur selama enam tahun. Dia sudah berhenti enam tahun yang lalu. Dia hanya tahu aku mantan istri Gus Alvin dari mulut ke mulut saja.


"Mbak Nadia aslinya cantik yaa." Ujarnya yang menatapku dari tadi.


"Oh tentu tidak. Kamu lebih cantik dariku." Kataku mengerlingkan mataku dengan centilnya. Para clienku yang pernah nyantri di pesantren Gus Alvin dia tidak menanyakan alasan kenapa aku berpisah dengan Gus Alvin. Mungkin mereka menjaga nama baik almamater pesantren mereka.


Kabar meninggalnya mbak Anisa aku juga tahu dari clienku. Waktu tahu itu, biasanya aku bahagia bisa merias clienku. Tapi hari itu terasa suram bagiku.


Mbak Anisa adalah perempuan ter sholehah, ter ikhlas dan tersabar yang pernah kutemui. Allah sangat mencintainya sehingga dia begitu cepat di panggil oleh-Nya. InsyaAllah surga tempatnya mbak Anisa.


Cara agar aku dulu bisa terhindar dari keluarga Gus Alvin adalah aku menyuruh asistenku untuk mengantar pengantinku kepada para tamu ketika pembacaan sholawat. Dimana ketika pembacaan sholawat pengantin wanita akan salim kepada tamu yang hadir.


Begitu juga dengan pengantin prianya. Mereka akan di pertemukan ketika sudah melakukan Akad. Sudah SAH menjadi sepasang suami istri.


Sedangkan aku, aku berdiam di kamar pengantin.


Aku mempunyai tiga asisten. Aku mencari asisten lagi ketika Fina sudah menikah dan sekarang dia sedang hamil besar.


Sekarang aku tidak perlu menghindar dari keluarga mereka. Karena Gus Alvin sudah mengetahuiku sudah bertemu dengan Akhtar.


Aku sempat vakum selama tiga bulan tidak menerima pekerjaan menjadi MUA karena waktu itu aku sedang hamil besar dan baru selesai melahirkan.


Satu tahun awal setelah perpisahanku dengan Gus Alvin adalah masa-masa yang penuh perjuangan untukku. Aku harus berpisah dengan suamiku ketika aku hamil muda. Ketika aku mengalami susah makan, mual,  sering pusing dan ngidam.


Tapi aku tetap bekerja karena sudah terikat kontrak dengan clienku. Meskipun waktu hamil aku menerima separuh dari yang biasa kuterima sebelum aku menikah.


Masa-masa yang penuh perjuangan. Berjuang untuk menata hati kembali, berjuang untuk Akhtar yang yang masih dalam kandungan. Berjuang untuk hidup yamg lebih baik lagi.


Semua rasa lelahku, rasa letihku terbalas dengan hadirnya Akhtar dalam hidupku.


Dia malaikat kecilku, dia penyemangatku. Dia penghiburku dan dia segala-galanya untukku.


Ketika acara selesai tinggal keluarga Gus Alvin yang belum pulang. Aku menyiapkan diriku untuk bertemu mantan ummi mertuaku. Bagaimanapun beliau adalah sahabat alm. Ayahku aku harus menghormati mereka. Terlebih beliau adalah nenek Akhtar.


Aku keluar dari kamar pengantinku. Berjalan ke ruang tamu dimana tamu undangan berada duduk lesehan.


Asistenku sedang mendampingi clienku yang sedang menjalani pemotretan.


Ummi mertuaku terpaku begitu juga dengan shofi.

__ADS_1


Sedangkan Naura dia sedang senyum-senyum.


"Ya Allah." Seru ummi mertuaku ketika melihatku.


Tuan rumah dari clienku undur diri mengerti kami butuh waktu bersama.


"Nadia menantuku." Desis ummi yang sudah menangis. Dia menghampiriku dan memelukku.


"Alhamdulillah, MasyaAllah, Allahu akbar." Kata ummi yang memelukku dengan menepuk punggungku pelan.


Shofi tak kuasa untuk tidak menangis dia memelukku dan ummi. Kami bertiga berpelukan.


Tidak perlu kata untuk mengungkapan perasaan kami.


Semuanya sudah di jelaskan dengan isyarat tubuh kami. Mereka keluarga yang baik meskipun aku sudah meninggalkan mereka. Mereka tetap menganggapku menantu mereka dan memperlakukanku dengan sangat baik.


Aku bahagia, bersyukur dan bangga pernah menjadi bagian dari keluarga pesantren An-Nuur.


🍁🍁🍁


Dari kejadian itu, keluarga Gus Alvin datang ke rumahku untuk bersilaturrahim. Untuk memulai kembali hubungan yang sempat renggang.


Gus Alvin juga sudah dua kali membawa Akhtar ke pesantrennya. Aku izinkan hanya sehari saja. Tidak usah menginap dan dia mengikuti apa yang kukatakan.


Sore ini dia akan memulangkan Akhtar lebih awal karena ba'da maghrib dia ada acara. Aku menunggu kedatangan Gus Alvin di teras rumah. Aku menunggu siapa, yang datang malah siapa.


Kulitnya sekarang lebih gelap. Setelah aku pikir kami tidak cocok menjadi sepasang kekasih kami lebih cocok menjadi seorang sahabat.


"Halo Nadia." Ucapnya dengan tanpa salam dan langsung duduk di kursiku.


"Mana oleh-olehku?" Pintaku.


"Tidak ada. Kau tidak sopan. Bukannya bertanya bagaiamana kabarku langsung bertanya oleh-olehnya." Gerutunya kesal.


Aku bersedekap dan memandanginya tajam. "Yang tidak sopan siapa? Kamu datang-datang, halo Nadia gak usah salam langsung duduk saja." Protesku sambil memperagakan gerakannya tadi.


Ibram tertawa. Tawanya tidak minat sama sekali sepertinya. "Mana Akhtar. Aku hanya bawa oleh-oleh untuk Akhtar?" Katanya yang mulai duduk dengan benar. Dari tadi dia duduknya hanya seperti orang yang mengantuk saja.


"Tidak ada. Lagi sama Abinya."


"Lagi?" Tanyanya kaget.


Aku menceritakan pertemuanku dengan Gus Alvin waktu di Jabal Rahmah dan pertemuanku dengan keluarganya.


"Kalau Gus Alvin mengajakmu menikah dengannya lagi, apa kamu mau?" Tanyanya menatap serius padaku.


"Entahlah. Aku harus sholat istikharah dan bermusyawarah dengan kakakku. Kenapa kamu menanyakan itu? Apa kamu akan merasa kesepian jika aku menikah terlebih dahulu." Candaku.

__ADS_1


"Tidak. Aku justru bahagia. Jadi aku tidak perlu menjagamu lagi." Ucapnya pongah.


Aku melempar gumpalan kertas yang aku gunakan tadi sebagai buku catatan jadwal nikah para cliennya yang sudah ku salin pada buku lainnya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menjagaku? Memang kapan kamu menjagaku jika kamu sering pergi keluar negeri." Kataku kesal yang terus melemparinya dengan kertas yang sudah tidak dipakai lagi.


Ibram tertawa senang karena bisa menjahiliku kesal.


Sebuah mobil  hitam mampu menghentikan kegiatan kanak-kanak kami. Melihat dari mobilnya aku sudah tahu siapa pemilik mobil itu.


Gus Alvin turun dengan tatapan yang tidak bersahabat dia menatapku dan menatap Ibram. Ibram melambaikan tanganmya mencoba sok akrab.


Gus Alvin membuka pintu mobil di sampingnya dan mengeluarkan Akhtar dari mobil. "Om Iblam." Sapa Akhtar riang.


Ibram melambaikan tangannya sumringah pada Akhtar.


Aku lihat entah dari tiga tahun yang lalu bahkan sampai sekarang. Mereka seperti tidak ada akur-akurnya. Mereka hanya menyapa sebagai formalitas saja.


"Nadia, ada yang saya ingin  bicarakan denganmu." Aku sedikit menjauh dari Akhtar dan Ibram.


"Mau bicara apa?" Ketika kami sudah berada di dekat tanaman kecil milik mbak Zahra.


Gus Alvin mengambil sesuatu dalam saku gamis putihnya. Sebuah kotak kecil yamg berwarna putih. Dia membuka kotak kecil itu yang terdapat satu buah cincin di dalamnya.


Apa dia akan melamarku? Tunggu, aku belum siap.


Seharusnya dia menyiapkannya dengan matang bukan. Terlebih aku hanya memakai daster sekarang.


Lupakan masalah baju. Tubuhku sekarang kenapa tiba-tiba menjadi panas dingin.


"Maukah kamu menikah dengan saya? Kembali kepada saya lagi. Kembali menjadi ibu sambung dari dua bidadari kecil saya. Memulai dari awal kembali dengan ikatan cinta tanpa adanya paksaan hanya ada cinta yang menyatukan kita. Seperti yang saya bilang saya masih mencintai mu. Ini adalah salah satu keinginan saya dari dulu. Melamarmu langsung. Menyatakan perasaan saya ketika melamarmu. Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Saya akan menunggu?" Ujarnya yang menatapku lekat.


Aku hanya diam membisu tidak segera merespon ucapan Gus Alvin. "Apa saya akan di poligami?" Tanyaku yang tanpa berpikir panjang.


Ya ampun Nadia kenapa kamu menanyakan itu. Secara tidak langsung kamu menerima lamaran dia asal dia tidak menduakanmu.


"Tidak." Bantahnya tegas. "Saya tidak akan melakukan poligami lagi. Cukup sekali dan tidak akan pernah saya melakukan poligami lagi. Kamu akan menjadi istri saya satu-satunya. Kamu pemilik hati saya. Kamu adalah Ratu di hati saya. Dari dulu, sekarang dan di masa yang akan datang."


Oh Tuhan, kenapa kata-katanya membuatku melayang.


"Beri saya waktu." Kataku malu-malu.


"Terima saja. Jangan malu-malu kucing." Ucap sebuah teriakan dari arah kananku.


Aku melotot pada Ibram yang sedang menggendong Akhtar dan tersenyum usil pada kami.


"Lihat Akhtar Abi dan Ummamu lagi PDKT." Sindirnya.

__ADS_1


Oh Tuhan, rasanya aku ingin sekali melempari dia pot bunga besar yang ada di sampingku ini.


__ADS_2