Dua Hati

Dua Hati
Bab 46 : Bertemu Akhtar


__ADS_3

Nadia Mahira Hasan


Aku menggigit kukuku, kedua kaki bergerak sendiri. Aku tinggal bersama dengan keluarga kakakku. Jadi di dalam rumah ini ada tujuh orang dan satu orang pembantu harian yang ketika malam dia pulang ke rumahnya.


Aku melihat Akhtar yang bermain dengan sepupunya. Mbak Zahra sedang menyiapkan minuman untuk tamu yang akan datang hari ini. Kak Naufal belum pulang bekerja karena masih jam setengah empat sore.


Kalian tahu apa yang membuatku jadi cemas dan gugup seperti ini? Ini karena seseorang yang aku temui dua minggu lalu di Jabal Rahmah akan bertandang ke rumah untuk bertemu dengan Akhtar.


Dia menghubungiku selepas pulang dari umroh dan menanyakan alamatku. Dia mendapatkan nomer ku dari Zahwa. Zahwa sudah minta izin padaku. Akupun memberi izin.


Setelah pertemuan itu, aku bermimpi mbak Anisa. Dia datang ke mimpiku hanya sebatas tersenyum saja.


Tidak lebih. Tidak mengatakan sepatah katapun.


Lalu dari mimpi itu dan bertemunya aku dengan nya kembali membuatku sadar bahwa seberapa jauh aku pergi darinya. Seberapa lama aku menghindar darinya.


Mau tidak mau aku pasti akan bertemu dengannya.


Aku tidak boleh lupa bahwa ada pengikat kuat yang akan menghubungkanku dengan dia. Yaitu putraku, Akhtar. Anak kami berdua.


Akhtar pengikat kami. Akhtar pengubung untuk bertemunya kami. Apa mungkin Akhtar jalan kami untuk bersatu kembali?


Astaghfirullah, apa aku barusan berharap Gus Alvin akan mengajakku untuk menikah lagi?


Jika dia mengajakku menikah lagi. Aku akan menerimanya. Karena dia masih pemilik hatiku dan dia juga ayah kandung dari anakku.


Itulah alasannya kenapa selama tiga tahun terakhir aku tidak menikah. Karena aku masih mencintai dia.


Meskipun aku seorang janda dengan satu anak. Tapi ada beberapa yang mendekatiku untuk dijadikan istri.


Teman kak Naufal, teman Mbak Zahra baik dari yang masih single atau sudah menjadi duda tanpa anak atau dengan anak.


Tapi lagi-lagi aku tidak bisa. Aku tidak bisa karena setiap aku melihat putraku. Aku melihat dia dalam diri Akhtar. Masih ada dia dalam hati dan pikiranku. Aku tidak bisa memulai suatu hubungan yang baru jika aku masih terbayang-bayang akan masa laluku.


Bagaimana jika pria yang ingin menikahiku tidak seperti Abi putraku? Bagaimana jika pria yang melamarku tidak sebaik, tidak sepintar, tidak se sholeh dari Abi putraku?

__ADS_1


Selama aku menjadi istrinya dia suami yang baik, suami yang sabar, suami yang telaten, suami yang bisa membimbingku untuk menjadi insan yang lebih dekat kepada Sang Khaliq. Suami idaman. Suami yang mengerti istrinya. Maka aku tidak kaget jika mbak Anisa sangat mencintai dia.


Yang menjadi cemasku adalah bagaimana jika dia tidak mau mengajakku rujuk dan hanya ingin membawa Akhtar. Bagaimana jika dia hanya berkeinginan untuk minta hak asuh Akhtar.


Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Akhtar tetap akan bersamaku sampai kapanpun.


Suara salam terdengar dari pintu rumah. Suara salam dari Gus Alvin. Aku membuka pintu dan terlihat dia berdiri dengan tersenyum.


"Sendiri?" Tanyaku berbasa-bas.


"Iya sendiri, nanti sama keluarga yang lain kapan-kapan." Ucapnya.


Tolong, kalimat dia begitu rancu.


Apa maksudnya dengan kapan-kapan dia akan mengajak serta keluarganya? Masa hanya ingin bertemu Akhtar dia sampai mengajak keluarganya? Tidak mungkin bukan.


Dia datang dengan membawa dua bungkus plastik yang satunya kecil dan satunya besar. "Ini mainan untuk Akhtar. Dan ini untuk ummanya." Ucapnya memberikan plastik yang paling kecil padaku.


Aku mengucapkan terima kasih dan mempersilakan dia masuk. Aku memanggil mbak Zahra untuk menyapa Gus Alvin yang sudah lama tidak bersua dan sekaligus menemaniku untuk berbicara dengannya.


"Akhtar mana?" Tanyanya ketika dia duduk. Dia pasti merindukan anaknya. Apa dia tidak merindukan ummanya?


"Ada tunggu." Kataku masuk ke dalam menemui Akhtar dan membawanya ke ruang tamu. Aku menggemgam tangannya dan menuntunya untuk menemui Abinya.


Respon dia ketika melihat Akhtar yang sudah besar dan bisa jalan mampu membuat dia berdiri kaget. Dia hendak melangkahkan kakinya tapi dia urungkan.


Aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengan tinggi Akhtar. "Akhtar, salim yuk sama Abi." Kataku padanya.


Akhtar masih menatap laki-laki asing yang baru dia temui saat ini. Gus Alvin merentangkan tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Sini salim sama Abi." Ujarnya serak.


Aku tidak egois, suatu saat Akhtar akan bertanya siapa ayahnya. Jadi ketika dia sudah pintar berbicara aku tunjukan foto Abinya dan memberi tahu bahwa dia adalah Abinya. Aku memberi tahu kalau Abinya sedang pergi dan suatu saat nanti akan bertemu dengan Akhtar.


Akhtar tidak kekurangan kasih sayang seorang ayah karena ada kakakku yang menggantikan figur seorang ayah untuk Akhtar.


Dia memanggil baba pada kakakku sama dengan ketiga sepupunya yang memanggil baba pada ayahnya.

__ADS_1


"Abi." Panggil Akhtar pelan. Bayi yang berumur dua tahun lebih itu berjalan dengan tubuhnya yang menggemaskan.


Berjalan dengan hati-hati sambil terus menatap pada pria di depannya.


Akhtar bayi yang bertubuh gemuk, putih dan berpipi chubby. Ketika berjalan kedua pantatnya seakan bergoyang.


Gus Alvin berlutut mencoba  meraih tangan kecil Akhtar. Akhtar memberikan tangannya lalu ketika Gus Alvin berhasil menyentuh tangan mungil Akhtar dia tidak kuasa untuk tidak menangis.


Gus Alvin merengkuh Akhtar dan menangis tergugu.


Menangis sambil terisak disertai sesegukan yang membuatku tersayat juga.


Aku memalingkan mukaku tidak mau melihat adegan emasional seorang ayah yang tidak bertemu dengan ayahnya sama sekali sejak ia lahir. Bahkan mbak Zahra ikut menitikan air matanya melihat kejadian yang menyentuh hati.


Pada saat bersamaan kak Naufal pulang dari kantor.


Matanya tertuju pada sosok pria yang sedang berlutut di lantai. Menangis sambil memeluk Akhtar. Kak Naufal menatapku dan dia langsung tahu bahwa pria yang sedang menangis  adalah mantan adik iparnya Gus Alvin.


Tentu aku memberi tahu kabar Gus Alvin kalau dia akan bertemu dengan Akhtar. Aku kira dia akan melarangnya. Tapi dia langsung mengiyakan ketika aku menyampaikan pesan Gus Alvin.


Mungkin dia berpikir seolah-olah dia berada di posisi Gus alvin seorang ayah yang tidak bisa bertemu dengan putranya sama sekali. Pasti rasa empati itu ada pada Kak Naufal.


Setelah puas memeluk Akhtar, Gus Alvin mencium pipi Akhtar dan kembali memeluknya lagi. Akhtar terlihat bingung kenapa Abinya menangis. Raut wajahnya ikut sedih melihat Abinya yang menangis sejadi-jadinya.


Kak Naufal menghampiriku. "Beri dia waktu untuk berdua dengan Akhtar." Kata kak Naufal yang menyuruhku dan mbak Zahra untuk menjauh.


Aku mengikuti perintah kak Naufal tapi aku masih memantau mereka dari jauh.


Gus Alvin membuka barang yang dia beli. Yaitu mainan yang cukup banyak ada bola, mobil-mobilan, bus, pesawat, truck bahkan kereta.


Dia tidak tahu mainan apa yang di sukai Aktar jadi dia beli saja mainan yang biasa disukai anak laki-laki.


Akhtar tentu saja dia senang, bahkan dia sampai bertepuk tangan saking gembiranya.


Mereka langsung akrab di pertemuan pertama mereka.

__ADS_1


Perasaan rindu akan satu sama lain yang menyatukan mereka.


Kulihat dia berulang kali mencium Akhtar dan tak sengaja tatapan kami bertemu. Dia kembali tersenyum padaku dan berkata. "Terima kasih Nadia."


__ADS_2